
Di apartemen Hunnam the Hill
Percakapan ibu dan Tianxi...
"Kau tidak akan mengatakan apapun pada ibu?"
"Mengatakan apa? tidak ada".
"Artikel waktu itu".
"Ahh, Eugene pasti sudah menjelaskan pada ibu ya apa ibu marah?".
"Kapan memangnya ibu marah padamu?"
"Lalu ibu ingin dengar apa dari ku?".
"Kenapa harus pura pura, berkencan betulan juga tidak apa apa".
"Ibu kenapa bicara begitu?".
"Ibu tau kau menyukai Eugene, ibu menyadarinya saat melihatmu terakhir kali sebelum kau pulang ke Hongkong".
"Ahh ibu jangan menebak nebak".
Suara memasukan password pintu, lalu terbuka. Aku sampai di rumah dan melihat ibu juga Tianxi duduk di sofa.
"Kenapa ibu tidak bilang akan datang?".
"Ibu ingin memberimu kejutan".
"Yhaa, benar ibu membuatku sangat terkejut".
"Ada apa dengan wajahmu itu?".
"Aku sedang sangat kesal pada bos ku bu".
"Haejin yang membuatmu kesal?". Tanya Tianxi.
"Iya siapa lagi".
Ibu langsung memelukku dan mengusap usap punggungku. Ibu menyuruhku mandi karna ibu akan pergi ke dapur untuk memasak. Tianxi juga pergi kembali ke hotel ia bilang ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Tianxi bilang ia akan kembali nanti malam.
Aku selesai mandi, ibu masih memasak di dapur. Aku pergi untuk membantunya masak dan menghidangkan makanan di meja.
"Sayang ibu akan kembali besok pagi".
"Kenapa ibu langsung pergi lagi?"
"Ibu hanya ingin melihatmu, dan sebenarnya masih ada project yang belum selesai jadi ibu harus segera kembali".
"Ibu sangat sibuk, ayah juga begitu".
"Jangan marah, ibu akan mengambil libur selama dua minggu saat bulan desember nanti".
"Ya baiklah".
Ibu memelukku lagi, kami selesai masak. Terdengar ada yang membuka pintu, ternyata itu Haneul ia membawa wine dan sebuket bunga untuk ibu. Haneul langsung memeluk ibu dan memberinya bunga.
"Ibu kenapa sangat mendadak?".
"Iya, ibu sangat rindu Eugene jadi langsung pesan tiket dan terbang ke Korea".
"Kau tau hyung yang lebih menyebalkannya adalah ibu akan pulang besok pagi". Kataku sambil cemberut.
"Benarkah itu bu?".
"Iya, itu benar".
"Ibu harusnya kau tinggal beberapa hari lagi".
"Ibu sudah pesan tiket untuk pulang".
Ibu menaruh wine yang di bawa Haneul ke meja dan menyiapkan lima gelas. Ibu masih belum tau jika Ryan tidak akan ikut karna aku tidak bilang apa apa, aku akan membiarkan Guste yang memberitahu bahwa Ryan tidak akan ikut. Haneul menelpon Guste dan menannyakan keberadaannya.
Tak lama Guste sampai di apartemen, lalu ia bilang bahwa Ryan sedang ada project di luar kota jadi tidak bisa ikut makan malam. Aku diam saja tak mengatakan apapun.
Di sisi lain...
Haejin pulang kerumahnya ia minum alkohol dan kemudian memecahkan gelas gelas yang ada di dekatnya. Ia terlihat sangat frustasi dan terlihat sudah sangat mabuk tangannya terluka hingga mengeluarkan darah. Ia terus berteriak teriak.
Asistennya mendengar teriakannya lalu mengecek keadaan Haejin.
"Tuan, ada apa?".
"Pergi, jangan hiraukan aku".
"Tuan, apa anda sudah minum obat?".
"Aku sudah membuang semua obat itu".
"Tuan tangan anda berdarah ayo kita obati".
"Telpon Eugene, aku ingin dia datang".
"Tapi Tuan jika nona Eugene tidak bisa datang bagaimana?".
"Kau harus bisa membuatnya datang".
Asistennya menuruti keinginan Haejin, Ia menelpon ku saat jam makan malam. Ia menelpon dengan ponsel milik Haejin suara dari asistennya sangat panik. Aku menerima telpon di balkon agar tidak terdengar ibu dan teman temanku.
"Nona apa anda di rumah? Tuan muda ia mabuk dan tangannya terluka ia tidak mau meminum obatnya".
"Ada apa dengannya apa dia sakit kenapa harus minum obat?".
"Sebenarnya ia memiliki ganguan kecemasan selama ini ia teratur minum obat, tapi hari ini dia memecahkan banyak gelas dan membuat tangannya terluka".
"Tapi aku sedang makan malam bersama ibuku, telpon saja ayahnya aku tidak bisa datang".
Tiba tiba terdengar suara air beriak dan asistennya berteriak memanggil nama Haejin, lalu telpon pun mati. Aku merasa khawatir tapi moment ini sangat langka aku berat jika harus pergi. Kemudian ibu datang menghampiriku dan bertanya ada apa, aku menjelaskan sesingkat mungkin tentang masalah Haejin lalu ibu menyuruhku untuk datang kesana.
"Mungkin tidak ada orang lain yang bisa membantunya, karna cuma kamu tempat yang paling ia percaya".
"Tapi bu makan malam ini bagaimana?".
"Kau kan tidak mungkin semalaman disana, segeralah pulang selesai membantunya".
Setelah berbicara dengan ibu aku pun memutuskan untuk pergi. Aku langsung menyetir mobilku dengan cepat, ibu bilang ia akan menjelaskan sistuasinya pada teman temanku.
Sesampainya di rumah Haejin terlihat dari luar rumahnya cukup gelap, aku langsung masuk dan memanggil manggil Haejin. Aku tak melihat ada orang lalu aku menuju kolam renang aku melihat Haejin tertulungkup dan mengambang. Aku berteriak dan langsung masuk ke kolam. Ternyata Haejin pingsan aku menepikan tubuh Haejin ke pinggir kolam.
Aku menekan dadanya, dan terus memanggil manggil namanya. Aku merasa sangat panik
"Kemana perginya orang itu?".
"Ah, kenapa lampunya nyala ada apa ini?".
__ADS_1
Haejin bangun dan memelukku.
"Kau merencanakan ini? apa kau pikir ini lucu?".
Aku melepasa pelukannya dan mendorongnya masuk ke kolam, ia menarik tanganku hingga membuatku ikut jatuh ke kolam. Ia menahan tanganku dan mendekat, Haejin lalu menciumku. Aku mendorongnya dan marah.
"Apa yang kau lakukan? aku meninggalkan ibu ku hanya untuk melihatmu kau sudah membuang buang waktuku".
"Eugene aku sangat marah padamu aku tidak bisa mengontrol diriku".
"Kau mabuk, aku akan langsung pulang". aku membelakingnya dan akan naik dari kolam.
"Kumohon jangan pergi". Ia memelukku dari belakang.
Aku berusaha melepasnya tapi tangannya cukup kuat, lalu ku dengar isakannya. Ternyata Haejin menangis, aku pun merasa simpati dan berbalik menatapnya.
"Ayo minum obat, dia bilang kau tidak minum obat hari ini".
"Apa kau takut padaku Eugene?".
"Tidak, aku hanya membencimu".
"Ya lebih baik kau benci aku dari pada takut".
Lalu ia menarik pinggangku dan mendekatkan wajahnya, ia menciumku lagi lebih agresif. Aku berusaha melepas tangannya yang memeluk pinggangku dengan erat. Aku mendorongnya dan ia melepas ciumannya.
"Kau benar benar tidak waras".
"Jangan bicara lagi, atau kau ku cium lagi".
Ia kembali mendekat dan aku memukulnya agar menjauh, aku langsung berjalan dan naik dari kolam. Pakaianku basah semua, Haejin juga naik lalu menarik tanganku.
"Lepaskan aku mau pulang".
"Ganti bajumu dulu".
"Kau benar benar selalu menjengkelkan".
Ia mengajakku ke lantai dua rumahnya. Aku mengikuti langkahnya sampai di depan kamar.
"Kau membawaku kemana?".
"Ini kamarku masuklah".
"Untuk apa aku ke kamarmu".
"Kau harus obati tanganku dulu".
Ia menyodorkan tangannya, lalu mencari kotak obat di dalam kamarnya. Aku pun terpaksa masuk dan mengobati tangannya lukanya cukup dalam tapi ia tak bereaksi kesakitan.
"Kau tidak merasakan sakit?".
"Oh aku belum cerita ya, aku kehilangan kesadaran respon dari rasa sakit".
"Apa hal seperti itu benar benar ada?".
"Kau cari tau saja kalau tidak percaya padaku".
"Kau sudah tidak mabuk?".
"Kau benar benar aneh".
Aku terus mengolesi lukanya dengan obat lalu menutup lukanya dengan kasa dan plester. Setelah selesai ia tiba tiba membuka pakaiannya di depanku.
"Yhaa yhaaa yhaaaa, kenapa kau membukanya di depanku".
"Memangnya kenapa kau akan melihatnya juga ko sekarang atau pun nanti".
"Kau benar benar aneh, cepat minum obatmu aku akan pulang".
"Aku tidak bilang kau boleh pulang".
Ia mendekat dan masih belum berpakaian, aku mendorongnya agar menjauh. Ia tertawa melihat ku panik.
"Ekspresi panikmu berbeda dengan saat di kolam tadi, kau benar benar terlihat putus asa".
"Tapi sekarang ekspresi panikmu seperti ingin menghindari sesuatu".
"Yhaa kau dasar mesum, apa semua gadis kau perlakukan sama?".
"Apa maksudmu? Aku tidak memperlakukan mereka sepertimu kau berbeda aku sangat menyukaimu hingga aku tidak peduli kau berkencan dengan berapa pria sekaligus itu bukan masalah aku akan menyingkirkan mereka pada akhirnya".
"Kau benar benar gila, kau pikir aku ini perempuan murahan sehingga mengencani banyak pria?".
"Kau bukan murahan kami laki laki yang bisa melihat pesona berbeda yang kau miliki itulah kenapa aku ingin benar benar membuatmu jatuh cinta padaku".
"Apa kau pikir aku akan bisa jatuh cinta padamu?".
"Tentu saja".
"Minum dulu obatmu sana agar kau tak bicara hal aneh padaku".
"Apa kau bilang?".
Aku yang duduk di pinggir tempat tidurnya di dorong hingga jatuh terbaring. Ia naik ke atasku lalu menahan kedua tanganku.
"Jangan membuatku marah dengan menganggapku sakit".
"lepaskan aku, lagi lagi kau membuatku marah".
"Kau tau seberapa menyiksanya aku menahan marah ini? Kau bisa dengan mudahnya tersenyum di depan pria pria itu kau selalu terlihat akrab berbeda denganku kau selalu menjaga jarak".
"Kau tau, karna mereka sangat menghormatiku memperlakukan ku seperti seorang putri bahkan saat mereka mabuk mereka tidak mencelakaiku atau bahkan membuat tipu muslihat sepertimu".
Mendengar itu ia langsung melepas tanganku dan bangun, aku bergegas beranjak dan berjalan keluar kamar. Haejin menahan tanganku lagi.
"Maafkan aku, gantilah dulu pakaianmu".
Ia mengeluarkan kemeja putihnya dari lemari.
"Kau bisa mengeringkan pakaian dalamu kedalam lemari itu aku akan menunggu di luar".
__ADS_1
Aku mengikuti perintahnya dan mengganti pakaianku, aku menggantung pakaianku kedalam lemari yang bisa membuat pakaian mudah kering. Aku keluar mencari Haejin, ternyata ia di dapur lalu aku menghampirinya.
"Memangnya kau belum makan?".
"Belum".
"Kau harusnya punya asisten agar kau tidak sendirian di rumah".
"kan sudah ada pak Shin kenapa harus mencari lagi".
"Dia kan hanya menjaga rumahmu, kau harus punya untuk mengurus rumahmu".
"Sudah ada istri pak Shin datang setiap hari ia pulang sebelum aku sampai di rumah".
"Kau bodoh harusnya kau punya banyak pekerja agar tidak kesepian di rumah".
"Aku sudah terbiasa kesepian, kau boleh pulang".
Aku masih khawatir untuk meninggalkannya sendiri, tapi aku tidak mungkin semalaman disini dan aku juga tidak mungkin mengajaknya untuk pulang. Ia yang sejak tadi tidak memperhatikanku tiba tiba berbalik dan menatapku.
"Apa yang kau lakukan jangan menatapku begitu".
"Berani beraninya kau turun tanpa mengenakan pakaian dalam, kau akan terus menguji kesabaranku ya?".
"Otakmu kotor, jangan menatapku begitu aku hanya tidak mengenakan bra saja jangan berpikiran mesum".
"Kau yang memancingnya bukan aku, ahh aku tidak tau jika kemeja ku ternyata bisa seberbahaya ini jika kau yang memakainya". Ia lalu memejamkan matanya.
"Aishh, dasar kau mesum".
Aku duduk di meja barnya sambil melihatnya memasak, aku melihat ada buah apel lalu aku mengupasnya dan memakannya. Haejin selesai masak ia menaruh masakannya di meja bar itu ia menatapku yang sedang memakan buah apel.
Tanpa aba aba ia menggigit apel yang ku makan, aku yang masih terkejut langsung mendorongnya.
"Kau kan bisa makan apel yang di piring kenapa harus dari bibirku". Kataku kesal.
"Aku tidak bisa menahannya bibirmu dan apelnya sama sama terlihat manis jadi aku menggigitnya". Katanya sambil tersenyum.
"Aku tau kenapa Haneul tidak bisa meninggalkanmu, karna ia juga seperti aku setiap melihatmu aku sangat sulit mengendalikan diriku".
"Kau tau, otakmu sangat kotor Haneul tak pernah menciumku kami berteman sangat baik sejak dulu".
"Benarkah kau belum pernah di cium Haneul? Yasudah biarkan ia rugi aku akan menciummu lagi nanti".
Aku beranjak dari kursi saat Haejin duduk di sebelahku, ia menarik tanganku dan membuatku terduduk di atas pangkuannya. Ia memelukku lagi lalu menciumi leherku lalu menggit telingaku. Aku pun bisa mendengar dengan sangat jelas hembusan nafasnya. Aku berontak tapi tubuhku merinding karna perlakuannya.
Ia melepas pelukannya dan menurunkan ku dari pangkuannya tapi ia masih memegang pinggangku. Ia menarikku mendekat lalu mencium leherku lagi lalu menggigitnya setelah itu ia melepasku.
"Kau benar benar mesum". Kataku sambil memukul mukul dadanya.
Dia hanya tersenyum, lalu menyuruhku mengganti pakaian dan akan mengantarku pulang.
"Tak ku sangka kau ternyata berbahaya, seharusnya aku tadi tidak perlu kesini".
"Aku tidak menidurimu, aku hanya menciumu saja".
"Aishh, dasar kau mesum bagaimanapun itu harusnya kau lakukan pada pacarmu bukan padaku cari saja wanita yang bisa kau permainkan".
Mendengarku bicara begitu, Haejin lalu mengambil pisau yang tadi ku pakai untuk mengupas buah.
"Kau lihat aku bisa menyakiti diriku sendiri, aku tak pernah ada niat menyakitimu aku juga tidak mempermainkanmu aku hanya melihatmu saja baik kemarin hari ini dan seterusnya aku hanya menyukaimu".
Ia lalu menggoreskan pisau itu ke talapak tangannya, aku pun berteriak.
"Apa yang kau lakukan jangan bertindak bodoh".
Aku mengajaknya untuk mencuci darah dari telapak tangannya, dan untungnya ada kotak obat di dapur aku pun langsung membalut lukanya.
"Kau lihat tanganmu dua duanya terluka, kau lebih senang melihatku tersiksa bukan begini cara untuk mengambil perhatianku". Kataku sambil marah marah karna kesal.
"Kau semakin cantik saat marah". Ia membelai rambutku ke belakang telinga.
"Diamlah jangan membuatku marah bisa bisanya masih berkata begitu saat ini".
Ia malah tersenyum lalu mengecup bibirku, aku sudah lemas karna tindakannya menggores pisau jadi tidak memberikan reaksi apapun.
"Kau marah ya?".
Aku tidak menjawabnya lalu pergi untuk mengganti pakaian. Ia tidak mengikutiku, selesai berganti pakaian aku langsung pergi ke bawah ia sudah di dalam mobilku. Ia bilang akan pulang dengan naik taksi jadi ia akan mengantarku pulang.
Aku masuk ke mobil, Haejin pun langsung memacu mobilnya.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri lagi atau aku akan benar benar menjauh darimu".
"Dan jangan lupa untuk meminum obatmu, jangan membuatku khawatir atau aku akan benar benar menghilang dari sisimu".
"Kau mengancamku?". katanya sambi tersenyum.
"Jika kau khawatir padaku berikan aku ciuman setiap hari maka aku akan meminum obat di depanmu".
"Kau benar benar pria mesum, terserah kau mau minum obat atau tidak bukan urusanku".
Haejin kemudian menggenggam tanganku.
"Jika aku bersamamu, semua perasaan cemasku hilang kau seperti obat bagiku".
"Jangan merayuku, itu tidak mempan untukku".
"Aku berkata yang sesungguhnya, kau tidak percaya padaku?".
"Aku tidak tau kapan harus percaya padamu, sudah jangan bicara".
Kamipun sampai di parkiran apartemenku, ia memelukku sebelum pergi. Haejin melambaikan tangannya dan berseru "Dadah sayangku". Seketika membuatku bergidik ngeri.
"Sialan harusnya aku benar benar membencinya tapi kenapa aku malah simpati seperti ini padanya, aku tidak bisa menyukai pria aneh seperti dia".
Aku terus berbicara sendiri sampai di depan apartemen.
__ADS_1