Eugene Dan Pria 4 Musim

Eugene Dan Pria 4 Musim
Perang dingin


__ADS_3


Masih di apartemen..




Kami masih membicarakan seputar akting kami di depan keluarga Tianxi, tak terasa


waktu berlalu akhirnya aku pun pergi untuk bersiap siap karna Haneul adalah orang yang sangat tepat waktu ia akan marah jika aku terlambat. Setelah aku bersiap aku pun pergi ke ruang tamu ternyata benar Haneul sudah duduk disana.



"Oh untung saja aku sudah siap". Ucapku sambil berjalan menuju mereka.



"Aku sudah menunggu mu 10 menit". Jawabnya datar.



"Siapa suruh datang lebih awal, sudah ayo pergi". Jawabku sambil cemberut.



"ya ya pergilah semoga acaranya menyenangkan". Ucap Tianxi dengan melambaikan tangan.



Kami langsung pergi ke acara tersebut, saat di jalan kami berbicara mengenai acara tersebut.



"Disana akan ada ayah ibu, aku sudah sering cerita pada mereka kalau aku punya teman perempuan sejak tinggal di Rusia". Ucapnya menjelaskan.



"Benarkah? wah aku agak gugup kalo begitu ini pertama kalinya bertemu ayah dan ibu mu hyung". Ucapku.



"Tidak perlu gugup kau lakukan saja senyamanmu biasanya". Ucapnya sambil tersenyum.



Sesampainya di tempat tersebut kami langsung mescan kartu undangan dan melewati pemeriksaan metal detektor, cukup ketat sepertinya memang acara ini cukup banyak orang orang besar yang datang. Setelah melewati semuanya kami pergi mengambil makanan dan menuju meja vip yang sudah di tuliskan nama kami disana.



"Acara ini di buat oleh dua grup perusahaan properti terbesar di Korea untuk mengapresiasi para arsitek dan orang orang yang berkecimpung di dunia properti termasuk team work dari sebuah perusahaan". Ucap Haneul menjelaskan.



"Ohh jadi Sky grup dan K grup yang mengadakan acara ini?". Tanya ku penasaran.



"Ya, karna perusahaan kami juga bekerja sama dengan perusahaan yang sedang merintis jadi kami terpikir untuk membuat acara ini sekaligus acara amal untuk membuat acara ini lebih bermakna". Ucapnya lagi sambil menarik kursi untuk ku.



"Ohhh bagus sekali idenya, tapi ngomong ngomong dimana ayah dan ibumu hyung?". Tanyaku membuatnya tak jadi memasukan makanannya.



"Ayah ibuku sedang di jalan sebentar lagi sampai". Jawabnya melanjutkan makan.



Setelah itu kami sama sama terdiam dan fokus pada makanan, sampai terdengar suara seseorang menyapa kami.



"wakil presdir, apakabar?". Tanya orang itu sambil mengulurkan tangan.



"Oh, manager Jang saya baik anda apakabar?". Jawab Haneul seraya menyambut jabat tangan orang itu.



"Saya baik, oh pacar anda cantik sekali". Pujinya sambil tersenyum.



"Ah, terimakasih atas pujiannya perkenalkan dia Eugene". Sambil memegang tanganku.



"Oh halo saya Eugene, senang bertemu anda". Sapaku seraya memberi salam.



"Baiklah aku kesana dulu ya". Pamit pak Jang.



"Hyung tidak menyangkal saat dia bilang begitu, apa tidak apa apa?". Tanyaku sambil memotong daging.



"Tidak apa apa mereka berpikir kita berkencan, untuk apa juga si jelaskan kalau kamu itu teman mu biarkan saja". Jawabnya sambil menatap makanan.



"Ya, baiklah". Jawabku mengerut kan dahi.



Kami melanjutkan makan sampai makanannya habis tapi orang tua Haneul belum kelihatan dan acara akan segera di mulai. kami pun langsung pindah ke ruang pertemuan. Disana sudah banyak orang dan aku pun melihat Hae jin dan juga ayahnya aku memberi salam dari kejauhan. Ternyata ayah dan ibu Haneul sudah ada di ruang pertemuan aku dan Haneul langsung menuju kesana.



"Oh ayah dan ibu sudah disini aku tadi di tempat perjamuan, ini Eugene yang pernah aku ceritakan". Jelas Haneul pada ayah ibu nya.



"Halo om tante, saya Eugene senang bertemu kalian". Ucapku mengenalkan diri dan memberi salam.



"Oh jadi ini Eugene, kamu cantik sekali sini duduk di sebelah tante". Ucap ibunya manis.



"Terimakasih, tante terlalu memuji". Aku langsung duduk dan Haneul disebalah ku.



"Terimakasih sudah datang main mainlah kerumah, Haneul ajak dia kerumah untuk makan malam bersama". Ucap ayahnya sambil tersenyum



Ayah dan ibunya punya visual yang segar dan terlihat awet muda pantas anak nya juga tampan, sesekali ibunya mengajak ku berbicara bertanya tentang kegiatan dan juga tempat tinggalku. Acara di mulai pukul 8 dan selesai pukul 10.30 suasana disana riuh dengan tepuk tangan. Akhirnya aku kami pamit dan Haneul mengantarku pulang. Ponselku berdering.



"Kau pulang jam berapa?". Tanya Tianxi.


"Ini sedang di jalan pulang".


"Aku akan menginapya".


"Kau sendirian sejak tadi?".


"Tidak ada Guste dan juga Ryan".


"mereka mau menginap juga?".


"iya".


"yasudah tunggu saja".



Haneul menambah kecepatan mobilnya, membuat ku sedikit takut meski begitu kami jadi cepat sampai kerumah dia cukup mahir menyetir.



"Aku antar sampai di atas ya". Ucapnya datar.



"Hyung tidak menginap?". Tanyaku sambil melangkah.



"Aku masih ada pekerjaan, oh dan terimakasih sudah menemaniku ke acara itu dan ikut menyapa beberapa orang tadi". Ucapnya sambil tersenyum.



"Sama sama aku juga senang bisa bertemu banyak orang". Jawabku sambil memencet tombol lift.



Kami pun sampai di apartemen, setelah masuk ia langsung pamitan juga pada yang lain ia tidak bisa menginap karna besok ada pekerjaan penting. Ia pun meninggalkan ruangan dan menyisakan kami berempat.

__ADS_1



"Apa kalian sudah makan?". Tanyaku sambil meletakan tas.



"Kami sudah makan, tapi kalau kau lapar aku akan pesankan makanan". Jawab Ryan membuka ponselnya.



"Tidak usah aku ingin mandi dan bersiap tidur, kalian tidur saja di kamar satu nya aku sudah membesihkannya ko". Sambil berjalan meuju kamar utama.



"Iya, nanti kami kesana". Jawab Tianxi.



Setelah aku selesai mandi dan menggunakan piyama aku pergi keluar menemui mereka yang masih belum tidur.



"Maaf ya teman teman tadi jawabanku sedikit cuek soalnya aku capek". Jawabku memelas.



"Tidak apa apa sini ku pijit kakimu". Ucap Tianxi.



Aku duduk dan Tianxi langsung memijit kakiku, Ryan masih duduk di sebelah kami sedangkan Guste pergi ke kamar mandi. Ryan menarik tanganku dan memijatnya.



"Wah kau enak sekali ya jadi perempuan satu satunya di geng kita kau bisa membuat kami yang tampan ini memijatmu". Ucap Tianxi.



"Aku tidak menyuruhmu kau sendiri yang menawarkannya jadi bukan salahku". Jawabku sambil mejulurkan lidah seraya meledeknya.



"Sudah tidak apa apa dia kan satu satunya maka dia sangat berharga bahkan selama lima tahun belakangan ini bukan kah kita menjadikannya sebagai tolak ukur untuk memilih pacar?". Ucap Ryan pada Tianxi.



"Ya kau benar, selama ini tidak ada yang benar benar ku kencani semuanya hanya untuk bermain main saja". Jawab Tianxi membenarkan.



"Yhaaa, kalian tidak boleh mempermainkan perasaan orang lain itu benar benar menjengkelkan". Jawabku sambil memukul Tianxi.



"Aku tidak mempermainkan mereka, mereka sendiri yang mengajak ku bermain". Jawabnya tanpa rasa salah.



"Apa kalian juga meniduri beberapa perempuan?". Tanya ku penasaran.



"Siapa? Aku? aku bahkan masih perjaka lah". Jawab Ryan membelalakan matanya.



"Wowowooow, kau yakin masih perjaka?". Tanya Tianxi penasaran.



"Yhaa Tianxi kau sudah meniduri berapa banyak?". Tanyaku penuh selidik.



"Ahh, sudahlah kau berisik". Jawab Tianxi sambil tertawa.



"Hyung jawab pertanyaanku apa kau dan Go Eun tiga tahun lalu juga pernah melakukan hal seperti itu?". Tanya ku penuh selidik.



"Ada option untuk tidak menjawab pertanyaan, jadi kami memilih untuk tidak menjawab terimakasih". Sahutnya sambil tertawa.



"Haissshhh kalian ini, hyung tapi kau sudah moveon kan dari Go Eun?". Tanyaku pada Ryan.



"Tentu saja tentu saja". Sahut Tianxi mendului.




"Sudah ah aku mau tidur saja kalian menyebalkan, Guste kau tidur ya?". Setengah teriak memanggil Guste sambil melangkah ke kamar belakang.



"Aku sudah mau tidur mengantuk". Jawabnya menutup wajahnya dengan selimut.



"Aishh benar benar mereka menyebalkan". Gumamku.



Tianxi juga ke kamar itu hanya Ryan yang masih di ruang tv, Ryan mengalah dan memutuskan untuk tidur di sofa.



"Hyung kau tidur di sofa apa tidak apa apa?". Tanyaku pelan.



"Tidak apa apa kau tidur saja sana". Perintahnya.



"Nanti ku ambilkan selimut ya". Melangkah ke kamar.



Aku membawakan selimut untuk Ryan, tiba tiba dia menarik tanganku hingga membuatku terduduk di sebelahnya.



"Aku belum mengantuk temani dulu sebentar ya". Membujuk ku.



"Yasudah sini tidur". Menunjuk pangkuan ku.



Ryan pun sering melakukannya ketika aku tidak bisa tidur dan jika kebetulan aku sedang bersama mereka. Kepala nya berbaring di pangkuanku aku sedang memainkan ponselku mencari foto tadi untuk di posting ke sosmed. Tiba tiba ponsel yang ku pegang terlepas dan mengenai wajahnya dia mengaduh pelan dan bangun dari posisinya tadi.



"Ah hyung maaf aku tidak sengaja". berjongkok menghadap Ryan yang terduduk.



"Awwhh, saki". Jawabnya pelan.



"yang mana yang sakit?". Aku mendekatkan wajahku untuk memastika apa ada yang luka.



Mata kami bertatapan beberapa detik membuat jantung ku berdebar lebih cepat dari biasanya, aku pun memundurkan wajahku dengan cepat membuat kami jadi canggung tiba tiba.



"Sudah malam, aku tidak apa apa kau tidurlah lebih dulu". Ucapnya sambil menunduk.



"Ah maafkan aku hyung, baiklah aku ke kamar ya". Jawabku terbata bata.



Sesampainya di kamar aku malah tidak bisa tidur aku masih memikirkan hal yang tadi sambil menutup wajahku dengan selimut karna merasa malu. Tiba tiba udara jadi terasa panas aku jadi pergi ke balkon untuk mendinginkan kepalaku. Setelah itu aku pergi tidur.



Pagi hari kami bangun untuk sarapan ternyata Tianxi sudah menyiapkan sarapan ia menyuruh karyawan hotelnya untuk mengantarkan sarapan. Kami sarapan bersama mereka sudah bersiap untuk pergi beraktifitas mereka meninggalkan piyama dan peralatan mandi agar saat mereka menginap tidak repot lagi.



"Hah, rumah ku benar benar jadi tempat penampungan lama lama aku merasa bahwa aku ini laki laki mereka tidak menganggapku perempuan sepertinya". Gumamku.



Mereka berpamitan dan pergi beraktifitas, aku pun memasukan pakaian mereka ke mesin cuci agar selesai mencuci aku pun sudah beres mandi dan akan segera pergi kerja.

__ADS_1



Aku mengendarai mobil untuk pergi bekerja dan memacunya sengaja tidak terlalu cepat karna aku masih belum terbiasa. Sesampainya di kantor aku langsung menuju ruang desain interior disana sudah ada Hae jin.



"Apa kau menikmati acara semalam?". Tanya Hae jin padaku penasaran.



"Emm, ya acaranya bagus". Jawabku singkat.



"Aku ingin tau sebenarnya apa hubungan kalian?". Tanyanya penuh selidik.



"Oh aku mengenalnya sudah sejak lima tahun lalu kami bertemu pertama kali di Rusia". Jawabku sambil melihatnya.



"Kalian berkencan?". Tanya lagi.



"Emm, sepertinya itu bukan sebuah hal yang cocok untuk di bicarakan di kantor itu kan masalah pribadi". Jawabku cepat.



"Oh begitu ya? aku bertanya karna aku menyukaimu jadi aku ingin tau kau dalam sebuah hubungan atau tidak". Jawab menegaskan.



"Emm, sebelumnya aku minta maaf manager aku tidak ingin membicarakan hal pribadi di jam kerja dan lagi pula aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu kau bisa bertanya pada Haneul langsung". Jawabku melangkah mundur.



"Baiklah aku akan bertanya langsung padanya". Jawab Hae jin melangkah pergi meninggalkan ruangan.



Aku masih gemetar karna terkejut oleh pertanyaannya dan juga aku memikirkan apa jawaban ku akan membuatnya tersinggung atau tidak. Akhirnya aku terduduk lemas sampai ada seseorang masuk ke ruanganku membawa sebuket bunga dengan sebuah catatan.



"Leader ini ada kiriman bunga untukmu". Ucap Yoona sambil menyodorkan bunga.


"Pasti salah satu diantara mereka". Gumamku.


"Terimakasih Yoona". Yoona adalah salah satu staff di tim arsitektur departemen yang di pimpin Haejin.



Yoona pun meninggalkan ruangan aku membaca kartu dari si pengirim


"Selamat karna ini hari pertamamu bekerja jadi aku mengirimnya untukmu sebagai pemanis di ruang kerjamu, semangat sayangku" tertanda Haneul.


"Hah sudah ku duga memang salah satu dari mereka". Gumamku.



Di sisi lain, Haejin yang melihat nya memanggil Yoona untuk bertanya siapa pengirim bunga itu.



"Yoona, apa bunga tadi untuk leader interior?". Tanya Haejin basa basi.



"Oh, iya pak manager itu untuk bu Eugene". Jawab Yoona memberi penjelasan.



"Siapa yang mengantar bunganya?". Tanyanya lagi.



"Oh itu tadi aku tidak tanya namanya tapi kira kira tingginya 180cm menggunakan masker wajahnya jadi aku tidak mengenalinya".



"Apa kau lihat dia naik apa?".



"emm, aku tidak yakin tapi sepertinya dia bukan kurir karna tidak menggunakan helm pakaiannya juga rapih pak". Jawab Yoona detail.



"emm, baiklah terimakasih". Haejin langsung pergi.



"Rupanya kau mengantarkannya langsung tapi kau ingin menunjukan siapa tuan nya? Faktanya dia bekerja pada ku bukan padamu". Ucap Haejin sambil memasuki ruangannya.



Di dalam ruang desain interior...



Ada yang masuk seorang perempuan dan dua laki laki, mereka pasti orang yang akan satu tim denganku. Aku langsung menyapa mereka.



"Hai, aku Eugene senang berjumpa dengan kalian mohon kerja samanya". Ucapku pada mereka.



"Aku Go seyoung". Mengulurkan tangan.



Aku menyambut jabatannya, "Aku ahn minhyun dan ini park hyungshik". Memberi salam 45% dan di lanjutkan berjabat tangan. "Aku harap ini akan jadi tim yang menyenangkan sebentar lagi kita akan ada rapat sebaiknya cepat bersiap". Ajak ku pada mereka.



Kami pun akhirnya masuk ke ruang rapat. Rapat itu untuk mengenalkan tim baru di bawah departemen yang di pimpin Haejin kami mulai di panggil ke depan untuk memperkenalkan diri dan sampai di bagian ku Haejin lah yang menjelaskannya bahwa aku adalah leader baru untuk tim desain interior.



Rapat selesai kami langsung bergegas pergi dari ruangan itu, tapi tiba tiba Haejin menghadang jalanku menahan ku untuk tetap disana. Aku yang sudah berdiri kembali duduk.



"Ada pekerjaan yang harus di bicarakan". Ucapnya menatap ku yang sedang keheranan.



"Baiklah pak manager". Jawabku cepat.



Semua orang sudah meninggalkan ruangan tersebut, hanya tersisa kami berdua.



"Aku minta maaf untuk masalah tadi pagi". Ucapnya Haejin.



"Aku sudah memaafkannya, pekerjaan apa yang ingin di bicarakan?". Tanyaku to the point.



"Karna kau tim yang berada di departemen ku maka aku akan memberi pengarahan, kita akan keluar sebelum makan siang karna ada sebuah ruangan yang harus kita lihat langsung sebelum memulai pekerjaan". Ucapnya menjelaskan.



"Lalu bagaimana dengan anggota timku?". Tanyaku penasaran.



"Mereka akan di beri arahan oleh Yoona, bersiaplah kita akan langsung pergi". Ucapnya menyudahi percakapan.



Kami beranjak dari kursi dan meninggalkan ruangan itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


__ADS_1




__ADS_2