
Sebenarnya mana adalah hasil dari penyeimbangan aether yang tidak digunakan oleh tubuh. Masing-masing individu memiliki kapasitasnya sendiri untuk mengelola Aether, sehingga mana yang dihasilkan akan berbeda tergantung orangnya.
Namun karena tidak ada yang menyadari keberadaan Aether, semua orang beranggapan kalau mana adalah anugerah yang diberikan semenjak lahir. Padahal terdapat kasus di luar sana yang membuat mana menjadi berbahaya bagi seseorang, dikarenakan meluapnya mana sehingga tubuh tidak sanggup menahannya. Hingga pada akhirnya tubuh akan hancur setelah mana lepas kendali, dan tubuh gagal untuk membuang mana yang terus meluap.
Kasus dimana orang kehilangan kendali karena Mana memang sangat jarang, tapi bukan berarti tidak pernah terjadi. Bahkan dalam catatan kuno kasus orang-orang yang mana-nya hilang kendali menjadi sebuah wabah di zaman dulu. Kalau tidak salah, mereka menyebutnya sebagai Kegilaan Mana.
“Tidak diragukan lagi. Dilihat berapa kalipun, itu adalah gejala kegilaan mana.” gumamku saat menatap ibunya yang tidak mau melepas Filo dari pelukan.
Karena sengaja berbicara pelan, tidak ada orang di ruangan yang mendengar perkataanku, selain Sella tentu saja, karena posisinya memang berdiri tepat di dekatku. Itu juga alasan mengapa hanya dia yang berubah ekspresinya.
“Ap... Apa yang anda inginkan... disini?” tanya pemilik rambut hitam kecoklatan itu. Dari telingaku ucapannya terdengar seperti tertahan di tenggorokan. Wajahnya pucat pasi saat memandang diriku, seakan bingung dengan tindakan yang harus diperbuat.
Bahkan waktu aku berjalan mendekat, raut wajahnya menjadi lebih putus asa. Tanpa sadar dia memberikan tenaga yang lebih kuat saat memeluk tubuh Filo, hingga membuat ekspresi gadis kecil itu kesakitan. Filo sendiri tidak mengerti dengan sikap ibunya, tapi tidak berani untuk bertanya.
Lalu, saat pandangan kami sejajar waktu aku berjongkok di hadapannya. Sebuah pertanyaan kuajukan ketika tatapan kami bertemu pada jarak yang begitu dekat.
“Mungkinkah kutukan itu sampai membuatmu kesulitan bicara?”
Tidak ada jawaban. Malahan pupil mata keemasan miliknya tampak mengecil, dan mulutnya yang bergetar hanya bergerak tidak mengeluarkan bunyi sama sekali.
Menggantikan sang ibu, Filo yang beranggapan bahwa diriku sedang mengancam ibunya, memegangi bahuku dan berkata.
“Paman, kenapa berbuat jahat kepada ibu? Harusnya paman mengambil kutukan ibu, kan?!”
Sambil menggoyangkan bahuku dengan tenaga yang tidak seberapa menurutku, Filo merengek kepadaku. Karena tahu gadis kecil itu hanya salah paham, aku berniat menenangkannya dengan mengulurkan tanganku untuk mengusap kepalanya.
Namun belum sampai menyentuh kepala Filo, tanganku telah ditepis lebih dulu oleh ibunya dengan kuat.
__ADS_1
Kelihatannya dia berpikir aku ingin menyakiti putrinya.
Meski dari awal dia ketakutan terhadapku, tapi insting sebagai seorang ibu masih sanggup membuatnya bertindak cepat untuk mencegahku menyentuh putrinya.
“...Grisha!?”
“Ibu?”
Bukan cuma aku, sepertinya Dorran dan Filo juga sama terkejutnya dengan hal itu.
Setelahnya, karena tahu kalau Dorran sepertinya ingin mengatakan sesuatu, aku mengangkat tanganku untuk memintanya agar tidak berbicara. Pria tua itu mengangguk singkat begitu memahami maksudku.
Sekarang ini, aku mengerti jika wanita yang dipanggil Grisha oleh kepala desa benar-benar menganggapku sebagai musuh. Perasaan takut padaku telah sepenuhnya digantikan oleh sikap bermusuhan yang amat kuat.
Matanya melotot seakan ingin menelanku detik itu juga. Ketika pandangan kami kubiarkan saling bertemu sekali lagi, dia mulai berteriak kepadaku dengan suara tinggi.
“Meskipun kamu raja iblis atau raja kegelapan, Filo tidak akan kuserahkan begitu saja kepadamu!”
Aku bertanya dalam hati pada diriku sendiri, saat Grisha berteriak seperti itu.
“Kurasa kamu salah paham.” Kataku datar.
“Tidak, kamu pasti salah satu penipu itu!” sahut Grisha cepat. Dia tampak berpegang teguh pada pemikirannya. Rasanya aku semakin putus asa untuk menolongnya.
Menyaksikan ibunya yang bersikap seperti itu membuat wajah manis Filo menjadi gusar. Dia yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa mencoba untuk menenangkan ibunya.
“Tu- Paman hanya ingin menolong ibu... kenapa ibu jadi aneh begini?” tanya gadis yang mempunyai bentuk mata sama itu dengan suara parau.
__ADS_1
“Jangan khawatir, Filo. Ibu pasti akan menjagamu...” jawab Grisha dengan senyuman lembut kepada putrinya. Bahkan dalam kondisi semacam ini, dia masih berusah mencurahkan kasih sayang seorang ibu pada Filo.
Sayang sekali kelembutan hati yang ditunjukan malah berefek terbalik pada Filo. Wajah kecil gadis itu sekarang terlihat putus asa karena kehabisan kalimat untuk membujuk ibunya. Maka dari itu, Filo mengalihkan wajahnya sebelum akhirnya meminta sekali lagi padaku.
“Paman... tolong jangan marah pada ibu, dia hanya bersikap aneh hari ini.”
Mendengar langsung perkataan tadi darinya, kurang lebih aku paham kalau Grisha sebelumnya tidak pernah bersikap berlebihan pada orang lain.
Sekarang ini, aku hanya bisa tersenyum kecil padanya dan memutuskan untuk mengakhiri situasi ini dengan caraku.
“Filo, jangan mau terti—”
“Tidur!”
Beruntungnya, posisiku telah berada cukup dekat dari mereka. Jadinya aku bisa dengan cepat menanamkan sugesti sihir untuk menghilangkan kesadarannya.
Grisha seketika tidur saat aku menyentuh dahinya dengan kedua jari, telunjuk dan tengah ketika dia ingin berbicara. Aku menyambut dengan tangan kananku pada saat tubuhnya rubuh kehilangan tenaga.
Bisa dilihat jika Filo tampak cemas melihat ibunya tiba-tiba jatuh. Sebisa mungkin, aku menjelaskan padanya kalau ini semua adalah sihir milikku.
“'Jangan khawatir, Filo. Ibumu akan baik-baik saja.” begitu mendengar perkataanku, dia mengangguk dengan patuh tanpa bertanya lagi. “Jadi... bisa tolong antar aku ke kamar ibumu, agar aku bisa memeriksanya.” tambahku.
Kemudian aku membopong tubuh Grisha untuk membawanya ke tempat yang lebih nyaman. Dipandu oleh Filo, aku berjalan memasuki sebuah ruangan yang harusnya adalah kamar ibunya. Kepala desa yang terlihat cemas, diikuti oleh Sella, berjalan di belakangku.
Perlahan aku menurunkan Grisha ke kasurnya. Bersama putrinya aku berdiri di samping tempat tidur. Filo menatap sendu ibunya yang tertidur sambil menarik pakaianku.
“Paman... bagaimana dengan ibu...?” tanya gadis itu cemas. Jadi, kutepuk kepalanya dengan lembut untuk menenangkan anak itu sekali lagi.
__ADS_1
Selanjutnya, aku memiringkan tubuh Grisha untuk melihat punggungnya. Lalu... tanpa berpikir panjang lagi, aku menarik bagian belakang pakaiannya sampai robek, hingga memperlihatkan punggung telanjangnya.
Semua orang awalnya kaget dengan tindakanku yang tak terduga. Namun, mendapati apa yang disembunyikan Grisha di punggungnya... mereka tidak sanggup untuk berkomentar.