Eugene Dan Pria 4 Musim

Eugene Dan Pria 4 Musim
Bergen, Norwegia


__ADS_3


Day two..



Ryan sudah pulih, kami memutuskan untuk pergi ke Bryggen disana kita bisa melihat rumah rumah kayu dengan atap segitiga yang runcing bisa di bilang itu old town nya dan merupakan UNESCO's heritage, Ryan sangat menyukai daerah ini karna ada museum dan bangun bangunan workshop untuk kerajinan traditional. Ryan membeli beberapa benda benda untuk di masukan ke galerinya tidak lupa juga mencatat informasi seputar benda tersebut.



Kami juga ke Leprosy museum, sebuah tempat yang dulunya adalah bangsal tempat untuk mengisolasi para penderita lepra. Setelah puas berkeliling kami memutuskan untuk pergi ke Fjord sightseeing pemandangan disana sangat cantik tempat yang tidak bisa di lewatkan ketika berkunjung ke Norwegia.



"Bukankah pilihan ku sudah tepat mengajak kalian kesini?". ucap Haneul.


Kami semua mengangguk seraya setuju dengan apa yang di ucapkan Haneul, meski perjalanan ke Norwegia ini cukup mahal untuk ku tapi rasanya sepadan karna aku bisa melihat banyak hal indah disini bersama mereka.



"Aku sangat suka kota ini, jika aku punya pasangan nanti aku akan mengajaknya kesini". celetuk Ryan.



"Bukankah kau berkencan dengan hwang Nana?". Tanya Haneul.



"Kami sebenarnya tidak punya hubungan seperti itu, ibuku lah yang menyuruh kami dekat dia itu sangat berisik sungguh tidak sopan tidak melakukan salam sangat arogan". Jawab Ryan.



"Jadi apakah saat ini kita semua tidak sedang berkencan?" tanya Tianxi.



"Teman kencanmu bukannya yang paling banyak ya?" jawab Auguste dengan mode savage.



Aku dan Haneul tertawa karna melihat Tianxi di kalahkan Auguste dengan telak.



"Bukankah itu menyenangkan? bicaramu sangat blak blakan kali ini ". ucap Haneul



Tianxi membela diri dengan mengatakan bahwa ia tidak berkencan, para gadis itu lah yang mengejarnya. Kami tau Auguste seperti nya sudah punya pacar karna ia sering bolak balik Korea Jepang ku rasa pacarnya disana hanya saja dia memang jarang bicara.



"Bukan kah Haneul hyung berkencan dengan seorang model?". Tanyaku menahan tawa.



"Kau ingin mati ya hah? sini kau". mengejarku



Semuanya tertawa karna ulah ku yang menggoda Haneul semua juga tau bahwa Haneul menyukai gadis itu temannya sejak kecil yang saat ini sedang di Itali dan berkarir menjadi seorang model.



Diatas kapal kami sambil berbincang dan menikmati panaroma yang tidak pernah kami lihat sebelumnya terbayar dengan jumlah uang yang di keluarkan. Aku terus memotret aku tidak ingin kehilangan momen ini begitu juga dengan ke empat teman ku kami terus berdecak kagum aku tidak tau mungkin jika orang lain mengerti apa yang kami katakan mereka akan menertawainya.



Kembali ke villa di atas bukit



"Kalian lapar tidak?" Tanya Haneul.



"Ya hyung aku lapar".



"Dia tidak perlu di tanya dia suka makan jika aku perempuan aku rasa aku akan sangat iri padanya dia suka makan tapi tubuhnya tetap bagus". Ucap Tianxi.



"Aku akan pergi mandi dulu baru setelah itu makan, aku ingin steak". Ucap Auguste.



"Aku juga ingin mandi dulu". Ucap Ryan.



"Baiklah kita mandi dulu aku akan menyuruh pegawai untuk menyiapkan makanan satu jam lagi kita kumpul di meja makan". Ucap Haneul.



Kami semua pergi mandi dan berkumpul kembali setelah satu jam, kami makan malam bersama menggunakan piyama seperti di rumah sendiri setelah selesai makan kami pergi ke balkon untuk berbincang kemana besok kami akan pergi sebelum pulang.



"Besok kita kemana hyung?". Tanya ku pada Haneul.



"Kita akan pergi ke Floyen setelah itu kita ke Ulriken". Timpal Haneul.



"Mereka mengangguk tanda setuju, karna setelah ke Floyen dan Ulriken kami akan langsung naik kereta untuk ke Oslo karna kami dengar pemandangan saat di perjalanan sangat bagus kami memilih ke Oslo saat pulang karna ingin menikmati perjalanan yang indah sebelum kembali ke Korea setelah itu baru kami naik pesawat dari Oslo.



Pagi hari day three..



Sebelum sarapan aku mengecek kembali barang yang akan di bawa pulang aku takut ada yang tertinggal karna seperti biasa aku cukup ceroboh, aku mengulang sampai dua kali untuk memastikan semuanya sudah terbawa setelah selesai aku turun untuk sarapan.



"Apa menu sarapan kita kali ini hyung". Tanyaku pada Haneul karna setiap pagi ia lah yang menyiapkan sarapan untuk kami saat makan siang kami di luar dan jika makan malam maka Haneul akan menyuruh pegawai untuk menyiapkan makan malam.



"Kita akan makan sandwich isi telur dan keju ada juga roti panggang kalau kamu mau tinggal pilih saja".



"Apa hyung buat salad buah dan juga salad sayur?".



"Ya tentu saja karna kita kan suka salad itu sudah pasti ku siapkan".



"Hyung turun lah ayo sarapan". Setengah teriak agar mereka turun.



"Apa sudah buat jus?".



"Itu sudah di kulkas aku membuatnya semalam, kalian tinggal pilih saja mau yang mana".



Tak lama mereka turun tapi masih menggunakan piyama.



"Ayo kita makan". Auguste berbicara dengan nada.


__ADS_1


"Apa batre mu penuh Guste?". ucapku padanya.



"karna ini hari terakhir jadi aku harus bersemangat".



"Waahhh, kau benar benar seperti bukan Guste yang kami kenal apa kau akan banyak bicara hari ini?". Tanya Ryan.



"Tentu saja". Jawab Guste.



"Sepertinya dia senang akan pulang mungkin dia rindu pacarnya". Ucap Tianxi.



"Dia memang punya pacar sepertinya". Jawabku.



"Jangan bergosip kau yha". Timpal Guste.



"Sudah cepat makan nanti kita terlambat ke Floyen". Timpal Haneul.



Kami langsung hening dan berfokus pada yang kami makan tidak ada yang mengeluarkan suara hanya saling menatap makanan yang di siapkan Haneul tidak pernah di ragukan semuanya enak. Aku tidak mengerti kenapa orang yang berbakat dalam masakan justru memilih jurusan Arsitektur dan bekerja di perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang properti.



Selesai sarapan...



Kami bergegas ke mobil karna sudah di jemput oleh tour guide kami untuk pergi ke Floyen, letak floyen tidak sulit di jangkau karna tidak perlu perjalanan yang panjang.



"Hyung bagaiman jika liburan mendatang kita ke Hawaii aku belum pernah kesana". ucapku pada mereka.



"Tidak, kita ke Roma saja bagaimana?". Ucap Tianxi.



"Kau mau ke Roma pergi saja dengan pacarmu". Timpal Guste dengan mode savage.



"Yaa, kau sedikit bicara tapi saat bicara cukup menyebalkan". ucapku sambil tertawa.



"Baiklah aku akan ajak Eugene saja awas ya kalian tidak boleh ikut". Jawab Tianxi.



"Memangnya kalian berkencan? kenapa kau pergi ke Roma berdua?". Tanya Ryan.



"Tidak apa apa bukan kah dia satu satunya gadis di geng kita, pergi denganya akan membuat ku di anggap berkencan ko". Jawabnya sambil cengengesan.



"Kau mau mengajak ku? kalo gratis aku mau". timpal ku seraya tertawa.



"tentu saja aku yang mengajakmu tidak akan ku biarkan kau untuk membayar". Jawabnya dengan gaya so hebat.




"Kalian tidak pacaran kan? jika salah satu dari kita pacaran dengan Eugene tidak boleh diam diam harus mengatakannya." Ucap Guste



"Sudahlah, aku tidak berkencan dengannya atau siapa saja diantara kita, jika itu terjadi pasti aku akan mengatakannya jadi jangan terlalu kaku". Jawabku sambil cengengesan.



"Kita putuskan saat kita sudah ada waktu untuk berlibur ok?". Jawab Ryan menyudahi obrolan kami.



Kami sampai di Floyen setelah berjalan kaki dan menaiki cable car hingga puncak, dan lagi lagi Norwegia membuatku terkagum kagum kami langsung memotret sekeliling dan berwefie untuk mengabadikan bahwa kami berlima pernah kesini di anniversary ke lima kami". Setelah puas kami bergegas melanjutkan perjalanan untuk ke Ulriken agar kami masih punya waktu bersantai sebelum menaiki kereta ke Oslo untuk perjalanan pulang.



Sesampainya di Ulriken kami kembali menaiki cable car karna tidak ingin bersusah payah mendaki. kami melakukan hal yang sama seperti di Floyen tadi berwefie dan terus memotret kami hanya satu jam disana kemudian kembali ke villa untuk mengambil barang barang dan menuju stasiun untuk pergi ke Oslo. Perjalanan hari ini akan sangat panjang aku kembali minum vitamin karna tidak ingin sampai drop sesampainya di Korea.



Naik kereta...


Ternyata benar apa yang di bicarakan orang orang tentang ini, pemandangannya sangat indah kami menikmati perjalanan ini tidak terasa lelah karna banyak keindahan yang di suguhkan dari negara ini. tak terasa kami sudah sampai airport, kami langsung masuk untuk menunggu pesawat.



Tiba tiba Tianxi pergi menjauh untuk mengangkat ponselnya, ia kembali dengan wajah kesal sepertinya ada yang tidak beres.



"Ada apa?". Tanya Ryan.



"Ayah menyuruhku untuk bertunangan dengan Clara chen minggu depan". Jawabnya kesal.



"Dia pasti putri dari partner bisnis ayahmu". Timpal Haneul.



"Apa dia tidak cantik?". Tanya Guste.



"Dia cantik, tapi aku tidak menyukainya dia aneh aku harus merelease artikel bahwa aku berkencan dengan seseorang agar Clara tidak ingin bertunangan denganku". Ucap Tianxi.



"Yasudah buat saja artikelnya dengan salah satu gadis yang dekat dengan mu". Ide Ryan.



Kemudian Tianxi Haneul dan Guste menatapku yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan mereka.



"kenapa kalian menatapku?".



"Kau satu satunya yang paling dekat dengan kami Eugene". Timpal Haneul.



"Tidak, aku tidak mau jika artikel itu muncul ayahku akan bertanya banyak hal itu akan jadi rumit". Jelasku pada mereka.



"Ini hanya pura pura kencan saja Eugene, tidak benar benar nyata kecuali memang kalian saling menyukai". Tandas Guste.


__ADS_1


"Diamlah, lupakan saja aku tidak ingin melakukannya". Jawabku singkat



"Apa imbalan yang Eugene dapat jika dia bersedia? jika artikel ini keluar maka semua sorotan akan tertuju padanya akan ada banyak media yang mencari informasi pribadinya ini bukan hal kecil". Jelas Ryan.



"Aku akan membelikan mu mobil sport terbaru yang bisa berganti warna hanya dengan remote, bagaiman? Bantu aku kali ini". Jawab Tianxi memelas.



semua terkejut..


"Aku tidak menginginkannya aku tidak tertarik lupakan saja". Jawabku.



"itu penawaran yang tidak buruk". Timpal Haneul dan Guste memanasiku.



"Lalu apap yang kau inginkan?". Tanya Ryan dan Tianxi.



"Aku tidak mau mobil itu aku ingin saham JinHit sebanyak 5% bagaiamana?". Tanyaku.



"Tidakkkkk". mereka menjawab bersamaan membuatku terkejut dan semua yang ada di airport memandang kami.



"Sialan, mereka jadi melihat kita kalian sangat berisik". Ucapku sambil menutup setengah wajahku dan berlalu menjauhi mereka.



Kami sudah di pesawat kami berada di kelas bisnis kemudian melanjutkan obrolan tadi



"kenapa tidak memberikan ku saham JinHit saja bukan kah kalian bahkan mampu membeli perusahaannya?". Tanyaku kesal.



"Meski uang ku banyak dan bahkan aku mampu membeli perusahaannya aku tetap tidak akan membelikanmu saham itu". Jawab Tianxi cuek.



"Ya benar aku setuju dengan ucapan Tianxi". Timpal Ryan, Haneul, dan Guste bersamaan.



"Kau kan sangat menyukai CEO JinHit kami tidak akan membiarkan mu dekat dengannya nanti kau akan melupakan kami, minta yang lain saja". Jawab Tianxi.



"Bagaimana jika perusahaan yinyeng bukan kah perusahaan itu dalam keadaan yang tidak baik, dengan begitu kau menyelamatkan banyak orang dari jurang kehancuran karna perbuatan media masaa dan kau bisa jadi CEO nya". Guste menyarankan.



"itu ide yang bagus Auguste kau pandai dalam negosiasi bukan, bantu aku memilikinya kalau begitu". Jawabku serius.



"Apa kau yakin bisa menanganinya, kita bahkan tidak tau bagaimana cara menjalankan industri musik". Tianxi mengernyitkan dahi keheranan.



"Kau kan keluarga Ji grup akan mudah menemukan orang yang kompeten dan ingin bekerja dengan mu mereka pasti membantu kita, kita bisa menyelamatkan mereka dan juga menyelamatkan mu dari bertunangan dengan gadis itu kan". Jawab Ryan santai.



"Maksudmu menyelam sambil minum air? Aku membantu Tianxi bisa menyelamatkan perusahaan itu dan aku memiliki saham yinyeng atau bahkan bisa saja jadi CEO nya". Penjabaran ku pada mereka.



"ya kau benar ini sebuah kesepakatan yang menguntungkan semua pihak". Jelas Guste.



"jadi apakah ini sudah deal?". Tanya Haneul penasaran.



"Jika semua sepakat akan ku buat surat perjanjian itu, meski kita teman kesepakatan tetap harus ada legalisasi dengan begitu tak akan bisa menghindar satu sama lain". Ucap Guste dengan wajah serius.



"Baiklah, aku setuju". ucap Tianxi dengan ragu ragu.



"Ayo lakukan". jawabku juga dengan ragu ragu



"Kalian harus membantuku seolah olah foto yang akan di muat di artikel adalah foto hasil seorang wartawan yang diam diam membuntuti kami". Ucap Tianxi.



"Baiklah bukan kah kita punya banyak foto di sns Eugene yang mengupload foto kita tanpa wajah itu juga bisa kita jadikan bahan, kami akan memotretmu saat di Incheon juga nanti". Jawab Guste dengan ide bagusnya.



"Ambil foto juga saat aku di hotel". Ucap Tianxi menambahkan.



"Kau tidak langsung pulang? Tanya Ryan.



"Aku akan pulang bersama Eugene, disana aku akan menyuruh orang ku untuk memotret kami lagi". Jawab Tianxi.



"wahh tidak ku sangka kau cemerlang untuk hal seperti ini". Ucap Haneul seraya tertawa.



"Apa kau pikir aku harus ikut dengan mu ke Hongkong? untuk apa? kau kan bisa langsung merelease beritanya saja kau memiliki kekuatan untuk mengendalikan media massa kenapa harus rumit?". Timpal ku keheranan dengan idenya.



"Kau harus ku pekerkenalkan pada keluarga besar Ji setelah artikel itu di release karna ayahku dan yang lain pasti akan penasaran siapa dirimu sebenarnya". Jelas Tianxi memasang wajah serius.



"Dia benar, bukan kah kau harus memerankan bagian mu denga sempurna?" Ucap Ryan.



"Ya pada akhirnya aku tetap tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan ide ide kalian". Ucapku lesu seraya mengalah.



"Jika artikel itu menjadi headline di media massa se Asia maka kau harus membantuku bicara pada ayah dan juga ibu".



Tidak ada jawaban dari mulut mereka, mereka hanya mengangguk. Kami tidak bicara dengan bahasa Korea selama di pesawat karna kami khawatir ada yang mendengarnya jadi kami berbicara dengan bahasa Rusia, sejujurnya aku merasa sedikit khawatir karna keluarga Tianxi dan juga bagaimana dengan respon ayah ibuku jika artikel itu benar benar jadi di release.


.


.


.


.


Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca, tunggu kelanjutannya besok ya.


.

__ADS_1


__ADS_2