
Makan malam di apartemenku...
Setelah lelah bergurau dengan Guste di balkon aku merebahkan diri di sofa yang ada dibalkon, tapi tiba tiba terdengar suara bel dari pintu depan. Aku bergegas untuk melihat siapa yang datang dari monitor.
"Haejin-ssi rupayanya kau benar benar serius untuk datang". Ucapku memencet tombol speaker agar terdengar keluar.
"Cepat buka pintunya di luar dingin". Ucap Haejin kesal.
Aku membuka pintu untuk mempersilahkannya masuk. Dia membawa sebuah kotak yang sepertinya berisikan makanan dan juga satu botol wine.
"Kau tidak tau ya aku itu alergi dengan beberapa minuman beralkohol". Ucapku menunjuk botol wine.
"Ahh, benarkah? Yasudah tidak usah di minum di pajang saja ini tidak murah kau akan bangga memajangnya". Ucap Haejin bergurau.
"Yhaa, kau kira aku tidak pernah melihat botol wine yang itu? aku pernah melihat yang harganya jauh di atas itu hanya untuk satu buah". Ucapku menimpali dengan kesal.
"Ini aku membawa ayam goreng, pasta seafood juga". Ucap Haejin menjelaskan.
"Ya ya, simpan di meja aku akan bawa air minum". Ucapku pada Haejin berjalan ke kulkas.
"Apa Haneul tidak disini?". Tanya Haejin penasaran.
"Tidak ada mungkin dia ingin pulang kerumah dulu karna semalam dia menginap". Jelasku pada Haejin sambil memegang botol air.
"Apaaa? Dia sering menginap disini? Ucap Haejin terkejut.
"Tentu saja dalam satu minggu kira kira dua atau tiga malam dia biasanya tidur disini". Ucapku tanpa ragu.
"tidak baik jika dia sering menginap bagaimana jika ayahmu tau?". Ucap Haejin dengan nada kesal.
"Siapa peduli? rumah rumah ku kenapa harus mendengarkan ucapan orang lain, dan awas ya kalau kau mengadu pada ayahku habis kau nanti". Jawabku ketus.
"Yhaaa, kau berani mengancamku hah? Apa imbalan yang ku terima jika aku tutup mulut?". Ucap Haejin tersenyum licik.
"Yhaaa, dasar kau pria mesum". Ucap ku menjauh dari Haejin.
Tiba tiba Guste memanggil namaku memecah perdebatan aku dan Haejin.
"Eugene noona, kau bicara dengan siapa? Aku tidak mengenal suaranya". Ucap Guste sambil berjalan menghampiri kami.
"whaa dia sedang akting saat ini, luar biasa pandai sekali si bocah ini". Gumamku dalam hati.
"Ohhh ini ada manager di tempat ku kerja akan makan malam disini, kenalkan manager ini sepupuku dari ibu namanya Auguste". Ucapku pura pura menjelaskan.
"Oh hai Auguste, aku Haejin manager Sun Grup ku kira hanya ada Eugene disini". Ucap Haejin pada Guste sambil bersalaman.
Guste memasang wajah datar kemudian mengatakan "Kau menyukai Eugene ya?".
"Oh apa itu terlihat sangat jelas di wajahku?". Tanya Haejin pada Guste penasaran.
"Bukan di wajahmu, itu terlihat dari tingkahmu untuk apa seorang manager berkunjung ke rumah salah satu pegawai jika ia tidak ada maksud apapun". Jawab Guste dengan wajah datar.
"Guste jangan bicara begitu". Ucapku menjegah perdebatan.
"Ya benar aku memang menyukai Eugene". Ucap Haejin dengan gamblang.
"Ya berusahalah selama kau masih jadi bos nya". Ucap Guste sambil berjalan pergi.
"waw sepupuan ini persis ya bicaranya sama sama savage". Ucap Haejin lalu tersenyum.
Guste pergi menjauh hanya aku dan Haejin yang ada di dapur aku pun kemudian menyiapkan makanan yang ia bawa di meja. Haejin menyuruhku mengajak Guste makan bersama tapi aku menolaknya. Seperti ucapan Haejin sebelumnya bahwa ia ingin makan malam di rumahku memang benar kami hanya makan malam dan kemudian ia pulang karna besok kita bertemu di kantor.
"Besok pagi bawakan laporan perkembangan project dari tim mu". Ucap Haejin sambil melangkah keluar.
"Iya, selamat malam Haejin-ssi". Ucapku padanya.
Ternyata Guste tertidur aku tidak membangunkannya kemudian langsung bersiap untuk tidur setelah bersih bersih.
Esok paginya Ryan mengabari bahwa ia sudah sampai di Korea. Aku terkejut karna ia mengabari tanpa meminta kami untuk menjemputnya. Kami memutuskan untuk bertemu di rumah Guste lusa di malam harinya.
Aku berangkat ke kantor seperti biasa, Guste sudah bangun lebih dulu dan pulang. Sesampainya di kantor aku memeriksa berkas yang akan di laporkan pada Haejin. Anggota tim ku berada di lokasi baru yang akan di kerjakan. Setelah memeriksa untuk terakhir kali aku langsung pergi ke ruangannya.
"Tok Tok tok" suara ketukan di pintu.
"Masuk" Suara dari dalam.
"Simpan saja di meja". Pinta Haejin padaku.
Akupun meninggalkan ruangan Haejin dan bergegas pergi. Ponselku berdering terlihat Tianxi lah yang menelpon.
"Masih pagi, kau tidak punya kesibukan memangnya?". Ucap ku ketus.
"Ayah sudah di Korea nanti malam kita akan bertemu dengannya, jam 6 ku jemput pulang lah lebih cepat". Ucap Tianxi singkat.
"Baiklah". Mengiyakan ucapan Tianxi lalu mematikan sambungan telpon.
Seketika aku langsung berpikir apakah drama ini di ketahui ayah Tianxi, jika gagal aku tidak rela jika ia kembali di jodohkan dengan orang yang tidak ia sukai. Kemudian aku berlatih berbicara agar tenang dan berkelas.
Saat aku terus berbicara pada cermin terdengar suara pintu yang langsung di buka, ku lihat Haejin sedang berdiri disana.
"Kenapa melihat cermin dan bicara sendiri?". Tanya Haejin heran.
Aku buru buru memencet remote untuk menutup tirai agar tidak terlihat keluar. "Ada perlu apa manager?". Tanyaku padanya tanpa menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku ingin mengajak makan siang bersama". Ajaknya padaku.
"Tidak bisa aku masih banyak pekerjaan, duluan saja aku akan makan di rooftop nanti". Jawabku padanya sambil kembali mengerjakan laporan baru.
"Yasudah kita makan bersama di rooftop aku akan pesan makanannya". Ucap Haejin padaku.
"Baiklah". Menyetujui dengan pasrah.
Aku ke rooftop lebih dulu karna tidak enak dengan yang lain jika aku terlalu sering terlihat bersama Haejin, beberapa menit kemudian dia menyusul makanan akan di antarkan oleh asistennya nanti.
"Apa yang kau ucapkan waktu itu tentang kau dan Haneul tidak berkencan apa itu sunguh sungguh?". Tanya Haejin dengan hati hati.
"Emm, aku tidak ingin membahasnya saat ini aku lapar sampai tidak bisa berpikir". Ucapku pada Haejin.
"Makanan saja yang kau pikirkan ya". Ucap Haejin ketus.
Makanan datang kami makan dengan sunyi sambil menikmati udara dan suasana yang nyaman. Sesekali Haejin menatapku tapi aku menyenggolnya memberi isyarat untuk tidak menatapku seperti itu. Setelah selesai makan kami turun bersama.
"Jika Haneul boleh menginap maka aku juga bolehkan?". Tanyanya sambil memasang wajah so cool.
"Tidak, tidak boleh". Setelah lift terbuka aku buru buru meninggalkannya.
Timku sudah berkumpul di ruangan mereka ingin melapor pekerjaan mereka pagi ini.
"Pekerjaan kami selesai hari ini, sejauh ini tidak ada kesulitan begitu juga dengan yang lain". Jelasnya padaku.
"Baiklah, terimakasih sudah bekerja keras hari ini kalian sudah makan? Ucapku pada mereka bertiga.
"Emm, belum tadi kami langsung ke kantor jadi belum sempat makan siang". Jelas Seyoung.
"Ayo makan aku yang bayar cepat pakai mantel kalian, aku akan minta ijin manager". Perintahku pada mereka.
sambil menunggu mereka bersiap aku pergi keruangan Haejin untuk meminta ijin.
"Tok tok tok". Suara pintu ku ketuk kemudian aku langsung masuk.
"Ada apa Eugene?". Tanya Haejin.
"Saya minta ijin untuk pergi makan siang dengan tim karna mereka belum makan dan mereka sudah bekerja dengan baik". Penjelasanku pada Haejin.
"Baiklah silahkan". Ucapnya mengijinkan.
"Emm, satu lagi pak setelah selesai makan bersama apa boleh saya langsung pulang?". Tanyaku penasaran.
"Kenapa? Apa kau sakit Eugene". Tanya Haejin berjalan mendekat.
"Tapi dahi mu tidak panas kau tidak demam". Lanjutnya lagi.
"Jangan karna aku menyukaimu lalu kau memanfaatkanku untuk membolos kerja Eugene". Ucapnya sinis.
"Tidak, sungguh saya tidak bermaksud membolos pekerjaan saya sudah selesai pak". Ucapku menjelaskan.
Haejin terus mendekat dan aku pun terus mundur hingga tersudut di dinding.
"Kunci pintu". Di ikuti bunyi klik tanda pintu terkunci.
Meski aku terkejut tapi aku tidak ingin menunjukannya, aku berusaha tidak panik di depannya.
"Kenapa, kau terkejut ya?". Ucapnya dengan wajah tepat di depanku.
Karna ia lebih tinggi ia pun mencondongkan tubuhnya agar wajahnya bisa sejajar dengan wajahku, ia menatapku yang sedang mengatur nafas agar tidak terdengar panik.
"Aku? Ini bukan yang pertama kali jadi aku tidak heran kali ini apa yang mau kau lakukan?". Ucapku ketus dan balik menatapnya tajam.
"Aku? aku hanya ingin menggoda mu bagaimana jika kita melakukan nya seperti malam itu bukan kah kau juga menyukai ciumanku?". Ucapnya Sambil tersenyum.
"Yhaa, jika kau melakukannya lagi aku tidak mau memaafkanmu sudahlah aku akan pergi makan bersama timku mereka pasti menunggu". Kataku sambil menggeser tangannya.
Ia melepas tangannya yang tersandar ke dinding kemudian ia menahan tanganku.
"Jika itu sangat penting untuk mu aku akan mengijinkannya tapi dengan syarat kau harus menemaniku lembur lain kali". Ucapnya sambil terus memegang tanganku.
"Iya iya, sudah buka pintu nya cepat". Ucapku melunak.
Aku langsung keluar dari ruangan begitu kunci terbuka, aku melihat ke ruangan mereka tidak ada pasti mereka sudah menunggu di lobby. Akupun langsung menuju lobby kami mencari tempat makan yang bisa di jangkau dengan berjalan kaki karna mobil ku yang hanya bisa si naiki dua orang saja. Kami sambil berbincang karna menunggu makanan siap.
"Leader, dimana tempat tinggal mu?". Tanya Hyungshik.
"Aku tinggal di Hunnam". Ucapku singkat.
"Kau tinggal di apartemen itu?". Tanya Seyoung menimpali.
"Iya aku tinggal disana, ada apa memangnya?". Ucapku memasang wajah bingung.
"Wah leader kita orang kaya ternyata". Ucap Hyungshik.
"Kau tidak ingat kartu yang waktu itu dia berikan itu black card tau jadi tidak perlu heran begitu". Ucap Minhyun.
"Kalian bicara apasih, sudah ayo makan". Ucapku memotong percakapan mereka.
Kami lanjut makan aku mendengarkan obrolan mereka dan ikut tertawa ternyata mereka adalah orang yang menyenangkan. Tak terasa waktu berlalu sudah satu jam, kami pun langsung bergegas kembali ke kantor.
__ADS_1
Aku berpamitan pada mereka karna aku sudah ijin untuk pulang cepat karna ada sesuatu yang harus ku urus. Aku langsung memacu mobilku pulang kerumah untuk bersiap siap karna Tianxi akan segera menjemputku.
Masih jam lima aku mendengar suara pintu terbuka, aku langsung keluar untuk melihat siapa yang masuk.
"Ada apa Hyung kenapa tidak mengabari dulu?". Tanyaku pada Ryan.
"Iya sengaja karna aku tau kau akan bertemu dengan paman jadi pasti sudah pulang". Ucapnya padaku sambil menyodorkan sebuah handbag.
"Apa ini hyung?". Tanyaku padanya bingung.
"Buka saja itu untukmu". Ucapnya sambil tersenyum dan berjalan ke sofa.
"Jam tangan nya bagus aku menyukainya, oh ini parfum dan juga sebuah kaos". Kataku sambil membuka handbag tersebut.
"Saat aku memilih kaos yang akan ku beli untuk kita aku melihat ada parfum aku mencium wangi yang unik dan ingat padamu kau pasti akan menyukai wangi jenis itu". Ucapnya menjelaskan.
"Terimakasih hyung kau memang terbaik". Kataku sambil berlari dan kemudian memeluknya.
"Sama sama Eugene, pakai saat kau kerja ya". Pintanya padaku seraya mengusap rambutku pelan.
"Iya hyung". Kataku sambil memeluknya lebih erat.
"Cepat bersiap nanti Tianxi akan menjemputmu". Ucap Ryan mengingatkan.
Aku langsung ganti baju dan memoles makeup tipis tipis. Aku mendengar Ryan berbicara dengan seseorang itu pasti Tianxi aku segera keluar untuk melihatnya.
"Kau sudah siap sayangku?". Tanya Tianxi.
"Iya, hyung kau mau disini atau pulang?". Tanyaku pada Ryan.
"Aku akan kerumah Guste, Haneul tidak bisa ikut karna ia akan lembur". Jelasnya padaku.
"Baiklah kami berangkat hyung". Ucap Tianxi berpamitan.
"Hati hati di jalan". Ucap Ryan pada kami.
Tianxi memacu mobilnya cepat, dia mengatakan agar aku relax saja. Setelah beberapa saat kami sampai di Ji hotel untuk makan malam bersama dengan ayah Tianxi. Kami masuk ke lobby hotel dan langsung menuju lantai 10 tempat kami biasa berkumpul.
"Ehh, kenapa kosong ayahmu belum datang?". Tanyaku penasaran.
"Dia akan datang saat jam 7 tepat". Ucap Tianxi singkat.
Suara pintu terbuka kami spontan langsung melihat ke arah suara datang, ku lihat ayah Tianxi yang masuk.
"Apa kalian menunggu lama? Terimakasih Eugene sudah menyempatkan waktu mu. Ku dengar kau sekarang bekerja". Ucap Tuan Ji Qinxue.
"Tidak paman kami juga baru sampai, iya sekarang ini aku bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti". Jawabku pada Tuan Qinxue.
"Ayah kenapa mendadak kesini?". Tanya Tianxi terang terangan.
"Tentu saja untuk bertemu dengan calon menantu ayah". Ucap tuan Qinxue sambil tersenyum.
"Ayo kita makan dulu, maaf untuk acara makan malam waktu itu aku sungguh menyesal karna suasana yang tidak nyaman waktu itu". Lanjutnya lagi.
"Tidak apa apa paman itu sudah lama, lupakan saja". Ucapku sopan.
Tianxi tidak mengatakan apa apa, ia sesekali menggenggam tanganku untuk membuatku tenang. Kemudian Ia memotong steak di piringnya.
"Sayang, tukar piringnya". Memintaku untuk menukar piring dengan miliknya.
Aku tidak mengatakan apa apa langsung memberikan piring ku padanya karna steak miliku masih utuh. Sejak dulu dia memang sangat gentle selalu memotongkan steak untuk ku, dan lagi kami tidak canggung dengan sebutannya yang selalu memanggilku sayang. Saat ku lihat ayah Tianxi sedang memperhatikan kami ia tersenyum melihat kami seperti pasangan pada umumnya.
"Apa Eugene suka makanannya?" Tanya Tuan Qinxue.
"Iya, paman". Ucapku menjawab pertanyaan ayah Tianxi.
"Ini bukan yang pertama dia makan disini jadi dia sudah hapal dengan rasanya selalu sama". Ucap Tianxi ketus.
"Oh iya iya, kalian kan sudah lama berpacaran apa tidak ingin ke jenjang yang lebih serius?". Tanya Tuan Qinxue
"Apa aku terlalu terlihat main main untuk ayah? Tentu saja kami serius dengan hubungan ini". Ucap Tianxi pada ayahnya.
"Bukan begitu maksud ayah, ayah percaya padamu kalian kan sudah dewasa ayah juga semakin tua ayah ingin melihatmu menikah". Ucap Tuan Qinxue.
Kami berdua terkejut karna ucapan ayah Tianxi.
__ADS_1