
"Nina nggak mauuu! Nina nggak mauuu!"
Suara teriakan marah dari kamar putri sulungnya, membuat Shanty panik dan langsung membuka pintu kamar. Dia terkejut saat mendapati kamar Nina yang sudah berantakan seperti kapal pecah. Sementara Nina sudah duduk putus asa di lantai sambil menangis.
"Nina kamu kenapa sayang?" Shanty menghampiri Nina, khawatir melihat keadaan anaknya.
"Ibuuuu. Mas Sangka baru saja nelpon Nina," adu Nina, "Dia bilang dia mau batalin pertunangan kami," dia kembali menangis sedih, "Dia bilang dia nggak cinta aku." Nina memeluk ibunya untuk menuangkan semua rasa sakit hati dan kesedihan.
Shanty menggeram, "Kurang ajar anak itu. Berani-beraninya dia memperlakukan kamu seperti ini," marahnya, "Ibu bakal kasihtau bapakmu untuk berurusan sama keluarga Wicaksana itu."
Nina masih menangis.
"Nggak apa-apa pertunangan dan pernikahannya dibatalkan, Bapakmu akan membuat keluarga Wicaksana menderita kerugian besar untuk membalas rasa sakit hatimu," janji Shanty, namun tangis Nina makin kencang.
Dia menggeleng keras. "Nggak mau. Nina nggak mau dibatalin. Nina cinta sama Mas Sangka, jangan dibatalin Bu."
"Tapi na, dia nggak cinta sama kamu. Masih banyak laki-laki baik lain diluar sana," bujuk Shanty. Dia tidak mau anaknya terjebak dalam hubungan pernikahan dengan cinta sepihak seperti yang dia alami.
"Nggak mauu! Nina cintanya sama Mas Sangka! Nina nggak mau orang lain, Nina maunya nikah sama Mas Sangka."
__ADS_1
Shanty menatap putrinya dengan sorot mata sedih dan penuh penyesalan. Apa ini karma? pikirnya. Dan kemudian mata penuh amarah seorang remaja berseragam SMA yang mengatakan kalimat : "aku bersumpah. Aku akan membuat hidup kalian hancur seperti hidupku dan Mama. Kalau bukan kau yang akan menyusul Mamaku---, akan kubuat anakmu mengalami nasib yang sama seperti mamaku."--melintas dalam ingatan Shanty. Dia bergidik takut.
'Tidak, jangan sampai sumpah Leah terjadi pada Nina. Aku akan memastikan kalau anak-anakku akan menjalani hidup yang berkecukupan dan bahagia,' batin Shanty.
Dia kemudian berkata pada Nina, "Ibu akan meminta Bapakmu untuk menekan perusahaan Wicaksana, mengancam mereka agar tidak jadi membatalkan pertunangan," janji Shanty.
"Benar Bu?" Tanya Nina berhenti menangis.
"Iya benar."
Nina kemudian memeluk ibunya bahagia.
...****************...
"Kalau memang anak itu tidak suka Nina, kenapa tidak batalkan saja perjodohannya?"
"Nina cinta sama dia, Pak."
"Kasih tahu anakmu, cinta sepihak tidak akan bisa membuat rumah tangga bahagia."
__ADS_1
Shanty mendesah mendengar nada dingin suaminya, tapi dia tidak berani emosi ataupun lepas kendali di depan Adam.
"Nina pasti bisa bahagia. Jadi tolonglah Pak, bantu Nina menekan perusahaan keluarga Wicaksana agar Sangka mau menikahi Nina," bujuk Shanty lagi.
Adam hanya diam. Dia kemudian berkata : "Kamu dan anakmu sama-sama keras kepala." Tanpa memberi jawaban pasti, apa dia akan membantu Nina atau tidak.
...****************...
Mengenakan celana jins hitam yang sobek di bagian lutut dan hoodie yang juga berwarna hitam, Taliyah yang berdiri di atas gedung sebuah bangunan kosong, menyeringai mendengar informasi yang disampaikan oleh lelaki yang juga berpenampilan sama sepertinya.
"Jadi Bratasena ingin menekan perusahaan Wicaksana agar perjodohan itu tercapai?"
"Pak Adam belum memberikan jawaban yang pasti, tapi Bu Shanty sudah mulai menggunakan nama Pak Adam, untuk memutus rantai beberapa Suplier perusahaan Wicaksana," jelas lelaki itu.
Taliyah mengangguk. "Bagus. Itu yang kutunggu," Dia kemudian menoleh ke arah lelaki itu dan berkata, "Kembalilah ke keluarga Bratasena, aku akan menghubungimu saat semuanya siap."
"Baik," lelaki itu mengangguk kemudian meninggalkan Taliyah sendirian di atas atap gedung.
Taliyah menatap pemandangan di depannya dengan sorot hampa sebelum bergumam : "Papa, sebentar lagi aku pulang."
__ADS_1