Eugene Dan Pria 4 Musim

Eugene Dan Pria 4 Musim
Cemburu?


__ADS_3

masih di dalam mobil...




"Apa kau sedang cemburu padaku?". Kataku sambil menahan tawa.



"Iya memangnya kenapa? tidak boleh?". Ucapnya kesal.



"Kau lupa Haneul juga pria, jika karna alasan kau melihatku di hotel lalu menganggap bahwa aku tidur dengan pria itu maka bagaimana dengan Haneul yang sering menginap? Tidak semua yang kau lihat dan kau dengar seperti dugaan mu kau harus memastikannya dulu gunakan akal sehatmu". Kataku sambil membuka safetybelt.



Haejin menahan tanganku saat aku akan membuka pintu mobil.



"Jangan pergi, maap aku tidak tau apa apa tapi sudah menilaimu begitu biarkan aku lebih mengenalmu Eugene".



"Terserah lakukan saja tapi aku tidak mau tanggung jawab jika kau kecewa pada akhirnya". Ucapku sambil melepas tangannya.



"Aku akan belajar memahamimu".



"Tidak usah kau tidak perlu memahamiku".



"Ayo kembali ke kantor".



Haejin memacu mobilnya lebih jauh bukan arah ke kantor.



"Kita akan pergi kemana?"



"Kita ke pantai, aku akan mengatakan pada asistenku bahwa ada pekerjaan di luar jadi aku mengajakmu". Jelasnya.



"Ya terserahlah, aku lelah mau tidur saja ".



"iya nanti ku bangunkan".



Sepanjang jalan aku tertidur, ia membangunkanku saat sudah sampai. Dia membawaku ke sebuah hunian pinggir pantai, aku mendengar suara debur ombak menandakan posisi rumah ini dekat pantai.



"Rumah siapa ini?".



"Ini rumah musim panas milik keluargaku".



"tapi sekarang kan sudah hampir musim dingin, kenapa mengajakku ke pantai?".



"Ayo masuk dulu akan ku perkenalkan pada seseorang".



"Bibi aku datang". Teriaknya dari luar.



Seseorang muncul dari balik pintu, lalu memeluk Haejin erat.



"Dia pengasuhku saat aku kecil".



"Ini gadis yang pernah aku ceritakan padamu". ucap Haejin pada bibi.



"Dia cantik, panggil aku bibi mo aku pengasuhnya".



"Ibunya Haejin saat muda sangat sibuk jadi aku suka membantunya untuk menjaga Haejin".



"Salam kenal bibi Mo". Seraya menunduk hormat.



Bibi Mo langsung mengajakku ke dapur, ia sedang memasak hidangan laut. Haejin pergi menuju lantai dua.



"Aroma sangat harum bi, pasti rasanya sangat lezat".



"Tentu saja, kau suka hidangan lautkan?".



"Iya aku suka".



"Saat Haejin kecil dia adalah anak periang baik hati tapi terkadang jahil, ibunya tinggal di Amerika setelah dua tahun lalu berpisah dengan ayahnya".



"Oh pantas saja Haejin tinggal sendiri di rumah". ucapku pelan.



"Kau sudah pernah kerumahnya? tidak ada perempuan yang pernah ia ajak kerumah sebelumnya". Ucap bibi antusias.



Bibi menyuruhku untuk memanggil Haejin turun untuk makan siang bersama. Aku pun pergi ke lantai dua karna ada dua kamar diatas jadi aku mencoba untuk membuka pintu nya satu satu untuk menegecek. Tapi tiba tiba Haejin muncul dari balik punggungku membuatku teekejut.



"Yhaa, kau mengagetkanku tau". Kataku dengan nada kesal.



"Maaf, kenapa hari ini kau marah marah terus sih padaku". Tanyanya memasang wajah sedih.



"Ayo turun kita makan". Ajaku padanya.



Kami makan bersama siang itu ditemani suara deburan ombak. Ternyata bibi Mo tinggal di rumah ini bersama suami dan putranya, tapi suaminya sedang pergi ke kebun dan putranya belum pulang sekolah. Bibi Mo dan suaminya merawat tempat ini dan menjaganya seperti milik mereka sendiri.



" Tuan muda aku sudah menyiapkan kamar dan merapikannya untukmu beristirahat".



"Tapi kami tidak menginap bi, kami harus pulang". Timpalku pada bibi Mo.



"Kami tidak menginap bi lain kali saja aku akan mengajaknya melihat pantai setelah ini". Jelas Haejin.



"Yasudah, tidak apa apa lain kali kalian berkunjung saat libur".




Selesai makan ia mengajak ku ke pantai, ia melarang ku memakai alas kaki. Ia menarik tanganku dan mulai berlari, cuaca hari ini tidak terlalu terik jadi kami tidak kepanasan meski siang hari. Angin nya cukup kencang dan udaranya dingin.



Aku menertawainya yang terjatuh karna terlalu bersemangat berlari.



"Hati hati kau bisa terluka". Ucapku sambil tertawa.

__ADS_1



"Kau meledek ya, awas kau ya".



Ia berlari ke arahku, aku pun berlari menjauh kami kejar kejaran seperti anak anak yang bermain di pantai. Akhirnya aku pun tertangkap olehnya ia memeluku erat, aku berusaha untuk melepas pelukannya.



"Apa yang kau lakukan, lepaskan kau membuatku sesak". Ucapku sambil meronta.



"Kau tidak bisa diam ya, diamlah sebentar". Pintanya padaku.



Aku tidak lagi melawannya, dan akhirnya ia melepas pelukannya.



"Apa aku menjadi jahat saat ini karna pergi dengan pacar orang lain?". Tanyanya sambil merebahkan tubuhnya di pasir.



"Kenapa tiba tiba bicara begitu?". Tanyaku penasaran.



"Bagaiman jika memang benar aku menyukaimu Eugene, bagaimana aku harus mengatasinya?" Tanyanya sambil mengehela nafas.



"Urus saja sendiri jangan tanya aku". Ucapku seraya duduk di sampingnya.



"Apa kau akan memberiku kesempatan jika aku tidak mengenal Haneul?". Tanyanya lagi.



"Lalu bisakah kau menyukaiku jika bukan karna kau melihatku dengan Haneul dan mengira kami berkencan?". Tanyaku padanya tanpa menatap ke arahnya.



"Sejak pertama kali bertemu denganmu aku sudah menyukaimu, di tambah kau berkencan dengan Haneul jadi aku ingin merebutmu dari nya". Ucapnya dengan posisi membelakangiku



"Aku tidak berkencan dengan Haneul hyung, kau tidak perlu bersaing dengannya kau tetap akan kalah". Ucapku sambil tertawa.



"Kalian sungguh tidak berkencan? maka aku punya kesempatan untuk berkencan denganmu tapi kenapa kau mengatakan aku akan kalah oleh Haneul?". Ucapnya sambil menatap heran.



"Karna Haneul hyung melarangku dekat dekat denganmu, dan lagi pula teman pria ku banyak kau mungkin tidak akan tahan". Jawabku dengan wajah serius.



"Tidak peduli seberapa banyak aku akan menemui mereka juga agar aku mengenal mereka". Timpalnya gigih.



Ponselku berbunyi di tengah percakapan kami dan Ryan lah yang menelpon.



"Ya hyung, ada apa?".



"Kau di kantor?".



"Aku sedang di luar bersama atasanku ada apa?".



"Aku hanya khawatir takut kau sakit semalam kau bahkan hampir tidak tidur".



"Tidak apa apa aku sudah tidur sebentar saat di mobil".



"Paman sudah kembali ke Hongkong, kau tidak perlu khawatir Tianxi juga sudah tidak apa apa".



"Sukurlah jika Tianxi sudah baikan".




"Tidak, hyung aku akan pulang telat akan lembur".



"oh baiklah, yasudah jaga dirimu".




Haejin menatapku tajam, karna aku berbicara dengan bahasa Rusia agar ia tidak mengerti ucapanku.



"Ada apa kau menatapku seperti itu?".


"Siapa Haneul?".


"Bukan, tidak perlu tau".


"Yasudah".



Ia duduk sambil menggenggam pasir dan kemudian melepasnya, dia terus mengulang ulang nya. Aku yang memperhatikannya terkejut karna melihat pasir pantai itu tiba tiba merah.



"Kau mimisan lagi?". Tanyaku padanya panik.



"Ah iya benar, aku tidak memperhatikannya". Ucapnya santai



"Ayo kembali kerumah kita harus hentikan pendarahannya". Kataku sambil menarik tangannya.



Ia beranjak dan kemudian berjalan kerumah untuk di obati, ia menahan ceceran darah dengan lengan kemeja yang perlahan jadi memerah. Aku tidak sepanik saat pertama kali melihatnya mimisan, dia pun nampak santai melihat kemejanya yang mulai penuh darah.




Kami sampai di rumah, aku memanggil bibi untuk meminta tissu dan juga obat untuk mimisannya. Tapi bibi menyodorkan ku handuk kecil sebuah pil dan menyuruh ku untuk mengganti pakaian Haejin. Aku berjalan ke lantai dua, ia sudah terduduk di lantai.



" bibi memberiku handuk kau pakai untuk menahan darahmu tetap menunduk jangan mendongakan kepalamu".



"Obatnya kau bawa? Kemeja ku kotor ambilkan yang baru di lemari".



Aku pun beranjak untuk mengambilkan pakaian untuknya. Pendarahannya sudah selesai, ia menaruh handuk di lantai lalu membuka kemejanya di depanku.



"Yhaa yhaa, kenapa tiba tiba membuka pakaiannya tanpa memberitahu". Ucapku sambil mengalihkan pandangan dari tubuh bagusnya.



"Kenapa? kau takut menginginkannya?". Ucapnya sambil tersenyum menggodaku.



"Tidak". Sambil berjalan keluar.



Haejin menahan tanganku " Terimakasih".


Ia sudah berganti pakaian dan membawa pakaian kotornya ke bawah. Aku duduk di tempat tidur sambil menatap jendela. Tempat ini cukup tenang hanya deburan ombak yang ku dengar. Tiba tiba ia memelukku dari belakang dan membuatku terkejut.



" Jika tidak membuatku terkejut tidak menyenangkan ya?". omelku sambil mencubit tangannya.



"Ahhh ahhh sakit sakit, kau jahat sekali sih". Ucapnya sambil mengaduh.

__ADS_1



Saat aku tertawa melihatnya kesakitan, ia menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Ia memeluku erat. Ia ingin aku mulai bisa menerimanya, ia berharap aku tidak membencinya karna tingkahnya yang sering membuatku kesal.



"Tolong jangan merasa tertekan dengan perasaanku, aku benar benar menyukaimu". Ucapnya dengan suara pelan.



Aku tetap diam tak mengatakan apapun. Ia melepas pelukannya, kemudian ia mengajak ku untuk langsung pulang jadi kami pun pamit pulang pada bibi Mo. Haejin langsung mengantarku ke apartemen lalu ia pulang.




Tidak tau kenapa tiba tiba aku jadi teringat pada Haejin tentang kehidupannya yang mungkin tidak mudah, ia pasti kesepian tinggal di rumah sebesar itu sendirian dan seperti apa ia menjalani kehidupannya. Mungkin tidak tepat jika aku terus mengacuhkannya, aku harus bisa bersikap lebih baik lain kali.




Suara bel dari pintu membuyarkan lamunanku, aku langsung menuju monitor untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Tianxi yang ada di depan rumah, aku pun langsung membuka pintunya.



"Kau sudah baik baik saja?". Tanyaku penasaran.



"Ya, aku sudah tidak apa apa". Timpalnya sambil berjalan ke arah sofa.



"Kau dari mana?". Ucapnya lagi.



"Ya dari kantor, aku akan pergi mandi". Jawabku singkat dan menjauh pergi.



Setelah selesai mandi, aku langsung menemui Tianxi untuk membahas seperti apa respon ayahnya. Aku duduk di sebelah Tianxi, ia menatapku dan bertanya "Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?".



"Bagaimana dengan ayahmu?".



"Ayah sudah kembali ke Hongkong, ayah masih percaya bahwa kita benar benar berkencan".



"Aku senang jika memang begitu, bagaimana jika kita pergi kerumah Ryan hyung?". Usulku semangat.



"Baiklah ayo".



Kami pun pergi ke rumah Ryan aku sudah lama tidak kesana ku dengar koleksinya sudah bertambah. Galerinya berada di lantai bawah sedangkan kamarnya berada di lantai dua, ia sangat suka pada benda benda bernilai seni. Ia tinggal bersama asistennya Jun. Kami tidak memberitahunya bahwa kami akan kesana aku hanya menggunakan piyama dan luaran padding.



"Loh kenapa kalian tidak memberitahuku jika akan kesini". Ucap Ryan karna terkejut.



"Aku ingin ke perpustakaan mu aku juga ingin melihat beberapa lukisan". Kataku antusias.



"Dia yang menginginkannya, Guste sedang lembur begitu juga Haneul dia sibuk akan ada project baru sepertinya". Ucap Tianxi menjelaskan.



Kami masuk dan aku langsung pergi ke galeri Ryan pun mengikutiku, sedangkan Tianxi langsung pergi ke kamar Ryan. Aku melihat lukisan dan beberapa benda seni langkahku terhenti saat melihat salah satu lukisan wajah seorang wanita.



"Hyung itu siapa?". Tanyaku dengan penasaran.



"Itu lukisan yang ku buat untuk pertama kalinya, aku melukis wajah seseorang yang tidak sengaja ku temui saat masih tinggal di Makau". Jelasnya padaku.



"kenapa wajahnya tidak terlihat bahagia?". Tanyaku penasaran.



"Saat itu aku lah yang tidak bahagia jadi lukisannya ku gambar seperti itu". Jelasnya.



"Tapi lukisanmu bagus hyung, bagaimana jika kemudian tak sengaja kau bertemu dengan gadis itu lagi apa yang akan kau lakukan?". Tanyaku penasaran.



"Aku akan berterimakasih karna ia aku jadi berani memutuskan untuk melukis, kau tau bahkan di sekolah aku mendapat juara satu karna lukisan itu tapi sayangnya aku tidak mengenal gadis itu". Ucapnya sedih.



"Wah sayang sekali ya jika dia tau itu membuatmu akhirnya memilih jalan menjadi seniman ia pasti ikut senang". Ucapku lagi antusias.



Aku lalu pergi ke perpustakaan pribadi miliknya rumah Ryan cukup luas karna di lengkapi berbagai fasilitas. Setiap datang kesini aku selalu berkeliling dengan bahagia dan Ryan selalu menemaniku. Aku mulai mencari cari sesuatu yang ingin ku baca ada banyak jenis buku di ruangan ini.



Aku tak sengaja menemukan koleksi Ryan yang sebelumnya tak pernah ku lihat, buku buku dengan tema dewasa. Saat aku akan berjinjit untuk mengambilnya Ryan langsung berlari ke arahku.



"Jangan baca buku buku ini". Ucapnya panik dan menahan tanganku.



Mata kami saling bertatapan untuk beberapa detik, lalu ia berdehem dan melepas tanganku. Tiba tiba kami jadi canggung karna hal tadi.



"Kenapa aku tidak boleh membacanya hyung? aku sudah dewasa". Ucapku merengek.



Ia yang tadi mengalihkan pandangannya kini kembali menatapku, posisi kami masih berhadapan dan tubuhku bersandar pada rak buku.



"Kau ingin tau isinya? Seperti ini". Dengan tiba tiba ia menciumku tangannya memegang sebelah wajahku.



Aku yang mesih terkejut karna ulahnya tidak menolak ciuman itu, aku pun berjinjit agar tak membuatnya menunduk kemudian mengalungkan tanganku di lehernya. Kami terus berciuman ia mengangkatku dan memindahkanku ke meja yang berada tak jauh dari situ.



Setelah berciuman cukup lama, aku melepas tanganku Ryan pun melepas ciumannya. Aku yang malu langsung menutup wajah, ia memeluku dan kemudian tertawa. Kami tertawa bersama kemudian keluar dari perpustakaan karna takut Tianxi mencari kami.


















Update setiap weekend, happy weekend 💜





__ADS_1



__ADS_2