Fate X Dungeon

Fate X Dungeon
Ch#14 - Duri kehidupan


__ADS_3

Selain Grisha yang masih tertidur, hanya aku yang berada dalam ruangan. Setelah ditinggalkan Aqua, ruangan menjadi hening.


Di sisi tempat tidur aku berdiri, menatap dalam diam wanita yang terbaring di hadapanku. Rambut hitamn yang mendekati coklat terurai lembut di atas bantal, menciptakan kontras dengan kulitnya yang pucat. Berbeda jauh saat pertama kali aku mengangkatnya ke tempat tidur, wajahnya kini tampak lebih tenang. Melihat kondisi wanita itu, aku tersadar jika dia terlihat begitu rentan, seakan dunianya telah berhenti berputar.


Saat aku masih menanti dirinya membuka mata, suara wanita yang sudah kukenal terdengar di kepalaku. Sella baru saja menyampaikan informasi baru kepadaku. Sendirian di dalam ruangan, kutanggapi setiap informasi dengan sebuah anggukan.


Kontrak tuan dan bawahan membuat kami dapat berkomunikasi tanpa terikat jarak maupun waktu. Informasi tentang Grisha yang diperoleh dari putrinya Filo, dan Kepala desa-Dorran, diteruskan langsung padaku.


Ibu satu anak, berusia 24 tahun. Bukan penduduk asli desa Arunn.


Katanya Grisha datang ke desa ini sekitar 5 tahun lalu. Dia mengalami amnesia saat ditemukan pertama kali oleh putra kepala desa. Rosgard, pria yang menyelamatkannya kebetulan hidup di luar desa, karena profesinya sebagai petualang. Selain tidak ingat tempat asalnya, dia juga lupa akan identitasnya. Satu hal yang dia ingat, yaitu namanya—Grisha.


Menemukan Grisha dalam kondisi terluka, Rosgard membawanya untuk dipriksakan ke dokter. Saat itulah dokter menemukan kondisinya yang sedang hamil. Karena kasihan, Rosgard bersikeras untuk merawat wanita yang dikenal belum lama itu. Setidaknya samapai nanti, anaknya lahir.


Tidak lama kemudian, lahirlah Filo dengan selamat. Wanita yang harus berjuang membesarkan Filo sebagai orang tua tunggal, akhirnya berencana mencari tempat tinggal dan juga pekerjaan. Alasannya sederhana, karena dia tidak ingin dikasihani Rosgard lagi.


Namun hidup di kota sebagai orang tua tunggal sangat sulit, apalagi dia seorang wanita. Rosgard yang masih tidak tega, memberikan saran untuk ikut dengannya ke desa Arunn. Sebagai putra kepala desa, dia tahu, wanita itu mungkin bisa mendapat pinjaman rumah dari ayahnya. Melihat keinginan tulusnya, Grisha menyerah dan setuju menerima usulan lelaki itu.


Singkat cerita, Grisha mulai tinggal dan berbaur dengan penduduk. Bekerja sebagai pelayan di kedai makan sekaligus penginapan desa, perlahan membuat kehidupannya semakin stabil. Rosgard yang telah pensiun sebagai petualang, juga mengawasi ibu-anak itu sampai mereka bisa hidup tanpa kekhawatiran.


Meski awalnya bersikukuh hanya untuk mengawasi, namun lambat laun perasaan cinta mulai tumbu diantara keduanya. Sebagai lelaki yang ingin melindungi wanita yang disayanginya, Rosgard memutuskan untuk melamar Grisha.


Setelah menikah, keduanya hidup bersama dan saling mendukung untuk membesarkan Filo. Dari pernikahan yang baru, Grisha akhirnya mengandung anak kedua. Dari situlah, dimulai nasib buruk yang akan menimpanya. Kehidupan damai keluarga itu, perlahan mulai diterjang berbagai cobaan.


Dalam kondisi hamil, Grisha masih tetap bekerja agar dapat membantu suaminya. Cobaan pertama datang dari pedagang kaya yang menjadi pelanggan di tempat kerjanya. Pedagang itu tertarik padanya, dan berkali-kali datang untuk mengganggu Grisha yang sedang kerja. Wanita itu bahkan sampai keguguran karena suatu insiden. Kehilangan anak kedua membuatnya jatuh dalam depresi. Tapi berkat dukungan anak dan suaminya, Grisha kembali bangkit, dan berjuang melawan kesedihannya.


Akan tetapi, cobaan silih berganti terus mendatanginya. Pedagang kaya menginginkan Grisha, dan belum ingin menyerah. Dengan memakai siasat licik, dia menjauhkan Rosgard dan hampir memperkosanya. Untunglah, Rosgard yang curiga terhadap pekerjaan yang diberikan padanya, segera kembali untuk mencari isterinya.


Menurut cerita Dorran, waktu itu Rosgard mendengar suara misterius yang menuntun lelaki itu ke tempat isterinya. Diliputi kemarahan dan nafsu membunuh, Pedagang bejat tewas oleh pedang Rosgard ketika menemukan istrinya hampir dinodai.


Beberapa tahun setelahnya, cobaan yang lain kembali hadir bersama berita kematian suaminya. Rosgard yang saat itu harus mengawal sekelompok pedagang menuju ibukota, harus terbunuh oleh serbuan monster dalam perjalanannya.

__ADS_1


Satu per satu cobaan yang datang secara bergantian, membuat kesedihan bersarang dengan kuat dihatinya. Dan hal itu membuat kondisi Grisha semakin buruk.


“Takdir yang menyedihkan...” tanpa sadar gumamku, setelah mendengar pahit-manis kehidupan Grisha. Di sudut hatiku, aku benar-benar bersimpati untuknya. Sebagai orang yang pernah mengalami takdir berat yang serupa, sebuah keinginan kecil untuk menolongnya tumbuh di lubuk hatiku.


Dosa macam apa yang pernah dirimu lakukan dimasa lalu?


Berselang beberapa menit, gadis kecil pemilik rambut hitam kecoklatan yang diturunkan dari ibunya, memasuki kamar dengan buru-buru. Dua orang mengikutinya dari dibelakang.


Filo memang sudah kuminta datang menemui ibunya. Melalui Sella, aku mengatakan jika 'kutukan' pada ibunya telah menghilang.


Dengan nafas tersengal, dipandangi wajah tidur ibu yang menjadi satu-satunya keluarga Filo. Sinar matanya terlihat cemas ketika dia menarik-narik ujung jubahku.


“Paman, kenapa ibu belum bangun!? Kata kakak kerudung, kutukan ibu sudah paman ambil, kan?” tanya Filo penuh rasa khawatir.


Kupegang tangan kecil gadis yang menunggu jawabanku itu, kemudian kutuntun tangannya untuk menggengam tangan ibunya.


“Jangan khawatir, Filo. Paman tidak akan ingkar janji, bahkan jika janji yang kubuat terkesan mustahil, maka akan kupakai segala cara untuk memenuhi janjiku. Jadi... temanilah ibumu, sampai dia membuka matanya.” ujarku lembut kepadanya.


Tidak sampai lima menit, tangan yang digenggam oleh Filo menunjukan sedikit gerakan.


Di ruangan ini, mungkin cuma Filo dan Kepala desa yang terlihat tegang. Namun, aku juga merasakan sedikit perasaan tidak biasa, meski tidak kubiarkan seseorang menyadarinya.


Perlahan Grisha mulai membuka mata. Pandangannya terlihat kabur, dan secara perlahan bergerak mencari sesuatu. Ekspresinya melembut ketika pandangannya berhenti pada gadis kecil yang sedang menggenggam tangannya.


“Filo... maafkan ibu... sepertinya ibu telah membuatmu cemas.” Itulah kalimat pertama yang diucapkan wanita itu, ketika melihat air mata putri semata wayangnya hampir tumpah.


Filo hanya menggelengkan kepala, mendengar perkataan tersebut. Air mata ditahan selama ini tumpah seketika. Emosi yang sulit dijelaskan tergambar dalam isak tangisnya.


“Untunglah, paman bisa menolong ibu...” ucap gadis itu dengan suara serak.


Begitu mendengarnya, ekspresi Grisha menjadi sedikit aneh. Perubahan yang cepat terjadi pada mimik wajahnya, sewaktu matanya menemukan keberadaanku. Tanpa peduli pada kondisinya yang masih lemah, dia bangun dan segera manarik Filo ke delam pelukan. Bukan pelukan hangat, namun pelukan penuh ketakutan akan suatu bahaya.

__ADS_1


Ternyata aku masih dianggap sebagai musuh oleh Grisha. Pandangannya terhadapku masih sama seperti sebelumnya. Aku hanya membalas tatapannya tanpa mengucapkan satu kalimat pun.


“Kamu pasti menginginkan putriku! Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya dariku!!” teriak Grisha kepadaku. Kata-kata yang penuh dengan kebencian.


Setelah mengetahui sedikit tentang masa lalu Grisha, bukannya marah oleh perkataan dan sikap yang diberikan padaku, Aku malah menaruh simpati yang lebih besar kepadanya.


Trauma macam apa yang telah terpancang di hatimu, sampai bisa menaruh kebencian yang begitu besar padaku, yang bahkan belum pernah kamu kenal sebelumnya?


“...Ibu, tolong hentikan... jangan memusuhi paman lagi...” Filo terisak mencoba meredam kemarahan ibunya. Melihat sikap putrinya, Grisha menjadi serba salah, ketika mengetahui putri semata wayangnya membela orang yang harusnya dianggap musuh olehnya.


“...aku tidak tahu jadinya jika tidak ada paman, aku takut kehilangan ibu...”


Kalimat yang terus diucapkan Filo dalam tangis, membuat pertahanan Grisah mulai runtuh. Dia tidak tahu apa yang harus diperbuat, dan hanya bisa memeluk putrinya lebih erat.


Mengetahui ada gadis kecil berusia lima tahun, menangis untuk membelaku. Aku hanya sanggup tertegun.


Sejak awal, aku tidak pernah mengharapkan rasa terima kasih mereka. Bahkan, aku tidak ingat, mengapa aku bersedia menolong. Meski kenyataannya bukan aku yang menolong Grisha, tapi melihat seseorang berdiri di sisiku, membuatku ingat pada perasaan yang telah kulupakan sekian lama.


“Aku tidak peduli pandangan kalian terhadapku, selama kalian tidak menghalangi jalanku, kalian bisa hidup dengan tenang tanpa rasa khawatir.” Kata-kata itu meluncur dari mulutku tanpa memperlihatkan sebuah ekspresi. Bagiku, peran inilah yang paling cocok untukku.


Aku ingin dunia tetap mengenalku sebagai raja kegelapan yang kejam, dingin, dan tak berperasaan.


“...Paman?”


Mengabaikan panggilan Filo, aku berbalik untuk pergi meninggalkan tempat ini. Meski banyak hal yang mengganjal perasaanku, aku lebih memilih untuk meninggalkan tempat ini.


“Urusanku di tempat ini sudah selesai. Aku akan datang kembali saat desa ini telah pulih.”


Setelah berucap begitu kepada Dorran yang tidak tahu harus berbuat apa, aku meninggalkan kamar. Dengan ditemani oleh Sella yang masih tidak ingin berkomentar, aku pergi dari desa.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2