
Kepercayaan Estonians merupakan agama yang menjadikan 12 Pahlawan sebagai panutan, dan merupakan kepercayaan tertua di benua manusia. Negara teokrasi Estodia adalah pusat dari penganut kepercayaan tersebut, yang berada di wilayah barat laut Benua Manusia.
Berbeda dengan Gugusan Pegunungan Ingglis yang terletak di tengah benua, Estodia terletak cukup dekat dengan wilayah kegelapan di utara. Membuatnya menjadi salah satu negara yang berdiri di garda terdepan, dalam menghadapi konflik antara umat manusia dengan bangsa kegelapan.
Sebagai negara yang dipilih oleh Surga untuk menyebarkan kemuliaan dan kasih sayang, mereka dipercaya untuk memegang otoritas tertinggi dalam pengambilan keputusan, terhadap hukum di seluruh negara bagian benua manusia. Hal itu tercantum dalam undang-undang persatuan umat manusia.
Kontribusi besar yang mereka berikan dalam konflik manusia, tidak luput dari andil yang diberikan dari Para Pahlawan. Kerena pengetahuan mereka, Estodia mendirikan dewan kuil untuk mengumpulkan para pembawa benih pahlawan, untuk dibina dan diarahkan menjadi pahlawan yang sesungguhnya.
Menurut ajaran Estonians, ketika seseorang terlahir membawa benih pahlawan, maka orang itu harus menerima takdirnya sebagai pahlawan. Berdiri untuk menolong dunia, dan memberi bantuan terhadap umat manusia. Itu juga alasan, mengapa hanya pahlawan yang mampu memberi perlawanan besar terhadap Raja Iblis, yang merupakan malapetaka umat manusia sesungguhnya.
Osyria merupakan salah satu kota paling ramai dikunjungi, dan merupakan kawasan berdirinya yayasan kepahlawanan di bawah pengawasan dewan kuil. Karena merupakan kota suci terbesar ke-2 di Ketokrasian Estodia, ribuan jemaat selalu terlihat keluar masuk pintu kota setiap harinya.
Kawasan 12 Pahlawan merupakan salah satu wilayah paling terkenal di Osyria, dan menjadi lokasi disimpannya bukti sejarah Epic 12 Pahlawan. Terdiri dari Kuil utama, dan 12 Kuil Cabang yang mewakili seluruh anggota 12 Pahlawan.
Meski ramai di siang hari, komplek kuil 12 Pahlawan juga akan sunyi pada malam hari. Seteah melewati jam malam, Bulan bertengger dengan gagahnya di langit malam. Biarawan dan biarawati yang mengurus kuil, juga sudah terlelap di kamarnya masing-masing. Hanya sedikit orang yang masih sibuk di kuil sampai waktu itu, dan salah satunya ialah orang berjubah misterius yang baru melangkah memasuki aula kuil. Sosoknya tidak bisa terlihat karena jubah yang menutupi tubuhnya, dari ujung kaki sampai kepala.
Di depan pintu masuk ruang perkumpulan jemaat, dia menoleh ke kiri-dan-kanan. Kemudian membuka pintu ganda dengan kedua tangannya, sambil berhati-hati agar tidak menimbulkan suara. Di tengah ruang perkumpulan yang luas, lelaki tua dengan penampilan mencolok terlihat bersimpuh di depan mimbar batu, sambil menyatukan kedua tangan ke depan dadanya.
Identitas lelaki tua itu bisa dilihat dari jubah rumit yang dikenakan olehnya. Ketika menyaksikan pemandangan di depan matanya, pendatang misterius membuka tudung jubah yang menutupi kepalanya, lalu berkata.
“Apa kepala pendeta sangat sibuk di siang hari, sampai harus menunggu malam untuk berdoa?”
Suara yang terdengar darinya, senada dengan keindahan wajah yang diperlihatkan di balik jubahnya. Terpapar cahaya bulan yang menerobos masuk melalui sela-sela dinging, wajahnya bersinar dengan indah.
Wanita jelita yang merupakan pendatang misterius sebelumnya, tersenyum lembut memandangi lelaki tua yang masih khusyuk dengan aktifitasnya.
Dengan pembawaan dewasa di sekitarnya, wanita itu berjalan mendekati lelaki tua yang tetap bersimpuh, dan bersikap tidak peduli. Rambut pendek dengan warna keemasan, berkibar ditiup angin, meski harusnya tidak ada udara masuk di ruangan itu.
Lelaki tua yang dipanggil kepala pendeta, hanya melirik sekilas terhadap kedatangan wanita yang tiba-tiba menemuinya. Biarpun diabaikan, wanita misterius tadi malah menghadiahkan senyuman kecil, sambil berkacak pinggang memandangi punggung kepala pendeta tua.
Suasana yang terjadi beikutnya, hanyalah keheningan. Tidak ada suara, tidak ada percakapan. Wanita pemilik kulit wajah bersih seperti rembulan, berdiri menunggu dengan tenang, tanpa berniat mengganggu kepala pendeta, yang mungkin saja sedang berdoa.
Merasa kalau wanita itu terus memberinya tatapan tenang, kepala pendeta akhirnya menyerah. Dia berbalik jengkel, membalas pandangan wanita itu.
“Apa yang diinginkan gadis bodoh ini, sampai kembali ke tempat yang sudah dibuangnya? Pergilah, jika kau datang kesini untuk menyapaku!” Kata pendeta tua terdengar ketus.
__ADS_1
Bukannya tersinggung oleh perlakuan kasar kepala pendeta, wanita itu tiba-tiba berhambur memberi pelukan hangat kepada pendeta renta yang terdiam, tidak bisa berkata-kata.
Meski perlakuan dan sikap yang diberikan padanya sangat kasar, wanita itu tahu dengan jelas jika kepala pendeta tidak sanggup mengekspresikan perasaanya.
Perasaan yang campur aduk, dan sulit untuk diungkapkan tumpah begitu saja, layaknya bendungan pecah. Mata orang tua itu mulai berkaca-kaca, dari balik kacamata.
Adegan yang terlihat mirip seperti seorang anak, yang bertemu kembali dengan ayahnya, setelah kabur dari rumah selama bertahun-tahun. Melihat mereka seperti ini, sudah jelas bahwa ikatan yang terjalin diantara keduanya begitu hangat.
“Hey, ayolah... kenapa harus menangis, bukannya tadi kau memintaku untuk pergi?” ucap wanita bermata jade, sambil mengintip wajah kepala pendeta yang berlinang air mata, dalam dekapannya. “Para jemaat bisa kaget nantinya, jika kepala pendeta dari kuil pahlawan bersikap seperti ini...” tambahnya menggoda.
Pernyataan terakhir wanita itu, menenangkan perasaan kepala pendeta yang sedang goyah. Dia buru-buru menjauhkan diri, melepas pelukannya. Biarpun terlihat seperti pria tua yang cenggeng, tidak bisa dipungkiri, kalau dirinya adalah kepala pendeta dari kuil 12 Pahlawan, yang paling bermartabat di benua manusia.
Sejak masih muda, kepala pendeta yang memiliki nama Claire Ephonus itu, sudah mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi di kuil pahlawan dan mempelajari sejarah kepahlawanan secara mendetail. Pengetahuannya tentang 12 Pahlawan adalah yang terbaik.
Maka dari itu, dihadapan semua orang, dirinya harus terlihat tenang dan bermartabat. Namun, semua itu tidak ada artinya ketika menyangkut kedua 'putri' kesayangannya, dia merasa martabatnya sebagai kepala pendeta musnah di hadapan mereka.
“Memangnya siapa yang harus disalahkan atas hal ini?! Kau pikir seberapa khawatirnya diriku, ketika mendengar kabar kematianmu?” ujar sang pendeta berwajah masam, sembari mengalihkan pandangan. Dia tidak mau emosinya dilihat oleh wanita yang sudah seperti putri kandungnya sendiri.
“Hahaha, siapa sangka ceritanya akan dibuat sejauh itu. Para dewan sialan itu memang sesuatu. Pak tua, setidaknya aku tahu, sekarang ini dewan suci sudah menganggapku sebagai ancaman, dan serius untuk menyingkirkanku.”
“Sebanyak apapun yang datang kepadaku, aku tidak peduli. Tindakan mereka hanya terlihat seperti iseng di mataku. Keinginan membalas dan membuat perhitungan, dengan mereka juga tidak ada, namun... lain lagi ceritanya, jika mereka menyentuh Mary. Mereka akan melihat neraka sesungguhnya, aku bersumpah pada diriku sendiri.”
“Jeanne..?” Aura membunuh yang tersebar, hanya bisa membuat Claire tertegun. Meski bukan dia yang menjadi objek amarahnya, mengingat wanita yang dulunya pernah diberi gelar Saintess karena Aura suci yang ia miliki, tidak disangaka putrinya sekarang lebih terlihat seperti setan yang merangkak dari neraka. Tanpa sadar, Claire juga merasakan tubuhnya menggigil.
“Ah, maafkan aku. Sulit untuk menenangkan perasaanku dalam kondisi seperti ini. Selain dirimu, Mary adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki...”
Kepala pendeta Clair menggeleng mendengar ucapan Jeanne. Dia paham betul, sifat kedua putrinya, Jeanne dan Marianna. Biarpun Jeanne dikenal sebagai pribadi yang keras, tapi dirinya akan bersifat lembut kepada orang-orang yang berharga baginya.
“Aku mengerti perasaanmu, tapi bercermin dari perbuatan dewan suci kepadamu, rasanya informasi yang beredar tidak bisa dipercaya seratus persen kebenarannya.” kata Clair sambil menepuk pundak Jeanne.
“Benar, hanya saja... aku tidak habis pikir. Mary yang pendiam, berinisiatif mencariku. Harusnya aku langsung menemuinya, ketika dirinya muncul sebagai petualang, tapi aku bodoh sekali karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku sebagai Guildmaster.”
Kata-kata Jeanne terdengar sedih, seakan menyalahkan dirinya sendiri.
“Jadi si kecil Mary sekarang adalah petualang? Aish, aku tidak tahu, apa adikmu itu pemberani atau polos...”
__ADS_1
Janne mengangguk setuju oleh ucapan Clair, kemudian berujar—
“Terakadang Mary memang menjadi sangat berani, bahkan aku lupa kalau dia gadis yang polos dan lugu. Sejak mendengar kelompoknya belum kembali dalam misi yang terbilang mudah, firasatku jadi tidak nyaman. Setelah menyelidikinya berulang kali, hanya satu jawaban yang masuk akal di kepalaku. Dewan suci yang telah mencelakai Mary, karena menganggapnya sebagai batu penghalang di mata mereka.”
“Anggaplah asumsimu benar, tapi biarkan itu jadi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Selain itu, ada sebuah rumor yang kudengar belakangan ini. Katanya orang-orang yang dikirim dewan suci, telah dibantai seluruhnya di desa kecil yang berada di selatan. Seingatku nama desanya adalah... Arunn.” Ucapnya memberi informasi pada Jeanne.
Mata Jeanne terbelak ketika mendengar hal yang diungkapkan Ayah angkatnya. Sedikit ragu dia bertanya.
“Apa yang diinginkan dewan suci pada Desa kecil itu?” Claire hanya menggeleng karena tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Namun, dibenak wanita itu, dirinya memperoleh suatu kejelasan.
Sebagai salah satu Guildmaster dari serikat kebenasan, Jeanne mampu mengakses informasi dengan baik, melalui para informan yang bekerjasama dengan serikat. Dan secara kebetulan, Desa Arunn adalah lokasi terakhir dimana Mary terlihat.
“Mungkinkah para eksekutor yang dikirim oleh dewan suci?” tanya Jeanne sedikit cemas.
Claire terdiam, begitu mendengar pertanyaan kali ini. Dia tahu kekhawatiran Jeanne, ketika wanita itu membawa nama eksekutor dalam pertanyaannya.
Eksekutor merupakan unit rahasia yang dimiliki Dewan Suci, dan berisikan orang-orang kuat yang telah melampaui ranah pahlawan, meski tidak membawa benih pahlawan sekalipun. Bisa dibilang, eksekutor merupakan kertu andalan bagi Keteokrasian Estodia.
Jika eksekutor memang dikirim untuk menangkap Mary, maka situasinya akan sangat buruk.
Begitulah batin Jeanne dalam hati. Di wajahnya kini tersirat kecemasan pada ekspresinya. Dia adalah orang yang paling paham, dengan kemampuan para eksekutor.
Wanita yang pernah menduduki kursi ke-5 di unit terlarang bernama Calamity Chapter. Dijuluki sebagai Jeanne ‘Sang Iron Maiden’. Dan orang-orang yang mengisi unit tersebut, memang benar seperti malapetaka (Calamity), sesuai namanya.
“Sepertinya tidak ada pilihan lagi, akan kuperiksa sendiri desa Arunn ini. Setidaknya, informan yang bekerja untukku bilang, kalau Mary pernah terlihat disana.”
“Apa kau sudah mau pergi?” tanya Claire. Sebagai orang tua, dia sangat khawatir dengan putri-putrinya, tapi dia juga tidak mau bertindak egois dan mencampuri jalan hidup mereka.
“Begitulah. Paling tidak, selama situasinya belum bertambah buruk. Aku masih harus menemukannya, meski hanya mayatnya saja...”
Kata-kata yang terucap oleh Jeanne memang terdengar menyeramkan, tapi itu hanya cara baginya untuk mengekspresikan perasaan. Claire sudah sangat paham akan hal itu.
Karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Jeanne langsung berbalik, pergi meninggalkan ruangan perkumpulan.
......................
__ADS_1