
Dalam waktu singkat tubuh Grisha sudah dibungkus oleh cahaya biru milik Aqua. Cahaya itu melapisi tubuh Grisha seperti kepompong.
Karena tidak mau mengganggu Aqua, aku mengamati prosesnya dengan tenang. Biarpun banyak pertanyaan yang ingin segera kutanyakan, tapi aku lebih memilih menunggu dengan sabar. Kondisi Grisha juga sama pentingnya menurutku.
Setelah lewat sepuluh menit, pekerjaan Aqua berakhir. Membayangkan apa yang baru lakukan olehnya, sedikit banyak aku tahu kalau dia sedang kesulitan. Air mukanya tampak seperti orang yang baru diperas habis energinya.
“...sudah kuduga. ...essensi dunia sebanyak itu... masih belum ...cukup.” Gumam Aqua terbata-bata.
Esensi Dunia? Apa maksudnya cahaya yang bersinar di tubuhnya? Kalau tebakanku tidak salah, harusnya benda ini bisa berfungsi.
Kemudian aku mendekati Aqua yang masih sibuk mengurus Grisha, lalu menyerahkan botol potion yang baru kukeluarkan dari gudang dimensi.
Terdapat tanda tanya dalam ekspresinya, ketika dia menerima dua botol potion yang kuberikan. Dengan setengah curiga bertanya kepadaku.
.
“Ini... benda apa?”
“Hanya ramuan biasa...” jawabku sekenanya. Supaya Aqua bisa menilainya sendiri, aku sengaja membuat jawaban setengah-setengah. Beginilah caraku memperoleh informasi tanpa harus bertanya.
“Potion? Kau ingin aku memberikan ini pada Grisha?” tanyanya heran sambil membuka botol potion. Meski tidak terlihat ragu, dia masih mengamati ramuan potion di tangannya dengan hati-hati. “Potion sihir asal-asalan tidak akan berguna, aku akan mengujinya.” tambahnya sebelum meminum habis ramuan potion.
Tiba-tiba terjadi perubahan yang belum pernah kulihat, begitu dia meneguk habis potion pemberianku. Cahaya di tubuhnya menyala lebih terang, hingga membuat dia sendiri terbelak.
“Ehhh?!”
Padahal aku sangat yakin kalau yang kuberikan adalah Aether potion. Namun, reaksi yang terjadi padanya diluar perkiraanku.
Bagaimana bisa? Apa karena dia merupakan ras Spirits (Roh)? Batinku dalam hati.
“Hei-hei!! Kenapa esenssi dunia-nya bisa sebanyak ini?!”
Aqua berteriak bingung dan memandangku meminta penjelasan. Karena juga tidak tahu apa yang terjadi, aku bahkan bingung harus menanggapinya.
“Enn...Tunggu dulu, tenanglah. Kita bisa bicarakan ini nanti, ada yang lebih penting yang harus kau beritahu padaku. Apa bisa dipakai untuk menolong Grisha?”
Biarpun aku ingin tahu, tapi aku sudah berjanji pada Filo. Menyelamatkan ibunya adalah prioritasku sekarang. Namun siapa sangka, Aqua kembali tenang setelah nama Grisha kusebutkan.
Oh, aku mengerti sekarang.
Grisha adalah sosok yang penting baginya. Wajar saja sikapnya jauh berbeda jika berhubungan dengan Grisha. Aqua pasti benar-benar mencintainya.
Sebagai informasi, rasa cinta yang dimiliki Aqua sangat berbeda dengan cinta lawan jenis. Spirits sepertinya juga tidak punya jenis kelamin. Karena cinta yang diberikan oleh spirits adalah ketulusan dan kesetiaan.
“Maaf, aku berlebihan lagi. Bisa-bisanya aku terbawa suasana saat orang terpenting bagiku sedang seperti ini... Aku senang kau bersedia memedulikan Grisha. Terima kasih.” Ucapannya terdengar pilu, ketika menatap lembut Grisha yang masih terpejam.
__ADS_1
“Oh, aku lupa... Grisha akan baik-baik saja jika kita punya esenssi dunia sebanyak ini. Aku berhutang padamu, karena memberiku dua barang berharga ini.” sambung Aqua sambil memainkan botol potion yang tersisa dengan senyuman riang.
Suasana hatinya yang berubah-ubah cukup merepotkan menurutuku. Akan tetapi, terasa aneh karena tidak menggangguku sama sekali.
“Sebentar murung, sebentar senang. Apa umumnya semua roh itu sepertimu?” tanyaku datar. Karena terlalu tegang, aku hanya bisa berupaya dengan pertanyaan tersebut untuk mencairkan suasana.
“Aku anggap itu sebagai pujian...” Dia tersenyum sekali sebelum fokusnya terambil alih sepenuhnya pada Grisha.
Setelah berjuang keras dan hampir putus asa, dia pada akhirnya menemukan titik terang hingga membuatnya bisa berekspresi seperti itu.
Kupikir tidak ada lagi orang sepertinya di dunia yang kacau ini.
Ungkapanku dalam hati mengingatkan banyak kenangan di masa lalu.
Kemudian, Aqua memfokuskan dirinya sekali lagi pada penyetabilan mana milik Grisha. Kali ini dia tampak lebih yakin dari sebelumnya. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, aku mengambil tempat dan berdiri menyadarkan tubuhku pada dinding kamar.
Setelah diamati lagi, cahaya biru tersebut memang terasa familiar. Jika benar Esenssi dunia adalah hal yang serupa dengan Aether, mungkin saja dia bisa menjelaskannya padaku nanti.
Itulah yang terpikirkan olehku ketika menyaksikan proses penyetabilan mana yang dilakukan Grisha. Tidak terasa sudah lewat setengah jam. Potion yang tersisa sudah dipakai oleh Aqua dalam prosesnya. Akhirnya, dia menyelesaikan tugasnya ketika aku menungguinya dengan tenang. Dia tersenyum lega saat berbalik ke arahku.
Aku juga ikut lega setelah semua ini bisa diselesaikan dengan mudah. Mengingat sebelumnya tidak terlintas sama sekali cara untuk menolongnya, sebelumnya kupikir akan lebih sulit menolong Grisha.
Dengan begini, Filo tidak perlu cemas lagi. Entah kenapa, setelah berjanji untuk menolong ibunya, aku merasa tidak ingin membuatnya kecewa.
“Mananya telah stabil sekarang, jadi tidak perlu kahwatir akan meluap lagi dalam waktu dekat.” Itulah kalimat pertama yang terucap setelah mengatasi masalah Grisha.
Air muka ibu Filo juga tampak lebih hidup dibanding sebelumnya. Karena merasa situasinya sudah lebih tenang, aku langsung ingin bertanya akan hal yang membuatku penasaran.
“Kalau tidak salah, kau menyebut potion pemberianku sebagai Esenssi dunia, kan? Apa sebenarnya itu?”
Dia yang masih memandangi Grisha, buru-buru menoleh kepadaku begitu mendengar pertanyaanku. Ekspresinya menjadi campur aduk, antara bingung dan juga kaget.
“Hah?! Bukankah kau memberikannya karena sudah tahu hal itu?” teriaknya keheranan.
Reaksi semacam itu bisa kumengerti, jadi akan kujelaskan dengan mudah dan sederhana.
“Karena, aku sendiri menyebut ramuan tersebut sebagai Aether Potion. Tentu saja yang terkandung disana adalah Aether.” Jelasku. Aqua termenung mengolah penjelasan dariku. “Saat tubuhmu memancarkan cahaya kebiruan sebelumnya, aku bisa merasakan aliran aether darimu. Energi paling murni yang menyusun berbagai konsep dunia dan kehidupan, begitulah Aether menurutku.” tambahku.
Aqua mengangguk terhadap apa yang dia pikirkan. Wajahku diamatinya kemudian merenung secara bergantian, hal itu dilakukan beberapa kali. Lalu, sebuah kesimpulan dia dapatkan.
“Dari penjelasanmu, kurasa aether memang mirip dengan esenssi dunia. Kalau memang begitu, kenapa aku belum pernah melihat orang yang menggunakan aether?” katanya dengan wajah serius.
“Karena tidak ada yang mengetahui tentang aether di zaman ini. Aku sendiri tidak tahu awalnya, sampai kutemukan catatan sejarah yang berusia cukup tua.”
“Itu jadi lebih masuk akal, bisa dibilang dunia ini telah melupakannya dibanding tidak mengetahuinya. Entahlah...”
__ADS_1
Kedengaran jika kata-katanya sedikit ragu. Dia yang bisa membuat opini dari penejelasanku, bisa kuanggap sangat hebat. Bagi Roh tingkat tinggi sepertinya, kemungkinan dia telah hidup melebihi usia rata-rata High Elf yang bisa mencapai 700-800 tahun.
“Apa kau tidak pernah mendengar Aether di masa lalu?”
Begitu mendengar pertanyaanku, ekspresinya seketika berubah. Seakan, dia baru saja melupakan hal penting. Sambil menciptakan gestur, memukul tangan kanan yang terkepal ke tangan kiri.
“Ah, kenapa bisa lupa! 'Orang itu' juga menyebut aether sebelumnya. Dan seingatku beberapa pahlawan dimasa lalu juga menyebut esenssi dunia dengan nama yang berbeda. Ahahaha, karena sudah lama tidak keluar dari alam roh, aku sampai melupakan banyak hal!”
Begitulah katanya sambil menertawai dirinya sendiri. Aku penasaran dengan 'orang itu', yang dia singgung sebelumnya.
Tapi aku lebih penasaran dengan Grisha. Jadi kutanyakan langsung, bagaimana menurutnya sebagai Roh tingkat tinggi tentang wanita itu.
“Setahuku Grisha mengalami kegilaan mana, tapi perubahan yang terjadi pada tubuhnya tidak pernah kudengar pada pengidap kegilaan mana yang lain. Apa yang terjadi?”
“Alasannya sederhana, kan? Karena meraka telah mati lebih dulu sebelum efeknya terlihat, dan mereka yang telah sepenuhnya berubah wujud, tidak akan diakui sebagai orang yang sama.” jawaban yang terkesan santai membuatku berpikir keras.
Arti ucapan Aqua benar-benar tidak bisa kupandang sebelah mata. Dalam bayanganku, apa jadinya jika tubuh Grisha berubah sepenuhnya? Apa dia akan menyerupai demonflok? Apa Filo nantinya tidak akan mengenali wajah ibunya lagi?
Apa, dan bagaimana.... begitu banyak pertanyaan yang melintasi pikiranku, mengingatkanku pada kalimat yang pernah kubaca dalam sebuah buku.
Buku yang pernah kutemukan saat diriku berhasil masuk ke makam Raja Iblis pertama sekaligus penguasa pertama dari teritori kegelapan. Pada buku tersebut, banyak sekali menyebutkan tentang kegilaan mana. Namun, ada satu kalimat yang paling kuingat, karena tidak memahami maksudnya saat itu.
Kalimat di buku itu berbunyi, ‘Orang yang tidak bisa bertahan akan mati terhadap kegilaan pada tubuh dan jiwanya, dan orang yang selamat akan terlahir kembali.’
Jika hal ini sesuai dengan yang dijelaskan Aqua, maka aku bisa menarik satu kesimpulan.
Mungkin saja dimasa lalu, para demonflok terlahir dari manusia yang bisa bertahan karena kegilaan mana. Kalau benar begitu, apa yang bisa mebuat mana seseorang lepas kendali menjadi kegilaan mana?
Tenggelam dalam berbagai opini yang tidak bisa kutemukan penjelasannya, mebuat lupa terhadap segala sesuatu di sekitarku.
Bahkan aku lupa kalau sedang berbicara dengan Aqua. Sampai dia menampar keras pundakku. Kesadaranku kembali ketika pandanganku menemukan Aqua yang tampak sedikit emosi.
“Kau ini benar-benar ya... haah, sudah lah! Padahal aku masih ingin berbicara lebih banyak denganmu, tapi aku belum boleh terlihat oleh Grisha.” ujarnya kesal. Melihatku yang masih bingung dan tidak tahu untuk berkata apa, dia berbicara tanpa menginginkan tanggapanku.
Kemudian tanpa kuminta, dia mengajarkan padaku cara untuk memulihkan kondisi orang yang mengalami kegilaan mana. Karena itu pengetahuan yang berguna, aku mendengarnya dengan seksama.
“Baiklah, hanya itu yang bisa kukatakan. Kalau begitu, bisa tolong lindungi Grisha jika aku tidak bisa muncul? Harusnya kau senang, tahu! Itu merupakan kehormatan besar karena dirimu dimintai tolong oleh Roh tingkat tinggi sepertiku.” ucapnya panjang lebar.
Kata-kata Aqua memang tidak berlebihan. Roh tingkat tinggi sepertinya memang jarang dipanggil ke alam materians, karena membutuhkan kualifikasi yang cukup dan kapasitas yang layak. Jadi fakta tersebut melahirkan satu pertanyaan baru lagi.
“Ada satu lagi... apa orang yang memanggilmu adalah Grisha?”
“Ah, bukan. Grisha belum mampu melakukan itu. Orang lain yang memanggilku, dan orang itu juga yang bertanggung jawab memasukanku ke dalam kalung permata. Dia orang yang sangat aneh, semoga kau tidak perlu bertemu dengannya.” jawab Aqua dengan mudahnya.
Tiba-tiba, tubuh Aqua perlahan mulai menghilang. Dia berubah menjadi butiran cahaya tak terhitung jumlahnya. Dan sebelum benar-benar menghilang, dia berkata dengan senyuman jahil di wajahnya.
__ADS_1
“Gantikan aku untuk menerima penghargaan setelah menolong Grisha, Dark's Lord Erza~”
Suaranya menghilang bersama arus cahaya yang terlihat bagaikan ombak yang masuk ke kalung permata di meja. Diriku saat ini tidak pernah mengira bahwa ada arti lain di balik kata-kata Aqua.