Eugene Dan Pria 4 Musim

Eugene Dan Pria 4 Musim
Pergi piknik


__ADS_3

Selesai sarapan...




Aku akan membangunkan mereka, hari ini kau ingin pergi kemana?". Tanya Haneul sambil berjalan menuju kamar belakang.



"Aku ingin pergi ke sungai Han". Jawabku pada Haneul mengikutinya dari belakang.



Haneul membangunkan Guste dan Tianxi untuk segera mandi karna akan pergi piknik. Haneul pergi keluar dan aku membangunkan mereka lagi dengan cara menindih tubuh mereka dan berteriak teriak.



"Heii kalian pemalas ayo ayo ayo cepat bangun ayo kita piknik kalau tidak bangun aku akan pergi berdua saja dengan Haneul hyung". Ucapku sambil berteriak.



Mereka langsung menyingkarkan tubuhku dan mendorongnya.


"Awwhhh, ishh sakit kalian ini menyebalkan ya". ucapku kesal.



"Pergi sana kami akan mandi". Usir Guste padaku.



"Haishh, lagi pula aku juga tidak ingin melihat kalian mandi". Dumelku pada mereka berdua.



Aku meninggalkan mereka yang masih mengumpulkan nyawa karna baru bangun. Aku menghampiri Haneul yang sedang di dapur, ia menyiapkan bekal untuk piknik dengan bahan yang ada kulkas.



"Kau ingin di buatkan apa?". Tanyanya sambil menata makanan.



" Aku apa sajalah". Ucapku padanya seraya menghampiri.



"Hyung bagaimana rasanya melakukan back hug?". Tanyaku sambil menatapnya yang sedang menunduk fokus pada makanan.



Ia langsung menatapku tajam " Kau terlalu banyak menonton drama ya? Drama mana lagi yang kau tonton kali ini hah?". Tanyanya meledek.



"Hyung, kau ini tinggal jawab saja tidak perlu meledek juga". Ucapku memanyun.



"Seperti ini". Ucap Haneul dengan satu gerakan langsung memelukku dari belakang.



"Bagaimana rasanya? kau menyukainya?". Lanjut Haneul bertanya.



Aku masih sedikit terkejut "Emm, ya tidak buruk".



Guste datang menghampiri "Kalian sedang apa? ini masih pagi". Ucapnya sambil memegang botol air.



Haneul langsung melepas pelukannya. "Kau pikir apa? dia yang bertanya padaku seperti apa rasanya back hug ya lalu aku contohkan". Ucap Haneul sambil menutup kotak makan.



"Ya ya terserah, hati hati nanti menyukainya kau akan bersaing dengan beberapa pria termasuk teman mu sendiri". Ucap Guste sambil mengunyah apel.



"Kau bicara apa? Jangan bicara sembarangan". Ucapku menimpali Guste dan melangkah menjauh.



"Kau mau kemana?". Tanyanya Haneul singkat.



"Aku ingin ke kamar dulu jika semua sudah siap beritahu aku". Jawabku pada Haneul.



Aku pergi meninggalkan mereka...




Di sisi lain di Gedung Ji Grup...



"Aku sudah menduga bahwa memang anak itu lah yang mengeluarkan berita agar pertunangannya dibatalkan". Ucap tuan Qinxue pada asistennya.



"Tapi tuan muda dengan nona Eugene memang mereka berteman sejak di Rusia tuan". Ucap asistennya menjelaskan.



"Jadi hubungan Tianxi dengan Eugene apa itu rekayasa?". Tanyanya penasaran.



"Aku tidak yakin untuk masalah itu tuan karna para staff mengatakan nona Eugene beberapa kali datang tanpa teman teman yang lain dan juga manager hotel bilang tuan muda jarang tidur di hotel jika di tanya ia selalu bilang tidur di tempat Eugene". Papar asisten pada tuan Qinxue.



"Jika memang benar mereka berkencan itu adalah hal yang bagus dan aku akan meminta mereka untuk segera menikah". Ucap tuan Qinxue pada asisten.




Kembali ke apartemen..



Eugene ayo berangkat Kami semua sudah siap. Aku keluar dan melihat mereka "Yhaa, kenapa kita tidak pakai baju dengan tema yang sama?". Usulku antusias.



"Maksudmu couple? kau mau kita pakai baju apa?". Tanya Guste.



"Pakai kaos putih saja kalian punya yang polos kan terus pakai jeans kita harus lebih santai hari ini jangan lupa pakai sepatu dari ku". Pintaku pada mereka bertiga.



"Oh astaga wanita ini, aku tidak bawa sepatu darimu lah aku menyimpannya di hotel". Ucap Tianxi jengkel.



"Yasudah tidak usah kita langsung berangkat saja". Ucapku kesal.



"Kau marah padaku?". Tanya Tianxi sambil mencegat jalan ku.



"Tidak, ayo cepat". Jalan menerobos Tianxi.

__ADS_1



Kami langsung naik ke mobil aku memilih satu mobil dengan Guste, aku sedang ingin membicarakan beberapa hal dengannya.



"Bisa kita bicarakan tentang saham sekarang?". Tanyaku menatapnya yang sedang menyetir.



"Kau lihat artikel lagi ya pagi ini?". Tanya Guste tanpa mengalihkan pandangan.



"Iya aku melihatnya saham mereka kemarin naik, tapi hari ini turun lagi di titik paling rendah". Ucapku pada Guste.



"Aku tidak bisa menjanjikan apapun meski kau jadi CEO atau pemegang saham terbesar sekalipun perusahaan itu bukan sesuatu yang bisa kau perbaiki dalam waktu semalam". Jelas Guste menoleh.



"Aku tau, tapi aku ingin menyelamatkan mereka yang memang masih bisa di selamatkan". Ucapku dengan pelan.



"Jika kau ingin menyelamatkan mereka kau harus membuka agensi sendiri dan menarik mereka". Ucap Guste santai.



"Yhaa, membuat agensi sendiri kau pikir seperti bermimpi ketika kau selesai tinggal bangun dari tidur. Ahhh aku frustasi karna hal ini". Ucapku sedikit keras membuat Guste terkejut.



"Kau bisa tidak tidak mengagetkanku, aku menyetir nih". Sahutnya kencang.



Aku diam sampai tiba di sungai Han, kami berempat berjalan beberapa orang memperhatikan kami. Haneul dan Tianxi membawa perlengkapan piknik. Tiba tiba Tianxi menggenggam tanganku dan membuat Haneul tertawa.



"Kau sedang apa? bermain peran lagi?". Tanya Haneul dengan tampang jahil.



"Kenapa? kau iri bilang saja!!". Ucap Tianxi tetap menggenggam tanganku.



"Tentu saja tidak, aku bisa melakukan lebih dari itu dengannya seperti yang ku lakukan tadi pagi Guste juga melihatnya". Ucap Haneul santai terus berjalan.



Aku hanya tertawa mendengar celetohen mereka berdua, begitu juga dengan Guste yang hanya menyimak perdebatan kedua temannya. Hingga kemudian Guste melepaskan pegangan tangan Tianxi dan menarik ku untuk berjalan di sampingnya.



"Guste kau ingin mati ya?". Ucap Tianxi dengan bahasa Rusia.



Guste hanya tertawa dan kemudian kami duduk di alasi kain, cuaca sudah mulai dingin pertanda bahwa musim dingin hampir tiba. Haneul membuka keranjang berisi perbekalan, aku mengeluarkan kamera dan mulai memotret. Aku memotret mereka bertiga dan kemudian kami pun berfoto mengirimkannya pada Ryan tapi sayang ponselnya tidak aktif sepertinya ia sudah di pesawat dalam perjalanan pulang ke Korea.



Kami kembali membahas tentang akuisisi Yinyeng, tapi sepertinya aku sudah pada keputusan untuk lebih baik tidak membelinya karna aku merasa tak akan mampu menangani masalah personal dari perusahaan itu meski aku berusaha dengan banyak cara. Haneul pun setuju dengan keputusanku begitu juga dengan Guste dan Tianxi, dan akhirnya kami pun mencari alternatif lainnya.



"Bagaimana jika membeli saham JinHit? kali ini bisa kan karna Yinyeng harus ku lepas". Usulku sambil memakan snack.



"Ku belikan kau saham dari agensi lain saja ya? tenang saja banyak dedek gemesnya juga". Ucap Tianxi memasang senyum.



"Ah lupakan saja lagi pula aku juga tidak bisa jadi CEO dan tidak bisa jadi pemegang saham utama". Ucapku lesu.




"Aku ingin menonton konsernya saja". Jawabku lesu dan kemudian berbaring.



"Ku belikan sebuah mall saja bagaimana?". Tianxi memberi penawaran baru.



"Ahh tidak usah aku tidak tertarik". Ucapku sambil menutup mata.



"Kau yakin hanya ingin saham JinHit?". Tanya Guste dengan nada serius.



"Sudahlah jangan bicarakan itu lagi, aku sedang tidak ingin membicarakan saham agensi". Ucapku membalikan tubuhku membelakangi mereka.



Mereka menyadari bahwa suasana hati ku jadi tidak baik, kemudian Tianxi menyetelkan musik kesukaan ku. Haneul memesankan ayam goreng dari tempat kesukaanku agar aku merasa lebih baik. Guste mengajakku berjalan menyusuri sungai, kami berjalan menikmati udara dan suasana di sekitar.



"Pikirkan saja apa yang membuatmu senang, jangan murung itu membuatku dan yang lain menjadi tidak bahagia". Ucap Guste sambil tersenyum.



"Belakangan ini kau begitu dewasa, kau sedang jatuh cinta atau memang sedang berkencan?". Tanyaku penuh selidik.



"Kau pikir ada perempuan lain selain dirimu? aku tidak berkencan dengan siapapun aku beberapa waktu lalu ke Jepang untuk menemui teman lamaku". Jelas Guste padaku sambil terus berjalan.



"Tapi bukankah meski kalian terus bersamaku kalian tetap bisa menyukai perempuan lain kan?". Tanyaku penasaran.



"Ya kau benar mungkin ada hal yang menyebabkan kami terlalu nyaman begini dan tak mencari teman kencan, bukan karna kamu tapi karna momen ini yang sedang hangat dan menyenangkan obat dari segala lelah itu bersama kalian". Ucap Guste sambil menatapku kemudian tersenyum.



Aku pun tersenyum dan menggenggam tangannya kemudian mengajaknya berlari sambil tertawa membuat hatiku seperti terbebas dan melupakan banyak hal yang tidak menyenangkan. Kami terbatuk batuk sambil tertawa dan menghentikan acara lari larinya. Kemudian kami kembali ke tempat Haneul dan Tianxi yang sedang duduk.



"Ayo makan ayam gorengnya nanti keburu dingin". Ajak Haneul pada ku.



Kami duduk dan makan ayam bersama. Selesai makan ayam kami membereskan sampah dan membuangnya, kami berjalan dan berfoto bersama. Sebelumnya kami tak pernah melakukan hal seperti ini di Korea ini kali pertama kami tapi sayangnya tanpa Ryan.



"Setelah ini kita pergi nonton film yuk?". Ajak Tianxi pada kami.



"Setuju, oke ayo pergi". Ucap Kami kompak.



Kami pun memutuskan untuk pergi ke bioskop, karna Haneul mengenal manager bioskop itu jadi dia memesan satu teater untuk di kosongkan. Haneul juga memesan beberapa snack dan minuman.



"Yhaa, kau punya akses seperti ini juga di Korea". Ucap Tianxi pada Haneul.



"Kau kira hanya kau saja yang bisa melakukan sesuatu yang seperti ini, aku juga punya akses untuk bisa melakukan hal hal seperti ini". Menyombongkan dirinya.

__ADS_1



"Jika di Hongkong aku bisa mengosongkan sebuah gedung mall dan aku bisa leluasa berjalan jalan di dalamnya tanpa gangguan". Ucap Tianxi.



"Kau pikir aku di Korea tidak bisa? lihat ya aku akan menyuruh orang untuk mengosongkan mall untuk kita bisa berbelanja dengan leluasa". Ucap Haneul kesal.



"Kalian sedang apasih tidak usah begitu aku juga sudah tau kalian punya power untuk melakukan hal itu jadi tidak usah buang buang uang mu". Ucap ku menimpali perdebatan mereka.



Aku langsung menarik tangan Guste untuk meninggalkan mereka yang tadi berdebat. Kami langsung pergi menuju bioskop tersebut. Karna hanya kami yang ada di dalam teater jadi sangat leluasa tapi sedikit creepy karna hanya ada kami berempat. Baru beberapa menit film di mulai Guste sudah tertidur pulas aku memasangkan selimut untuknya, Haneul dan Tianxi masih menonton sambil makan snack.



Selesai film di putar ternyata Tianxi pun tertidur, aku membangunkan Guste dan juga Tianxi untuk segera pulang. Aku yang menyetir mobil Guste sedangkan Tianxi bersama Haneul. Haneul mengantarkan Tianxi ke hotel sedangkan aku langsung ke apartemen. Aku pergi ke kamar untuk segera mandi, hari ini cukup menyenangkan karna akhirnya kami bisa pergi keluar bersama.




Disisi lain di kediaman Haejin...



"Aku ingin mencari tau siapa Tianxi apa kau mengetahui informasi tentang dia?". Tanyanya pada seseorang.



"Sepertinya dari nama saja aku sudah tau dia bukan warga Korea". Ucap seorang informan Haejin.



"Ku rasa begitu coba cari tau karna sepertinya dia bukan orang sembarangan karna Eugene tidak punya banyak teman di Korea". Jelas Haejin pada informan.



Haejin menyuruh orang untuk mencari tau latar belakang Tianxi.




Ponselku berdering terlihat di layar nama Haejin yang muncul, aku langsung mengangkatnya.



"Ponsel angkat telpon". Seketika ponsel langsung tersambung.



"Kau dimana?". Tanya Haejin.



"Aku sedang di rumah, baru saja pulang ada apa?". Tanyaku padanya.



"Sepertinya ada suara air kau sedang mandi ya?". Tanyanya lagi.



"Aku sedang mandi atau tidak apa urusanmu, cepat katakan mau apa?". Ucapku mengomel.



"Kau masih marah karna ciuman ku waktu itu?". Ucapnya terkekeh.



"Yhaa, kenapa kau membahasnya lagi jika kau membahas itu lagi aku tidak akan mau menemuimu ya lihat saja nanti". Ancamku padanya.



"Iya iya baiklah aku tidak akan membahas itu, aku mau kerumah mu ya aku akan membawa makanan untuk makan malam bersama". Ucap Haejin langsung mematikan ponsel.



"Haisshh orang ini menyebalkan sekali, bagaimana ini aku beritahu Guste sajalah". Keluhku kesal.



Aku menyudahi acara mandi mandi cantiknya, aku langsung menelpon Guste memintanya untuk datang kerumah. Guste yang mendengar suara ku karna panik langsung bergegas ke gedungku yang bersebelahan dengan gedung apartemennya. Aku langsung berpakaian karn Guste akan segera datang. Terdengar pintu terbuka Guste langsung memanggil manggil namaku.



"Aku baik baik saja Guste". Ucapku mengagetkannya.



"Yhaa, kenapa suaramu seperti itu ada apa?". Tanyanya sembari duduk di sofa.



"Haejin ingin makan malam disini tadi dia menelpon tapi tanpa aku menjawab iya dia langsung mematikan ponselnya, aku harus bagaimana?". Tanyaku bingung.



"Akan aneh jika tiba tiba aku ada disini makan malam bersama kalian, perkenalkan saja bahwa aku sepupumu lalu aku pergi ke kamar ia pasti akan sungkan untuk melakukan hal hal aneh". Ucap Guste menjelaskan.



"Jangan katakan pada hyung ya aku tidak ingin membuat mereka marah". Pintaku memasang wajah memelas.



"Aku kan sudah bilang jika tidak bisa memberitahu para hyung kau bisa bilang padaku aku akan menyimpan rahasianya, aku juga tau kau pasti pernah berciuman dengan Haejin". Ucap Guste serius di akhiri tawa.



"Aishh ujung dari bicaramu kenapa menyebalkan aku bukan berciuman, tapi dia menciumku paksa jadi jangan sok tau kau". Ucapku yang kemudian memukul tangannya.



"Awwhh sakit, dasar kau ya ya baiklah terserah apa namanya, tapi bagaimana rasanya apa kau masih mengingatnya?". Tanya Guste menggodaku kemudian berlari menuju balkon.



"Kau ingin ku pukul ya hah? kemari kau cepat kemari dasar bocah nakal". Omelku sambil mengejarnya.
















Tunggu kelanjutannya....



__ADS_1


__ADS_2