Eugene Dan Pria 4 Musim

Eugene Dan Pria 4 Musim
Prolog


__ADS_3

Lee Eugene adalah putri tunggal dari pasangan Lee Jae Joon dan Elijah saratov, ayah Eugene adalah pengacara kondang yang memiliki firma hukum sendiri dan ibu Eugene adalah seorang ahli di bidang parfum. Eugene lahir di Korea tapi saat usianya menginjak dua belas tahun ayah dan ibunya berpisah sehingga Eugene memilih untuk tinggal di Rusia bersama sang ibu.



Eugene sudah setahun tak bertemu dengan ayahnya karna kesibukannya sebagai mahasiswa, ia terdaftar sebagai mahasiswa tingkat empat desain interior sebuah kampus di Saint petersburg.



Sejak kecil Eugene dan ibunya berkomunikasi dengan bahasa Rusia sedangkan dengan ayahnya ia berbicara bahasa Korea. Eugene juga fasih berbahasa Inggris. Ia memiliki banyak teman ia anak yang mudah bergaul. Dan di kota inilah ia bertemu ke empat pria tersebut.



"hallo, appa bagaimana kabarnya? apa appa sehat? bagaimana dengan nenek?". tanyanya pada sang ayah.



"Ya, appa sehat nenek juga, ayah ingin kamu tinggal di Korea pulanglah ayah akan berikan apa saja yang Eugene mau". Jawab ayah di telpon.



"Nanti saat aku lulus aku akan pulang ke Korea, sudah aku akan segera masuk ada kelas sebentar lagi". Jawabnya buru buru. Ya Korea lebih cepat 6 jam di banding Rusia. disana sudah lewat jam makan siang sedangkan di Rusia masih terhitung pagi.



Tiba-tiba ada dua pria menghampiriku di jalan mereka bertanya apakah aku orang Korea? lalu ku jawab ya aku Korea.



Lalu aku bertanya bagaimana mereka tau aku orang Korea? mereka bilang tidak sengaja mendengar percakapan ku dengan ayah di telpon tadi, mereka bertanya tentang sebuah tempat di kota ini lalu ku jawab dengan detail, agar mereka tak tersesat karna mereka tidak fasih berbahasa Rusia, mereka ternyata akan mulai kuliah di kampus yang sama denganku.



Karna mereka dari Korea ku pikir tidak ada salahnya jika aku membantu mereka menjelajah kota ini.



Aku menawarkan pada mereka jika mereka mau aku bisa menemani mereka untuk berkeliling, tanpa pikir panjang salah dari mereka langsung mengiyakan. Aku langsung memperkenalkan diri ku Lee Eugene dan menyebutkan usiaku, kemudian salah satu dari mereka memperkenalkan diri



"Aku Kang Haneul". Kemudian ia menunjuk temannya.



"Dia Lee Auguste". Seraya menundukan kepalanya 30 derajat.



Sejak tadi dia yang paling tidak banyak bicara. Ternyata usia Kang Haneul empat tahun diatasku dia bilang ia keluar dari kampus lamanya karna awalnya cuti untuk wamil tapi setelah wamil selesai ia memutuskan untuk pergi ke Rusia dia bilang ia suka kota ini karna arsitekturnya, kemudian ia menjelaskan bahwa Auguste berkebangsaan Prancis karna ayah nya Prancis dan ibunya Korea.



Haneul dan Auguste bertemu di pesawat saat akan ke Rusia, aku sudah tau pastilah Haneul yang mengajaknya bicara duluan. Haneul mengatakan bahwa Auguste tidak terlalu lancar berbahasa Korea karna ia lama tinggal di Prancis, Auguste setahun lebih muda dari ku. Kami bertukar kontak, karna aku ada kelas aku langsung menyudahi percakapan kami, dan langsung berlari karna takut terlambat.



Aku tidak tau bagaiman menjelaskan visual dari dua orang yang ku temui kemarin, Haneul memiliki proporsi wajah yang sempurna dokter bedah plastik pasti akan setuju dengan pendapatku ia juga sepertinya memiliki tinggi sekitar hampir 180cm an sedangkan Auguste dia memiliki kulit seputih gula yang dihaluskan atau mungkin seputih salju karna dia tidak banyak bicara.



Ia sejak awal memberikan kesan yang dingin, ya seperti salju begitulah Auguste tidak setinggi Haneul sepertinya ia 175cm an.



Keesokan harinya ada chat masuk, kulihat ternyata itu dari Kang Haneul ia bilang dia sudah menemukan tempat yang mereka cari lalu dia bertanya kapan aku akan mengajak mereka berkeliling. Kami janji bertemu pada pukul sembilan karna hari ini hari sabtu aku tidak ada jadwal untuk kuliah. Aku melihat mereka dari sebrang jalan aku langsung menghampiri mereka lalu Kang Haneul bertanya



" kemana kita akan pergi hari ini?".



"Kita pergi ke museum, apa kalian tertarik?". Tanyaku.



Kami langsung pergi ketempat tujuan berkeliling sambil terus mengobrol ku lihat hanya Auguste saja yang sejak awal tidak mengatakan apa apa ia hanya mengatakan ya dan tidak, tapi ia begitu memperhatikan dengan detail setiap tempat matanya seperti kamera yang sedang memasukan gambar gambar itu kedalam memorinya. Hingga pada satu waktu ia bertanya padaku bagaimana aku bisa ada di Rusia.



Aku menjelaskan pada mereka bahwa ibuku orang Rusia sejak kecil aku bolak balik Korea Rusia hingga pada akhirnya aku menetap di Rusia karna perpisahan orang tua ku, ia dan Kang Haneul mendengarkanku dengan sangat serius tapi kemudian meminta maaf karna mungkin membuatku tak nyaman.



"Tidak apa apa, ayah ibuku berpisah dengan baik dari pada mereka bersama tapi tidak bahagia bukan kah kadangkala hubungan orang dewasa itu rumit". Jawabku menenangkan mereka.



Kemudian Haneul menjelaskan bahwa ia mengambil jurusan arsitektur dan Auguste mengambil jurusan hubungan Internasional. Saat berkeliling aku melihat ada seseorang yang sedang menatap sebuah lukisan seolah olah ia memahami apa yang tergambar disana, aku terus memperhatikannya dari kejauhan tubuhnya terlihat memiliki proporsi yang bagus tingginya kira kira 180 cm.



"Apa yang kau lihat?" tanya Haneul.



"Ah, itu sepertinya orang itu menyukai lukisan Alexander d'este. sepertinya dia menyukai karya seni". Jawab ku.

__ADS_1



Tiba-tiba pria itu menoleh, aku cukup terkejut karna reaksinya setelah mendengar kata kata ku. Aku langsung berbalik dan menarik Haneul pergi.



"Auguste, ayo ketempat lain". Seraya memanggil.



Kami langsung berpindah ruangan karna aku sudah beberapa kali kesini jadi aku sudah hapal aku hanya menjelaskan pada mereka apa yang ku tau sampai ada suara dari balik punggungku



"Itu karyanya yang ke empat bukan ke lima". Suara orang tersebut.


"Ah, benarkah? maaf mungkin pengetahuan ku tidak sebaik itu. Apa anda menyukai karya seni?". Tanyaku penasaran.



Dia mengulurkan tangannya "Aku Ryan Yu, aku bisa berbahasa Korea".



"Ah, pantas saja tadi dia menoleh ternyata dia mengerti bahasa Korea". Gumamku dalam hati.



"Aku, Kang Haneul". Seraya bersalaman.



"Aku, Lee Eugene senang bertemu dengan anda".



"Lee Auguste". mengenalkannya dengan singkat. Sepertinya Auguste memang berkepribadian dingin. Kami bertiga berbincang bincang karna bertemu orang yang mengerti bahasa kita, rasanya seperti bertemu teman yang sekampung halaman.



Kami pindah ke kafe yang berada tak jauh dari Museum. Kami minum kopi sambil berbincang, Ryan bilang dia mahasiswa jurusan seni yang sedang ikut pertukaran pelajar, ia akan menetap di Rusia selama enam bulan. Dari pembicaraan itu aku jadi tau bahwa Ryan adalah orang Makau ia bisa berbahasa Korea karna ibunya yang asli Korea.



Ia di Rusia bersama dengan sepupunya yang memang berkuliah di Rusia bernama Tianxi, tapi hari itu Ryan sendirian sepupunya tidak ikut karna sedang mengerjakan tugas. Ryan bilang tidak mudah bertemu dengan orang yang bisa berbahasa Korea.



"Sepupuku akan senang jika tau aku bertemu dengan orang orang yang berbahasa Korea". Katanya sambil tersenyum.




"Baiklah sampai jumpa lagi teman". Beranjak dari kursi.



Tidak terasa waktu sudah sore akhirnya kami menutuskan untuk pulang dan lanjut berkeliling besok, kami berpisah di tempat kami bertemu tadi pagi.



Hape ku berbunyi, ada pemberitahuan ada yang membuat grup chat saat ku lihat ternyata Ryan yang membuatnya dan memasukan aku Haneul Auguste dan juga sepupunya yang bernama Tianxi sebagai anggota grup chat. Kemudia ada chat masuk



"Apakah kalian teman temannya Ryan?". Isi pesan itu.



"Ah, ini pasti sepupu Ryan". Benak ku. Kami melakukan percakapan di grup hanya Auguste lah yang tidak muncul.



"Astaga, kenapa orang ini susah sekali bicara bagaiman bisa ia mengambil jurusan hubungan Internasional seakan ia sendiri jarang bicara".



Kataku sambil melempar buku. Mungkin dia jago bernegoisasi tanpa banyal berbicara aku juga tidak tau. Ryan mengajak kami bertemu untuk makan bersama besok sore, semua orang di grup menjawab setuju kemudian Haneul juga mengatakan bahwa Auguste juga setuju.



Kami janjian bertemu di sebuah restoran Itali tidak jauh dari kampus. Kami semua datang tepat waktu aku sore itu tidak naik kendaraan umum aku membawa mobilku sendiri saat melihat di parkiran ternyata Ryan bersama sepupunya turun dari sebuah mobil sport mewah,



"Mobilnya bagus sekali, kukira mereka mahasiswa biasa tapi ternyata tidak mereka kalangan atas". Gumamku sambil menatap.



Ryan melambaikan tanganya dan mengajak ku masuk bersama.


"Salam kenal aku Ji Tianxi aku sepupunya Ryan". Sambil mengajak bersalaman.


"Aku Lee Eugene". sambil menjabat tanganya.


__ADS_1


kami langsung masuk dan sudah ada Auguste dan juga Haneul mereka sudah duduk di tempat yang Ryan pesan. Makanan langsung di sajikan aku melihat sekeliling tidak ada siap siapa kecuali kami



" Apa kau sudah memesan tempat ini hingga tidak ada siapapun di dalamnya?". tanyaku penuh keheranan.



"Aku yang memesan tempat ini agar kita bisa lebih banyak mengobrol dan jadi teman". Jawab Tianxi.



Aku cukup terkejut karna restoran ini terhitung cukup mewah tapi ia memesannya untuk kami sore ini mereka berdua bukan mahasiswa biasa.



"Haneul mencairkan suasana dengan bertanya apa makanan kesukaan Ryan dan Tianxi, Haneul bercerita bahwa ia bisa masak apa saja dia bilang dia jago memasak. Tianxi bertanya padaku apa pekerjaan ayah dan ibuku, lalu ku jawab bahwa aku anak dari pengacara Lee jae joon dan ibuku seorang ahli parfum.



"Apa ibumu adalah Elijah Saratov?". tanya Ryan.



"Ya, Elijah Saratov ibuku". Jawabku singkat.



" Aku pernah membacanya di sebuah majalah". Jelas Ryan.



Ah pantas saja ia tau pasti Ryan juga suka membaca. Kami terus berbincang tentang keluarga kami aku jadi tau bahwa ayah Ryan adalah pengusaha ayah Tianxi juga pengusaha asal Hongkong ia adalah pewaris Ji Grup mulai dari hotel hingga kasino karna aku pernah membaca artikel tentang Ji grup yang memiliki banyak anak perusahaan.



Auguste adalah anak dari duta besar perancis yang ada Korea. sedangkan Haneul adalah anak dari pemilik Sky grup memiliki banyak properti dan terhitung juga perusahaan besar. Rasanya aku seperti di keliling pria hebat.



Empat Tahun kemudian...



Kami terus berteman hingga Ryan kembali ke Makau Tianxi lulus dan kembali ke Hongkong. tersisa aku Auguste dan juga Haneul. meski Tianxi dan Ryan sudah tinggal di beda negara kami tetap berteman. ada sedikit perubahan yang terjadi pada Auguste dia kadang lebih cerewet dari biasanya entah kerasukan setan apa.



Tahun ke empat pertemanan kami kami masih terus bertemu saat liburan, kudengar Ryan ke Korea ia menjalankan sebuah galeri seni dan Tianxi mulai bekerja di perusahaan Ji grup milik keluarganya.



Aku sudah berjanji pada ayahku akan pulang karna S2 ku pun telah selesai maka aku memutuskan untuk ke Korea. Haneul dan Auguste juga sudah lulus S1 kami kembali ke Korea bersama kami jadi seperti keluarga mereka semua mengenal ibuku bahkan mereka sering datang kerumah Haneul memasak dan kami sisanya hanya menunggu makanan matang.



Setelah kami sampai di Korea komunikasi kami sempat tidak sesering dulu karna aku mulai sibuk dengan aktifitas, aku mengajukan syarat bersedia pulang pada ayah aku ingin gedung di jalan human untuk ku jadikan sebagai kantor desain ku sendiri dan ayah mengijinkannya aku juga mengajukan syarat untuk tetap di beri uang bulanan dan juga sebuah mobil semua hal itu tidak berat untuk ayah karna semua biaya ku hidup di Rusia semua dari ibuku, ayah menolak memberi uang karna aku lebih memilih tinggal dengan ibu jadi aku juga tidak segan meminta semua hal itu pada ayah.



Aku mulai mendesain ruang ruang di gedung berlantai tiga tersebut aku menjadikan lantai dasar sebagai kafe untuk hangout bersama teman lantai duanya ku jadikan sebagai kantor dan lantai tiganya ku jadikan kamar aku sengaja tidak meminta sebuah rumah agar aku tidak perlu kemana mana semua jadi dekat rasanya bertambah umur rasa malas pergi jauh juga ikut menyerangku.



Aku memiliki dua karyawan untuk kafe dan satu untuk desain ia berperan sebagai asisten. Setelah tiga bulan aku tinggal di Korea tiba tiba ada telpon masuk



"Aku di Korea ayo bertemu". Suara di sebrang sana.



"Apa ini Tianxi? kau ganti nomer lagi? atau kau punya banyak hp?" Tanyaku serius.



"Aku punya banyak hp para wanita mengejarku terus jadi aku harus menghindar kau tau berapa banyak hp ku?". Jawabnya sambil terkekeh.



" Tidak, aku tidak ingin tau berapa banyak hp mu percuma kau terlalu sibuk untuk kami buang saja hp mu". Jawabku kesal.



Kami kemudian berkumpul kembali di sebuah hotel tentu saja hotel Ji grup kami menempati ruangan VIP di lantai 10 ruangan tersebut khusus Tianxi buat untuk di jadikan tempat kami berkumpul dan kami sudah menandatangani surat perjanjian bahwa setiap bulan di minggu kedua kami harus meluangkan waktu untuk bertemu disini.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca, tunggu kelanjutannya....


__ADS_2