Empat Sisi Hati

Empat Sisi Hati
Sheilanina (6)


__ADS_3

Nina menatap sedih pada dua lelaki yang paling penting dalam hidupnya, yang sekarang menarik atensi para tamu undangan yang hadir malam ini. Adam Bratasena dan Sasangka Wicaksana, ayah dan laki-laki yang dia cintai, sama sekali tidak memerhatikan dan mengatakan sepatah katapun untuknya, padahal dia adalah bintang utama di perjamuan pertunangan malam ini.


Ketika Shanty, keluarga Wicaksana, dan para tamu undangan lainnya mengerumuni Nina dan mengatakan bahwa dia adalah perempuan paling cantik di pesta malam ini, Adam Bratasena malah melengos dan tidak mengatakan sepatah katapun. Sedangkan Sasangka malah memelototinya dan menatapnya dengan penuh dendam.


Nina merasa teraniaya karena tidak diperhatikan oleh mereka berdua, tanpa menyadari alasan kenapa kedua orang itu marah. Adam Bratasena marah pada Shanty dan Nina karena dengan seenaknya menggunakan nama keluarga Bratasena, untuk menekan perusahaan lain demi mendapatkan keinginan, sedangkan Sangka, dia marah pada Nina yang memaksakan kehendak, dan juga dia marah karena beberapa waktu lalu Nina dan Bagas Wicaksana datang menggerebek kamarnya saat ia sedang bermesraan dengan Taliyah, hingga membuat Taliyah harus turun lagi lewat jendela balkon untuk bersembunyi.


Saat Nina hendak menghampiri Sangka untuk memamerkan kemesraannya di depan para tamu undangan lain, matanya tiba-tiba tertuju pada sosok semampai bergaun putih yang berdiri di samping tangga. Sosok itu balas menatapnya, memamerkan senyum provokatif sambil memegang segelas wine.


"Tali," geram Nina penuh kebencian.


"Halo," balas Taliyah sambil mengangkat gelas wine di tangannya.


Nina menghampiri Taliyah.


"Ngapain kamu disini?!" Tanyanya marah.


"Mau saya ngapain aja di sini, itu nggak ada hubungannya sama kamu kan?"


"Ya jelas ada hubungannya, ini acara pertunangan ku sama Mas Sangka!"

__ADS_1


"Oh?"


Respon Taliyah yang seenaknya membuat kemarahan Nina meledak, dia ingin melayangkan tamparan pada Taliyah yang dengan hindari oleh gadis cantik itu.


Taliyah memegang erat pegelangan tangan Nina sambil berkata : "Kemana Sheilanina yang dulu selalu manis, lemah dan teraniaya? Kenapa sekarang jadi kasar?" Dia tersenyum.


Nina mengerjap. "Kamu... " Belum sempat Nina merespon perkataan Taliyah, Taliyah tiba-tiba menjatuhkan diri di depan para tamu.


"Aduh!" Bertindak seolah-olah dia didorong Nina.


Nina mengerjap tak percaya. Orang-orang sudah mulai mengerubungi mereka. Keluarga Sangka dan juga keluarga Nina ikut berkumpul.


"Dia... dia... " Nina menunjuk Taliyah dengan mata memerah marah, "pacarnya Mas Sangka."


Shanty tersentak. Dia menatap Taliyah tajam sambil berkata : "JADI KAMU GADIS MURAHAN SELINGKUHAN SANGKA YANG INGIN MENGHANCURKAN PERTUNANGAN ANAKKU?!"


"SEDANG APA KAMU DI SINI?! BUKANKAH KAMU SUDAH KUSURUH UNTUK MENJAUHI SANGKA?!" Bagas Wicaksana benar-benar tidak ingin kehilangan bantuan dari keluarga Bratasena.


Taliyah tidak menjawab mereka, dia hanya memperlihatkan penampilan yang menyedihkan.

__ADS_1


Melihat kearah keramaian, Sangka yang sejak tadi asik dengan dunianya sendiri mulai penasaran. Dia terkejut melihat Taliyah yang dihina dan dimaki oleh orangtuanya dan keluarga Nina.


Marah, Sangka kemudian menarik Taliyah untuk berdiri, dan menyembunyikan gadis itu di belakang tubuhnya.


"AKU SUDAH BILANG, AKU TIDAK PERNAH SETUJU DENGAN PERTUNANGAN INI! YANG AKU CINTAI ITU TALIYAH BUKAN NINA! KALIAN SEMUA YANG MEMAKSAKU!"


Pengakuan Sangka membuat Nina ambruk dan menangis sejadinya dalam pelukan Shanty.


Bagas Wicaksana marah, sementara Istrinya, Ayu Andari bingung ingin membela siapa.


Shanty yang melihat kelakuan Sangka benar-benar murka, di depan semua tamu undangan dia memerintahkan para pengawal keluarga Bratasena untuk menyeret Taliyah keluar dari acara dan memberinya pelajaran.


"Tidak. Tidak. Sangka tolong," Taliyah terlihat menyedihkan saat diseret sementara Sangka berontak marah dibawah pegangan para pengawal lain.


"Taliiii!!! Lepaskan diaaa!"


Tidak ada yang menggubris teriakan dua sejoli itu.


Nina yang melihat akhir dari Sangka dan Tali berhenti menangis, dia melemparkan senyum cemooh pada Taliyah, tapi senyum itu hanya bertahan selama beberapa detik sebelum dua suara teriakan marah lain terdengar:

__ADS_1


"LEPASKAN CUCUKU ATAU KULEDAKAN KEPALA KALIAN SEMUA!" Husein Al Qarim, ayah tiri Shanty, datang dengan diikuti Adam Bratasena di sampingnya.


__ADS_2