
Ah, pria menjengkelkan itu benar-benar terpenggal kepalanya. Pasti itu karma buruk yang harus dia terima.
Aku yang menyaksikan kepalanya jatuh ke tanah, hanya bungkam. Bagiku dia hanya pria asing yang kebetulan memanggilku. Kami tidak sedekat itu sampai diriku bisa merasakan emosi kuat atas kepergiannya.
Namun, entah kenapa ada sesuatu yang kurasa tidak nyaman mulai tumbuh di hatiku. Perasaan inilah yang membuatku sulit untuk mengalihkan mataku, melihat tubuh pria yang sudah kehilangan kepalanya itu.
Ini pertama kalinya, aku datang ke dunia atas setelah dipanggil oleh seseorang. Aku yang merasa percaya diri terhadap penampilanku, dan aku yang merasa yakin jika kecantikanku tidak kalah dibanding saudara-saudaraku. Akan tetapi, dihadapan pria itu, semua kepercayaan diriku, dan kebangganku jatuh begitu saja.
“Oh, begitu rupanya. Karena sudah tidak lagi punya kesempatan membalas sikap menjengkelkannya, aku jadi sedikit kesal.” gumamku lirih pada dariku sendiri.
Aku hanyut dalam perasaan tidak biasa tersebut. Hingga tanpa sadar jika seseorang sudah berdiri dibelakangku, sambil mengacungkan pisau ke leherku.
“Nona, jika tidak ingin pisau ini merobek tenggorokanmu, sebaiknya patulah dan jangan bertindak bodoh.” ucap lelaki yang berdiri di belakangku.
Meski dia mengancamku, tidak ada yang perlu ditakutkan. Kami mahkluk dunia bawah, tidak datang ke permukaan memakai tubuh asli kami. Aku tidak akan mati selama tubuh asliku masih berada di dunia bawah.
Dibanding mempedulikan ancaman kecil semacam ini, aku memperhatikan Finn yang menaruh kembali pedang di pinggang. Dari semua orang dikelompoknya, Finn tampaknya adalah yang paling kuat.
Saat itu, wanita lain di kelompok selain si Elf, yaitu wanita yang mengenakan pakaian pendeta. Berjalan dengan buru-buru menghampiri Finn.
“Finn, apa kau baik-baik saja?” tanya wanita itu khawatir.
“Tidak perlu cemas, Ann.”
Finn tersenyum lembut, meyakinkan wanita bernama Ann. Bisa kutebak hubungan apa yang keduanya miliki.
“Finn benar Ann. Kita tahu dia yang paling 'mengerikan' disini? Kuyakin orang itu juga tidak mengira bisa mati semudah itu olehnya.”
“Benar sekali, Hard. Kehebatan ketua memang tidak diragukan lagi, levelnya sudah bisa menyamai Ecaterina Si Putri Pedang. Hahaha...”
Kedua rekan Finn juga mulai berbicara dengan santainya, menyadari jika tidak ada lagi ancaman di sekitarnya.
“Oh, ya... Bagaimana dengan Succubus disana? Aku masih tertarik untuk menjadikannya sebagai bawahanku.” ujar penyihir bernama Keel menambahkan.
Tatapan penuh nafsu miliknya bisa kurasakan ketika menyeringai padaku. Aku yakin dia jenis lelaki bejat seperti seharusnya.
“Membuat kontrak dengan ras iblis menimbulkan banyak masalah untuk kedepannya, tapi karena dirinya bisa berguna sebagai pemandu kita di tempat ini. Kuserahkan succubus itu untukmu, Keel. Buat dia bekerja untuk kita!!”
Begitu mendengar kalimat dari ketua kelompoknya, wajah Keel menyiaratkan senyuman yang lebih menjijikan lagi.
Sepertinya aku akan dipaksa membuat kontrak dengan pria ini. Jika diperhatikan dari sudut pandang seorang succubus, hal itu tidak ada ruginya sama sekali. Malahan akan lebih menguntungkan kalau dia bersedia menjadi tuanku, mengingat jika pria ini kelihatannya sangat menginginkan tubuhku.
Pria yang sangat haus akan nafsu dan kepuasan seksual sangat cocok bagi Succubus, begitulah faktanya. Namun, entah kenapa ada bagian diriku yang sangat ingin menolaknya untuk menjadi tuanku.
“Brengsek kau Erza. Setelah menyeretku naik ke dunia atas, kau malah mati seenaknya. Setidaknya biarkan aku membalas prilaku burukmu padaku...” tanpa sadar aku menggerutu kepada Erza, yang jelas-jelas sudah tiada.
Ketika ku kepalkan tangan kuat-kuat, aku menyadari sebuah benda yang kubawa di tanganku sejak tadi.
Sebuah botol kaca kecil yang pas digenggam di tangan, berisikan ramuan yang sampai sekarang belum jelas kuketahui, apa yang sebenarnya terkandung di dalamnya.
__ADS_1
“Untuk apa berbicara tidak jelas seperti itu, Nona? Aku bisa membunuhmu kapan saja, jadi jangan berpikir untuk melawan!” ucap lelaki yang mengancamku sejak tadi, memberiku sebuah peringatan.
“Jangan bunuh dia, Hida! Biarkan Keel yang mengurusnya.”
“Dimengerti!”
Perintah Finn dijawab dengan cepat oleh Hida ini. Lalu kulihat si penyihir bejat, Keel, mulai berjalan mendekat padaku.
“Hehehe, aku harus berterima kasih pada ketua. Rasanya sudah tidak sabar melihat 'kehebatanmu' di malam hari. Alasan kenapa wajah pria itu tampak lesu adalah karena dirimu tidak mengizinkannya tidur di malam hari, kan?”
Mendengar kata-kata tersebut, aku langsung menjentikan sudut bibirku.
“Sigh, aku sendiri tidak yakin pria itu menginginkanku sebagai wanita. Benar-benar menjengkelkan!” dengan kalimat yang lirih, kata-kataku sulit di dengar oleh siapapun.
Aku tidak tahu apa yang merasukiku, tapi aku sangat kesal sekarang. Rasanya aku ingin dia bangkit dari kematiannya, agar bisa kumaki dia sepuas hatiku.
Meski belum kemengerti pria macam apa dirimu, bagaimana bisa kau mati begitu saja? Bajingan kau Erza!!
Ketika masih sibuk kumaki Erza dalam hatiku, Keel sudah mulai menggambar lingkaran sihir untuk membuat kontrak denganku.
“Sebelumnya aku tidak pernah berhasil memanggil succubus, tapi untuk memperbarui kontrak mahkluk panggilan, itu sangat mudah bagiku.”
Dasar penyihir rendahan, kau pikir aku sudi untuk membuat kontrak denganmu. Jangan harap.
Waktu itu, sebelum aku memulai untuk bertindak melepaskan diri. Hal yang mengejutkan terjadi dalam sekejap. Aku tanpa sadar telah bertukar posisi dengan wanita berpakaian pendeta di kelompok Finn, yang bernama Ann. Perasaan jengkel dalam diriku, berubah menjadi kebingungan karena hal tersebut.
“““Hah?!!”””
“Wanita itu, aku yang telah menemukannya lebih dulu. Kalian para pencuri kecil jangan seenaknya mengambil orangku.”
Mataku terbelak mendapatkan keberadaan lelaki yang baru kukenal belum genap sehari itu, suara tadi benar-benar miliknya. Aku tidak salah lihat, lelaki yang harusnya tewas terpenggal sebelumnya, berdiri disana tanpa kurang satu apapun.
“Erza, kau...?!” Aku berteriak waktu menemukan dirinya berdiri disana, tidak jauh dariku. Air mukanya tampak tenang dan tidak menunjukan perubahan, setelah melihatku dalam sekilas.
Begitu tatapannya di arahkan pada semua orang di kelompok Finn, hawa membunuh terpancar jelas di dalam sorot matanya. Nafas semua orang, kecuali diriku tertahan menyaksikan sosoknya.
“Ba-Bagaiman bisa...? Aku yakin sudah memenggal kepalamu sebelumnya...”
Sekarang aku tahu, kalau perhatian semua orang sudah sepenuhnya tertuju pada Erza. Bahkan, rasanya semua orang sudah lupa kalau diriku telah bertukar posisi dengan priest Ann.
“Mudah saja. Golem yang kubuat menyerupai diriku itu, sudah kukembangkan selama hampir dua puluh tahun. Memang wajar jika kalian tidak bisa membedakannya dengan manusia aslinya.” jawab Erza dengan enteng.
Golem katanya? Bahkan aku sendiri tidak merasa kalau yang terpenggal tadi adalah golem, pria sungguh masih menyimpan segudang misteri.
“Fiinn!! Kita harus segera meng——”
“Diam, sampah!!”
Kalimat Keel terputus bersama hilangnya suara dari mulutnya, saat Erza menyela ucapan miliknya. Itu mungkin adalah sihir milik Erza yang bisa menghilangkan suara seseorang.
__ADS_1
Dan yang lebih tidak kumengerti, aku menyadari bahwa sekarang ini Erza benar-benar tampak marah. Inilah kali pertamanya, aku melihat ekspresi marah Erza sejak dia memanggilku.
“Hei, penyihir disana! Kau orang yang paling tidak kusukai sekarang, karena berani memperlihatkan hasrat untuk mengambil milikku sebagai mainanmu. Jaga ucapanmu baik-baik!”
Ancaman Erza terdengar begitu menakutkan, hingga membuat keringat dingin membasahi wajah Keel. Alasan kemarahan Erza masih tetap belum kumengerti, menurutku itu bukan kebiasaannya.
Namun, aku menepis pemikiran itu, dan memilih untuk mengabaikannya. Itu karena... aku merasa masih belum mengenal dengan baik, lelaki bernama Erza ini.
Lalu, di waktu semua orang masih kebingungan. Selusin anak panah dilepaskan ke arah Erza, datangnya dari wanita Elf yang memang terlihat tidak banyak bicara di antara anggota kelompoknya.
Satu harapan kecil muncul dibenak mereka, anak panah yang ditembakan sebanyak itu tidak mungkin dihindari olehnya. Tapi harapan semua orang pupus, ketika Erza melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.
Hanya dengan menggeser sebelah kakinya, sebuah dinding batu yang tumbuh dari bawah menghalangi semua anak panah untuk mengenai Erza. Orang-orang itu tahu, Erza baru saja melakukan sesuatu diluar pemikiran semua orang. Karena, Erza baru saja menggunakan sihir tanpa sebuah rapalan.
Mengabaikan yang lain, Erza dengan sigap mencoba mendekati Elf yang baru gagal menyerangnya. Elf wanita tampak belum putus harapan, dia berjuang sebisa mungkin untuk menembakan anak panah kepada lawan yang mendekat. Satu anak panah melesat mengincar titik vitalnya, tapi Erza dengan mudahnya menghindari lintasan panah tersebut. Pukulan tangan kosong menghantam tepat di ulu hati si wanita elf, hingga dirinya jatuh tersungkur di tanah.
Belum selesai, panah yang kehilangan targetnya tidak berhenti begitu saja. Dia mengarah kepada orang lain yang tepat berada pada garis lintasan yang sebelumnya ditutupi oleh tubuh Erza.
Slaappp...
Anak panah menancap tepat di kepala lelaki bernama Hida. Situasi yang terjadi begitu saja, tidak memberi kesempatan baginya menghindar. Satu orang mati dengan panah menembus otaknya, tidak ada yang bereaksi selain Hard yang menyaksikan terbunuh begitu saja.
“Brengsek, apa yang kau lakukan pada Hida!? Akan kuhancurkan tubuhmu berkeping-keping!!” Diliputi amarah, Hard menerjang maju dengan Helberd miliknya.
“Tung... Berhenti, jangan gegabah Hard!!” teriakan Finn untuk menghentikannya gagal, dia mengabaikan itu dan telah berdiri di hadapan Erza.
Hard sudah sangat yakin bahwa Erza sekarang sudah ada dalam jangkauan serangannya. Namun, perubahan yang terjadi berikutnya membuat mata semua orang terperangah.
Setiap bagian dari tubuh Hard terpotong oleh sesuatu yang tak kasat mata. Pria besar itu mati dengan tubuh tercerai berai. Menyaksikan kejadian mengerikan itu, Keel si penyihir yang telah kehilangan suaranya terduduk lemah ke tanah. Ketakutan telah membuatnya kehilangan minat untuk bertarung.
“Kuharap, ini bisa jadi pelajaran bagi kalian. Jangan pernah bermain-main denganku, aku dapat membunuh kalian semudah membalik telapak tangan.” ucap Erza sambil berjalan pelan menghampiri Keel yang duduk tak berdaya.
“Kudengar, tadi bukannya kau menyombongkan diri tentang sihir yang kau gunakan untuk melawan tiruanku. Akan kuperlihatkan padamu, seni sihir yang sesungguhnya...” Sambung Erza ketika dirinya telah berdiri di hadapan Keel. Erza dengan tatapan mengitimidasi mendekatkan wajah pada penyihir yang ketakutan itu.
“Iced Coffins.”
Satu kalimat dari Erza mendatangkan hawa dingin yang menusuk tulang. Dalam waktu singkat, ruang aula menjadi kuburan beku. Dan semua orang, selain aku dan Erza terbungkus oleh es yang tebal di tubuhnya.
Benar-benar sebuah pemandangan yang mengerikan. Erza tanpa meninggalkan jejak keringat di wajahnya, telah mengalahkan mereka semua tanpa kesulitan. Pertarungan yang terjadi barusan, sungguh berat sebelah.
Aku yang diam seribu bahasa menyaksikan pertarungan, mulai melangkahkan kaki mendekat pada Erza disaat semuanya sudah tenang.
Tanpa bertanya, Erza hanya memperhatikan sikapku. Disaat berikutnya, hal yang kulakukan adalah menundukan kepalaku kepada Erza. Berusaha sebaik mungkin menunjukan ketulusanku.
“Mulai hari ini, aku Selenea Auraluna akan mengikuti semua permintaanmu, master. Bukan cuma sampai dungeon yang kamu inginkan selesai, tapi sampai kematian memisahkan kita.”
“Aku sudah menerima namamu, Selenea. Kalau begitu, aku Erza Nyx Alvena akan menjadi tuanmu mulai sekarang.”
Dengan begitu, kontrak tuan dan bawahan antara diriku dengan Erza telah terbentuk. Aku tidak sabar untuk menyaksikan, apa saja yang akan diperoleh tuanku kedepannya.
__ADS_1
......................