Empat Sisi Hati

Empat Sisi Hati
Sasangka & Sheilanina (2)


__ADS_3

(Sasangka 2)


"Tal, apa kamu nggak pernah ngerasa capek?"


Sangka memperhatikan sang sekretaris yang sedang sibuk memeriksa tumpukan berkas kerja sama dengan beberapa perusahaan, di sofa merah di sudut ruangan.


"Pernah. Saya kan manusia, Pak. Tentu saja merasa capek."


Sangka mendengus. Di kantor, Taliyah berubah formal. Tapi di luar, dia kurang ajar.


"Bukan capek seperti itu maksudku, Tal. Maksudku itu capek mengenai masalah hidup yang datang bertubi-tubi. Kayak masalah kantor, masalah perjodohan orang tua, masalah pertemanan, masalah cinta ...."


"Bapak curhat?"


"Bisa nggak usah dipotong dulu nggak sih?" Sangka melotot sebal pada Taliyah.


"Oh. Lanjut."


"Dan masalah-masalah lainnya juga. Bikin kepala mumet buat mikir. Makanya aku lelah bin capek. Kamu ada solusi nggak Tal, biar aku bisa menghadapi masalah-masalah itu dengan kepala dingin?"


"Ya nggak usah mikir, Pak ..."


Krik.


"Kalau Bapak kebanyakan mikir nanti tambah bego," tambahnya pedas.


"Sekertaris semprul."


***


"Tal. Makan siang yuk," Sangka keluar dari kantornya sambil melirik jam tangan.


"Saya makan siang sendiri aja, Pak."


"Lho, kok?"


Taliyah menggedikan kepalanya ke arah lobby. Nina tampak melambaikan tangan ke arah Sasangka sambil tersenyum lebar, gadis itu berjalan menuju tempat mereka.


"Selamat makan siang ya, Pak. Semoga langgeng," sindir Taliyah sembari beranjak pergi.


"Makan siang bareng aja yuk, Tal." Sangka memelas.


"Ogah."


'Kamu makan siangnya dimana?"

__ADS_1


"Kantin kantor. Disana bisa ngecengin cowok-cowok ganteng dari gedung sebelah."


"Oy Tal."


"Selamat siang Mas Sangka."


Sasangka meringis, ketika Taliyah menghilang dari pandangan, Nina malah muncul dengan senyuman dan raut wajah bahagia.


"Hai Nin."


***


(Sheilanina 2)


Nina menunduk risih dibawah ingin tahu para karyawan yang sedang makan siang di kantin kantor. Daripada makan siang di tempat lain, atau di ruang pribadi, Sasangka lebih memilih mengajak Nina untuk makan di kantin kantor. Nina pikir Sasangka adalah atasan yang supel, yang suka makan siang dan berbaur dengan karyawan lain.


"Nggak bawa bekal lagi?" Basa-basi Sangka setelah membawa Nina untuk duduk di sebuah meja kosong.


Nina tersenyum, "Nggak," jawabnya menggeleng malu, "nggak sempat masak. Tadi pagi aku mesti buru-buru ke Butik, Mas, buat ketemuan sama pelanggan yang pesan gaun pengantin. Tadinya aku kemari buat ngajak Mas makan diluar. Tapi ...."


"Kamu mau makan diluar?"


Nina menggeleng, "Disini juga nggak papa, Mas."


"Apa aja yang Mas pesan."


Sasangka meringis. Dia bingung mau pesan apa, ini pertama kalinya dia makan di kantin kantor. Biasanya dia makan siang di luar bersama Taliyah. Sangka melirik sekeliling, dia mengamati menu sekitar sambil pura-pura berpikir. Dan bibirnya langsung mencebebik saat melihat Taliyah sedang dikelilingi cowok-cowok yang berkantor di gedung sebelah, yang sepertinya ingin pedekate.


"Tali mau makan apa?" Salah satu diantara mereka bertanya manis, membuat Sangka ingin membuka sepatunya dan melempari kepala si penanya tersebut.


"Mie ayam sama teh hangat aja," jawab Taliyah datar.


"Oke, Cantik, tunggu disini ya. Abang pesanin."


"Hm."


Sasangka mau muntah sekarang.


"Mas Sangka udah selesai mikirnya?" Teguran Nina membuat Sangka kembali ke dunia nyata.


"Oh. Umm. Iya." Sasangka salah tingkah.


"Jadi kita pesan apa?"


"Mie ayam sama teh hangat?" Sasangka mengulang pesanan Taliyah.

__ADS_1


"Umm. Boleh."


"Tunggu disini ya, biar aku ambilkan."


"Iya Mas."


***


Nina dan Sangka makan dalam diam. Sesekali Nina melirik Sangka yang tampak memakan mie ayamnya seperti orang yang kesetanan.


Dia ingin bertanya sesuatu pada Sangka, tapi tidak berani.


Sadar sedang diperhatikan Nina, Sangka mendongak.


"Ada apa?" Dia berhenti makan.


"Nnnn. Nggak apa-apa." Nina menggeleng.


"Kalau nggak apa-apa kenapa berhenti makan?"


"I-itu ...." Dia tidak berani bertanya, tapi dia penasaran, "kemarin malam aku telpon Mas."


"Iya. Trus?"


"Yang angkat cewek. Dia ...."


"Oh, Tali? Dia sekertarisku."


"Tali bilang Mas lagi tidur, memang kalian berdua dimana kemarin malam?"


Sangka mengerutkan keningnya. Tidak mungkin dia menjawab kalau mereka sedang berada di kost Taliyah. Bisa rusak nama sahabat sekaligus sekertarisnya itu di kantor dan di mata masyarakat.


"Di kantor. Kami lembur," dusta Sangka.


"Ah," Nina mengangguk lega, "maaf sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang, Mas."


"Nggak papa. Dilanjutkan makannya."


"Ya." Nina kembali memakan mie ayam sambil dan sesekali melirik Sangka.


Nina tiba-tiba bertemu mata dengan Taliyah yang duduk tak jauh dari mereka. Keduanya saling bertatapan selama beberapa detik, sebelum Taliyah menoleh dan berbincang dengan cowok di sebelahnya.


Nina terdiam. Dia tiba-tiba merasa familiar dengan Taliyah. Dia seperti pernah melihat si cantik berkacamata itu. Tapi dimanaaa? Dan mata Taliyah mengingatkan Nina pada seseorang, tapi dia lupa siapa.


"Bodo ah," batinnya mencoba tak peduli.

__ADS_1


__ADS_2