
Sangka menatap Taliyah dengan ekspresi sedih. "Tal, apapun yang terjadi tolong jangan tinggalin aku ya, Sayang."
"Hm."
Sangka menggenggam tangan Taliyah erat. Dia pusing, dia tidak bisa memutuskan pertunangannya dengan Nina, karena Keluarga Bratasena mulai ikut campur. Baru dua hari, perusahaan milik keluarga Sangka sudah menderita banyak kerugian. Stok tiba-tiba habis, Suplier menghentikan pasokan, dan bank tiba-tiba menagih pembayaran pinjaman mereka padahal belum jatuh tempo.
Bagas Wicaksana hampir membuat Sangka babak belur untuk memaksanya bertunangan dengan Sheilanina Bratasena, hingga Sangka tidak bisa melarikan diri dari pertunangan yang akan terjadi besok.
Taliyah menepuk punggung Sangka pelan sambil berkata : "Aku tidak akan pernah melepas kamu untuk perempuan itu."
Sangka menatap Taliyah dengan sorot mata haru dan penuh cinta, dia kemudian bangkit dari posisi duduknya dan memeluk Taliyah erat. "Saaayang. Aku cinta sama kamu."
"Hm." Seulas seringai menantang tersungging di bibir Taliyah, sorot matanya provokatif memandangi sosok yang berdiri mematung di depan pintu kantor Sangka. Sosok Itu adalah Sheilanina Bratasena, dia balas memandangi mata Taliyah dengan sorot benci. Sangka menbelakangi pintu masuk kantornya hingga dia tidak menyadari kehadiran Nina.
Taliyah dan Sheilanina saling memandang selama beberapa menit, sebelum Nina pergi dengan mata memerah dan marah.
'Kita lihat, sampai kapan kamu dan ibumu bisa menggunakan nama keluargaku untuk mendapatkan apapun yang kamu mau. Aku akan membuat kalian mengingat darimana asal kalian.'
__ADS_1
...****************...
Taliyah yang malam itu dalam perjalanan pulang dari belanja di Indom*r*t dekat kost-nya. Tiba-tiba berhenti berjalan. Dia menoleh ke belakang dan mendesah saat menyadari ada tiga orang preman yang mengikutinya.
'Mereka pasti dibayar orang itu.'
Taliyah sama sekali tidak kabur atau menghindar saat para preman itu menghampirinya. Mereka mengucapkan kata-kata kotor padanya.
Taliyah memasang kuda-kuda ketika salah satu diantara preman itu ingin menyerangnya, namun belum sempat menyerang... Preman itu terpental jauh akibat sebuah tendangan.
Taliyah melempar tatapan jengah pada sosok yang menendang preman tersebut.
Sementara Dirgantara menghampiri Taliyah sambil memeriksanya dengan sorot khawatir yang berlebihan.
"Kamu nggak apa-apa kan?"
Taliyah tak menjawab, dia menghempaskan tangan Dirga, lalu merangsek maju menghajar sisa preman yang berani menghadangnya. Dia cepat, lincah, cekatan dan juga kuat. Latihan bela diri yang selama ini dia jalani tidak sia-sia, hingga bisa membuat satu dari tiga preman itu bonyok parah--dengan muka yang hampir tidak berbentuk. Sedangkan Dirga, dia membekuk dua orang lainnya, sebagai seorang prajurit dan juga laki-laki sejati, tidak mungkin dia membiarkan Taliyah menghajar preman dengan jumlah yang lebih banyak dari dia.
__ADS_1
"Katakan, siapa yang menyuruh kalian menyerangku?" Tanya Taliyah dengan nada rendah berbahaya. Sedangkan Dirga berjaga-jaga di sampingnya, takut para preman itu menyerang.
"Tidak tahu. Kami hanya mendapat pesanan lewat chat dan telpon dari seorang perempuan, dia mengatakan akan membayar kami sepuluh juta kalau kami berhasil mengganggu dan melecehkanmu."
Dirga menggeram marah mendengar jawaban itu, dia mengambil tangan salah satu preman lalu memuntir keras pegelangan tangannya, hingga membuat preman itu berteriak kesakitan.
Taliyah hanya menatapnya datar. Lalu dia kembali menoleh ke arah si preman dan bertanya:
"Mana ponselmu?"
Preman yang ditanya Taliyah dengan cepat mengeluarkan ponselnya, dan menyerahkan bukti chat pada Taliyah.
Taliyah mengautak-atik ponsel itu sebentar, mengirim bukti chat ke ponselnya sendiri, lalu tertawa sinis.
"Keponakanmu benar-benar baik," katanya sambil melemparkan ponsel itu pada Dirga (yang dengan sigap ditangkap) lalu berjalan pergi meninggalkan keempat laki-laki tersebut.
Dirga membaca chat, dan keningnya langsung berkerut saat mengenali nomer ponsel di chat tersebut ;
__ADS_1
"Nina?"