
Dirgantara (3)
Akhir pekan ini, saat ada jadwal libur untuk keluar Kompi. Dirga kembali bertandang ke rumah sang kakak, dan dia mendapat berita gembira soal pertunangan keponakannya dua Minggu lagi.
"Yang mau tunangan kok murung?" Tegur Dirga pada Nina, yang sedang berbaring malas di kamarnya.
"Nina takut Om," ucap Nina sambil menatap Dirga melas.
Masuk, lalu duduk di samping Nina yang sedang berbaring di karpet hias di kamarnya, Dirga kemudian bertanya lagi, "Takut kenapa? Kamu nggak mau tunangan sama dia?"
"Aku mau Om, tunangan sama dia. Mau banget malah. Aku kan sudah jatuh cinta sama Mas Sangka sejak SMA."
"Trus masalahnya dimana?" Dirga tak mengerti dengan jalan pikiran keponakannya.
"Masalahnya Mas Sangka mungkin nggak suka sama aku," kata Nina sedih, "dia nerima aku karena paksaan orangtuanya. Dan ...," Dia menelan ludah kasar, " dia mungkin punya pacar lain."
Rahang Dirga mengeras mendengar perkataan Nina. Kalau benar si Sangka ini punya pacar lain, dia akan menghajarnya! Dirga tidak terima keponakannya dipermainkan.
"Pacar lain kayak gimana maksudmu?"
"Temanku bilang kalau dia pernah ngeliat Mas Sangka sama cewek lain."
"Mungkin itu teman atau saudaranya."
"Tapi katanya mereka kelihatan mesra," Nina hampir menangis, "setelah itu, temanku yang lain DM-in foto Sangka sama cewek lain, lagi belanja di Alfam*rt," dia mengambil ponselnya dari atas tempat tidur, mengutak-atiknya sebentar, lalu menyerahkan pada Dirga.
Dia memperhatikan foto di ponsel itu dengan seksama. Tampak seorang cowok jangkung berambut keriting, memakai kaus putih dan celana pendek abu-abu, menggandeng tangan perempuan yang memakai kaus dan celana jins yang sama dengan warna pakaian si cowok. Perempuan itu membelakangi kamera, sementara si cowok menghadap samping.
"Ini Sasangka?"
Nina mengangguk.
"Trus yang ceweknya?"
"Aku nggak tahu. Tapi aku curiga kalau Mas Sangka pacaran sama sekertarisnya."
"Apa?"
***
Sasangka (4)
"Sasangka?"
Sangka yang sedang asik menunggu seseorang di tempat parkir, berbalik ketika ada seseorang menyebut namanya.
"Iya?" Kening Sangka berkerut menatap perempuan cantik berambut ombre yang balik menatapnya dengan pandangan menyelidik. Di belakang si. Ombre cantik itu, ada dua orang laki-laki seumurannya yang kelihatan familiar.
__ADS_1
"Benar kamu Sasangka Wicaksana kan?"
Sangka mengangguk. Masih bingung dengan identitas si ombre cantik di depannya.
"Oh ya ampuuun!" Si Ombre cantik itu mendadak memeluk Sangka gemas, "nggak nyangka kita bisa ketemu disini."
"Iya nggak nyangka. Tapi kamu siapa ya?"
Mata bulat si ombre melebar. Masa kamu lupa sama aku? Aku Diana, mantan pacar kamu waktu kuliah!" Nada suaranya terdengar kesal dan tersinggung.
Sangka coba mengingat-ingat. Waktu kuliah dulu dia terlalu sering gonta-ganti pacar, sampai dia lupa siapa saja nama pacarnya. Dan mungkin si ombre Diana ini salah satunya.
"Udah ingat?"
Iyain aja deh, pikir Sangka sambil mengangguk, daripada kena masalah.
"Kamu lagi ngapain disini?" Tanya Diana lagi.
"Nungguin teman. Kamu?"
"Mau ke tempat Gamar," dia menggedikan bahu pada dua laki-laki di belakangnya. Dan Sangka tak mau repot-repot menebak, siapa diantara kedua orang itu yang bernama Gamar, "Hari ini istrinya ulang tahun, jadi mau bikin kejutan."
"Oh."
"Sang, kamu ...."
Kening Diana berkerut tak suka. "Taliyah kan?"
Taliyah melirik sebentar, "Hm," respon Taliyah datar sembari berjalan ke arah Sangka dan meminta kunci mobil lelaki itu.
"Masih betah aja kamu, Sang, nempel sama benalu satu ini."
Sasangka terkejut mendengar ucapan kasar Diana. Sepertinya hubungan Diana dan Taliyah tidak bagus dimasa lalu. Tapi hubungan semua mantan pacarnya dan Taliyah memang tidak pernah bagus.
"Ya jelaslah Sangka betah nempel sama gue, gue kan pinter sementara dia bego."
Sangka merengut mendengar komentar Taliyah, "Oi Tal"
"Jadi gue harus terus ada disampingnya, biar dia nggak kesasar atau salah ngambil keputusan."
Wajah merengut Sangka berubah menjadi sumringah. Apa kalimat yang baru diucapkan Taliyah itu berarti dia akan selalu berada di sisi Sangka selamanya?
"Kamu mau reunian cinta dulu sama dia, atau mau langsung pergi ke Lembang buat nemuin Pak Ikbal?" Tegur Taliyah yang sudah berada dalam mobil, pada Sangka yang masih berdiri di samping Diana.
"Hehehe sorry. Bye Di."
***
__ADS_1
Waktu terus berjalan. Dan tak terasa acara pertunangan Sangka dengan Nina tinggal seminggu lagi. Bagas dan Tyas, kedua orangtua Sangka, meminta putra sulung mereka untuk mengurangi kesibukan dan jadwalnya yang padat. Mereka ingin Sangka menemani Nina memilih cincin pertunangan, ataupun sekedar jalan-jalan sebagai ajang pendekatan.
"Menurut Mas, cincin yang aku pilih tadi bagus nggak?" Tanya Nina pada Sangka yang sedari tadi melamun menatap ponselnya. Mereka sekarang sedang berada di sebuah cafe di sekitar pusat perbelanjaan. Mereka baru saja selesai memilih cincin pertunangan.
"Bagus," jawab Sangka kalem.
"Tapi harganya terlalu mahal."
"Nggak apa-apa, toh aku yang bayar."
Diam.
Raut wajah Nina berubah mendung ketika Sangka menjawab perkataannya dengan kalimat-kalimat pendek. Nina menebak kalau pikiran laki-laki itu sedang pergi kemana-mana, sementara raganya berada di depan Nina.
"Kok nggak makan, Mas?" Tegur Nina lagi, merujuk pada cake durian, pesanan laki-laki itu yang sama sekali belum tersentuh.
"Oh." Sangka mulai menyendok cake-nya.
"Mas ada masalah?"
"Nggak."
"Kok dari tadi Mas diam aja sambil melototin hape?"
Sangka mengerutkan kening mendengar perkataan Nina yang terkesan seperti menginterogasinya.
"Mas lagi nungguin kabar dari Tali, soal proposal yang diajukan Perusahaan Mas ke PT Jagabaya. Ada masalah?"
Nina menggeleng cepat. Nada tidak suka kentara terdengar dari kalimat Sangka tadi.
Keduanya kembali terdiam dan hanyut dalam pikiran dan kesibukan masing-masing. Nina dengan cake-nya dan Sangka dengan ponselnya.
"Mas."
"Hmm?"
"Mas sudah lama kenal Tali?"
"Ya, sejak kuliah." Sangka melirik Nina sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponselnya, "Kenapa?"
"Menurut Mas dia orangnya kayak gimana?"
Sangka diam sebentar kemudian menjawab, "Pintar dan cekatan."
"Mas suka nggak sama dia?"
Sebelah alis Sangka menukik tajam mendengar pertanyaan Nina, sementara Nina menunggu jawaban Sangka dengan perasaan kacau.
__ADS_1
Jawab 'suka' pulang nanti bakal dibikin impoten sama Ayah. Jawab 'nggak' Minggu depan bakal ditunangin sama nih cewek. Mas harus jawab apa, Deq? Mas galauuu ini.