Fanboy Vs Badgirl

Fanboy Vs Badgirl
Hai


__ADS_3

Huan.


Masih ingat kah kalian dengan Huan?


Sahabat kecil Inka yang menolongnya untuk pergi ke Ambon. Tak pernah Huan duga Inka memiliki keberanian untuk mencium Rimba. Huan datang ke Bali hanya ingin melihat keadaan Inka saat ini. Ia tahu karena kemarin ia ditelfon oleh pamannya Inka.


Huan berdeham memberi tanda keberadaannya. Wajah Inka yang tadinya berdekatan kulit Rimba pun mulai menjauh. Melihat siapa yang berada di ambang pintu.


Huan?


Apa dia lihat tadi?


"Huaann!" teriak Inka histeris tubuhnya pun berhamburan memeluk tubuh Huan.


Karena Inka terlalu semangat memeluk Huan sampai-sampai, Huan agak mundur kebelakang untuk menyeimbangkan tubuh mereka.


"Kok lo bisa disini?" Inka melangkah mundur untuk melihat wajah Huan.


"Gue di sini cuma mau lihat keadaan lo," balas Huan santai lalu matanya melirik ke arah Rimba yang kini melihati mereka.


"Aw baperr," Inka mengatakan dengan nada alay.


"Apaan sih lo?" Huan kali ini berjalan mendekati Rimba.


"Get well soon bro, gue tahu apa yang lo rasain," Huan so soan seperti pernah merasakan apa yang Rimba rasakan.


"Thanks," balas Rimba yang kini mulai tidak terbata-bata saat bicara.

__ADS_1


"Hum. Gue keluar dulu ya sama Huan Rim," kata Inka sambil mendekati Huan.


"Hum," balas Rimba.


****


"HAH?! RATU DATENG LAGI BUAT AMBIL HARTA LO?!" Huan terkejut saat Inka bercerita tentang kakaknya.


"Lo tuh kalo ngomong bisa pelan-pelan gak ? Hah?" Ucap Inka takut ada salah satu teman Ratu yang mendengar. Ya walaupun enggak ada.


"Iya- iya, maaf Ka," balas Huan santai tapi dilihat dari raut wajahnya ia masih sangat terkejut.


"Gue mau apapun yang Ratu lakuin itu selalu gagal," kata Inka.


"Gue bisa bantu kok," Huan dengan tingkat kepedean di atas rata-rata pun seolah membanggakan diri.


"Huh kayak yang bisa aja," Inka mulai tidak percaya dengan perkataan Huan.


Huan merasa ada yang sedang memperhatikannya diam-diam. Dan ternyata benar ada seorang waria yang sedari tadi memperhatikan Huan. Huan hanya menatap jijik pada waria itu.


"Hai," kata waria yang berbaju hitam itu mendekati Huan.


Inka terkejut saat menoleh mendapati waria yang sedang mengelus-elus bahu Huan. Huan hanya menggerak-gerakan bahunya agar waria itu kesusahan untuk mengelus-elus bahunya.


Inka hanya menutup mulutnya. Ingin tertawa tetapi Huan didepannya sudah terlihat garang dengan rahang yang mengeras.


"Ayo balik," kata Huan menarik tangan Inka. Ia tidak menghiraukan waria yang memanggil namanya dengan nada alay.

__ADS_1


****


"Darimana?" tanya Irad melihat Huan menggengam tangan Inka.


Refleks Inka pun melepaskan genggaman tangannya. Huan melirik Irad dan Inka. Ah tentu ini pacarnya Inka.


"I-itu E-eu," ah mengapa Inka susah berucap disaat seperti ini.


"Inka habis ngobrol sama gue," balas Huan cepat. Tidak mau pacar Inka berpikiran yang aneh-aneh.


"Oh," balas Irad.


Hanya satu kata tapi Inka tahu bahwa pacarnya ini sedang marah.


Ah salah lagi.


***


"Rad, jangan marah aku tuh cuma ngobrolin tentang Ratu kok," Inka tidak mau Irad berpikiran negatif.


Irad hanya dia memandangi Inka. Tak tahu harus mengucapkan apa.


*****


"Huan, sini dong sama akyu,"


Aduh Huan jan mau deh ama waria

__ADS_1


Jan lupa like,koment,vote ya genks


I purple you💜💜💜


__ADS_2