
Setelah ancaman bandit sudah lewat, orang-orang sudah bisa merasa lega. Sebagian lagi mungkin masih ada yang cemas, dilihat dari cara mereka mencuri pandang ke arahku yang sedang bicara dengan kepala desa.
Dorran adalah kepala desa Arunn, dan dia juga adalah lelaki tua yang diseret oleh bandit sebelumnya. Menurutnya para bandit dibayar untuk mencari seseorang, dan mereka percaya kalau orang yang dicari sedang bersembunyi di desa ini. Mereka juga memberitahu bahwa sebelum ini ada beberapa orang dari luar yang bertanya pada penduduk, sampai mereka mendapati kejanggalan saat menemukan beberapa orang tak dikenal mulai menyelinap ke desa.
Dengan tenang aku mendengarkan setiap penjelasan, dan sesekali mengangguk untuk memberi tanggapan. Kelompok bandit yang menyerang sebelumnya memang aneh menurutku, tapi karena belum bisa kupastikan jadi hanya bisa diam tanpa perlu menambah beban pikiran Dorran.
Kepala desa yang berusia lanjut mulai gelisah karena belum mendengar hal yang sangat ingin mereka dengar, jadi bertanya padaku dengan ekspresi gusar.
“Tuan, apa yang bisa kami berikan sebagai ungkapan terima kasih? Tuan merupakan penyelamat kami, jadi akan kami balas kebaikan hati anda.”
“Tentu saja, akan kuambil bayarannya nanti. Untuk sekarang cukup sampai disini, aku masih punya urusan lain.” Mendengar kata-kataku, Dorran hanya bisa mengangguk dengan pasrah.
Sebenarnya aku cuma tidak ingin membicarakan urusanku saat desa sedang dalam kondisi begini. Aku bukan orang tidak tahu diri sampai tega memeras orang yang kesulitan.
Hari ini sudah cukup dengan menaburkan benih kepercayaan, rasa hormat, dan ketakutan pada penduduk desa. Sehingga nanti bisa kupetik buahnya di kemudian hari.
“Tuanku, mayat-mayat mereka sudah saya kumpulkan seperti yang anda minta.” kata Sella yang baru kembali dari tugas yang kuberikan padanya.
Kecakapannya benar-benar patut dipuji. Dia bersikap dan berbicara sopan kepadaku saat dihadapan banyak orang, tanpa perlu kuminta tentunya. Biarpun Sella masih mengenakan jubah untuk menutupi tanduk dan sayapnya, tapi orang-orang tampak waspada dengan aura tidak biasa yang berasal darinya. Jadi karena aku adalah tuannya, penilaian terhadapku akan bertambah di mata mereka.
Selain yang ada di dalam desa, bandit yang mengawasi dari luar desa juga sudah dibereskan oleh shadow walker. Kupikir akan ada satu atau dua orang yang mampu mengalahkan shadow walker, tapi tampaknya aku yang terlalu menilai tinggi mereka.
Sekarang masalah bandit sudah beres, api yang membakar desa juga sudah kupadamkan dengan sihir, memupuk kepercayaan orang-orang di desa juga sudah kulakuakan. Jadi... aku cuma perlu memperoleh kesetiaan mereka.
Begitulah batinku dalam hati. Meski terdengar sederhana tapi bukan berarti mudah untuk dilakukan. Kalau begitu, untuk sekarang lebih baik melakukan apa yang ada di depan mata terlebih dulu.
“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi. Akan kudatangi kalian saat desa ini sudah pulih.”
__ADS_1
“Tu-Tunggu tuan! Apa hal ini akan terulang lagi?” tanya kepala desa tampak cemas, sesaat sebelum aku berbalik meninggalkannya.
Sambil tetap mempertahankan wibawaku, kujanjikan sesuatu untuk menenangkannya.
“Jangan khawatir, akan kukirim beberapa familiarku untuk berjaga di sekitar desa. Mereka akan bertindak sebagai penjamin keamanan kalian dan juga... sebagai penjamin jika kalian berkhianat padaku.”
“Mana mungkin kami berkhianat. Anda adalah penyelamat kami.” balasnya setelah mendengar ucapanku. Pandangan yang diperlihatkan padaku sudah jelas karena rasa takut. Takut terhadap sosok yang mempunyai kekuatan diluar logika mereka.
Meskipun mereka tidak mengkhianatiku, namun bukan ini kesetiaan yang kuharapkan. Ah, sudahlah.
Karena sudah tidak punya urusan lagi, aku segera beranjak pergi sambil mempertahankan ketenangan dalam ekspresi maupun langkahku.
Awalnya aku ingin memakai sihir perpindahan setelah keluar dari desa, tapi baru bejalan beberapa langkah, seorang gadis kecil berlari menghampiriku.
Gadis itu merentangkan kedua tangan, bermaksud untuk menghalangiku. Keringat bercucuran dari tubuh kecilnya. Dari tatapan matanya, aku mengerti jika dia berusaha untuk memberanikan diri berbicara padaku. Meski nafasnya tersenggal dia berkata kepadaku.
Hah?! Hubungannya apa kutukan denganku??
“Filo~ Apa yang kau lakukan? Tolong jangan bersikap tidak sopan pada beliau...” Kali ini, Dorran si kepala desa yang berlari menghampiri gadis itu. Tangannya yang gemetaran meraih pundak anak bernama Filo dengan perasaan cemas dan juga takut.
Saat aku masih belum membuat jawaban. Sebuah saran datang dari Sella dengan nada suara yang pelan.
“Apa perlu kusingkirkan anak ini?”
Biarpun tidak tahu apa dia serius dengan sarannya atau tidak, aku menggelengkan kepala untuk menolak usulan tersebut. Bertindak kejam pada anak kecil yang masih belum mengerti sopan santun hanya akan berdampak buruk, begitulah menurutku. Jadi aku mengalihkan pandanganku pada Filo yang masih terlihat ragu dan takut.
Melihat anak sekecil itu menatapku dengan penuh harap meski dia sendiri ketakutan, aku jadi penasaran apa yang telah terjadi dengannya. Maka dari itu, kutanyakan beberapa hal padanya.
__ADS_1
“Apa aku terlihat seperti orang yang bisa mencabut kutukan?”
“A... Aku membaca di buku. Katanya... mahkluk dari kegelapan membawa kutukan. Anda adalah raja kegelapan, pasti... pasti tahu caranya melepas kutukan!”
“Mungkinkah ibumu itu yang terkena kutukan?”
“Iya...”
“Kalau begitu, izinkan aku menemuinya. Aku mungkin tahu tentang kutukan itu.”
“Benarkah?”
“Benar.”
Mendengar jawabanku Filo yang tadinya cemas berubah menjadi gembira. Dorran yang masih memeganginya juga tersenyum lembut kepadanya. Biarpun sebelumnya dia berusaha menghentikan Filo, namun sekarang dia terlihat lega saat mengetahui aku bersedia untuk membantu.
Kurasa penilaianku terhadap Dorran telah bertambah.
Setelah itu, Filo yang di temani oleh Dorran membawaku ke rumahnya. Gadis kecil itu lalu masuk ke dalam rumah dengan gembira, dan segera berlari ke dalam kamar.
“Ibu! Katanya tuan raja kegelapan bersedia menyembuhkan kutukanmu!!”
Ibu Filo yang mengetahui kedatangannya juga berlari keluar untuk menyambut anaknya. Pasangan ibu dan anak itu terduduk di lantai saling berpelukan, saat Filo melompat pada ibunya.
Meski ibunya memeluk Filo dengan penuh kasih sayang, aku bisa melihat perasaan campur aduk dari ekspresinya sebagai seorang ibu. Namun, ada satu hal yang benar-benar menggangguku.
“Sebenarnya... Sudah berapa lama kamu mengalami hal itu?”
__ADS_1
Menyadari kalau ada orang lain yang datang bersama putrinya, dia segera menoleh mencari sumber suara yang datang dariku. Dia yang awalnya tidak memperhatikan kedatanganku, sekarang membeku dengan tatapan kosong saat memandangku.