
Perjalanan menuju kawasan Maestro...
"Apa kita akan mendesain sebuah tempat usaha?". Tanyaku penasaran.
"Nanti kalo sudah sampai ku beritahu". Jawabnya singkat.
Kami pun diam sepanjang perjalanan hanya sebuah lagu yang terdengar, ia tidak suka bicara saat sedang menyetir. Anehnya dia seperti bunglon kadang sangat dingin tapi disisi lain ia begitu cerewet.
"Kau lihat apa?". Tanya penasaran.
"Aku sedang menatap sepanjang jalan". Jawabku masih memandangi jendela.
"Sudah sampai ayo turun". Ajaknya sambil membuka pintu.
"Ini hari kerja tapi cukup banyak orang yang berkeliaran, tempat ini memang yang paling sering di kunjungi turis asing". Gumamku pelan sambil melepas safety belt.
Tiba tiba ia membuka pintu untukku.
"Kau makan dulu atau kita langsung ketempat itu?". Tanyanya.
"Emm, aku belum terlalu lapar bagaimana kalo beli kopi dulu". Ucapku mengusulkan.
"Baiklah ayo".
Kami membeli kopi tidak jauh dari gedung yang akan kami desain ulang, disini memang sangat cocok untuk di jadikan tempat usaha karna memang ramai bukan hanya turis saja yang datang biasanya anak anak muda Korea nya pun selalu datang untuk berbelanja dan juga ngopi ngopi cantik di kawasan ini .
Kami masuk ke gedung berlantai dua itu bangunannya cukup luas sepertinya ada satu kamar yang akan di gunakan untuk beristirahat.
"Pemiliknya ingin tempat ini di desain vintage dan ada unsur industrialnya". Ucap Haejin sambil menatap seluruh ruangan.
"Ah, baiklah aku akan memberinya beberapa desain yang sudah pernah ku buat sebelumnya". Jawabku sambil memotret.
Aku terus memotret gedung di lantai satu ini aku mengira ngira untuk memadukan properti dan tema yang akan di gunakan.
"Kau sudah selesai memotret lantai ini?". Tanya Haejin tanpa menoleh ke arahku.
"Ah iya sudah selesai". Jawabku singkat.
Dia berjalan ke arah tangga, dia terus menghitung anak tangganya.
"Pak manager kau menghitung anak tangga?".
"Iya, aku hanya ingin tau".
"Oh rupanya pak manager memiliki jiwa ingin tau yang besar ya".
"Apa maksudmu?".
"Ah tidak apa apa". Mengambil langkah menjauh.
Aku memotret gedung lantai dua itu lebih detail, dan mencoba untuk menanyakan beberapa hal pada Haejin.
"Emm, apa pak manager tau luas tempat ini?".
"Tentu, akan ku kirimkan lewat kakao".
"Terimakasih".
"Kau akan terus memanggil ku begitu?".
"Begitu apa?".
"Kau terus panggil Pak manager, ini tidak sedang di kantor".
"Jadi aku harus memanggilmu apa?".
"Panggil oppa saja".
"Kenapa harus oppa?".
"Terus kau ingin panggil aku sayang?".
"Ah tidak usah lupakan saja".
Aku tidak menghiraukannya, lalu memesan makanan karna sudah merasa lapar. Kami pesan dua porsi ayam goreng , salad dan air mineral.
"Kau suka ayam goreng?".
"Ya, aku suka".
"Bagaimana denganku apa kau menyukaiku".
"Apa yang sedang kau bicarakan?".
Aku yang tadinya masih berdiri kemudian duduk bersandar ke dinding, aku berusaha tidak terlalu menanggapinya.
"Saat bersama Haneul kau banyak tersenyum". Ucapnya pelan sambil ikut duduk.
"Memangnya kenapa?". Jawabku sambil melihat ponsel.
"Apa kau takut padaku jadi kau tidak banyak tersenyum?". Tanyanya penasaran sambil menatapku.
"Aku? Aku tidak takut padamu". Jawabku balik menatapnya.
"Kau sangat menyukai Haneul?". Tanya nya penuh selidik.
"Kau hanya Akan membicarakannya seharian?". Tanyaku kembali menatap ponsel.
Tiba tiba ponselku berbunyi dan telpon masuk itu dari Haneul.
"Kau dimana?".
"Aku di Maestro".
"Sedang apa?".
"Melihat gedung".
"Makan yuk".
"Kau dimana memangnya?".
"Aku tidak jauh dari Maestro".
"Tapi aku sedang bersama manager".
"Ah, baiklah makan malam bersama saja".
"Baiklah, aku tunggu di rumah saja".
Ponselku sudah ku matikan, ternyata Haejin menatapku dengan tatapan aneh.
"Ada apa?". Tanya ku mengernyitkan dahi.
"Jadi dari tadi menatap ponsel menunggu dia menelpon?". Tanyanya kesal.
"Tidak, aku sedang chattingan dengan teman temanku". Jawabku dengan wajah tanpa dosa.
__ADS_1
"Saat di luar bersamaku kau tidak boleh memainkan ponselmu". Ucapnya dengan nada tinggi.
"Ya, baiklah pak manager". Jawabku singkat.
Pengantar makanan berteriak dari bawah, kemudian dia naik ke lantai dua untuk mengantarkan makanannya. Haejin yang membayarkan tagihannya. Setelah makan kami kembali ke kantor tanpa percakapan di mobil karna ia tidak menyukai itu.
Sesampainya di kantor..
Aku membagi tugas dengan Seyoung, Minhyun, dan juga Hyungshik kami berdiskusi dan saling tukar pikiran untuk segera menyelesaikan desain tersebut sampai tak terasa jam pulang tiba aku pun segera membereskan meja dan mereka bertiga pamit untuk pulang lebih dulu.
Aku melihat ada pesan masuk ternyata dari Ryan ia mengatakan anak anak akan makan malam di rumah, dia dan Haneul sudah di rumah dan akan menyiapkan makanan Tianxi dan juga Guste akan sedikit terlambat. Saat aku hendak keluar dari ruangan tiba tiba Haejin menghadang ku.
"Kau mau pulang dan bertemu Haneul?". Tanyanya dengan tatapan dingin.
"Iya, memang kenapa?". Jawabku singkat.
"Kau benar benar menyukainya?". Tanyanya penasaran.
"Wanita mana yang tidak menyukai pria tampan dan kaya?". Jawabku sambil menatapnya.
"Aku juga tampan dan kaya, aku akan membuatmu suka pada ku. Bagaimana kalo itu terjadi?". Tanyanya sambil membuka satu kancing kemejanya.
"Berhentilah menggodaku, aku juga tidak mudah menyukai orang lain". Ucapku sambil melangkah lebih dekat padanya.
"Baiklah aku akan membuatmu benar benar menyukaiku dan meninggalkan Haneul". Sambil menarik tanganku.
"Ku beri tau yah, meski aku berkencan dengan pria lain aku tak akan pernah meninggalkan Haneul". Ucapku melepaskan genggamannya.
Aku memundurkan tubuhku, dan berbalik untuk membelakanginya dan mengambil tasku. Aku ingin cepat cepat keluar dari ruangan itu, tapi lagi lagi Haejin menghalangi jalanku.
"Pak manager sudah cukup ruangan ini tidak kedap suara jadi tidak baik jika pembicaraan kita terdengar keluar". Ucapku singkat.
"Setiap ruangan di gedung ini kedap suara meski kau berteriak tidak akan terdengar keluar". Jawab sambil tersenyum menang.
"Ah, begitu ya? Tapi orang lain melihatmu masuk kesini kan itu akan membuat rumor muncul di kantor". Ucapku sambil melangkah ke dekat pintu.
"Mereka tau aku atasan mu, tidak akan muncul rumor apapun sekali ini saja tolong jangan pergi". Ucapnya memelankan suaranya.
"Ini hari pertama ku bekerja aku harus berkumpul bersama teman temanku, lain kali aku akan menemanimu makan malam. Aku janji". Ucapku untuk membuatnya melepaskanku.
"Baiklah, kau sudah janji maka kau harus menepatinya". Sambil melangkah pergi lebih dulu.
"Ah sialan dia terus membuatku frustasi". Gumamku pelan.
Akhirnya aku bisa segera pulang, aku pun memacu kendaran sedikit lebih cepat dari tadi pagi. Rasanya tubuhku sangat lelah karna ulah Haejin, entah apa masalah nya dengan Haneul aku jadi terlibat si tengah tengah mereka. Saat sampai di parkiran apartemen aku melihat ayah, aku mulai khawatir seperti apa reaksinya jika ayah ku tau semua teman temanku sering berkunjung.
"Oh ayah sudah pulang". Aku mencoba berbasa basi.
"Iya, kau mau makan malam dengan ayah?". Ajaknya singkat.
"Emm aku akan makan bersama dengan teman temanku lain kali saja yah, tidak apa apa kan?". Ucapku ragu ragu menunggu reaksinya.
"Ahh bagaimana ini aku tidak bisa mencari alasan". Ucapku panik.
Aku langsung menelpon Ryan untuk menyingkarkan semua barang mereka dan meletakannya di kamarku saja, karna ayah akan ikut makan malam bersama dengan kita ucapanku juga membuat mereka panik. Mungkin ini momen yang akan membuat ayahku mengenal mereka berempat tapi tetap saja aku khawatir bahwa ayah akan melarangku berteman dengan mereka.
Ayah terus berjalan di depanku.
"Ayah akan kerumahmu saat mereka sudah datang". Ucapnya sambil memasuki lift.
Aku malah terpaku mendengar ayah bicara begitu, aku pun pergi ke arah yang berbeda karna memang kami tidak di blok yang sama. Aku berjalan dengan lemas, hingga sampai di depan pintu. Aku berteriak frustasi pada mereka.
"yhaa, hyung bagaimana ini?". Tanyaku sambil menjatuhkan tubuhku di lantai.
"Hei apa yang kau lakukan kau tidak perlu khawatir, santai saja ayahmu pasti menyukai kami". Jawab Haneul semangat.
"Iya kau tidak perlu seperti itu, yakinlah kami ini luar biasa". Ucap Ryan sambil membantuku berdiri.
Aku tau mereka itu sedang membuatku tidak khawatir, mereka itu memang luar biasa dan juga seperti perkataanku pada Haejin meski aku berkencan dengan orang lain prioritasku tetap milik mereka. Tak lama Tianxi dan Guste datang mereka masih menggunakan jas. Ryan menjelaskan pada mereka bahwa ayahku akan ikut malam juga.
"Apa ayah mertua? Aduh aku belum mandi dan berganti pakaian". Ucapnya dengan wajah panik.
"Ayo mandi di tempatku saja telpon karyawan mu untuk membawakan beberapa stel pakaian karna pakaian ku tidak mungkin pas di kalian hyung". Ucap Auguste ikut panik.
Mereka semua ikut dengan Guste untuk bersiap siap sebelum makan malam dengan ayahku. Aku pun bersiap siap juga dan merapikan barang mereka yang di pindahkan ke kamarku. Mereka semua bersamaan datang dan bersikap so cool. Tak lama kemudian ayah datang.
"Oh ayah ayo masuk". Menyapanya di depan pintu.
Mereka bergantian memperkenalkan diri dan memberi salam pada ayah. Aku menunggu reaksi ayah ternyata tidak ada ekspresi aneh yang di tunjukan.
"Apa putriku menyulitkan kalian?". Tanya ayah pada mereka.
"Tentu saja tidak paman". Jawab mereka serempak.
"Wah apa kalian sudah berlatih untuk menjawab pertanyaan?". Tanya ayah sambil tertawa.
Tak disangka ayah justru bisa berbaur dengan teman temanku, rasa khawatir ku pun mulai hilang. Kami makan sambil sesekali mengobrol ayahku menanyakan seputar pekerjaan mereka. Akhirnya makan malam selesai dan kami berpindah ke ruang tamu untuk makan cemilan dan nonton tv.
"Sepertinya kalian cukup bisa di percaya untuk bisa jadi teman putriku". Ucap ayah yang duduk di atas sofa.
"Ah terimakasih paman, tolong percaya pada kami". Ucap Ryan bersemangat.
"Nah aku sudah bilangkan aku ini sudah lama berteman dengan mereka, mereka itu baik". Ucapku membela mereka.
"Kalian pasti sudah berbagi banyak hal, aku sebagai ayah nya tidak pernah bisa dekat dengan Eugene aku harap kalian bisa jadi teman yang bisa diandalkan". Ucap ayah lagi.
"Kami akan berusaha dengan baik paman". Jawab Tianxi .
"Dan satu lagi aku ingin putriku bisa segera menikah jika dia berkencan aku harap kalian bisa memahaminya". Ucap ayahku tiba tiba serius.
Tiba tiba semuanya diam tidak ada yang menjawab, sampai Guste mengatakan "iya".
__ADS_1
"Kenapa kalian ragu ragu? Apa kalian menyukai putriku?". Tanya ayah lagi membuat suasana kembali hening.
"Emm, paman bagaimana jika suatu saat nanti salah satu dari kami melamar putrimu?". Tanya Tianxi serius.
"Ya jika putriku menyukainya maka aku tidak bisa menolaknya". Jawab ayah santai.
"Ah sudahlah obrolan ini terlalu berat". Ucapku menutup pembicaraan.
"Baiklah ayah pamit dulu". Beranjak dari sofa.
"Sampai jumpa paman". Semuany serempak.
Aku mengantar ayah ke depan pintu,
"Jaga dirimu ayah percaya padamu". Ucap ayah sambil berjalan.
Aku kembali masuk merekapun langsung bersikap seperti biasa. Mereka berempat membersihkankan meja dan mencuci piring aku merebahkan diri di sofa.
"Maaf untuk ucapan ayah ku tadi". Setengah berteriak.
Tidak ada jawaban, kemudian mereka muncul setelah bersih bersih. Haneul dan Ryan merebahkan diri di bawah sambil mengehela nafas panjang.
"Rasanya aku ingin langsung tidur". Ucap Ryan.
"Baiklah teman teman kalian boleh menginap berganti pakainlah, aku akan membawakan piyama kalian". Ucapku beranjak dari sofa.
Aku mengambil semua barang yang tadi di pindahkan, Haneul dan Ryan menyusulku untuk membantu. Kemudian mereka berganti pakaian dan kami duduk berkumpul di depan tv.
"Kau tadi siang bersama Haejin saja?". Tanya Haneul penasaran.
"Oh iya, kami berdua saja". Jawabku singkat.
"Kita jadi lebih sering bertemu disini ya, apa ini bisa kita jadikan markas". Tanya Tianxi.
"Ya memang rumahku sudah jadi tempat penampungan kan". Jawabku cengengesan.
"Hyung pameran mu di Kanada sebentar lagi kan?". Ucap Guste.
"Ya besok aku berangkat ko". Jawab Ryan singkat.
"Apa jika aku menghindar berarti aku takut?". Tanyaku penasaran.
"Tentu saja tidak, apa Haejin yang mengatakan itu?". Tanya Haneul.
"Dia terus mengatakan bahwa dia menyukai ku, tentu saja aku tidak menanggapi nya dengan serius". Ucapku sambil kembali merebahkan diri di sofa.
"Jangan menyukainya biarkan saja dia". Jawab Tianxi dengan nada marah.
"Kenapa kau marah? Kau cemburu ya?". Ucapku seraya mengejek.
"Jangan berani beraninya menyentuh milik kami". Ucap Guste lantang.
"Jadi aku harus berkencan dengan orang yang seperti apa kalau begitu?". Tanya ku bingung.
"Seperti aku, kaya, tampan, dan baik hati". Jawab Tianxi.
"Kau sedang memuji dirimu sendiri ya?". Ucapku kesal.
"Bukankah kau bilang punya kami sudah cukup tidak perlu berkencan?". Ucap Guste datar.
"Ya itu benar tapi ku rasa aku ingin mencoba untuk punya pacar". Jawabku santai.
"Tidak, tidak bisa. Berkencan ya berkencan kau tidak boleh hanya ingin tau seperti apa rasanya punya pacar kau harus menyukainya". Jawab Haneul menarik tanganku membuatku terduduk.
"Hyung aku saja tidak tau suka, sayang, dan cinta itu seperti apa? Selama ini aku bersama kalian memeluk dan berpegangan tangan jadi hal biasa jadi rasanya aku tidak menyadari semua hal itu berbeda jika kita dengan pasangan". Ucapku santai membuat mereka menatapku tajam.
"Jadi kasih sayang dari kami kurang?". Tanya Guste dengan tatapan tajamnya.
"Ah tidak tidak bukan itu maksudku". Ucapku panik.
"Ah sudahlah tidak perlu di bahas pikiranku hanya sedang konyol". Aku beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar.
Semuanya terdiam setelah aku masuk ke kamar, sepertinya mereka juga pergi ke kamar.
Disisi lain di dalam kamar yang di huni empat pria itu..
"Hyung sepertinya dia sedang sensitif". Ucap Guste pada hyungnya.
"Apa dia sedang datang bulan?". Tanya Tianxi polos.
"Sebaiknya kita harus membiarkan dia dekat dengan pria selain kita". Ucap Ryan.
"Apa kita siap melakukannya?". Tanya Haneul ragu ragu.
"Bagaimana jika dia tidak baik?". Tanya Guste dengan wajah serius.
"Aku tidal mungkin menyerahkannya pada sembarang pria, tidak bisa itu tidak boleh terjadi". Ucap Tianxi.
"Dia sudah 25th biarkan dia memilih orang yang dia suka, dia harus percaya pada kita dulu setelah itu kita bisa menyelidiki latar belakang dari pria itu". Usul Ryan.
"Tapi hyung ku lihat sepertinya salah satu diantara kalian bertiga itu sejak lama menyukai Eugene". Ucap Guste membuat yang lain terkejut.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1