
Sangka menatap cemberut pada pantulan bayangannya di dalam cermin. Malam ini dia keliatan ganteng dengan setelan tuxedo hitam, dan rambut keritingnya yang dikuncir rapi.
Di malam hari ini Sangka dikurung di sebuah ruangan di hotel, tempat dilaksanakannya pertunangan antara dia dan Nina. Seperti anak perawan yang dipaksa menikah, Sangka hanya bisa cemberut sambil memaki keluarga Bratasena di dalam ruangan tersebut.
Dia merindukan Taliyah. Kemarin ayahnya sudah memecat Taliyah dari perusahaan, dan asisten ayahnya juga mengatakan kalau Taliyah sudah diusir juga dari kost-annya, itu semua berkat campur tangan keluarga Bratasena dan ayahnya. Hal itu membuat Sangka marah dan sedih.
Dia merindukan Taliyah, dan dia bersumpah akan memperlakukan Nina dengan buruk sebagai salah satu bagian dari balas dendam.
Tuk. Tuk.
Suara ketukan pelan yang berasal dari jendela balkon tempat Sangka dikurung, membuat Sangka menoleh dan mengernyit.
Tuk. Tuk.
Perlahan dia menghampiri jendela balkon tersebut dan membukanya.
Ketika dibuka, dia dikejutkan oleh tindakan pengetuk balkon tersebut yang langsung mengecup bibirnya dengan cepat dan manis.
"Tali?" Sangka tertegun.
__ADS_1
"Halo," sapa Taliyah tersenyum manis.
Sangka gelagapan salah tingkah. Wajahnya memerah.
"Kamu ngapain di sini?"
"Aku datang buat perjuangin kamu," jawab Taliyah yang membuat Sangka mengerang tanpa daya.
"Kebalik. Seharusnya aku kan yang perjuangin kamu." Sangka menarik Taliyah ke dalam pelukannya. Dia membelai wajah sang pacar, dan merasa kalau pacarnya malam ini jauh lebih cantik dari biasa. Dia tampak polos sekaligus manis saat mengenakan gaun terusan berwarna putih dipadu dengan riasan wajah ala gadis manis dan juga rambut hitam panjangnya yang digerai. Senyuman manis yang ditunjukan Taliyah (selama ini Taliyah jarang senyum) membuat hati Sangka meleleh.
"Gimana kamu bisa naik ke sini?" Sangka baru ingat, kalau kamar hotel tempat dia dikurung berada di lantai tiga. Dia menatap Taliyah dan memperhatikan kaki dan tangannya, berharap tidak ada luka atau lecet disana. "Ini lantai tiga, Tali! Gimana cara kamu manjat ke atas sini pake gaun macam itu?!" Omel Sangka, "Dan gimana kalau kamu jatuh?" Dia terlihat khawatir.
"Kamu lupa kalau waktu kuliah aku atlet panjat tebing?"
"Aku juga bisa parkour," jawab Taliyah polos.
'Ok. Fix. Gue nggak guna jadi cowok,' Sangka meradang dalam hati. Dia lupa kalau Taliyah itu monster serba bisa, dia jago dalam olahraga fisik maupun otak. "Aku jadi ngerasa nggak guna jadi cowok," keluhnya yang membuat Taliyah mencubit pipinya gemas.
"Siapa bilang kamu nggak guna? Buatku kamu berguna banget."
__ADS_1
"... "
"Berguna untuk membuat hatiku tenang dan bahagia." Berguna untuk menjadi salah satu senjata balas dendamku, tambah Taliyah dalam hati.
"Aku terharuuuu." Sangka memeluk Taliyah erat.
Taliyah tersenyum. Dia melirik ke arah jendela balkon, tempat berdirinya bayangan seseorang di sudut gelap dengan kamera ponsel yang menyala.
Orang itu merekam semua hal yang terjadi antara Taliyah dan Sangka. Setelah dirasa cukup, dia kemudian mengirimkan video dan foto Taliyah dan Sangka tersebut ke whatsapp dan akun sosial media milik Sheilanina Bratasena.
Setelah menyelesaikan tugasnya, dia lalu turun dengan lincah, tanpa suara dalam gelap dan bak spiderman.
Setelah sampai di bawah, dia kemudian mengirimkan pesan pada atasnya.
...****************...
[Bos, tugas selesai. Saya sudah mengirimkan videonya pada Sheilanina Bratasena seperti yang diperintahkan.]
[Oke. Terimakasih. Kamu bisa kembali ke Markas dan bantu Bang Hakim.]
__ADS_1
[Tapi Bos, Saya diperintahkan untuk melindungi Bos]
[Jangan khawatir. Di Bratasena, ada anggota kita yang lain]