
Yaaaa maap aku kemarin lagi gak enak badan jadi updatenya hari ini aja yaa..maap huhu...
Happy reading yaks
***
"Oke.. Oke, ide lo bagus juga Ka," Flesia terpukau oleh ucapan Inka tentang rencana barunya.
"Kali ini, gue gak boleh kalah sama tuh si gak tahu diri," Inka kali ini bertekad untuk melancarkan semua rencananya. Ia tidak akan gagal lagi.
"Yaudah, kita langsung ke rumah sakit lagi aja," Runa pun berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah kasir, sedangkan Inka dan Flesia masih duduk sambil menghabiskan es teh manisnya itu.
***
"Udah makan?" tanya Irad yang sedari tadi memikirkan keadaan kekasihnya itu.
"Udah," balas Inka. Tiba-tiba Inka mendekap tubuh Irad membawanya kedalam pelukan erat.
Irad terkejut, tapi sekarang ia membalas pelukan Inka.
"Aku gak tahu harus gimana lagi Rad, aku ngerasa kalau aku itu sahabat yang membawa sial ke Rimba," ucap Inka pasrah.
"Hush, kamu enggak boleh ngomong gitu," balas Irad menenangkan Inka. Pelukan erat itu pun terlepas dan sekarang mereka saling bertatapan.
"Kamu bisa janji enggak ke aku?" tanya Inka membuat Irad mengerutkan keningnya. Matanya memberi sorot bahwa ia sedang bertanya kepada Inka janji apa?
"Kamu harus janji, apapun yang aku lakukan sekarang ataupun nanti kamu akan tetap jadi pacar aku," balas Inka. Irad berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Inka.
__ADS_1
Ada apa?
Kenapa kamu ngomong kayak gitu?
Irad terdiam lama sambil menatap wajah Inka. Dan akhirnya Irad pun menjawab
"Aku janji,"
Rencana apa yang akan Inka jalankan?
Ada apa sebenarnya?
Ya tuhan! Irad bisa-bisa tidak dapat tidur kalau seperti ini.
Inka pun tak tahu harus dari mana mengatakan rencananya. Terlibat janji harus bersama dengan Irad selamanya, apakah itu gampang?
Haduh Inka sungguh sangat pusing memikirkan hal itu.
Irad sebenarnya ingin menanyakan hal ini kepada Inka, tetapi mungkin saat ini bukan waktunya untuk membicarakan tentang janji mereka. Inka sedang sibuk mengurusi Rimba. Tidak mungkin Irad menanyakan hal yang tentu membuat Inka kecewa. Irad tidak mau kalau pertanyaan yang akan ia sampaikan membuat Inka merasa bahwa Irad tidak percaya pada Inka.
Irad harus bagaimana menghadapi ini?
Dibuat pusing dengan perjanjian ia dan Inka. Ucapan Inka kemarin seolah diputar kembali dalam pikirannya. Dicerna baik-baik setiap katanya.
Tapi apakah Inka kini memikirkannya? bukankah Inka sedang sibuk kepada Rimba yang berada di rumah sakit? lalu kapan Irad akan di perhatikan oleh Inka?
Inka sungguh membuat Irad pusing.
__ADS_1
***
"Hum, Ka aku mau tanya," ujar Irad memecah segala keheningan.
"Mau tanya apa?" Inka kini beralih menatap Irad yang berada di sebelahnya.
"Jadi gini-" belum saja Irad melanjutkan kata-katanya seorang Dokter keluar dari ruangan Rimba.
"Pasien sudah siuman mbak," ujar Dokter itu. Tanpa basa-basi Inka langsung masuk kedalam ruangan Rimba.
"Rim ... Gu-gue disini," ujarnya terbata-bata, kini air mata sudah membasahi pipinya. Disentuh lah tangan Rimba oleh jemari-jemari Inka. Rimba perlahan membuka matanya.
Yang pertama ia lihat, sosok manis dihadapannya yang sedang menangis.
"L-lo g-gak u-sah na-nangis," ujar Rimba seperti yang susah berucap.
"Maaf .. Maafin gue Rim, ini semua gara-gara gue, gue minta maaf," Inka kini memeluk tubuh Rimba yang berada disampingnya.
"Lo enggak salah," Rimba kembali membuka mulutnya. Inka mencium dahi Rimba dengan penuh kasih sayang. Segala kejahatan yang telah ia perbuat hanya dibalas kebaikan oleh Rimba.
Tanpa disadari di depan pintu ada mata yang sedang melihat mereka. Mereka memang sahabat, tetapi kali ini Inka dan Rimba sudah berlebihan menurutnya.
Siapa dia?
***
Ampun deh ah Inka ada apaan syih hadeuuhhh.....
__ADS_1
Baca Adisa yuuu boleh di share ke teman-teman kalian juga... like dan komen terus ya biar aku gak lupa hehe..
I purple you 💜