Empat Sisi Hati

Empat Sisi Hati
Dirgantara (4)


__ADS_3

"Yaelah Bang, kalau dateng ke Apartemen cewek mah gue nggak keberatan. Ini kenapa kita kudu datengin apartemen cowok?!" protes Juna setelah tahu tujuan Dirga menyeretnya keluar dari liburan tidur nyamannya hari ini.


"Bantuin gue bentar ngapa."


"Bantuin ngegebuk calon lakinya ponakan lo yang selingkuh?"


Mengisap rokok dalam-dalam, Dirga kemudian menghembuskan asapnya sambil mendesah, "Bukan seperti itu tepatnya. Gue cuma mau ngegertak doang, biar dia ngejauhin sekertarisnya itu dan nggak nyakitin Nina pas mereka nikah."


"Bang, kalau emang tuh cowok selingkuh ama sekertarisnya, suruh aja ponakan lu batalin pertunangan. Cowok bajingan buat apa dipertahankan?" Saran Juna sambil menyetir menuju alamat yang diberi Dirga.


"Gue udah pernah ngasih saran kayak gitu, tapi do'i nolak. katanya udah terlanjur cinta." Dirga mulai frustrasi. Hari ini dia sengaja mengajak Juna menemui Sangka, untuk menggertaknya, karena tadi malam Mbak Shanty menelpon curhat tentang Nina yang menangis patah hati karena keberadaan sekertaris Sangka.


Juna mendengus. "Gue nggak ngerti sama mahluk yang namanya cewek. Udah tahu cowoknya nggak bener, udah tahu cowoknya nggak cinta, masih aja maksain buat bersama."


Bibir Dirga membentuk garis lurus mendengar gerutuan Juna. Dia tiba-tiba teringat pada kakaknya, Shanty, yang keras kepala ingin tetap bersama Adam. Tidak peduli pada Anggun yang saat itu masih menjadi istri Adam. Dan walaupun Anggun sudah meninggal, dan Shanty sudah menjadi istri resmi Adam, menurut Dirga ... kakaknya tidak pernah mendapatkan kebahagiaan yang diinginkan.


Dirga berharap, nasib Nina tidak mengikuti jejak ibunya.


***

__ADS_1


"Ini tempatnya?" Tanya Juna, ketika dia dan Dirga tiba di depan pintu apartemen Sangka.


Dirga memeriksa kembali alamat yang dikirim Shanty di ponselnya, lalu mengangguk. Dia baru saja akan memencet bel, saat Juna berkata kalau pintunya tidak dikunci. Ada sedikit celah di pintu yang terbuka. Itu berarti, si pemilik apartemen ingin keluar, tapi tidak jadi karena harus melakukan sesuatu.


"Ucapin salam a- ...."


"Mmmmph. S-sangkaah. Mmmph."


Juna bergidik. Dia melotot menatap Dirga yang juga tertegun mendengar suara ambigu di balik pintu.


Ini ... benar-benar kebetulan yang haqiqi. Tuh cowok bajingan bakal abis dihajar Bang Dirga.


Dirga menggeram marah. Tanpa basa-basi, dia langsung masuk dan menarik bagian belakang baru laki-laki kriting yang sedang mencium dan menghimpit seorang gadis semampai di dinding.


Tak memperhatikan si gadis, Dirga kemudian melayangkan bogem mentah pada si kriting.


"SANGKAAA!"


***

__ADS_1


Sasangka terkejut karena serangan mendadak dari Dirga. Dia diam sejenak, kemudian dia balas memukul, si kriting marah karena dia dihajar tanpa alasan.


"Apa-apaan ini? Siapa lo? Masuk ke apartemen orang, trus maen mukul sembarangan?!" Tanya Sangka di sela perkelahiannya.


"Bacot! Lo selingkuhin Nina kan?" Dirga mengayunkan tinjunya ke arah Sangka. Tepat mengenai pipi putih laki-laki itu, dan membuatnya terhuyung jatuh. "Lo punya hubungan sama b*tch ini, sementara bentar lagi lo nikah sama ponakan gue."


Sangka terdiam sejenak. Dia akhirnya memahami situasi. Om-nya Nina--entah ada urusan apa datang kemari-- memergokinya dengan Taliyah.


"Gue sama Nina nggak pacaran. Jadi apa yang gue lakuin sama Tali, nggak termasuk perselingkuhan," cibirnya.


"Lo sama Nina udah Tunangan!"


"Gue nggak pernah minta buat tunangan sama ponakan lo, dia aja yang maksa gunain kekuatan keluarganya buat nekan keluarga gue."


"Bacot!" Dirga memberi Juna isyarat untuk maju agar mereka bisa membuat Sangka babak belur. Tapi belum sempat tinju dan tendangan Dirga mendarat di tubuh Sangka, sebuah tangan kecil menepuk pundaknya dan ketika dia berbalik, sebuah tamparan keras sukses mendarat di wajahnya.


"Lo ...," Mata Dirga membelalak, terkejut melihat penamparnya.


"Apa?" Cibir Taliyah sambil menatap Dirga dingin

__ADS_1


"Apa?


__ADS_2