Empat Sisi Hati

Empat Sisi Hati
Dirgantara (6)


__ADS_3

Dirga yang baru saja menyelesaikan latihan sorenya bersama teman-teman ketika dia mendapatkan telpon dari sang kakak.


"Halo kak? Ada apa?"


Shanty di seberang tak menjawab. Dia terisak sedih.


Dirga mengernyit. "Halo kak? Lu kenapa?" tanyanya khawatir.


Shanty belum langsung menjawab. Dia menangis terisak selama beberapa menit sebelum mulai mengatakan sesuatu.


"Dirga..."


"Ya Kak?"


"Dia kembali."


"Dia?"

__ADS_1


"Anak s*tan itu kembali!"


Dirga langsung terdiam mendengar teriakan frustasi dan marah kakaknya dari seberang. Dalam hati dia hanya bisa mendesah lelah, Kak Shanty seharusnya tahu kalau konsekuensi dari menghancurkan rumahtangga seseorang adalah kebencian dari anak orang tersebut, dan sebagai seorang ayah kandung, Bang Adam tidak mungkin meninggalkan Leah untuk Kak Shanty.


"Kak, wajar bagi Leah untuk kembali, lagipula dia anak kandungnya Bang Adam," komentar Dirga setelah Shanty lumayan tenang.


Namun perkataan Dirga malah membuat Shanty kembali marah.


"Kalau dia kembali bagaimana dengan Nina?"


Dirga mendengus gusar. Dia kesal dengan keserakahan kakaknya yang menyakiti banyak orang disekitar mereka.


"Tidak-tidak-tidak. Bang Adam itu Bias, dia akan membiarkan hal-hal baik didapatkan oleh Leah. Dia tidak akan meninggalkan apapun untuk anakku." Nada suara Shanty terdengar panik dan hampa, seperti orang kesurupan.


"Kaaakk."


"Bagaimana kalau dia menyerahkan perusahaan milik keluarga Bratasena pada Leah?"

__ADS_1


Dirga tidak menjawab. Dia hanya memijat pangkal hidungnya frustrasi. Kakaknya yang saat dia kecil dulu adalah kakak yang baik dan manis, kini telah berubah menjadi egois dan serakah, hanya memikirkan harta orang lain yang bukan haknya.


Dirga pernah berpikir kalau kemiskinan yang mereka jalani dulu yang membuat kakaknya berubah menjadi rakus akan harta.


"Perusahaan milik keluarga Bratasena memang haknya Leah, kak."


"TIDAK!" Shanty histeris, "DIA TIDAK BERHAK ATAS APAPUN MILIK BRATASENA! SEMUA MILIK NINA DAN LIA! TALIYAH TIDAK BOLEH MEMILIKI APAPUN!"


"KAK!"


"Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus melakukan sesuatu," gumam Shanty sebelum memutus sambungan telpon.


Dirga menatap ponselnya nanar. Dia lalu menyimpan ponselnya di atas meja di samping tempat tidur, kemudian duduk meringkuk di atas kasur dan menatap nanar ke arah pintu.


"Kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa kakakku berubah jadi mengerikan seperti itu?" gumamnya kemudian menyembunyikan wajahnya diantara dua lututnya yang tertekuk.


Perlahan bahu Dirga bergetar, dia terisak sedih. Dia malu menangis, hanya saja rasanya sesak sekarang. Perasaan bersalah karena kematian Anggun, perasaan bersalah dan sakit karena sikap dan kebencian Taliyah, perasaan tak berdaya dan sedih karena keegoisan kakak dan keponakannya yang lain. Dia bingung, sesak dan tidak tahan lagi sekarang.

__ADS_1


Juna yang setelah latihan sore tadi ingin masuk ke kamar Asrama untuk beristirahat tiba-tiba mengurungkan niatnya, ketika dia melihat Dirga yang menangis sendiri di kamar.


Juna merasa bahwa Abang letting nya itu butuh waktu sendiri, jadilah dia hanya bisa nongkrong di teras asrama sambil mantengin anak gadis komandan yang tinggal di rumah asrama depan mereka.


__ADS_2