
Masih di kediaman Haejin...
Aku menghentikan langkah ketika mendengar apa yang Haejin ucapkan, kemudian aku berbalik untuk melihat seringaiannya yang pernah ia perlihatkan padaku sebelumnya.
"Apa maksudmu?". Mengerutkan dahi karn heran dengan ucapanya.
"Aku sudah bilang untuk tunggu kau ini keras kepala sekali sih". Berjalan mendekat.
"yhaa, jangan mendekat". Mengangkat satu tanganku kedepan memberi isyarat.
"kenapa tidak boleh?". Terus berjalan menyudutkan.
"Sudah ku katakan jangan dekat dekat heiii dasar mesum". Menyilangkan tangan dan memejamkan mata.
"tukk" Bunyi dahi yang di ketuk.
"Aww, sakit tau". Ucapku membuka mata dan memegang dahi.
"Kau pikir aku dekat dekat untuk memeluk mu? atau mencium mu begitu? Heii kau ternyata yang punya pikiran mesum bukan aku". Ucap Haejin mencela sambil terkekeh.
"Aihhh, siapa juga yang berpikir seperti itu". Sangkalku padanya sambil cemberut.
Haejin menarik tanganku dan mendudukan ku di sofa.
"Sini hp mu aku akan menelpon Haneul untuk memberitahunya bahwa kau habis makan malam dengan rekan kerja". Ucapnya sambil menyodorkan tangan menunggu handphone ku.
"Tidak, aku tidak akan memberikannya padamu". Ucapku menolak usulannya.
"Baiklah tapi ijinkan aku mengantarmu pulang ini sudah larut". Ucap Haejin pelan.
Ia tiba tiba merubah ekspresinya, kemudian mulai bicara tentang masalalunya dengan Haneul. Mereka adalah teman sejak masih duduk di bangku SMP hingga SMA tapi kemudian sesuatu terjadi diantara mereka yaitu Haejin berkencan dengan Somin dan Haejin tidak tau jika Somin adalah orang yang Haneul maksud sebagai teman masa kecil yang Haneul sukai.
Sampai suatu hari Haneul bertemu mereka dan Haejin sedang menggenggam tangan Somin erat, dari situlah Haejin baru tau jika Haneul dan Somin saling kenal. Sejak saat itu Haneul tidak pernah bicara dengan Haejin, Haejin bahkan memutuskan untuk meninggalkan Somin agar Haneul tidak marah padanya lagi. Namun Haneul tidak pernah mau bicara dengan Haejin dan terus menghindarinya, sampai suatu hari Somin pergi ke Italia karna kecewa pada Haejin yang memutuskannya hanya karna Haneul menyukai Somin lebih dulu.
Akhirnya Haejin menyerah dan memilih untuk tidak lagi menyapa Haneul, dan kesalah pahaman itu tidak pernah terselesaikan. Itulah kenapa ketika bicara mereka saling sinis.
Disisi lain di apartemen ku...
Mereka bertiga sedang berdiskusi dan telah menemukan keberadaan ku.
"Hyung sebaiknya kita menjemputnya!". Ajak Guste pada mereka berdua.
"Kita tidak bisa sembarangan menerebos rumah orang lain". Ucap Haneul pada kedua temannya.
" Aku tidak mungkin membiarkan Eugene disana hyung bagaimana jika Haejin melakukan sesuatu, jika dia berani menyentuh Eugene aku akan buat perusahaannya hancur". Ucap Tianxi dengan wajah kesal.
Haneul menjitak kepala Tianxi " Yhaaa, aku memang tidak menyukai Haejin tapi aku tau dia bukan pria mesum".
" Lalu apa yang harus kita lakukan?". Tanya Guste pada Haneul bingung.
Haneul menelpon Haejin dan menyuruh nya mengantar Eugene pulang, Haneul bilang ia menunggu di apartemen Eugene.
Kembali ke rumah Haejin...
"Mati aku Haneul tau aku dimana". Gumamku dalam hati.
Haejin langsung menarik tanganku untuk pergi. " Kau bisa pelan pelan tidak sih". Dumelan ku padanya.
"kiyowoo". Ucapnya sambil mencubit pipiku.
"Yhaa, kau dasar tidak sopan". Ucapku sambil mengusap ngusap pipi.
Haejin tertawa karna tingkahku. Sepanjang jalan ia menyalakan musik yang slow membuat suasana lebih tenang, Tiba tiba Haejin memegang tanganku. Dengan gerakan spontan aku menepis tangannya pelan.
"Kau tak suka jika aku memegang tanganmu?". Tanyanya dengan sesekali menatap.
"Ahh, aku sedikit tidak nyaman". Ucapku tanpa menatapnya.
__ADS_1
"Baiklah aku minta maaf, jangan salah paham tentangku aku menyukaimu bukan karna kau berkencan dengan Haneul tapi memang sejak melihatmu waktu itu". Ucap Haejin tiba tiba menghentikan mobilnya.
"Aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama jadi jangan mengatakan hal hal yang aneh". Ucapku menatapnya serius.
"Ayo jalan lagi, nanti Haneul menunggu". Ajaku pada Haejin sambil menatapnya yang terlihat sedang berpikir.
"Kau bisa diam tidak?". Ucap Haejin tiba tiba mendekatkan wajahnya.
"Ohh, itu hidhidungmu berdarah". Ucapku panik mencari tisu.
Haejin langsung melihat cermin dan mengusap hidungnya. "Ahh tubuhku merespon lelah ternyata". Ucapnya santai.
"Yhhaa, lihat itu bajumu terkena ceceran darah ini harus segera di hentikan". Ucapku sambil mengeluarkan sapu tangan.
Dengan refleks aku memundurkan kursi Haejin, aku langsung menyondongkan tubuhku dan tanganku bertumpu di pinggiran kursi untuk membantu menahan mimisannya. Mata kami bertemu dan bertatapan cukup lama karna posisi kami yang sangat dekat aku bisa mendengar dan merasakan hembusan nafas Haejin. Karna merasa canggung aku memundurkan wajahku.
Tiba tiba ia merubah posisinya jadi menghadap kearahku kemudian menyingkarkan tanganku dari hidungnya dan menahan tanganku agar tidak menolaknya, dan seketika ia menciumku dengan darah yang mengucur dari hidungnya. Aku berontak karna darahnya mengenai wajahku. Aku mencoba untuk melepaskan tangannya yang menahan ku, tapi usahaku sia sia saja karna ia malah semakin bersemangat dan memindakan tangan satunya untuk memegang leherku. Aku pun mengigit nya agar ia melepaskan ciumannya.
"Awhhh, rupanya kau mengigitku agar aku melepaskanmu". Ucapnya sambil tertawa sinis.
"Kau gila ya, bisa bisa nya memanfaatkan situasimu darahmu mengenai wajahku tau". Ucapku sambil melempar sapu tangan padanya.
"Kau yang membuatku melakukannya, apa aku harus menyia-nyiakan momen yang bagus ini setidaknya aku akan mengingat bahwa luka di bibirku ini adalah bekas yang kau tinggalkan". Ucapnya seraya tertawa dan menaruh sapu tangan di hidungnya.
"Apa ciumanku tidak lebih baik dari Haneul?". Tanyanya berubah sinis.
"Kuberi tau satu rahasia, aku dan Haneul berteman baik kami tidak berkencan dan kau sia sia saja melakukan semua ini". Ucapku sinis menatap jendela.
"Laki laki dan perempuan berteman dengan baik bertahun tahun, apa aku harus percaya lelucon itu? Apa kau sangat ingin aku menyerah untuk tidak lagi menyukaimu? Aku tidak peduli lagi kau berkencan atau tidak aku akan tetap berada di dekatmu karna aku menginginkannya". Ucap Haejin dengan serius dan memacu mobilnya kencang.
" Hentikan mobil nya, ku bilang hentikan jika kau ingin mati mati lah sendiri jangan mengajakku". Ucapku memejamkan mata dan memegang safetybelt.
Ia tetap memacu mobilnya dengan cepat dan melepas sapu tangan dari hidungnya karna sudah berhenti berdarah. Tapi di bajunya tetap tertinggal noda darah. Sesampainya di Apartemen ia memarkir mobilnya dan segera turun, ia membuka pintu untuk ku.
"Kenapa kau ikut turun? pulang saja lihatlah bajumu". Menunjuk baju Haejin yang terkena darah.
"Aishh orang ini benar benar ya, bisa bisa nya dia melakukan hal itu padaku". Dumel ku sambil berjalan di belakangnya.
Ia memencet bel apartemen dan ku lihat Haneul yang keluar, ia terkejut melihat Haejin karna pakaiannya yang ada noda darahnya juga melihat ujung bibir Haejin yang terlihat luka.
"Eugene, apa kau terluka? ada apa dengan pakaiannya? Tanya Haneul padaku panik.
"Dia mimisan". Ucapku singkat mendorong Haneul masuk kerumah.
Aku pergi meninggalkan mereka di depan pintu, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku bergegas ke kamar dan memutuskan untuk segera mandi. Selesai mandi aku mendengar ketukan pintu kamar.
"Ada apa hyung?".Tanyaku pada Haneul.
"Apa terjadi sesuatu? kenapa dia mimisan, kau tidak memukulnya karna ia bertindak kurang ajarkan?". Tanyanya penuh selidik.
"Dia mimisan saat perjalanan pulang aku tidak memukulnya ko". Ucapku santai.
"Baiklah ku harap itu bukan kebohonganmu yang kedua". Ucapnya sambil menatapku.
"Aku sudah berjanji bahwa akan menemaninya makan malam tapi aku tidak tau akan diajak kerumahnya hyung, aku minta maaf karna berbohong aku takut kau marah jika aku bilang hal itu". Ucapku pelan.
"Bukan hanya aku yang khawatir, lain kali jangan ambil keputusan sendiri aku akan lebih marah jika terjadi sesuatu padamu". Ucapnya kemudian memeluk ku.
Aku kemudian menangis karna merasa bersalah, tiba tiba terdengar suara memasukkan password di pintu depan. Guste dan Tianxi yang masuk.
"Sedang apa kalian?". Tanyanya Tianxi heran.
"Kau tidak lihat memangnya, masih pakai nanya!". Ucap Haneul menimpali.
Aku membenamkan wajahku di dada bidang Haneul karna malu jika terlihat sedang menangis.
"Yhaa jangan memeluknya lama lama". Ucap Tianxi sambil berusaha melepas pelukan Haneul.
"Kenapa sih, kau cemburu ya?". Ucap Guste meledeknya.
__ADS_1
"Bagaimanapun dia masih tetap pacar ku". Ucap Tianxi menatap Guste tajam.
"Pura pura, bukan berkencan yang sebenarnya". Balas Guste savage dan menarik ku ke balkon.
"yha yha yhaaa, kau mau bawa kemana dia?". Teriak Tianxi.
"Yhaa Tianxi kau bising sekali". Ucap Haneul sambil meninggalkan Tianxi sendiri.
Guste memegang tanganku sambil melihat pemandangan malam dari atas apartemen.
"Jika tidak bisa di ceritakan pada para hyung kau bisa ceritakan padaku". Ucapnya sambil tersenyum.
"Terimakasih kau tiba tiba jadi bijak sejak kapan kau menjadi dewasa Guste?". Ucapku menatapnya sambil tersenyum.
Guste hanya tersenyum dan kemudian memelukku tak mengatakan apa apa lagi, Haneul dan Tianxi muncul.
"Jangan menyukainya, dia punyaku". Ucap Tianxi menatap Guste tajam.
"Aku milik orang tuaku tau". Ucapku sambil cemberut.
"Ayahku akan datang dua hari lagi". Ucap Tianxi tiba tiba.
"Apa? kenapa mendadak?". Kami bertiga terkejut.
Tianxi mengatakan bahwa ayahnya ingin bertemu denganku, dia juga tidak tau apa yang akan ayahnya bicarakan saat bertemu nanti. Tiba tiba saja aku merasa sangat gugup karna tau hal itu.
"Kau jangan takut biar aku yang handle ayah". Ucap Tianxi menenangkan.
"Oia aku sudah bertemu dengan staff Yinyeng, aku merasa mereka di ambang sulit di selamatkan tapi jika kau yakin dan mampu mengevaluasi besar besaran di dalam sistem itu mungkin saja perusahaan itu bisa selamat tapi kemunginan untuk memiliki harga saham yang tinggi dalam waktu dekat sangat mustahil". Ucap Guste mengganti topik pembicaraan.
"Aku takut mengambil jalan yang salah karna ini bukan jual beli dalam nominal yang kecil, nasib dari perusahaan itu juga belum jelas dan resikonya cukup besar". Ucapku menimpali Guste dengan sisi pengamatan.
"Jadi apa kau ingin mundur dari impianmu memiliki sebuah agensi?". Ucap Haneul menimpali.
"ya perkataan kalian benar ini seperti kita sedang berjudi, dan bukan kah ketika kau memilih jalan untuk membuka usaha itu juga memiliki resiko yang besar sedangkan masa depan tidak bisa terlihat seperti harapan kita". Ucap Tianxi menatap kami bertiga.
"Ah sudah malam aku mengantuk, lanjutkan besok saja". Ucap Haneul menghentikan percakapan kami.
Kami pun setuju dan bubar aku pergi ke kamarku sedang mereka bertiga pergi ke kamar belakang salah satu dari mereka pasti akan tidur di sofa nantinya.
Esok paginya...
Haneul sudah bangun menyiapkan susu dan roti panggang, tapi yang lain belum bangun karna ini weekend biasanya mereka akan bangun cukup siang. Aku dan Haneul sarapan hanya berdua karna tau mereka pasti tak akan ikut sarapan. Ponsel kami berdering terlihat notifikasi grup " Aku akan pulang hari ini, kalian ingin ku bawakan apa?". Tanya
Ternyata chat masuk itu dari Ryan, " Hyung kau ingin di belikan apa?". Tanyaku pada Haneul.
"Aku tidak ingin apa apa sepertinya". Jawab Haneul singkat.
"Baiklah aku akan minta di belikan kaos saja supaya samaan dengan kalian". Ucapku sambil mengetik untuk membalas chat dari Ryan.
Terimakasih, semoga ga bosen nunggu ya...
__ADS_1