Eugene Dan Pria 4 Musim

Eugene Dan Pria 4 Musim
Tianxi cemburu~


__ADS_3

Sampai di apartemen



Baru saja naik lift, Guste menelponku.



"Kau dimana?".


"Aku di lift sebentar lagi sampai".


"Yasudah".



Suaranya gugup kira kira apa yang terjadi selama aku tidak ada, aku lalu membuka pintu apartemen. Guste sudah menunggu di depan pintu.



"Ada apa, kenapa wajahmu?".


"Tianxi bilang kau harus ikut dengannya ke Hongkong untuk menghadiri pertunangan TianQin".



Ku lihat ibu sedang duduk dan berbincang dengan Tianxi dan juga Haneul. Mereka beranjak dari kursi saat melihatku datang.



"Bagaimana keadaan bos mu sayangku".


"Oh dia terluka di tangannya tapi sudah ku obati bu".


"Kau pergi ke rumah Haejin ya?". Tanya Tianxi.


"Iya, aku ganti baju dulu ya".




Perbincangan mereka di ruang tamu...



"Sepertinya aku makin tidak suka pada orang itu". Kata Tianxi.



"Oh maksudmu Haejin?". Guste menimpali.



"Ada apa dengannya?". Tanya ibu.



"Sejujurnya aku tidak pernah melihat tingkah anehnya hanya saja aku benar benar tidak menyukainya".



"Kau cemburu". Kata Haneul sambil menunjuknya.



Tianxi diam saja tak menjawab Haneul, Guste dan ibu tertawa melihat Tianxi yang salah tingkah. Selesai ganti baju aku menghampiri mereka di ruang tamu, rambutku sengaja ku gerai karna takut ulah Haejin meninggal bekas.



"Bu temani aku makan". Rengeku pada ibu.



Ibu beranjak dari sofa lalu menemaniku makan malam sedangkan Tianxi, Haneul dan juga Guste pindah ke balkon sambil minum wine. Ibu akan tidur setelah aku selesai makan karna aku yang memintanya agar istirahat.



Ibu mengijinkan ku pergi ke Hongkong untuk menghadiri pesta kakak Tianxi. Aku tidak banyak bicara selama makan ibu juga tidak bertanya lagi tentang Haejin. Selesai makan aku mencuci piringku sendiri, kemudian ibu pergi untuk tidur karna sudah tengah malam.



Aku pergi menghampiri teman teman ku, mereka memang kuat dalam hal minum jadi mereka masih sadar. Aku duduk di sebelah Haneul ia kemudian merangkulku.



"Kau pake parfum sebelum tidur?".



"Tidak, kenapa?". Jawabku mengelak



"Kau pasti ingin menghilangkan aroma Haejin". Kata Tianxi sambil menatapku.



"Yhaa, apa maksudmu tidak ada hal seperti itu".



"Kau harus ikut aku ke Hongkong lusa". Kata Tianxi yang mulai kehilangan kesadaran.



"Kalian mulai mabuk, tidurlah disini". Kataku pada mereka bertiga.



Kemudian Guste dan Haneul beranjak ia pergi ke kamar hanya Tianxi yang masih duduk.



"Ada apa lagi?".



"Ikat rambutmu cepat".



"Tidak, aku sudah mau tidur".



"Sini duduk di sebelahku". menunjuk tempat di sebelahnya.



Aku pun duduk di sebelahnya, ia bersandar di pundakku. Ia terus berbicara tapi tidak jelas bicara apa sampai di satu kalimat yang membuatku terkejut.



"Kau pikir aku tidak lihat kau berciuman dengan Ryan hyung, itu sangat menyakitkan untukku". Katanya sambil menggenggam tanganku.



"Maaf, apakah itu membuatmu terluka?".



"Tentu saja hati ku sakit, aku menyukaimu Eugene".



"Perempuan di sekeliling mu banyak, bahkan tidak sedikit dari mereka ingin berkencan denganmu Tianxi".



"Aku tidak peduli, aku akan mengusir mereka semua asal kau tetap bersamaku Eugene aku berjanji padamu aku akan berhenti berpesta di club aku akan selalu bersamamu".



"Jangan berubah karna aku, tapi berubahlah untukmu sendiri aku belum bisa memutuskan perasaanku sebenarnya pada siapa".



"Aku takut kau menyukai Haejin, Eugene berjanjilah padaku jangan menyukainya aku akan memberimu semua hal di dunia ini". Katanya sambil tiba tiba memeluk ku.



Aku membalas pelukannya, aku tak pernah melihat ia sesedih tadi dan wajahnya sangat tulus. Aku tau ia bahkan rela membelikanku sebuah agensi agar aku bisa menjauh dari Haejin. Aku benar benar tidak menyangka jika ia melihat kejadian di perpustakaan waktu itu pantas saja ia tiba tiba menghilang tidak bisa di hubungi.



Aku tidak merasa bahwa ia sedang berbohong, ia mungkin juga sedang berada di masa sulit karna ku dengar sedikit yang memihaknya di perusahaan pusat. Ia mengatasi segala hal sendirian ia tumbuh menjadi pria yang kuat ia bahkan jarang menampakan wajah aslinya.



"Jangan sedih aku akan bersamamu, ceritakan apapun padaku". Kataku sambil mengelus pundaknya.



Ternyata Tianxi tertidur, aku berbisik di telinganya agar ia bangun tapi ia malah terlihat pulas. Terpaksa aku memapah tubuh Tianxi yang ukurannya lebih besar dari ku dengan sekuat tenaga. Aku hanya mampu memapahnya sampai di sofa lalu aku menidurkannya dengan posisi miring.



Karna aku takut terjadi sesuatu jadi aku mengambilkannya bantal dan selimut, aku pun tertidur di sebelahnya karna sofa ku bisa di buat sedikit lebar.



Esok paginya aku terbangun dengan posisi Tianxi yang memeluk ku, padahal seingatku saat tidur ia membelakangiku. Makanan sudah tersaji di meja Guste dan Haneul juga sudah pulang. Aku membangunkan Tianxi dan memanggil ibu.



"Oh sudah bangun yah?". Kata ibu sambil tersenyum.



"Kenapa ibu tidak bangunkan aku, jam berapa sekarang aku harus pergi kerja?". sambil mengucek ngucek mata.



"Saat bos mu menelpon ibu sudah minta ijin padanya bahwa kau akan masuk siang karna akan mengantarku ke bandara, jadi ibu biarkan kamu tidur".



"Oh jam berapa ini bu?". Tanya Tianxi yang baru bangun


__ADS_1


" sekarang pukul 8, kau mandi dulu sana temani Eugene mengantarku ke bandara".



"Ah iya baiklah, dimana Eugene bu?".



"Kau semalaman sudah tidur di sampingnya ia jadi malu karna Guste dan Haneul melihatnya saat pagi".



"Ah aku pasti ketiduran setelah minum, aku mandi dulu ya bu". Beranjak dari sofa.



Aku sudah selesai mandi lalu menghampiri ibu di meja makan. Ibu memintaku untuk memanggil Tianxi agar sarapan bersama. Aku menurutinya dan pergi ke kamar belakang. Aku masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu dan ternyata Tianxi hanya memakai handuk karna refleks aku langsung berbalik dan meminta maaf lalu menutup kembali pintunya.



Aku langsung bergegas pergi karna malu. Tak lama Tianxi datang dengan stelan rapih lalu makan bersamaku karna ibu sudah sarapan bersama Gustre dan juga Haneul. Ibu meninggalkan kami berdua membuat kami jadi canggung.



"Makanlah yang banyak". Sambil menaruh sayur ke piringku.



Aku hanya mengangguk sambil melanjutkan makannya.



"Semalam apa aku berkata hal aneh?". Tanyanya penasaran.



"Tidak, tidak ada kenapa bertanya begitu apa ada yang kau sembunyikan dari ku?". Kataku pada Tianxi.



"Tidak aku hanya bertanya saja". Jawabnya santai.



Selesai makan aku langsung pergi ke bandara bersama Tianxi untuk mengantar ibu, setelah melihat ibu sudah masuk ke ruang tunggu aku memutuskan untuk pulang. Sebelum pergi ke kantor Tianxi mengajak ku minum kopi disana kami bertemu dengan salah satu rekan bisnis Tianxi.



Mereka berbicara menggunakan bahasa kanton yang sama sekali tidak ku mengerti jadi aku hanya diam saja. Tak lama orang itu pun pamit pergi dan Tianxi menjelaskan perbincangan mereka. Tianxi bilang orang itu salah satu yang paling kaya dia seorang mafia.



Orang orang hanya pernah mendengar namanya tapi tidak tau orangnya yang mana, aku pun bahkan tidak menyangka karna ku kira mafia itu akan terlihat seperti preman. Tapi tidak berlaku untuk orang itu ia berpenampilan sangat baik dan rapih.



"Aku cukup beruntung karna bisa menjadi relasinya, tidak semua orang beruntung bisa mengenalnya karna ia sangat sulit di temui".



Tianxi bilang orang itu juga di undang di pertunangan kakak Tianxi tapi orang lain yang akan mewakilinya. Aku pun membahas tentang kecanggungan ku untuk meminta ijin cuti satu hari pada Haejin.



"Sudah ku bilang berhenti bekerja saja, kau bisa urus agensi sekarang".



"Kau tidak tau seperti apa situasi ku sekarang, aku tidak bisa begitu saja berhenti bekerja". kataku sambil mengaduk kopi.



"Kenapa? apa situasimu rumit karna kau mulai menyukai Haejin?". Kata Tianxi dengan tatapan kesal.



"Aku tidak menyukainya, apa ini? kita seperti pasangan yang bertengkar". Kataku sambil menatapnya.



"Sudahlah ini tidak lucu". Kata Tianxi sambil beranjak dari kursi.



Tianxi mengantarku sampai kantor, sesampainya di kantor aku bertemu dengan beberapa karyawan di lobby dan saling menyapa. Aku langsung pergi ke ruangan wakil presdir tapi disana tidak ada Haejin.



Saat aku baru saja meletakan padding ku, Yoona masuk membawa tumpukan berkas laporan dari semua departemen.



"Lee Biseo, ini laporan yang harus di tanda tangani oleh wakil presdir". Katanya sambil menyerahkan berkas.



"Iya, aku mengerti". Sahutku.



Yoona meninggalkan ruangan jam makan siang sudah lewat tapi Haejin masih belum masuk ke ruangan.



"Ini ada sebuah undangan untuk wakil presdir".



Aku menerimanya lalu ku simpan di atas meja, kemudian orang itu pun keluar dari ruangan. Ku lihat Minhyun mengetuk pintu.



"Ada apa?". Tanyaku padanya.


"Tadi aku bertemu dengan wakil presdir ia berpesan untuk memintamu ke taman atap". Kata Minhyun.



Aku memberi anggukan lalu Minhyun pergi keluar. Setelah Minhyun pergi aku pun langsung ke atap untuk menemui Haejin. Aku melihat ia sendirian sedang menatap lurus ke arah sebuah bangunan lalu menyadari kedatanganku.



"Ada apa bapak memanggil saya?". Tanyaku pada Haejin.



"Kau harus lembur hari ini". Katanya singkat.



Aku mengangguk tanda setuju dengannya.



"Aku akan pergi konsultasi dengan dokter pribadiku, kau pesankan makan malam dari tempat yang biasa nanti aku akan kembali ke kantor untuk makan malam". Perintahnya padaku.



"Baik, saya lakukan".



"Kau boleh kembali ke ruangan". Perintahnya.



Aku pen pergi sesuai perintahnya, aku memesan makanan kesukaaannya lalu melanjutkan membaca laporan. Sudah jam pulang dan aku mulai merasa lapar jadi aku memesan ayam goreng dan juga cola.



Aku keluar untuk mengambil pesanan di lobby dan kantor mulai sepi. Saat berjalan aku melihat beberapa ruangan masih ada yang bekerja dan aku berhenti di ruang desain. Aku masuk tanpa mengetuk ku lihat Hyungshik tertidur lelap lalu aku membangunkannya.



"Heii, bangun kau akan lembur atau bagaimana?". tanyaku penasaran.



"Ah iya, aku pasti ketiduran lagi semalam aku kurang tidur". Sambil merapikan rambutnya.



"Apa pekerjaannya mendesak sehingga lembur?".



"Tidak terlalu mendesak Lee biseo, tapi karna aku ingin segera menyelesaikannya saja". Katanya polos.



"Jangan seperti itu, tubuhmu perlu istirahat juga". Kataku mengingatkan.



"Iya aku mengerti". Katanya sambil mengangguk.



"Wangi apa ini?". Tanyanya.



"Oh ini pasti wangi ayam yang ku bawa, kau mau kita bisa makan bersama". Ajakku padanya.



"Apa kau juga lembur?". Tanyanya.



"Iya aku lembur karna tadi pagi aku ke bandara mengantar ibuku dulu jadi hari ini harus lembur". Kataku sambil membuka kotak ayam.



"Oh mau pergi kemana ibu nya?".



"Ibuku kembali ke Rusia". Kataku singkat.


__ADS_1


"Rusia?". Katanya terkejut.



"Ahh aku pasti belum cerita ya aku berdarah campuran, ibuku Rusia dan ayahku Korea". Kataku mulai makan ayam.



"Ohhh pantas saja matamu warna nya agak oliv ku kira kau pake lensa".



"Ini warna asli mataku".



Kami berbincang hingga ayam habis karna aku takut Haejin sudah kembali maka aku buru buru pergi meninggalkan Hyungshik. Saat aku akan kembali ke ruangan beberapa departemen sudah gelap pertanda tersisa beberapa orang saja di kantor. Sesampainya di ruangan aku tak melihat Haejin padahal sudah jam makan malam tapi belum kembali.



Aku yang sudah kenyang lalu membuat catatan kecil dari setiap laporan yang ku baca agar memudahkan Haejin memahami garis besar laporan tersebut. Lima belas menit berlalu dan aku mulai mengantuk dan tertidur.



Samar samar ku lihat ada yang masuk. Ia memanggil manggil namaku dan kemudian aku terbangun. Aku yang terkejut karna wajah Haejin begitu dekat membuatku hampir terjatuh ke belakang.



"Maaf aku ketiduran pak". Kataku panik.



"Tidak apa apa, kenapa kau belum memakan makanannya?". Tanya Haejin padaku.



"Ini kan makanan milik bapak". Kataku sambil merapikan ikat rambutku.



"Ini untukmu". Katanya singkat.



"Untukku? tapi aku sudah makan ayam tadi". Kataku memasang wajah tanpa dosa.



"Kau malah makan ayam? aku tidak mau tau kau harus habiskan ini". Katanya marah.



"Baiklah kita makan bersama saja". Pintaku padanya.



Haejin menyetujuinya lalu kami duduk di sofa dan membuka kotak kotak makanan itu. Lalu Haejin mengeluarkan beberapa obat dari saku jasnya.



"Kau harus hapalkan jadwalku minum obat". katanya sambil menyodorkan obat tersebut.



"Baik".



"Jangan ada yang tau bahwa aku memiliki gangguan kecemasan karna ini akan mempengaruhi perusahaan".



Lagi lagi aku hanya mengangguk mengiyakan.



"Hari ini kau tidak banyak bicara, apa ada sesuatu yang kau pikirkan?". Tanya Haejin lagi.



"Emm, ya tentu saja ada". Kataku singkat.



"Apa?".



"Aku ada urusan mendadak di Hongkong sabtu minggu ini tapi sepertinya aku baru bisa kembali senin". kataku sambil melihat reaksinya.



"Kau mau cuti?".



"Iya". Kataku sambil menunggu reaksinya.



"Untuk apa kau pergi kesana? bersama pria yang waktu berpapasan di Ji hotel?". Tanyanya penuh selidik.



"Emm, iya bersama Tianxi". Kataku tanpa ragu.



"Baiklah kau boleh pergi". Kata Haejin tanpa ekspresi.



Ia pergi ke mejanya setelah selesai makan, aku menyusun kembali kotak makanan itu lalu memasukannya ke kantung sampah. Lalu pergi keluar untuk menaruhnya di tempat sampah yang lebih besar.



Aku kembali ke ruangan Haejin masih melihat laporan, aku mendekat untuk memberi tahunya ada sebuah undangan di meja. Ia membacanya kemudian menyuruh ku mencatat tanggal nya.



Aku yang sedang mencatat di sebelahnya terkejut karena Haejin menarik pinggangku membuatku terduduk di pangkuannya. Refleks aku berusaha bangun tapi ia menahannya. Ia memelukku erat sambil mencium leherku.



"Apa yang kamu lakukan tolong lepaskan". Pintaku padanya.



"Eugene aku sangat menyukai wangi tubuhmu". Sambil sesekali menghirup aroma parfum ku dari belakang telinga.



Dia melepaskanku setelah meninggalkan bekas gigitan di leher bagian samping.



"Kau boleh pergi dengannya dengan bekas gigitanku agar ia tak ingin menyentuhmu". Kata Haejin sambil tersenyum.



"Kau benar benar tukang onar". Kataku sambil menjauh.



"Ambilkan obatku".



Aku memberinya obat dan juga air, setelah menelan obatnya ia mengeluarkan permen dari sakunya lalu memakannya.



"Kau seperti anak anak habis minum obat memakan sesuatu yang manis". Kataku meledek.



Dia menatapku yang masih berdiri di dekatnya.



"Ini baru manis". Katanya sambil beranjak dari kursi lalu mengecup bibirku.



"Aishh, kau selalu saja cari cari kesempatan dari ku". Kataku sambil marah.



Ia tertawa lalu mengajakku pulang karna sudah pukul 10 malam, ia tau bahwa aku tidak membawa mobil jadi dia akan mengantarku.

















__ADS_1


__ADS_2