Empat Sisi Hati

Empat Sisi Hati
Dirgantara (2) & Sasangka (3)


__ADS_3

(Dirgantara 2)


"Kamu kenapa?"


Dirga yang sedari tadi melamun memikirkan pertemuannya dengan Taliyah, menoleh dan mendapati Santy yang menatapnya khawatir. Dirga sedang duduk di halaman belakang rumah Sang Kakak.


"Aku ...." Dirga ragu memberitahu Santy. Walau dia tahu Santy sudah berubah menjadi lebih baik, tapi masalah Taliyah atau Leah, adalah masalah yang sensitif untuk Santy.


Ancaman yang dilontarkan Leah bertahun-tahun lalu sukses menjadi mimpi buruk Santy selama beberapa lama. Santy bahkan menjadi lebih protektif terhadap Nina, putrinya. Santy takut kalau Nina akan berakhir seperti Anggun akibat perbuatan Leah dan karma darinya.


"Kenapa Ga, ada masalah?" Santy duduk di samping Dirga dan menepuk pundaknya lembut.


"Aku cuma kepikiran sama ... Leah."


Wajah Santy langsung pucat ketika mendengar nama anak tirinya disebut.


"K-kamu ketemu dia?"


Dirga mengamati wajah kakaknya sebentar, lalu menggeleng. "Aku hanya kepikiran."


"Tolong jangan memikirkan atau menyebut nama anak itu lagi."


"Mas Adam masih berusaha buat nyari Leah?"


Santy mengangguk, "Dia menyewa banyak detektif untuk mencari anak itu. Tapi Kakak selalu berhasil membuat mereka tidak melakukan tugas dengan baik."


"Kenapa Kakak melakukannya?"


"Kakak tidak mau dia kembali ke rumah ini."


Dirga mendesah frustrasi. "Kak, ini rumah milik Leah. Dan bahkan Mas Adam adalah ayah kandung Leah, kita tidak berhak melarang dia untuk tidak datang ke rumah ini dan mencegahnya untuk bertemu dengan Mas Adam."


"Kakak tahu itu Dirga! Tapi anak itu seperti Racun," kata Santy pahit, "mendengar namanya saja sudah membuat Mas Adam ketar-ketir. Mas Adam tidak mau melakukan foto keluarga dengan kakak dan juga Nina, karena tidak mau Leah marah. Mas Adam juga bahkan menganggap Liya sebagai sebagai pengganti Leah. Dia menamai anak kandung kakak berdasar nama anak itu."


"Saat bertengkar dengan kakak, Mas Adam pernah bilang, kalau Leah ditemukan, dia akan menceraikan Kakak. Dia ingin membawa Liya dan juga Leah pergi."


Dirga terdiam.


"Jadi Ga, apa Kakak salah kalau berharap anak itu tidak pulang lagi?"


Dirga tidak menjawab. Dia merasa serba salah sekarang.


***


(Sasangka 3)


"Gimana keadaanmu?" Tanya Sasangka sambil memperhatikan sosok yang sedang sibuk memasak di dapurnya.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bertanya begitu," kilah Taliyah sibuk memotong dada ayam fillet, "bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik. Demam sama flunya sudah sembuh dari semalam."


"Oh. Baguslah." Sekarang perempuan itu sedang sibuk mengiris bawang, sama sekali tidak menoleh ke arah Sasangka.


"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu juga sudah baik-baik saja?" Sangka balik bertanya. Mengacu pada Taliyah, yang hari minggu kemarin, tiba-tiba muncul sambil sesenggukan dengan mata sembab di depan pintu apartemennya. Perempuan itu membawa obat dan bubur pesanannya. Tapi, bukannya merawat Sasangka yang sakit, Taliyah malah menangis seharian tanpa mau memberitahu apa penyebab tangisannya pada Sangka. Jadilah Sangka, yang awalnya ingin dirawat Taliyah, harus merawat dirinya sendiri sambil menenangkan temannya.


Taliyah bahkan menginap di apartemen Sangka.


"Aku sudah tidak apa-apa," jawab Taliyah setelah terdiam beberapa saat. Dia kemudian kembali melanjutkan pekerjaan dapur. Cabe kering yang dikeluarkan bijinya, lalu diiris serong.


Hening.


Kali ini hanya terdengar suara kesibukan Taliyah yang sedang mondar-mandir. Mencari dan menyiapkan bahan untuk membuat saus.


"Tal."


"Hmm?"


"Ada yang mau kamu ceritakan?"


Taliyah diam lagi. Dia tahu Sangka berharap dia bisa berbagi cerita dan masalah padanya sebagai seorang teman. Tapi ... Taliyah tidak bisa. Dia tidak terbiasa berbagi cerita ataupun masalah dengan orang lain. Penghianatan yang dialami Mamanya di masalalu, membuat dia takut mempercayai orang lain dan juga membuka diri.


"Tidak ada. Maaf."


Taliyah bisa mendengar helaan napas kecewa Sangka.


"Aku tidak bawa baju kerja. Aku ...."


"Nanti aku akan mengantarmu ke kost."


"Baiklah."


***


Sasangka menghela nafas frustrasi.


Pekerjaan masih banyak, tapi ibunya sudah menelpon, mengingatkan kalau dia dan keluarganya mendapatkan undangan makan siang bersama di rumah keluarga Bratasena. Untuk membicarakan kelanjutan hubungan Sangka dan Nina. Dan sebelum mengakhiri pembicaraan, Ibu Sangka mewanti-wanti anaknya agar tidak menyakiti hati Nina dan keluarganya. Dan Sangka menerjemahkan nasihat ibunya sebagai ancaman yang berarti 'Jangan coba-coba menolak Nina, atau kamu, ibu sunat lagi!'


Sangka lagi-lagi menghela nafas.


Ibunya begitu menyukai Nina, dan Sangka tidak heran. Nina memang gampang disukai. Dia manis, enak dipandang. Kalem, lemah-lembut, pintar masak, dan terlihat keibuan. Sangka pikir kalau dia tidak lebih dulu jatuh cinta pada orang lain, mungkin dia akan jatuh cinta pada Nina dan mempertimbangkan gadis itu menjadi istrinya. Tapi ....


"Bagaimana mungkin aku bisa menikahi Nina, kalau aku sudah jatuh cinta pada orang lain," batin Sangka lagi-lagi (dan lagi!) Menghela nafas, "dan aku tidak mungkin bisa move on dari orang yang kucinta itu karena ...."


"Kebanyakan menghela nafas bisa bikin keriput Bapak makin banyak."

__ADS_1


"... Orang itu selalu berada di dekatku."


Sangka mendelik mendengar suara teguran kurang ajar sang sekertaris yang sedang berdiri di depan pintu ruangannya.


"Hei Nona Sekertaris, yang sopan dong! Sebelum masuk ruangan, ketuk pintu dulu kek!" Omelnya.


"Tadi sudah diketuk Pak, cuma Bapak lagi sibuk melamun dan menghela nafas. Jadi Bapak nggak dengar."


Sangka mendengus, "Ada apa?" Tanyanya saat Taliyah sudah berdiri di depan mejanya.


"Tadi Pak Bagas menelpon, meminta saya untuk mengosongkan semua jadwal Bapak hari ini."


Sangka mengerucutkan bibirnya. Pak Bagas Wicaksana yang terhormat juga turun tangan? Yang benar saja? Pasti Ayahnya itu ikut campur dalam urusan perjodohannya karena tahu Nina adalah bagian dari anggota keluarga Bratasena. Dan kalau ayahnya sudah ikut campur, perjodohan Sangka dan Nina sekarang sudah masuk dalam bursa perjodohan bisnis.


"Katanya ada pertemuan keluarga penting."


Sangka mengangguk.


Melihat Bosnya tak memberi tanggapan lagi, Taliyah pamit keluar.


"Tal." Taliyah baru beberapa langkah saat Sangka memanggil.


"Iya, Pak?" Taliyah menoleh.


"Ayah dan Ibu ngajak aku ketemu sama keluarga Nina."


"Lalu?"


"Keluarga Nina ingin penjelasan soal perjodohan kami."


Taliyah diam. Matanya menerawang kosong.


"Ayah dan ibu sepertinya sangat berharap kalau aku mau menerima Nina. Ibu dengan alasannya karena Nina adalah calon istri dan menantu idaman, manis, lemah-lembut, pintar, dan dari keluarga baik-baik," Sangka tak sadar Taliyah terlihat seperti orang yang ingin muntah saat mendengar kalimat terakhirnya, "sedangkan Ayah karena alasan bahwa Nina adalah bagian dari Trah Bratasena. Salah satu perusahaan properti terbaik di Asia."


Taliyah masih diam. Kali ini dia terlihat seperti orang yang ingin mencincang orang lain.


"Aku bingung harus menjawab apa untuk kelanjutan perjodohanku dan Nina."


"Kalau Bapak suka dia, jawab saja iya." Ketus kalimat Taliyah.


"Aku kan sudah bilang, aku sudah suka pada orang lain!"


"Kalau begitu jawab saja tidak!"


"Tapi aku takut kualat karena menentang kemauan Ayah dan Ibu."


"Bapak ribet amat sih jadi cowok!" Bentak Taliyah kemudian keluar dan membanting pintu ruangan Sangka.

__ADS_1


Sangka melongo.


Itu ... Sekertarisnya lagi PMS ya? Kok jadi serem?


__ADS_2