Fanboy Vs Badgirl

Fanboy Vs Badgirl
Rencana Baru


__ADS_3

Maaf genks aku baru update lagiii


🙏🙏🙏 kemarin2 aku lagi buanyakk banget masalah udah gitu banyak tugas lagi hehe..yaa mohon dimengerti aja kali ya haha...happy reading yuk


***


Inka tidak bisa menghentikan kakinya yang melangkah kesana kemari di depan ruang UGD. Seluruh sahabatnya pun sudah tiba, Irad dan Ratu pun ada disana.


Hampir 3 jam mereka menunggu Rimba yang sedang ditangani di dalam ruangan itu, belum ada Dokter atau Suster yang keluar. Hal yang membuat Inka semakin ketakutan.


Inka tidak bisa merasa tenang. Rasa takut yang berlebihan membuatnya semakin tidak berdaya, ia terus menerus membayangkan kejadian di minimarket waktu itu.


Ia harus secepatnya melihat keadaan Rimba. Ia tidak mau terus-terusan dibalut oleh rasa bersalah.


Pintu ruangan terbuka, Inka lantas segera menghampiri Dokter yang disusul dengan Irad sambil memegangi bahu Inka.


"Gimana keadaan Rimba?" Pertanyaan Inka mewakili seluruh teman-temannya.


"Rimba masih belum sadarkan diri, tapi ..." Ucap dokter menggantung membuat Inka merasa kakinya terasa lemas.


Please bukan kabar yang ,buruk!


"Akhirnya kita belum terlambat untuk menyelamatkan nyawanya."


"Arghhh" Inka menjerit. Tak tahu harus merasa senang dengan kabar ini atau sebaliknya.


Bahu Inka merosot lemah. Ya tuhan apa yang telah di perbuat oleh Inka sampai akhirnya Rimba menjadi korban?


"Boleh saya masuk ke dalam dok?" Inka menoleh ke belakang seperti meminta izin kepada Irad. Irad tak bisa berkutik, tentu ia akan memberi izin Inka untuk menjenguk Rimba.


"Boleh," Persetujuan dokter membuat Inka langsung masuk kedalam ruangan itu


Tubuh Rimba membiru. Membuat Inka semakin merasa bersalah. Apa yang harus Inka lakukan saat ini?


Inka tidak bisa diam saja. Tubuhnya berhamburan memeluk tubuh Rimba yang berada di atas ranjang rumah sakit.

__ADS_1


"M-maaf," lirihnya


"Maafin aku Rim," air mata yang sudah tak bisa dibendung lagi pun jatuh membasahi pipi Inka. Inka menangis sesenggukan. Ia takut kehilangan sahabatnya ini.


Ya tuhan! mengapa harus Rimba yang berada didalam? mengapa bukan hamba mu ini saja?


Terdengar pintu ruangan terbuka. Langkah kaki pun terdengar. Inka tahu pasti ada yang masuk kedalam ruangan ini.


"Berhenti nyalahin diri lo sendiri," Ahh suara itu, suara yang membuat emosi Inka naik tadi.


"Bukan salah lo, mungkin ini sudah jalan tuhan,"


Sudah jalan tuhan?


Apa yang ia ketahui tentang tuhan**?


Ingin sekali Inka menyumpal mulut itu menggunakan sepatunya.


Inka menepis dengan kasar tangan yang ingin menghapus air matanya.


"Lo itu masih kecil, belum lulus sekolah jadi lo harus ikutin apa yang kakak lo kasih tahu"


Hah?


Gue gak salah dengar tuh?


Kakak**?


"YANG MASIH KECIL ITU LO APA GUE HAH?!" Inka sudah tidak menahan emosinya.


Irad yang mendengar suara bising didalam ruangan langsung masuk kedalam. Irad menahan Inka untuk tidak melangkah mendekati Ratu. Ia tahu jika Inka mendekati Ratu, tentu Ratu akan habis ditangan Inka.


"Udah jangan ribut, ini rumah sakit," Irad berusaha menenangkan Inka.


Kenapa dia datang saat gue mau balas dendam sama Ratu sih! Batin Inka. Inka sudah malas melihat kakaknya disini, lebih baik ia keluar dari ruangan ini.

__ADS_1


Runa yang melihat Inka keluar UGD dengan wajah cemberut langsung menghampirinya.


"Lo mau makan gak?" Kalimat pertama yang didengar oleh Inka. Tentu Inka belum menyentuh makanan sejak tahu Rimba menghilang, dan sampai kini pun belum sama sekali.


"Ayo," balas Inka datar sambil berjalan duluan membiarkan Runa dan Flesia berjalan di belakangnya.


***


Walaupun hanya makan di warung nasi padang, Flesia sudah tenang kalau Inka telah mengisi perutnya. Ia tidak mau Inka pun sakit disituasi saat ini.


"Gue gak ngerti sama jalan pikirannya kak Ratu," ujar Runa yang sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Karena biasanya Inka selalu cerita, namun saat ini Inka menjadi tertutup.


"Gak usah pake manggil kak Ratu, panggil aja Ratu," balas Inka.


"Iya, Ratu," Runa pun mengikuti apa yang dikatakan Inka.


"Dia datangin gue buat pinjam duit kali, soalnya duit dia udah habis dipake yang ga benar," Kata Inka seolah tahu dengan semua yang kakaknya lakukan.


"Sotoy lo Ka," ujar Flesia sambil meminum es teh manis yang tadi ia pesan.


"Dih, bukan sotoy tapi fakta fle," Inka tak mau salah.


"Kalo situasi gini gue yakin, lo pasti lagi rencanain sesuatu kan Ka?" Runa membuat Inka tersenyum miring seolah apa perkataannya tadi benar.


"Tumben pinter lo Run," Inka tertawa ringan.


"Emang pinter gue mah," ujar Runa pede.


"Apa rencana lo?" lanjutnya.


"Rencana gue--"


***


Kira-kira apa yaa rencana nya Inka..Hayo lohh haha (garing buanget).. Ayo baca novel baru aku nyokk ADISA (gak maksa sih).. jan lupa promoin novel baru aku juga yaaa..Ya maapmaap aja kalo aku lama update'y :'( soalnya mau gimana lagii kemarin2 tugas banyak banget apalagi aku kan ketua kelas jadi harus rekap tugas selama pjj haha jadi curcol..kalian tetap jaga kesehatan yaaa..inget dirumah aja jangan kemana-mana..Aku mungkin 2hari sekali update yang fanboy soalnya lagi fokus sama Adisa hehe.

__ADS_1


Berikan vote,dukungan,dan cinta kalian buat aku yaa..jan lupa like+comment..I purple you genksss💜


__ADS_2