
"Kenapa kamu nerima kalau nggak mau dimakan?"
Taliyah menatap rantang makanan yang diserahkan Sasangka dengan ekspresi datar. Dia ingat itu makanan yang diberikan perempuan bernama Nina pada Sasangka saat di kantor tadi.
"Aku nggak tega liat muka sedihnya," jawab Sasangka santai, lalu nyelonong masuk ke kamar kost Taliyah tanpa permisi.
"Trus ini mesti aku apain?"
"Pindahkan makanannya ke wadah makanan punyamu, trus cuci bersih tuh rantang." Sasangka merebahkan diri di atas tempat tidur Taliyah, lalu memejamkan mata lelah.
"Jangan sok ngebos. Ini bukan di kantor."
Sangka terkekeh mendengar gerutuan Taliyah. Perempuan itu meninggalkan kamar selama beberapa waktu, lalu kembali dengan rantang makanan yang sudah dicuci bersih.
"Trus makanannya mesti aku apain?" Tanya Taliyah lagi.
"Bisa kamu angetin buat makan malam nanti. Lumayan kan?"
Taliyah berpikir sebentar, lalu mengangguk. Dia ikut naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sebelah Sangka.
"Nggak pulang?"
"Pulang kemana? Apartemen atau rumah?"
"Terserah kamu sih mau jawabnya pulang kemana."
"Pulang ke apartemen, sepi. Kalau ke rumah, males. Ibu masih semangat mengenai perjodohan aku sama Nina. Katanya nggak usah pake tunangan langsung nikah aja," jelas Sasangka muram, "oh ya, Tal. Menurut kamu, Nina itu kayak gimana?"
Taliyah diam sesaat. "Baik dan manis," jawabnya kemudian.
"Menurut kamu aku cocok nggak sama dia?" Tanya Sangka penasaran.
Taliyah menoleh ke arah Sangka, wajah cantik yang dihiasi bingkai kacamata itu tampak berekspresi datar seperti biasa.
"Kamu maunya aku jawab apa?"
Sangka cemberut. "Emang susah ya ngomong sama Ratu Es kayak kamu," gerutunya.
Taliyah mengangkat bahu.
"Udah sana pergi! Aku mau tidur," usir Sasangka sebal pada Taliyah. Dan sebuah tendangan keras langsung bersarang di punggungnya hingga membuat Sangka terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Ini tempat tidurku, Bodoh!"
"Hei sekertaris kurang ajar! Aku ini bosmu, sopan sedikit ngapa?!"
"Bos idiot."
"Hei Tal!"
***
Taliyah dan Sasangka berteman sejak mereka masih di bangku kuliah. Taliyah orang yang suram, dan entah kenapa kesuramannya malah membuat Sasangka tertarik untuk mendekat. Buat Sasangka, Taliyah teman yang baik, dan sekertaris yang sempurna. Dia loyal pada teman dan perusahaan. Dia tidak akan bicara kalau tidak ada yang penting. Dan tidak akan menjawab kalau tidak ditanya.
Taliyah perempuan yang cerdas. Saat masih kuliah, dia sering membantu Sangka menyelesaikan tugas kuliahnya hingga mendapatkan nilai A. Dan sekarang ketika sudah bekerja, dia banyak membantu Sangka menyelesaikan masalah internal perusahaan dan juga memenangkan tender-tender besar.
Sasangka belum pernah bertemu dengan keluarga Taliyah. Perempuan itu tidak mau menceritakan tentang keluarganya. Dari rumor yang Sangka dengar ketika mereka kuliah, Ibunya Taliyah bunuh diri di rumah sakit jiwa, dia mengalami depresi setelah tahu sang suami tercinta berselingkuh dengan adik tirinya. Sementara Sang Ayah hidup bahagia dengan keluarga barunya. Sejak masih remaja, Taliyah harus bekerja serabutan untuk biaya sekolah dan kuliahnya sendiri.
Ketegaran Taliyah dan juga kebersamaan mereka selama bertahun-tahun membuat Sasangka diam-diam menaruh perasaan pada Taliyah. Hanya saja dia tidak berani mengungkapkannya. Takut apa yang sudah mereka miliki selama ini berubah.
***
Taliyah sedang asik menonton film yang baru saja di download-nya melalui laptop, ketika ponsel Sasangka berbunyi.
Taliyah melirik jam di laptopnya. Sudah jam delapan malam. Sasangka harus dibangunkan dan diusir pulang. Taliyah tidak mau kalau nanti dia yang diusir pemilik kost gara-gara menampung laki-laki aneh di kamarnya. Kost Taliyah adalah kost yang memiliki aturan dan jam malam.
Ponsel Sasangka masih berdering.
Mungkin dari keluarganya, pikir Taliyah sambil mengambil ponsel Sasangka yang tergeletak manis di atas tempat tidur, di samping si empunya.
Sheilanina.
Bibir Taliyah membentuk garis lurus ketika membaca nama itu.
Dia tidak suka perempuan ini.
Tak berpikir lama, dia mengangkat panggilan Nina.
"Halo?" Sapanya lembut.
Orang menelpon di seberang tak langsung menjawab. Mungkin dia bingung, kenapa yang mengangkat panggilan di ponsel Sangka seorang perempuan?
"Halo, ini siapa ya?" Taliyah mengulang pertanyaan. Padahal dia tahu, kalau yang menelpon adalah Nina.
__ADS_1
"Halo, saya Nina temannya Mas Sangka. Mas Sangka nya ada, Mbak?" Nina terdengar gugup dan bingung.
"Ada. Lagi tidur. Mau dibangunkan?"
"Eng. Nggak usah. Bilang saja padanya kalau Nina menelpon."
"Hm."
Ponsel dimatikan.
Taliyah menunduk dan mendapati Sangka yang menatapnya dengan mata mengantuk.
"Siapa?"
"Nina."
"Kenapa dia nelpon?"
"Nggak tahu. Tanya aja sendiri." Taliyah meletakkan ponsel di atas perut Sangka.
"Oh." Sasangka kembali memejamkan mata, dan itu membuat Taliyah kesal.
"Bangun oy! Udah malam. Jangan tidur mulu."
"Bentar lagi Tal, masih ngantuk nih. Lagi pewe juga."
"Pewe-pewe! Pulang sana, tidur di rumahmu sendiri!"
Dhuak!
"Tal, jangan maen nendang dong!" Protes Sangka saat dia kembali jatuh dari tempat tidur, akibat tendangan Taliyah.
"Kalau nggak mau ditendang! Pulang."
"Ponselku jadi rusak nih, gara-gara ikutan jatuh."
"Bodo," jawab Taliyah jutek, "udah sana pulang. Aku nggak mau digrebek RT gara-gara nampung kamu seharian di kost."
"Bagus dong digrebek RT. Kita bisa diseret ke KUA buat nikah gratis. Ayuk!"
"Bos sinting. Mau ditendang lagi?" Taliyah menatap Sangka kesal. Sementara Sangka hanya tertawa.
__ADS_1