Fate X Dungeon

Fate X Dungeon
Ch#06 - Rahasia dari Arus Naga


__ADS_3

“Apa?! Inti tempat ini memakai Centuries stone!!” Apa yang Erza vilang dengan muka datarnya adalah kejutan baru bagiku.


Aku mengerti bahwa itu sudah bagian dari sikapnya, tapi ini kali pertamanya aku melihat orang yang tidak antusias saat membicarakan harta karun alam seperti Centuries Stone.


Batu magis adalah mineral alam yang sudah terkondensasi alami dibawah perut bumi. Batuan ini telah ditempa bertahun-tahun oleh panas dan energi bumi. Perwujudan dari kristalisasi massa sihir yang sangat besar.


Dan diantara beberapa tingkatan batu magis yang diketahui sampai sekarang, centuries stone terbilang cukup langka. Batu ini hanya bisa terwujud setelah menyerap partikel massa sihir selama 100 tahun. Harusnya material semacam ini bisa dipakai sebagai bahan dasar pembuatan artefak kuno.


Artefak kuno sendiri mampu menggoyahkan kestabilan sebuah negara hanya dengan kemunculannya, bahkan berbagai pihak rela memulai perang untuk mendapatkannya.


Apa pria ini tidak mengerti betapa besarnya hal ini? Atau mungkin dia sudah mengerti sepenting apa benda itu, hingga dia sendiri memilih menyimpannya di lokasi terdalam dungeon.


“Kenapa harus sekaget itu?” tanya Erza terdengar acuh, hal ini menjadi sebuah pembuktian kalau pemikiranku terhadapnya terlalu berlebihan.


“Haah, sebenarnya jalan pikirmu itu gimana sih? Asal kau tahu, Centuries stone merupakan batu magis berharga, dan butuh lebih dari sekedar keberuntungan untuk bisa memperolehnya. Jadi... jangan seenaknya tunjukan barang bagus pada orang lain tanpa tahu nilainya!” tukasku sewot sambil menunjuk-nujuk wajah Erza.


Sekilas perubahan ekspresi Erza dapat kusadari, tanpa tahu maksudnya. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman.


Bukan senyum tulus ataupun lembut, lebih terlihat seperti menyembunyikan arti tersirat di dalamnya.


“Oke, tidak usah panjang lebar lagi. Tahukah alasan aku memakai centuries stone sebagai dasarnya?”


“Unn... tidak. Kenapa memang?”


Karena aku sendiri tidak tahu, jadi hanya dapat menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


Setelah itu, dia hanya membuat isyarat kecil untuk mengikutinya menggunakan lirikan mata. Mengikuti dibelakangnya, berjalan meninggalkan core dan mendekati sebuah tabung kaca yang juga di tempatkan di ruangan ini.


“Inilah jawabannya. Batu magis yang setara atau lebih tinggi dari centuries stone lah satu-satunya yang dapat menghasilkan ini.” katanya sambil mengetuk tabung kaca dengan punggung tangannya.


Karena penasaran, kudekatkan wajahku pada sisi samping tabung kaca. Ketika kulihat sesuatu yang ada dalam tabung kaca, tampak mirip seperti air, namun menghasilkan kilauan warna yang misterius, sedikit biru keunguan.


Kurasa ini sama seperti ramuan sihir, atau... mana potion? Mungkinkah...


“Sepertinya kau sudah memiliki dugaan, dan aku bisa mengatakan kalau dugaanmu itu benar.”


Menyadari apa yang kupikirkan, Erza berbicara membenarkan pemikiranku walau tidak kuungkapkan. Dia yang sejauh ini lebih sering berekspresi dingin dan datar, tersenyum dengan mudahnya. Mengabaikanku yang berpikir keras dalam rasa penasaraku. Dia tidak berupaya segera menjelaskannya padaku.


Dasar Pria ini!! Dia benar-benar senang bermain dengan kebingunganku! Umpatku dalam hati.


Rasa ingin tahuku semakin besar, alangkah baiknya langsung kutanyakan pada orangnya. Begitulah pikirku


“Ini ramuan sihir yang sama dengan botol potion darimu sebelumnya, kan? Kulihat ini bukan potion biasa, ya?” tanyaku langsung. Aku tidak mau dibuat lebih penasaran.


Potion yang diberikan Erza merupakan salah satu alasan terbesar bagiku, sampai rela memberikan kesetiaanku padanya. Bagaimana tidak? Dengan ramuan di dalamnya, aku bisa mendapatkan energi kehidupan yang sangat besar tanpa perlu mengambilnya dari orang lain. Inilah kali pertama aku mengetahui potion semacam ini.

__ADS_1


Bagiku yang seorang succubus, ini sangat berharga, bahkan lebih berharga dari potion legendaris Phoenix's Tear, yang katanya bisa menyembuhkan berbagai penyakit, luka, dan memperpanjang umur itu.


“Pernah dengan tentang alur nadi naga?”


Meski banyak pertanyaan di kepalaku, pertanyaan baru yang diberikan Erza membuyarkan semuanya. Karena dia baru membuka topik pembicaraan lain, aku jadi dibuatnya kelabakan.


Alur nadi naga? Biarpun aku yakin pernah mendengarnya, butuh waktu untuk memberi jawaban, dan itupun setelah aku mengulangi kalimatnya di kepalaku berkali-kali.


“Seingatku itu merupakan sumber daya sihir yang terakumulasi dan mengalir jauh di bawah tanah, bukan? Aku tidak tahu itu benar atau tidak. Biarpun benar, aku penasaran berapa banyak yang terlibat untuk mengumpulkan sumber mana sebanyak itu, meski sampai sekarang belum pernah ditemukan bukti penemuannya. ”


“Sudah kuduga, kelihatannya ras iblis juga tidak mengetahuinya. Tidak, lebih tepatnya mereka juga sudah lupa dengan hal ini.”


Erza yang tersenyum samar setelah aku mendengar ucapannya, membuatku terdiam. Air mukanya tenang, namun memberiku gejolak yang sulit diungkapkan.


“Apa menurutmu alur nadi naga ada karena campur tangan seseorang? Jika itu yang kau pahami, maka itu salah besar.” tambanya sambil mengarahkan jari telunjuk kepadaku.


“Bukankah memang begitu harusnya? Kalau tidak, kenapa mana dalam jumlah besar terhimpun di tanah begitu saja? Mana ialah sumber daya yang dihasilkan mahkluk hidup, bagaimana bisa—”


“Tidak, pengetahuanmu salah. Itu yang kukatakan.” sahut Erza memotong kata-kataku. “Tidak kusangka, informasi dan catatan soal alur nadi naga atau arus naga masih ada. Tapi bagaimana bisa orang-orang melupakan asal usulnya?”


Berbagai kalimat masuk kepalaku dan keluar begitu saja. Pikiranku tidak bisa mengerti semua perkataannya. Erza bahkan menyebutkan kalau pengetahuanku salah. Lalu, apa yang benar?


Sebelum aku sempat bertanya, Erza mendahuluiku untuk berbicara.


“Baiklah kalau begitu... akan kuberikan pelajaran berharga. Apa sebenarnya mana dan kehidupan itu...”


“Menurut pengetahuan umum, mana adalah sumber energi magis yang dihasilkan oleh mahluk hidup. Itu benar tapi juga salah secara bersamaan. Bagaimana kalau misalnya mana adalah bentuk energi yang harus dibuang tubuh dan berasal dari jenis energi yang lebih murni?”


“Tu-Tunggu! Itu tidak masuk akal, mana merupakan energi yang dibutuhkan untuk menstabilkan kehidupan, bahkan tumbuhan pun menghasilkan mana.”


Jadi kenapa tubuh harus membuag mana jika itu dibutuhkan? Setahuku mahkluk hidup akan mati jika mana ditubuhnya kering.


Penjelasan Erza tidak sesuai yang kupelajari, hingga aku membantahnya tanpa berpikir dua kali. Bagiku tidak ada kebohongan dari kata-katanya, namun aku tidak mau menelan mentah ucapan Erza tanpa mengerti maksudnya. Begitulah caraku belajar sejauh ini.


“Bagus, aku tidak ingin kau menerima penjelasanku begitu saja. Jadi kuberi kau pertanyaan. Apa yang menyusun kehidupan ini?” ujar Erza bertanya sekali lagi.


“Enn. Kehidupan disusun oleh Raga, Jiwa, dan Mana, bukan?”


Aneh... dimataku mimik wajahnya tidak berubah, tapi aku bisa mengetahui perasaan senang Erza dari pembicaraan ini.


“Jika yang kita bicarakan adalah mahkluk bertubuh fisik atau Materians, jawaban itu bisa benar. Namun yang kubicarakan adalah kehidupan di seluruh dunia dan mahluk-mahluk yang tinggal di dalamnya.”


“Entahlah... apa itu?” Semakin lama, aku semakin tidak mengerti perkataannya. Karena itu, aku hanya menggeleng pasrah.


“Jawabannya adalah Aether.” ucapnya singkat, namun jelas.

__ADS_1


Aku belum mendengar soal Aether sebelumnya? Jadi hanya bisa menatap bingung pada wajah tenang miliknya. Tapi karena tidak ingin membuatku lebih bingung, Erza segera menjelaskan itu.


“Keberadaan yang lebih unggul dan lebih murni dari mana. Partikel massa dari energi kehidupan yang menyusun dunia ini. Baik mahkluk hidup maupun benda mati, semuanya tersusun oleh Aether. Dan aether ini ada pada setiap sudut dunia termasuk di udara dan tanah.”


“Maksudnya, dengan kata lain itu adalah sumber energi yang membentuk setiap unsur di dunia, dan keberadaan mana adalah hasil tidak langsung dari Aether ini?” Begitu Erza selesai menutup mulut, aku mencoba menafsirkan tentang Aether menurut pemahamanku sendiri.


Selanjutnya aku bisa melihat Erza mengangguk dengan puas.


“Kalau begitu... Alur nadi naga adalah arus energi berukuran raksasa yang tidur di dalam tanah. Aku mengerti sekarang! Alasan orang-orang tidak menemukannya adalah karena mereka tidak tahu seperti apa Aether itu.” tambahku.


“Pemikiranmu yang cepat membuatku senang. Itu artinya tidak sia-sia memanggilmu.” tatapannya menjadi lembut ketika menatapku. Aku tidak mengira Erza akan memujiku.


“Jadi, apa hubungannya dengan ini?”


Masih ada yang belum kumengerti, jadi kuberikan dia pertanyaan lagi sambil menunjuk tabung kaca di dekat kami. Lebih tepatnya, menunjuk isi yang ada di dalam tabung kaca.


Pertanyaanku itu dibalasnya dengan hembusan nafas kecil, sebelum akhirnya memberiku sebuah jawaban.


“Ini adalah ekstraksi dari Aether yang berasal dari arus naga, dan aku sudah mengkonversikan dalam bentuk ramuan menggunakan inti dungeon sebagai perantaranya.”


Saat kuketahui asal-usul dari potion tersebut, aku langsung menempelkan wajahku ke tabung kaca untuk mengamati kandungan di dalamnya dengan sungguh-sungguh.


Jadi ini adalah Aether? Aku memang belum mengenal Aether sampai Erza menjelaskannya padaku, tapi mengingat dia bisa mengekstrak arus naga dan menjadikannya sebagai cairan, ini... tunggu... mengekstrak dari arus naga...?


Eh?! Arus naga atau alur nadi naga, dia bilang?!


Aku kaget karena terlambat menyadarinya, seketika aku langsung menolehkan kepala pada Erza.


“Ja-Jadi kamu sudah menemukan di mana arus naga itu?!” ucapku mendesaknya.


“Kenapa baru kau tanyakan sekarang? Bukan hanya menemukannya, tapi aku juga sudah membangun dungeon ini di tengah-tengah arus naga.” ungkapnya dengan cuek. Bahkan aku sendiri sudah tidak bisa membedakan mana serius dan mana bercanda.


“Kita berada di tengah-tengahnya! Dan kau menemukan itu! Jadi ada cara untuk mengetahui keberadaan Aether?!”


Saking penasarannya aku menghujaninya dengan pertanyaan bertubi-tubi. Melihat aku yang seperti itu, membuat Erza merasa kebingungan menurut pengamatanku. Walau dengan hebatnya dia menyembunyikan semua itu dengan ketenangannya, sebelum akhirnya dia menepuk pelan kepalaku.


“Tenanglah. Aku tidak tahu apa ada orang lain yang bisa merasakan aether, tapi sebelum tahu tentang aether aku juga tidak merasakan keberadaannya.”


“Benarkah...”


“Iya. Masih banyak yang belum kumengerti. Entah itu alasan kenapa orang-orang melupakan keberadaan aether, atau berbagai hal yang masih ambigu di dunia ini. Jadi disaat kau membantu pekerjaanku di dungeon, aku juga ingin dirimu membantu dalam penelitianku. Sehingga jika suatu saat aku tidak bisa melanjutkan penelitianku, aku mau kau yang melanjutkannya.” kata-kata yang kudengar dari mulut Erza mengandung kesedihan dibaliknya. Untuk sekarang aku tidak mengerti sebabnya.


Namun, menyadari masih begitu banyak hal yang belum kuketahui saat ini menjadikanku amat bersemangat. Hingga tidak kusadari aku tertawa kecil mengingatnya.


“Hehehe.”

__ADS_1


Dihatiku aku merasa amat bersyukur memilih Erza sebagai tuanku. Seperti aku yang bersemangat memikirkan berbagai hal, aku juga tidak sadar bahwa sebuah senyuman beribu arti telah mekar di wajahnya.


......................


__ADS_2