Fanboy Vs Badgirl

Fanboy Vs Badgirl
Kesal


__ADS_3

Haiii..maaf baru balik lagi.. habis kuota akyu tuh.. haha selamat malam (kalau di reviewnya cepet ini juga hehe)


Happy Reading yaaa sayang sayang akuu


***


Lupa


Satu kata yang membuat Inka jengkel sendiri. Mengapa ia bisa lupa?


"Gue jadi pikun gini sih." Inka memulai pembicaraan.


"Pikun apaan sih? Lo dengarkan tadi Bu Luna ngomong apaan?" Flesia kini sungguh membuat Inka kesal. Karena baru saja ia lupa dengan apa yang dikatakan oleh Bu Luna.


"Ck. Lo gak tahu sih kalau gue tadi tuh lupa sama apa yang Bu Luna omongin." Inka jujur.


"Lah elo ogeb, bisa lupa kek gitu kagak ngarti dah gue." Runa dengan beraninya memaki Inka. Ah kalau saja Inka tadi tidak lupa.


Hah?


Lupa?


Kesal. Sangat kesal saat Runa mengatakan kata "lupa". Entah kenapa setiap ada kata "lupa" Inka jadi geregetan sendiri.


"Tau ah sebel gue." Inka pun memalingkan wajahnya. Masih terbayang wajah Bu Luna dan teringat ucapan Bu Luna saat tadi.


"Terus kalau kayak gini lo mau ngapain Ka?" Tanya Arnold.


"Yaudah deh kalo kayak gini mah, bakalan pacaran diem-diem." Balas Inka santai seakan lupa dengan ucapan Bu Luna tadi.

__ADS_1


Hah?


Lupa?


Kenapa harus kata "lupa" lagi sih.


Hadeh


****


"Aneh ya kenapa Bu Luna segitunya sama gue." Inka berucap sendiri didepan cermin kamar mandi sembari membersihkan wajahnya yang mungkin kotor terkena debu.


Habis sudah semua ekspetasi Inka untuk mengantarkan Irad ke travel. Berniat ingin tahu apa yang dilakukan Irad dan Bu Luna tapi gengsi kini mengalahkan semua rencananya.


Sedangkan kini Irad sudah muak dengan apa yang dikatakan mamanya di dalam bus.


Tidak tahukah Bu Luna bahwa Irad bersusah payah untuk mengajak Inka balikan??


"Mama ini kalau ngomong enak ya, jadian sama Yunita lah ini lah itu lah-"


Belum sempat melanjutkan pembicaraannya Bu Luna pun memotong.


"Tuh kan kamu dekat sama dia jadi suka ngelawan gini ke orang tua."


"Bukan gitu ma, mama yang membuat sifat Irad jadi suka ngelawan."


"APA?!" Tak segan-segan Bu Luna mengeluarkan suara menggelegarnya.


"Mama bisa enggak sih kalau ngomong itu pelan-pelan malu sama orang lain." Irad benar. Sangat benar. Memang mamanya itu kalau sudah marah suka lupa daratan. Lupa bahwa mereka sedang berada di minibus.

__ADS_1


Melihat kanan kiri. Benar kata Irad, mereka sedang berada di minibus semua orang kini berbalik ke arah mereka. Malu.


"Iya-iya tau mama juga." Bu Luna pun mulai bisik-bisik. Dan penumpang sebelah mereka memberi isyarat untuk tidak berisik.


"Udah ah malu." Irad menghentikan perdebatan, karena memang berdebat dengan mama nya sendiri tidak akan ada selesai-selesai.


***


"Jadi kapan kondisi Rimba akan pulih total dok?" Tanya Inka kepada dokter yang memeriksa Rimba di Rumah sakit.


"Mungkin besok juga pasien sudah bisa pulang mbak."


"Oke kalau begitu." Balas Inka yang senang karena Rimba besok sudah diperbolehkan pulang.


"Gue mau lunasin biayanya administrasi nya dulu ya Rim." Katanya kepada Rimba.


"Makasih kak." Balas Rimba.


****


Melunasi semua biaya administrasi dengan uang Inka sendiri membuatnya tenang. Rimba kini sudah pulih. Dan mungkin dengan ini Inka bisa membalas semua kebaikan Rimba.


Tak sadar kah Inka kini Teyri sedang memantau dirinya, dan matanya kini sedang fokus dengan dompet berwarna cokelat milik Inka.


****


Like,vote dan komen sebanyak banyaknyaa yaa.. nanti aku bakalan crazy up ... terima kasih untuk kalian semua yang senang membaca novel aku.. aku doain semoga kalian sehat2 disana yaa.. apapun rencana kalian selalu lancar.. aamiin..


I purple you genks 💜💜

__ADS_1


__ADS_2