Empat Sisi Hati

Empat Sisi Hati
Taliyah (2)


__ADS_3

"Kamu itu lagi sakit atau ngidam sih?" Taliyah menggerutu sebal pada seseorang yang sedang bicara dengannya lewat ponsel.


"Aku sakit Tal. Demam dan flu dari kemarin malam," sahut Sasangka lemah. Minggu pagi dia menelpon Taliyah. Menyuruhnya untuk membeli obat di apotek dan juga bubur ayam di jalan depan SD tempat dia bersekolah dulu. Dia tidak mau bubur ayam di tempat lain.


"Itu kenapa bubur ayamnya harus yang depan SD sekolah kamu dulu?!" Taliyah tahu Sasangka yang sakit akan berubah jadi menyebalkan dan manja. Itu yang membuat Taliyah ingin memasukan Sangka ke dalam karung, memberi pemberat batu, dan kemudian ditenggelamkan di lautan luas agar tidak timbul lagi. Lagipula orang sakit tidak punya selera makan. Lha si Sangka malah pesan makanan.


"Karena disitu enak dan sehat."


"Kalau orang yang jualan bubur di depan SD kamu dulu udah mati gimana?"


"Kan masih ada anaknya."


"Ya belum tentu si anak mau ngikutin jejak bapaknya jadi penjual bubur, Sangka bego!"


"Beliin aja ngapa, jangan bawel!" Ketus Sasangka memutus sambungan telepon.


"Ck. Dasar!"


***


Beruntung bagi si Bapak Bos yang sedang sakit dan ngidam. Pak Ucup atau Pak Yusuf, si Bapak penjual Bubur ayam yang sudah legend sejak zaman Bos Sangka SD, ternyata masih hidup. Beliau bahkan membuka warung bubur Ayam di seberang jalan depan sekolah dasar tempat beliau sering berjualan dulu.


Saat Taliyah sedang asik duduk menunggu pesanan buburnya selesai dibuat Pak Ucup. Seorang anak kecil cantik berusia sekitar lima tahunan berlari masuk ke warung, sambil berseru riang : "Pak Ucuuuup. Bungkusin bubur duaaa!" Dia langsung berlari ke arah Pak Ucup sambil membawa uang dua puluh ribuan.


"Eh Neng Taliya, kok bisa disini?" Pak Ucup sepertinya sudah kenal dekat dengan si anak cantik itu. "Ini kan hari Minggu Neng, nggak sekolah."


Anak yang dipanggil Taliya itu cekikikan lucu, "Ya Pak Ucup. Ini kan hari Minggu, jadi tidak sekolah. Liya mau makan bubur sama Om."

__ADS_1


"Neng Taliya diantar ke sini sama om-nya?"


"Um." Taliya mengangguk, "Om Gaga lagi telpon diluar."


"Kalau begitu tunggu dulu ya, Neng, Bapak bikinin dulu pesanan kakak cantik yang disana."


"Iya." Taliya berlari menuju kursi plastik di samping Taliyah.


Keduanya saling bertatapan selama beberapa detik, lalu Taliyah kembali sibuk dengan ponselnya.


Taliya mengamati si kakak berkacamata dengan ekspresi tertarik.


"Kakak cantik sekali," pujinya polos membuat Taliyah menoleh, "kakak bintang film ya?"


Taliyah menggeleng. Dia menatap Taliya geli. Anak yang memiliki nama hampir mirip dengannya itu terlihat pintar dan menggemaskan.


"Kerja di kantor."


"Ooo." Taliya mengangguk sok paham, "kerja di kantor orang-orang besar kayak Papa?"


Mungkin yang dimaksud orang-orang besar itu orang-orang dewasa? Pikir Taliyah lalu mengangguk.


"Nama kakak siapa?" Dia gadis kecil yang penuh rasa ingin tahu. Itu bagus. Hanya saja Taliyah pikir, orangtua Taliya harus memberitahu anaknya tentang 'Bahaya berbincang akrab dengan orang tak dikenal'. Untung Taliyah bukan orang jahat.


"Taliyah Ayu."


Mata bulat Taliya kecil melebar takjub. "Kok sama?"

__ADS_1


"Kok sama?"


"Iya sama." Taliya mengangguk, "namaku juga Taliya. Tapi lengkapnya Nataliya Ayu Bratasena."


Nama belakang Taliya kecil membuat Taliyah tersentak.


Anak ini ....


Tidak mungkin ....


Mendadak Taliyah merasa sesak dan marah. Sesak karena luka yang selama ini berusaha disembuhkannya terbuka kembali. Dan dia juga marah, marah karena para penghianat itu justru hidup bahagia. Sama sekali tidak merasa bersalah pada kehancuran keluarga Taliyah dan kematian ibunya.


Taliyah tak sadar dua tangannya sudah mengepal membentuk tinju. Sementara Taliya dengan polosnya berceloteh dan bercerita tentang rencana hari minggunya bersama Sang Om.


Ketika Pak Ucup memanggilnya, memberitahu bahwa pesanan sudah siap, Taliyah segera bangkit dan membayar dua bungkus bubur pesanannya. Lalu pergi tanpa mengatakan apapun.


"Sampai jumpa Kakak cantik!" Taliya kecil melambai riang. Tak tahu dengan perubahan suasana hati si kakak cantik.


"Iya Kak, nanti aku antarin Liya pulang. Kami mau jalan-jalan dulu, sampaikan salamku buat Mas Ad--" Dirga mengerjap dua kali. Tertegun ketika berpapasan dengan seorang perempuan berkacamata yang keluar dari warung bubur.


Dirga merasa seperti Dejavu.


Dia sudah banyak berubah setelah bertahun-tahun. Tapi Dirga masih mengenalinya.


Mata, cara berjalan, dan detak yang dia rasakan ketika perempuan itu berjalan di dekatnya ... Semua masih sama dan tak ada yang berubah.


"Leah?" Dirga menatap sendu pada sosok yang berjalan menjauh itu.

__ADS_1


__ADS_2