Eugene Dan Pria 4 Musim

Eugene Dan Pria 4 Musim
perang dingin part 3


__ADS_3


Masih dalam percakapan di dalam kamar yang berisikan empat laki laki...




"Kenapa tiba tiba kau menanyakan hal itu?". Tianxi mengerutkan dahi.



"Aku hanya mengatakannya saja, cari tau saja jawabannya apa kalian menyukainya atau tidak". Ucap Guste sembari beranjak dari kursi.



"Heii sudah malam besok pagi Ryan ke Kanada kan tidurlah". Ucap Haneul seraya ingin menghentikan pembahasan itu.



Kemudian Ryan dan Haneul beranjak dari kasur mereka menuju ruang tv mereka akan tidur disana karna sudah ada selimut tebal untuk alas tidurnya.




Keesokan paginya..



Kami semua bangun lebih pagi untuk sarapan pagi ini kami hanya makan salad sayur dan minum jus buah. Kami langsung pergi ke bandara untuk mengantar Ryan yang akan pergi ke Kanada.



"Hyung hati hati di jalan, semoga pameranmu lancar" Ucapku seraya memeluknya.



Kami semua bergiliran memeluk dan menyemangatinya untuk pameran, dan sejujurnya aku merasa sedikit tidak enak karna tidak bisa menemaninya ke Kanada karna harus bekerja. Aku langsung diantar ke kantor oleh Haneul, sepertinya ini kesempatannya untuk membuat Haejin tersinggung karna sejak tadi dia terus tersenyum.



"Hyung bagaimana jika nanti dia tau kalo kota tidak pacaran?". Tanyaku memecah senyumnya.



"Sejak awal aku tidak bilang kamu pacarku, jadi yasudah biarkan saja". Ucapnya santai.



"Haisshh, kau ini".



"Bagaimana bisa sangat kebetulan dia juga baru sampai". Ucap Haneul.



Haneul menurunkan kaca mobilnya ia sengaja melakukannya agar Haejin melihatnya, Haneul mengusap rambutku sebelum aku keluar dari mobil.



"Lagi lagi dia melibatkan ku". Gumam ku dalam hati.



Aku turun dari mobil tapi sepertinya Haejin tidak langsung keluar dari mobil, aku tidak berpikir bahwa mereka akan bertengkar karna ini tempat umum. Tapi tiba tiba Haneul keluar dari mobil dan melambaikan tangan aku berjalan lebih cepat agar tidak melihat mereka.



Disisi lain...



Haejin keluar dari mobil menghampiri Haneul.



"Kemarin mengantarkan bunga, hari ini bahkan mengantarkannya". Ucap Haejin tersenyum sinis.



"Ada apa denganmu? Memang nya kenapa kalau aku mengantarnya lagi pula tidak ada peraturannya bahwa aku tidak boleh datang kesini". Ucap Haneul menatapnya.



"Jangan terlalu percaya diri, kau mungkin saja akan kehilangannya". Ucap Haejin dengan wajah serius.



"Apa yang kau bicarakan?". Timpal Haneul dengan wajah serius.



"Menurutmu apa?". Ucap Haejin berjalan menjauh.



"Dia tak akan mungkin meninggalkanku". Timpal Haneul seraya masuk mobil.



"Hah, percaya diri sekali". Ucap Haejin memasuki gedung.



Wajah Haejin muram tidak senang dengan kata kata Haneul, ia langsung pergi ke ruang interior. Tidak ada orang lain selain aku di ruangan itu karna tiga orang tersebut sedang berada di ruang arsitektur.



"Ada apa tiba tiba masuk mengagetkanku". Ucapku seraya beranjak dari kursi.



"Kau masih punya janji untuk makan malam denganku". Ucap Haejin mendekat.



"Iya aku ingat, tenang saja pak manager". Jawabku santai kembali duduk.



"Setelah pulang kerja aku tunggu kamu". Ucap Haejin seraya berjalan ke arah luar ruangan.



"Apa dia bertengkar dengan Haneul hyung? Wajah nya sangat menyeramkan sepertinya dia marah". Gumamku dalam hati.



Haejin pergi meninggalkan ruangan, hari itu dua orang di tim ku pergi ke lokasi yang akan mereka desain ulang bersama dengan dua orang tukang, tersisa Seyoung dan aku kami berdua membagi tugas aku mulai mendesain untuk contoh dan Seyoung mengerjakan laporan.



Tak terasa waktu makan siang sudah tiba aku memesan makanan sengaja karna tidak ingin makan di luar, Seyoung mengajak ku makan di luar tapi aku menolaknya. Aku hanya ingin berdiam di ruangan. Setelah sepuluh menit makanan ku datang aku menemuinya di lobi kantor. Tapi tiba tiba Haejin datang menghampiriku.



"Oh, kau tidak makan diluar dengan staff yang lain?". Tanya Haejin berhenti melangkah.



"Tidak, aku ingin makan di taman atap". Jawabku sambil melangkah.



"Kenapa bapak tidak bersama mereka?". Lanjutku.



"Aku tadi ada sedikit kerjaan". Ucapnya mengikuti langkahku.



"Bapak mau kemana?". Tanyaku penasaran.



"Aku akan ikut dengan mu ke atap". Ucapnya.




Kami sampai di taman atap, karna makananku untuk satu orang jadi dia menyuruh salah satu staff untuk memesankan makanan dan membawanya ke atap. Aku makan sambil melihat langit dan angin bertiup tidak terlalu kencang rasanya sangat nyaman. Haejin duduk di sampingku.



"Nanti malam kita makan dimana?". Tanyaku penasadan.



"Kau suka makan apa?". Tanyanya padaku.



"Aku suka makan, selama makanannya enak dilihat dan enak di makan akan ku makan". Sahutku sambil menyibakan rambutku ke belakang telinga.



"Mana ikat rambutmu?". Tanyanya sambil menyodorkan tangan.



"Untuk apa?". Ucapku mengerutkan dahi.



"Berikan cepat". Ucapnya mengayun ayunkan tangannya.

__ADS_1



Aku memberikan ikat rambutku padanya, tiba tiba ia berpindah posisi dan langsung merapikan rambutku dan mengikatnya. Aku tak bereaksi apa apa untuk beberapa waktu.



"Apa kau terkejut dengan apa yang ku lakukan?". Tanyanya sambil tersenyum.



"Tentu saja tidak, terkadang mereka juga bertindak begitu". Ucapku santai.



"Mereka?". Tanya Haejin mengulang.



"Ahh, maksud ku Haneul Haneul". Jawabku terbata.



Dia menatapku dan memegang tanganku membuatku menurunkan makananku.



"Berapa banyak pria itu? Kau tidak hanya mengencani Haneul?". Tanyanya serius.



"Kau bicara apasih, kalau tidak kau lepas tanganku aku akan berteriak". Ancamku padanya.



"Apa kau berkencan dengan orang lain juga? sehingga kau mengatakan bahwa kau tak akan meninggalkan Haneul meski kau berkencan dengan pria lain?". Tanyanya menatapku dalam.



"Terserah kau mau menilaiku seperti apa aku tidak peduli". Ucapku melepaskan genggamannya.



"Baiklah, kalo begitu berkencan juga denganku aku akan membuatmu meninggalkan Haneul". Ucapnya menatapku.



"Seberapa putus asa kau sampai mengatakan itu? Kau tidak menyukaiku kau hanya suka bersaing dengan Haneul, lupakan saja ucapanmu ku anggap tidak pernah dengar". Ucapku beranjak dari kursi.



Aku turun lebih dulu dengan perasaan kesal karna mendengar ucapannya, aku juga tidak suka jika harus menjelaskan hubungan ku dengan mereka. Aku kembali keruangan dan melanjutkan pekerjaan ku dan Seyoung pun sudah kembali. Aku berusaha untuk bersikap biasa didepan Seyoung meski aku sedang kesal.



Hyungsik dan Minhyun sudah kembali, mereka melaporkan dan memotret hasil kerja mereka hari ini.



"Kerja bagus, terimakasih sudah bekerja keras hari ini aku akan ikut besok untuk melihat hasilnya. Kalian tidak lemburkan?". Tanyaku menatap mereka.



"Kami akan lembur leader". Ucap Minhyun.



"Emm, kalo begitu aku ikut ke lapangan". Ucapku pada mereka.



"Ah leader bisa memeriksanya besok tidak perlu lembur kau pasti banyak kerjaan". Ucap Hyungsik



"Emm tidak apa apa aku akan menemani kalian sekalian kita makan malam bersama aku yang traktir, bagaimana?". Ucapku antusias menunggu jawaban.



"Baiklah ayooo". Ucap Seyoung.



"Baiklah ayo kita bereskan meja setelah itu baru pergi kesana". Ucapku.



Kami akan pergi bersama tapi aku tidak membawa mobil hari ini jadi kami akan naik taksi. Saat kami akan keluar bersama Haejin sudah di depan pintu ruangan.



"Ayo pergi". Ucapnya.



"Aku akan bersama dengan mereka". Ucapku sambil melangkah.




"Tidak, aku akan pergi dengan kalian ayo". Menarik lengan Minhyun.



Haejin menyodorkan kartunya " Bawa ini sebagai ganti kehadiran leader kalian, aku ada beberapa hal yang harus di bicarakan".



Aku mencoba menghindarinya tapi gagal aku tidak ingin berdebat karna tak ingin mereka salah paham " Baiklah, selamat bersenang senang makanlah yang enak". Ucapku sambil memaksakan senyuman.



Aku berjalan di samping Haejin dan tidak mengatakan apapun aku masih merasa kesal karna hal tadi siang.



"Maafkan aku jika perkataan ku membuatmu tak nyaman". Ucap Haejin membukakan pintu.



Aku tetap diam tak mengatakan apapun, dia memacu mobilnya cukup cepat dan mengerem mendadak.



"Yhaa, kalau mau mati sendiri saja". Ucapku kesal.



"Setidaknya aku bisa membuatmu bicara". Ucapnya sambil tersenyum.



"Aku turun saja ini tidak lucu". Melepaskan safety belt.



Haejin menahan tanganku " Aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengatakan hal buruk padamu tapi sepertinya kau benar benar marah padaku".


"Aku memang bukan pria yang baik, aku bersalah sudah mengatakan hal yang membuatmu marah padaku". Ucapnya lagi.



"Apa tujuanmu? Jika tujuan mu hanya untuk menyaingi Haneul makanya kau berpura pura suka padaku sebaiknya hentikan saja, karna aku tidak memiliki hubungan seperti yang kau pikirkan". Ucapku sambil melepas tangannya.



"Tapi aku benar benar menyukaimu bukan karna ingin bersaing dengan Haneul". Ucapnya sambil kembali menggenggam tanganku.



"Ayo cepat berangkat jangan bicara terus aku lapar". Jawabku singkat.



Haejin tertawa dan langsung memacu kendaraannya cepat. Aku tidak tau kemana ia akan membawaku sampai aku lihat ada sebuah rumah yang letaknya sendiri dan cukup terlihat dari jauh.



"Apa ini rumahmu?". Tanyaku penasaran.



"Iya ini rumahku kau perempuan pertama yang ku bawa kerumah". Ucapnya antusias.



"Apa aku harus bangga dengan hal itu?". Ucapku menatapnya sinis.



Kami masuk rumah terlihat ada satu orang berkeliling menggunakan jas hitam sepertinya ia keamanan di rumah ini.



"Ayo masuk". Menarik tanganku.



"Kau mengajakku makan malam di rumah?". Ucapku sambil mentapnya.



"Iya, aku ingin bisa bicara lebih nyaman denganmu agar aku bisa mengenalmu lebih jauh lagi". Ucapnya dengan nada serius.



"Apa harus di rumah? kau kan bisa kosongkan sebuah restoran". Ucapku sambil mengernyitkan dahi.


__ADS_1


"Tidak ada yang spesial jika disana, aku bisa masak untukmu jika di rumah". Ucap nya sambil menyuruhku duduk di sofa.



"Ya terserah kau saja". Sambil melihat sekeliling.



Ternyata ia tinggal sendiri, ia termasuk pria yang sukses karna di usianya yang baru 30 tahun ia memiliki hunian dan juga aset pribadi yang nilainya tidak sedikit. Aku di bawanya ke dapur untuk melihat ia memasak, ia cukup mahir kelihatannya. Selama memasak sesekali ia menatapku membuatku terasa canggung. Tiba tiba ponselku berbunyi di tengah pertunjukan masaknya.



"Halo hyung, kau sudah sampai ya?". Ucapku pada Ryan.



"Iya, perjalanannya cukup panjang kau sudah makan?". Tanya Ryan.



"Ini aku akan makan sebentar lagi, istirahat lah kau pasti lelah".



"Baiklah, sampai nanti".



Aku tidak memberitahu mereka bahwa aku akan makan malam bersama dengan Haejin, jika mereka tau aku di rumah Haejin sepertinya mereka akan marah besar. Ternyata sejak tadi Haejin sudah menatapku tajam.



"Hyung? siapa dia? setau ku kau tak punya kakak? dan lagi kenapa panggil hyung?". Haejin menatap penuh selidik.



"Kami sudah berteman sejak lama karna dia lebih tua dari ku jadi aku memanggil nya hyung, aku lebih suka memanggil hyung ketimbang oppa". Jawabku singkat.



"Kau punya banyak teman pria?". Ucap Haejin sambil menata makanan di piring.



"Iya". Ucapku singkat.



"Apa Haneul tau kau punya banyak teman pria?". Tanya dengan tatapan serius.



"Tentu saja, bahkan ia mengenal mereka". Jawabku antusias.



"Apa aku termasuk teman pria?". Tanya lagi.



"Tentu saja karna kau pria". Ucapku singkat.



"Kau hanya menganggapku teman?". Sambil membawa piring ke meja.



"Tidak, kau kan atasan di tempat ku bekerja". jawabku singkat.



Haejin tidak bicara hal lain ia hanya menyuruhku mencicipi makanannya, dan memintaku untuk memuji masakannya. Tak disangka ia seperti Haneul yang pandai memasak. Di tengah suasana tenang karna menikmati masakan Haejin ponsel ku berdering dan nama Tianxi muncul di layar.



"Kau dimana? kenapa belum pulang? kami di rumahmu Haneul bilang dia menjemputmu tapi orang kantor mu bilang kau sudah pulang". Ucap Tianxi cepat.



"Iya maaf aku tidak bilang, aku sedang makan malam bersama temanku". Jawabku terbata sembari berpikir.



"Teman? Teman kantor mu?". Tanya Tianxi.



"ya tentu saja". Kataku singkat.



"Cepat pulang kami menunggumu". Ucap Tianxi sebelum mematikan ponsel.



Haejin memandangiku lagi dengan penuh selidik.



"Kali ini siapa? Siapa itu Tianxi?". Tanya Haejin penuh selidik.



"Dia temanku, kenapa memangnya?". Jawabku ketus.



"Tapi kau bicara gugup padanya dan mengatakan makan malam dengan teman, aku jadi curiga apa Haneul mengenalnya juga?". Tanyanya lagi dengan memicingkan mata.



"Kan sudah ku bilang Haneul mengenal semua temanku, aku mau cepat pulang". Jawabku sambil mengangkat piring.



"Baiklah, baiklah ku antar kau pulang". Ucap Haejin.



"Tidak, tidakkk aku akan naik taksi saja". Ucapku panik.



"Kau semakin mencurigakan, ayo ku antar pulang dan kenalkan semua temanmu padaku". Ucap Haejin antusias.



"Lain kali saja ku kenalkannya, aku sungguh sungguh harus pulang". Jawabku memaksa.



"Jika mereka melacak posisi ku pasti mereka tau aku ada dimana, bagaimana ini aku tidak ingin mereka tau aku berbohong". Gumamku dalama hati.



"Apa Haneul tau rumahmu?". Tanyaku panik.



"Kurasa tidak, karna aku memiliki rumah ini belum terlalu lama. Memangnya kenapa?". Tanyanya penuh curiga.



"Tidak apa apa, sudah ya aku pamit pulang". Aku beranjak dari kursi akan melangkah keluar.



Haejin tidak menghentikan langkahku ia hanya menatap menyeringai.



"Kau yakin bisa keluar secepat ini, saat kau yang menginginkannya?". Ucapnya dengan berat seperti sedang marah.



.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf lama karna author sudah mulai aktifitas mengajar, sampai jumpa....


__ADS_1


__ADS_2