Eugene Dan Pria 4 Musim

Eugene Dan Pria 4 Musim
Terkejut part 2


__ADS_3


Ji hotel...




"Pernikahan?". Ucap Tianxi terkejut.



"Iya, bukankah kalian sudah lama berpacaran tidak masalah jika kalian menikah tahun ini". Ucap Tuan Qinxue.



Kami kembali di buat terkejut oleh perkataan tuan Qinxue. Ku lihat wajah Tianxi panik dan gusar, aku menenangkannya dengan menggenggam tangannya dan menghentikan ia untuk berbicara.



"Aku mengerti ke khawatiran paman, tapi saat ini kami belum terpikir untuk menikah". Ucapku pada ayah Tianxi.



"Meski kami belum pernah membahas tentang pernikahan tapi paman tidak perlu khawatir dengan hubungan kami, aku tidak akan hamil sebelum menikah aku sangat menjaga nama baik ayah dan ibu". Ucapku lagi lebih meyakinkan.



"Aku percaya padamu bahwa kau adalah anak yang baik, tapi bukankah pernikahan itu lebih baik untuk kalian". Ucap Tuan Qinxue tegas.



"Ayah tolong jangan ikut campur dalam hubungan ku dan pernikahan bukanlah sebuah solusi dari hubungan kami". Ucap Tianxi gusar.



"Pernikahan juga tidak menjamin bahwa kami tidak akan berpisah, kami masih muda dan masih ingin bersenang senang". Ucap Tianxi lagi.



Aku menahan tangannya memberinya isyarat untuk tidak bicara.



"Bukan begitu paman maksud Tianxi pernikahan untuk ku adalah sebuah ikatan sakral kami harus memiliki kematangan emosional untuk menjalankannya". Ucapku meyakinkan ayah Tianxi.



"Apalagi nanti jika aku masuk kedalam keluarga Ji setidaknya aku masih harus banyak belajar untuk menjadi pantas mendampingi Tianxi di masa depan karna kehidupan kami pasti terpublikasi setelah pernikahan". Ucapku lagi terus meyakinkan.



Tianxi melepas genggaman ku "Biarkan kami menikmati waktu kami sebelum menghadapi kehidupan yang lebih rumit". Ucap Tianxi.



"Ya aku mengerti keputusan kalian aku harap penolakan dari kalian itu memang seperti itu bukan karna hal lain, aku akan terus mengawasi hubungan kalian". Ucap ayah Tianxi sambil membersihkan mulutnya dengan sapu tangan.



Tuan Qinxue langsung beranjak dari kursinya "Nikmati makan malam kalian aku akan pergi beristirahat".




Setelah memastikan Tuan Qinxue benar benar jauh dari ruangan kami menghela nafas panjang dan terduduk lemas bersandar ke belakang.



"Kau hampir saja menghancurkan akting kita". Ucap ku frustasi.



"Ya ya aku terlalu terkejut dengan hal itu karna aku hanya berpikir ayah akan menemui kita untuk meminta kita bertunangan bukan untuk menikah". Ucapnya bernada lemas.



"Tapi terimakasih kau sudah begitu berhati hati memilih kata agar terdengar masuk akal, kau berakting sangat baik". Ucap Tianxi lagi.



"Aku tidak bisa melanjutkan makan atau pun langsung pulang aku ingin berbaring saja". Kataku melemas.



"Yasudah kita ke kamar saja, jika butuh sesuatu mereka bisa mengirimnya ke kamar". Ajaknya sambil beranjak dari kursi.



Kami berjalan menuju lift untuk pergi ke salah satu lantai yang hanya di isi oleh Tianxi, saat kami sedang berjalan ku lihat Haejin keluar dari lift tapi ia tak melihatku. Sampai kami berpapasan dan ia mendengar suaraku ia menoleh tapi aku sudah di dalam lift dan pintunya menutup.



"Apa itu Haejin?". Tanya Tianxi.



"Iya itu dia". Ucapku singkat.



Kami sampai di lantai khusus Tianxi, kami langsung masuk ke kamar aku merebahkan diri di kasur dan menghela nafas panjang. Tianxi meminta di bawakan wine dan cemilan ia juga meminta di bawakan lasagna. Beberapa menit kemudian makanan dan wine datang.



"Jangan terlalu banyak minum, kau juga perlu istirahat". kataku pada Tianxi yang akan membuka botol wine.



"Iya iya aku tau, aku mau mandi dulu tiba tiba tubuhku panas karna terkejut". Ucapnya yang langsung pergi mandi.



Aku masih berbaring memandang langit langit tapi kemudian chat masuk dari Ryan ia bertanya apa aku akan pulang, lalu aku membalasnya untuk tidak menunggu karna aku akan menginap dengan Tianxi. Lalu Ryan menelponku.



"Apa ada sesuatu?". Tanyanya dengan nada serius.



"Tidak ada, aku hanya lelah jika harus pulang jadi aku memilih tidur disini hyung tidak perlu khawatir". Ucapku menenangkan.



"Iya aku mengerti, tapi kenapa tidak ada suara Tianxi?". Ucapnya terdengar heran.



"Iya dia sedang mandi hyung, apa ada pesan?". Ucapku pada Ryan.



"Tidak ada, baiklah jangan bergadang besok kau harus kerja". Ucapnya mengingatkan.



"Iya hyung, kau juga jangan lupa minum vitamin mu". Ucapku padanya mengingatkan.



Setelah mematikan telpon Tianxi keluar dari kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi atau biasa di bilang handuk kimono, rambutnya basah dan menetes di lantai.



"Itu rambutmu basah jadi kena lantai, ambil handuk untuk rambutnya biar aku bantu keringkan". Perintahku padanya.



Dia pun mengambil handuk rambut baru dari lemari dan menyodorkannya padaku. Aku tiba tiba jadi sedikit gugup karna melihatnya yang hanya memakai handuk. Dia duduk di lantai dan aku duduk di kasur. Aku mulai menggosok rambutnya. Tiba tiba ia mendongakan wajahnya jadi bertatapan mata denganku dengan posisi berlawanan.



"Yhaa, yang benar saja kau mengagetkanku tau". Menoyor kepalanya agar menjauh.



"bisa tidak jika tidak perlu menoyor kepalaku". Ucap Tianxi kesal lalu beranjak dari tempatnya.



Ia pergi untuk menuang wine ke gelas, kemudian ia duduk di sofa yang menghadap ke arahku dengan posisi duduk bertumpang kaki hingga menyingkap sedikit pahanya yang putih mulus itu.

__ADS_1



"Kau tidak bisa jika berpakaian dulu kau mengganggu pemandangan". Ucapku seraya memalingkan wajah.



"Hah kau salah justu aku ini pemandangan yang indah maha karya luar biasa, jika aku lewat banyak gadis yang menoleh karna aku tampan dan tubuhku bagus". Ucapnya sambil menyeringai.



"Mereka tidak normal mungkin". Ucapku memanyun.



"Kau yang tidak normal, tidak semua orang bisa melihatku seperti ini". Ucapnya menyombongkan diri.



"Melihatmu seperti ini? tidak berpakaian? orang purba juga tidak berpakaian". Timpalku lagi.



Aku beranjak dari kasur untuk membuka gorden karna aku suka melihat nyala lampu lampu saat malam dari ketinggian. Saat aku sedang memotret hal itu tiba tiba Tianxi menghampiri dan memelukku dari belakang.



"Lanjutkan saja memotretnya jangan hiraukan aku". Ucapnya sembari meneguk wine yang ada di tangan kanannya.



Aku terdiam untuk beberapa saat, aku ikut merasakan ke khawatirannya akan suatu hal.



"Tetaplah seperti ini untuk beberapa saat". Dengan nada mulai berat.



"Kau kenapa?". Ucapku sambil berbalik untuk melihatnya.



Wajah Tianxi memerah sama seperti saat dia sedang terkena urtikaria, aku pun panik dan mengecek suhu tubuhnya menggunakan tangan kosong tapi tidak demam. Aku menggulung tangan jubah mandinya untuk mengecek apakah ada ruam, tapi ternyata tidak ada.



"Tianxi, Tianxi kau bisa minum alkohol dalam jumlah banyak apa yang terjadi apa kau salah makan?". Tanyaku padanya yang tiba tiba jatuh.



Aku menahan kepalanya dengan pahaku agar posisi kepalanya tetap lebih tinggi. Kemudian dia berbisik.



"Wiiiinnee ku sepertinya di taruh obat jangan panik aku bukan alergi bawa aku ke bathub sekarang". Ucapnya dengan nada lirih



Aku membantunya berdiri untuk berjalan ke kamar mandi dan menyalakan air untuk mengisi bathub nya, aku sangat khawatir dengan obat yang ia maksud di taruh di wine aku benar benar tidak tau obat apa itu.



"Tianxi apakau sungguh baik baik saja? Apa yang terjadi padamu aku harus memanggil dokter sekarang". ucapku panik.



Dia menahan tanganku agar tidak menelpon dokter. "Jangan telpon dokter, ini pasti ulah ayahku yang memasukan obat itu kepalaku pusing tinggalkan aku disini sendiri dan kunci dari luar". Perintahnya padaku.



"Tidak tidak mau aku takut jika kau sampai mati aku tidak mau kau kenapa kenapa aku akan tetap disini bersamamu". Ucapku sambil menangis karna bingung.



"Aku tidak akan mati bodoh hanya karna obat ini, kalau kau masih disini aku lebih khawatir jika kau membenciku sampai mati". Ucapnya sambil sedikit tertawa.



"Apa maksudmu? jadi aku harus bagaimana aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri disini ini pasti sangat sakit kenapa ayahmu memberimu obat semacam ini?". Tanyaku lagi sambil tersedu sedu tanpa melepas genggaman tangan Tianxi.



"Terkadang aku lupa bahwa kau bisa sepolos ini Eugene". Seraya melepas satu genggaman tanganku.




Ia menutup matanya sambil terus menciumku tangannya menahan tanganku ke atas yang berusaha menghentikan perbuatannya namun sia sia ia tidak melepas juga bibirku sampai aku merasa tercekik sulit bernafas. Aku membenturkan dahiku ke dahinya hinga ia melepas ciumannya.



"Apa yang kau lakukan kau tidak seharusnya melakukan itu". Ucapku gusar.



"Obat itu membuatku tidak mampu mengontrol diriku Eugene, keluarlah aku takut tidak mampu menahan diriku lebih jauh". Ucap Tianxi yang kemudian membenamkan tubuh dan wajahnya di dalam air.



"Lalu aku harus bagaimana, bagaimana menyembuhkannya? Jangan sakiti dirimu seperti ini". Tanyaku masih dengan tersedu sedu.



Ia muncul ke permukaan "Tidak ada obatnya kecuali melakukan hal yang tidak mungkin itu, cepat keluarlah mungkin dalam beberapa jam efeknya hilang". Ucapnya frustasi.



Aku pun keluar dari kamar mandi masih tersedu sedu meninggalkannya tanpa mengunci pintu. Aku teringat pada Ryan dan menelponnya.



"Hyung, belum tidur kan?". Suaraku terisak isak.



"Ada apa kenapa menangis?". Tanyanya panik.



"Hyung, apa kau punya obat yang bisa menetralkan tubuh Tianxi? Wine yang dia minum membuat wajahnya memerah ia menyuruhku membawanya ke kamar mandi dan membantunya berendam dia bilang kepalanya sakit aku tidak tau harus bagaimana". Ucapku masih terisak isak.



"Aku tau itu pasti obat itu, aku akan kesana jangan menangis lagi Tianxi akan baik baik saja". Ucap Ryan meyakinkan.




Di Apartemen Guste..



Ryan langsung bergegas pergi, Guste tak banyak bertanya membiarkan Ryan pergi. Ia langsung berlari untuk mencapai mobilnya di bawah. Ia memacu mobilnya kencang, ia pergi mencari apotik yang masih buka untuk mencari obat penawarnya dan langsung bergegas ke hotel.



Ryan mengetuk pintu kamar Tianxi, Aku langsung membukanya Ryan masuk dan langsung memeluku yang masih menangis.



"Sudah Jangan menangis, aku akan membantu Tianxi jangan khawatir ia pasti baik baik saja". Mengusap air mata ku sambil menenangkan .



Ryan langsung masuk ke kamar mandi ia membawa obatnya dan air putih.



Di dalam kamar mandi..



"Oh astaga kau hanya pakai jubah mandi saja tanpa berpakaian, bagaimana bisa kau seceroboh itu padahal satu ruangan dengan Eugene". Ucap Ryan karna terkejut melihat Tianxi.



"Oh hyung kau disini, pasti Eugene menangis panik dan menelponmu". Ucap Tianxi.



Ryan membangunkan Tianxi mmbantunya berdiri dan meminum obat, ia juga mengganti jubah mandi Tianxi dan memapahnya keluar.

__ADS_1



Aku berhenti menangis ketika melihat mereka berdua keluar dari kamar mandi. Tubuh Tianxi dingin dan sudah tidak basah karna Ryan yang mengganti jubah mandinya, ia kemudian menyelimuti tubuh Tianxi dengan selimut yang tebal. Ia juga menyalakan penghangat ruangan.



"Eugene jangan khawatir aku sudah akan baik baik saja, kau pasti sangat terkejut". Ucap Tianxi berusaha tersenyum.



Ryan mendudukan ku di sofa, ia duduk di sebelahku mengusap usap pundak ku dan sesekali mengusap air mataku.



"Kau harus tidur ini sudah hampir pagi". Ucap Ryan padaku.



Aku langsung berbaring di paha Ryan dan tertidur karna lelah setelah menangis.



"Lain kali jangan membuatnya panik telpon aku jika ada sesuatu, ini bahaya untuk kalian". Ucap Ryan marah.



"Iya hyung, aku hanya berpikir bahwa ayah pasti mengawasi kami jadi aku tidak menelponmu aku tidak ingin ketahuan". Ucap Tianxi lemas.



"Tidurlah, obatnya akan segera menetralkan tubuhmu". Ucap Ryan sambil mengusap rambutku.



"Bawa Eugene ke ruangan di sebelah ada kamar disana". Pinta Tianxi.



Ryan langsung menggendong tubuhku memindahkanku ke kasur, dan menyelimutiku. Ia pergi lagi ke kamar Tianxi meninggalkan aku yang sedang lelap tidur.



Ia tidur di sebelah Tianxi, sampai pagi tiba. Aku melihat jam menunjukkan pukul 6 langsung mencari kamar mandi karna hampir telat untuk pergi kerja. Terdengar suara orang memanggil ku.



"Eugene apa kau sedang mandi?". Tanya Ryan.



"Oh dia tidak di kamar pasti sedang mandi". Ucap Ryan lagi.



Ia lalu pergi dari kamar itu dan membangunkan Tianxi. Tianxi sudah nampak baik ia pun bangun dan bergegas mandi. Ryan kembali berbaring di tempat tidur.



"Hyung, aku akan terlambat antarkan aku sekarang". Ucap Ku merengek.



Ia beranjak dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi. Setelah itu ia keluar.



"Ngapain ke kamar mandi?". Tanyaku heran.



"Tianxi kan sedang mandi jika kita pergi begitu saja tidak sopan". Ucap Ryan menjelaskan.



Ryan berjalan di depanku, ia akan mengantarku pergi ke kantor. Ryan memacu mobilnya kencang agar cepat sampai. Ia kemudian menurunkan ku di lobby. Aku ke kantor menggunakan setelan yang ku simpan di lemari Tianxi untuk berjaga jaga jika aku menginap dan benar saja hari ini aku terlambat.



Aku berlari menuju lift hingga tak sengaja menabrak Haejin hingga kami jatuh, beruntung tak ada orang yang melihat. Haejin bangun dan menatapku tajam.



"kau berlari karna terlambat apa yang kau lakukan semalam hingga bisa terlambat bekerja?". Ucap Haejin memeringkan kepalanya dengan tatapan yang menyeramkan.



"Maaf pak semalam aku ada makan malam dengan pengusaha Hongkong". Ucapku panik.



"Kau bilang ingin pulang cepat karna ada urusan itu urusan yang kau maksud? urusan di sebuah hotel dengan pria?". Ucap Haejin marah.



"Apa maksudmu? Kau ingin mengatakan apa? Aku bukan perempuan baik baik begitu, hanya karna aku di sebuah hotel?". Ucap ku dengan nada kesal lalu berjalan menjauh.



Haejin menarik ku untuk ke parkiran ia mendorongku masuk ke mobilnya, wajahnya memerah karna menahan emosinya. Ia kemudian memacu mobilnya menjauh dari kantor.



"Kau mau membawaku kemana?". Tanyaku panik.



Tak ada jawaban dari nya aku pun berteriak teriak untuk memintanya berhenti.



"Diam, kau bisa diam tidak". Omelnya tanpa menoleh ke arahku.



"Berhenti tolong berhenti kita bisa celaka". Ucapku lebih pelan.



Setelah berjalan beberapa menit tiba tiba ia meminggirkan mobilnya. Ia membenturkan dahinya ke stir mobil. Aku panik dan menghentikannya.



"Apa yang kau lakukan jangan menyakiti dirimu sendiri". Ucap Ku sambil menahan dahinya agar tidak membentur stir.



Ia mendongak memandangku "Aku marah padamu tapi aku juga marah pada diriku sendiri karna aku mengatakan hal bodoh itu". Ucapnya yang di ikuti helaan nafas.



"Aku tidak bermaksud untuk mengatakan hal buruk, aku hanya tidak suka melihatmu dengan pria lain". Ucap Haejin lesu.

















__ADS_1




__ADS_2