Eugene Dan Pria 4 Musim

Eugene Dan Pria 4 Musim
Jangan tinggalkan aku...


__ADS_3

Masih di apartemenku, di malam hujan...




Aku tak menghiraukan perkataannya bahwa ia akan berdiri di luar menungguku membukakan pintu, ku pikir ia tak mungkin bertindak ceroboh karna diluar sedang hujan.



Aku melanjutkan aktivitasku mencuci pakaian lalu berbaring. Sudah satu jam berlalu aku yang penasaranpun mengintip di jendela. Betapa terkejutnya aku melihat Ryan berjongkok di tengah hujan. Aku yang panik lalu membawa payung dan selimut, kemudian buru buru turun untuk menemui Ryan.



"Yhaa, apa yang kau lakukan kau bisa sakit nanti". Ucapku kesal.



Ku lihat tubuhnya gemetar, bibirnya pucat, dan semua pakaiannya basah bahkan juga sepatunya. Aku membantunya berdiri dan memapahnya aku pun jadi basah karna payung tak dapat ku pegang karna harus membantu Ryan berjalan.



Sesampainya di dalam rumah aku mendudukannya di sofa membantunya membuka kemeja lengan panjangnya dan mengganti pakaiannya. Aku membuka kaos kaki hingga sampai pada celana aku tak berani membukanya. Karna tubuh Ryan terus gemetar aku memutuskan untuk mematikan lampu dan menunggunya berganti celana.



Masih dalam keadaan gelap karna lampu ku matikan aku kembali memulai percakapan "Kau seharusnya tidak bertindak seperti tadi".



Ryan memelukku erat "Maaf". Katanya sambil gemetar.



Aku mengeringkan rambut Ryan dengan handuk, setelah itu mengulurkan selimut di tubuhnya. Aku membantunya berbaring dan duduk di sampingnya. Aku duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam ke dua tangannya.



Ryan masih terlihat kedinginan aku memutuskan untuk ikut berbaring di sisinya sambil memeluknya dari belakang di bawah selimut yang sama. Ryan malah berbalik dan memelukku, aku yang mengantuk pun jadi ikut tertidur sampai pagi.




Aku bangun lebih dulu, kemudian menyiapkan sarapan. Ryan masih belum bangun jadi aku mengecek nya ternyata ia demam aku mengambil termometer untuk mengukur suhu tubuhnya. Suhu tubuhnya mencapai 38℃ ia terbangun dan menahan tanganku.



"Ada apa?".



"Jangan tinggalkan aku sendiri".



" Ayo kita ke rumah sakit".



Belum sempat memakan apapun, aku langsung mengabari Guste bahwa Ryan demam dan ada di rumahku. Tak lama Guste datang lalu memapah Ryan yang ukuran tubuhnya sedikit lebih besar darinya aku membantu membukkan pintu mobil.



Sesampainya di rumah sakit Ryan hanya mendapat suntikan dan beberapa obat ia terlihat lebih baik sekarang. Aku akan menelpon Haejin untuk meminta ijin bahwa aku tidak masuk hari ini



"Hallo, pak wakil presdir sepertinya aku hari ini tidak bisa masuk kerja sepupuku sedang sakit dan tidak ada yang menjaganya hanya hari ini saja aku ijin". Kataku sambil memelas.



"Maksudmu Auguste? Baiklah kau di RS mana?". Tanya Haejin.



"Oh aku di RS TaeJin, ada apa?".



"Nanti jam makan siang aku akan kesana untuk membesuk".



"Tidak usah, dia tidak suka melihat orang lain di ruangannya".



"Oh benarkah? haruskah aku percaya padamu Eugene?".



"Ya kau benar, tidak seharusnya kau percaya padaku aku kan tukang bohong di mata mu".



"Kenapa bicara begitu, aku tidak sungguh sungguh mengatakannya apa kau marah?"



"Aku tidak marah, mana mungkin aku marah padamu".



"Jangan marah, hari ini ada rapat untuk bertemu dengan para pimpinan pusat jadi kau juga harus ikut". Lalu mematikan telpon.



Guste menepuk punggungku "Pergilah bekerja, Ryan biar aku yang menjaganya". Aku pun akhirnya pergi ke kantor. Sesampainya disana aku tidak melihat Haejin di ruangannya. Aku merasa lega karna tidak langsung bertemu dengannya.



Yoona mengetuk pintu lalu masuk, Yoona memberiku setumpuk berkas. Aku meletakkan berkas berkas itu di meja Haejin. Aku kembali melihat jadwal untuk hari ini aku masih belum terbiasa dengan pekerjaan baru ku ini. Karna sejak tadi aku sendirian dan merasa bosan aku memutuskan untuk pergi ke ruang desain interior.



"Tok, tok, tok".



Aku masuk keruangan, ku lihat ada Haejin juga disana.



"Oh kau sudah datang". Kata Haejin dengan nada bicara serius.



"Oh, wakil presdir saya mencari anda". Kataku mencari alasan.



Haejin melewatiku dan berjalan lebih dulu, aku kemudian mengikutinya. Sesampainya di ruangan ia menyuruhku mempelajari salah satu berkas yang menumpuk di mejanya. Dia memang agak aneh kadang kadang sangat baik tapi kadang sangat menyebalkan.



"Hari ini kita akan pergi ke Sky grup bertemu dengan para pimpinan pusat, kita akan pergi untuk mewakili ayah yang sedang kunjungan ke China".



"Baik, pak".



"Kau pasti antusiaskan karna akan bertemu dengan Haneul". Katanya sambil terus mengetuk ngetuk meja dengan jari.



"Oh, iya tentu saja satu minggu ini aku tidak bertemu dengannya". kataku mengiyakan.



"Baiklah kita lihat nanti, aku harap ia segera melepaskanmu". Katanya sambil tersenyum licik.


__ADS_1


Aku tidak menanggapi perkataannya, lalu ijin ke toilet. "Hah apa apaan itu dia sangat menyebalkan". aku terus merutuk.



Aku masuk ke dalam bilik karna mendengar suara org yg datang, ternyata mereka dari departemen keuangan.



"Bagaimana bisa dia dengan sangat mudah naik level seperti itu". kata salah satu karyawan.



" Ku dengar dia itu anak orang kaya".



"Jika dia kaya untuk apa dia bekerja, apa dia tidak mampu membangun bisnisnya sendiri?".



" mungkin saja dia anak orang kaya lalu mereka berkencan, itu lah kenapa dia terus memepet wakil presdir agar tak di goda wanita lain".



mereka keluar dari kamar mandi.



Aku yang gerah mendengar perkataan mereka diam diam merekam percakapannya, aku akan memberitahu Haejin bahwa muncul rumor di sekeliling karyawan karna ulahnya yang menjadikan aku sebagai sekretaris nya.



Dia harus bertanggung jawab atas tercemarnya namaku. Aku pun bergegas keluar dari toilet untuk segera menemui Haejin.



"Kau dengarkan apa yang barusan ku putar".



"Iya, lalu?".



"Kau benar benar tidak mengerti ya? namaku tercemar sekarang seolah olah aku yang menyukaimu padahal faktanya justru sebaliknya".



"Kau punya banyak hal yang bisa kau urus, jangan terlalu di pikirkan karna perkataan mereka juga tidak benar".



"itu saja tanggapan mu untuk masalah ini?".



"Lalu kau ingin aku bereaksi seperti apa? memberhentikanmu? mengembalikanmu pada posisi semula? apa kau pikir itu bisa membuatmu berhenti di bicarakan?".



"Yhaaaaa, kau memang tidak mengerti perasaanku baiklah diam saja tidak perku lakukan apapun". dengan nada bicara yang tinggi kemudian pergi meninggalkan ruangan.



Aku pergi ke atap gedung, aku duduk di udara yang mulai dingin. Aku mendinginkan diriku dari rasa marah pada Haejin, sampai akhirnya aku menangis tersedu sedu karna tak bisa menahan emosi.



Aku menangis semakin keras, tapi aku menutup mulutku agar tak terlalu terdengar. Aku terus merutuk " Dasar brengsek".


Kemudian aku mendengar langkah kaki lalu membuatku berdiri dan pindah dari tempatku tadi. Sekarang aku berdiri menghadap dinding pembatas gedung dan masih menangis.



Aku merasa sangat kesal dan tangisku mulai reda. Tiba tiba Haejin memelukku dari belakang.



"Jangan menangis lagi, aku minta maaf sudah membuatmu kesal".




" Eugene, aku sungguh sungguh minta maaf".



Langkah ku terhenti, tapi tetap tak bersuara. Setelah mendengar perkataan Haejin aku turun dan meninggalkannya sendiri di atap.



Dengan mata merah karna habis menangis, aku mulai mengumpulkan berkas untuk di bawa ke tempat rapat.




Di sisi lain...



Haejin menyadari bahwa ia terlalu keras akhirnya keluar ruangan mencari Eugene, ia pun lalu pergi ke atap. Ia mendengar suara tangisan yang tiba tiba mengecil dan menjauh Haejin tau bahwa itu Eugene. Ia berinisiatif untuk menenangkan Eugene kemudian memeluk Eugene. Eugene menolak pelukannya dan pergi meninggalkannya sendiri di atap.



Haejin kemudian turun dan langsung pergi ke departemen keuangan untuk mencari dua orang yang bergosip. Ia menemui manager keuangan, kemudian memutar suara rekaman yang di berikan Eugene.



" Kau dengarkan, ajarkan staff mu untuk tidak bergosip di toilet jika aku masih mendengar hal hal seperti ini aku akan memberi hukuman pada teammu".



"Maafkan staff ku pak mereka salah aku akan memberitahu mereka".



Haejin pergi meninggalkan ruang departemen keuangan. Ia kembali ke ruangannya.



Aku duduk sambil mengetik laporan, Haejin masuk ke ruangan ia menatapku. Aku pura pura tak melihatnya.



"Sudah siang, ayo kita pergi makan siang lalu ke gedung Sky grup".



Aku tak menjawabnya hanya memberi anggukan. Haneul mengirimi pesan "Apa kau ikut rapat hari ini?".



Lalu ku balas "iya, sampai bertemu di tempatmu hyung aku rindu".



"Aku juga merindukanmu anak kecil". tulis nya di pesan.



Aku sebal sambil tertawa karna ia memanggilku anak kecil. Haejin mengajak ku makan siang di tempat favoritnya. Selama di mobil kami tidak bicara sedikitpun hingga sampai di tempat makan favoritnya.



Kami makan dengan tenang, suasana diantara kami terasa canggung karna aku memilih tetap diam. Ibu menelpon ia memberitahu bahwa ia sudah di Korea, aku meminta maaf karna tak menjemputnya tapi ibu bilang ia bersama Tianxi sekarang.



Aku akan ada rapat penting jadi tidak bisa menemuinya saat ini juga. Haejin menatapku dan bertanya siapa yang menelpon itu, lalu ku jawab bahwa itu ibuku. Selesai makan kami langsung ke gedung Sky grup, sesampainya disana cukup banyak orang yang sibuk berlalu lalang.



Aku dan Haejin pergi ke sebuah ruang tunggu, terdengar ada yang memanggilku dari jauh. Saat Aku lihat dari dekat ternyata itu ayahnya Haneul. Dengan spontan aku membungkuk hormat.

__ADS_1



"Apakabar presdir?". Tanyaku setelah membungkuk.



"Aku baik, Haneul menunggumu sejak tadi temuilah". Ia menyodorkan tangannya untuk berjabat.



"Baiklah, presdir Kang". Sambil menjabat tangannya.



Presdir Kang juga menyapa Haejin, dan menyuruh Haejin membiarkan aku pergi karna rapat belum di mulai. Aku tau Haejin pasti tidak menyukai itu tapi ia membiarkan aku pergi dan ia berbincang dengan presdir Kang.



Aku berjalan sambil mengikuti arahan dari Haneul, dan akhirnya menemukan lokasi Haneul. Ia tersenyum kemudian menghampiriku Haneul memelukku dan mengatakan "aku merindukan mu".



"Aku terlalu sibuk beberapa minggu ini, aku rindu padamu dan juga pria pria tengik itu". Katanya sambil mengusap usap rambutku.



"Hyung, apa kau yang membuat green house ini?". Aku melepas tangannya.



"Iya tentu saja, ini ruangan favorit banyak orang di buat cukup luas dan di tumbuhi berbagai tanaman kau menyukainya?".



"Iya aku suka hyung disini harum, apa ada orang lain disini?".



"Tidak tau, mungkin saja ada ayo makan tadi aku pesan ayam".



"Aku sudah makan, tapi jika itu ayam maka aku akan memakannya".



"Kau seperti anak kecil". Sambil merangkul.



Kami berbincang sambil makan, ia juga sudah tau kalau Tianxi membeli sebuah agensi untuk ku. Haneul juga bilang bahwa Tianxi ingin beberapa ruangan di renovasi dan Haneul yang akan mengerjakam project itu. Aku memberitahunya bahwa ibuku sudah di Korea Haneul langsung bilang bahwa ia akan kerumah untuk bertemu ibuku.



Mereka berempat memang dekat dengan ibuku, kadangkala aku kesal ketika ibu lebih mendengarkan mereka di banding aku. Aku mendapat telpon dari Haejin untuk cepat menemuinya karna rapat akan segera di mulai. Padahal para asisten atau sekretaris dari tiap pimpinan tidak ikut masuk ke ruang rapat tapi tetap saja ia mengajakku untuk membuatku menunggu.



Haneul pun mengajak ku berjalan bersama keluar dari green house menuju tempat rapat tersebut. Haejin menatapku dari kejauhan dengan tatapan menyeramkan. Haneul mengatakan sampai jumpa padaku lalu berpapasan dengan Haejin.



"Kau lihat, meski ia datang denganmu ia adalah milikku". Ucap Haneul sambil berbisik pelan.



"Tapi ia sekretaris ku sekarang jadi Eugene selalu bersamaku sepanjang hari, bukankah itu lebih menyakitkan?". Balas Haejin.



"Aku tidak peduli karna aku tidak melihatnya". Kata Haneul sambil berjalan menjauh.



Aku bisa melihat ekspresi Haejin yang tiba tiba dingin "Kembalilah ke kantor selesaikan pekerjaanmu lalu pulang".



"Baik presdir". Aku berjalan menjauh.



Aku memang tidak ingin bicara apa apa jadi aku mengiyakan saja perintahnya untuk kembali ke kantor. Suasana hati nya pasti sedang tidak baik karna Haneul tadi, aku pun kembali dengan Taxi.




Sesampainya di kantor aku langsung mencari Seyoung ke ruangannya. Seyoung langsung menarikku dan bicara bahwa tadi ada pengumuman untuk perombakan posisi team keuangan. Ada dua orang yang pindah posisi jabatan bahkan ku dengar mereka berdua dalam masa percobaan karna telah berbuat hal yang tidak di sukai wakil presdir.



"Apa yang dilakukan mereka berdua memangnya?". Tanyaku penasaran.



"Yhaa, kau tau perempuan suka bergosip meski itu di toilet sepertinya ada orang yang melaporkan sesuatu pada wakil presdir kita hingga membuatnya marah". Jawabnya semangat.



"Marah? wakil presdir marah karna apa kapan? tapi bukankah ia memang suka marah marah hampir setiap hari".



"Tapi ini beda sekretaris, dia benar benar marah hari ini jika tidak serius tidak mungkin team keuangan membongkar posisi anggotanya".



"Tidak usah terlalu di bawa serius mungkin saja team keuangan memang ingin merombak susunan dari teamnya".



Aku pergi meninggalkan Seyoung dengan alasan ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Sepanjang jalan menuju ruangan aku terus betanya kapan dia melakukan hal itu dan lagi saat itu jawabannya sangat sepele ia bahkan membuatku kesal seharian ini.



Begitu jam pulang tiba, aku langsung ke parkiran menuju mobilku. Aku harus segera bertemu ibu, telpon masuk dari Guste " Aku di rumah Ryan sekarang ku lihat di grup Tianxi sedang bersama ibumu aku akan menyusul nanti malam".



"Guste apa hyung sudah tidak apa apa?".



"Dia sudah tidak demam asistennya akan menjaganya dia juga tidak ingin yang lain tau jadi bilang saja ia baru bisa datang besok karna sedang di luar kota".



"Baiklah jika seperti itu, aku sedang menyetir sampai jumpa di rumah.














__ADS_1



__ADS_2