Fate X Dungeon

Fate X Dungeon
Ch#15 - Mengumpulkan


__ADS_3

“...dengan begini, semuanya sudah selesai.”


Setelah berkeliling mencari beberapa gua, di sekitar barisan pegunungan ingglis dengan Sella, aku mengukir Rune Magic di setiap mulut gua yang kutemukan. Rencananya, aku ingin membuat pintu masuk alternatif yang langsung terhubung ke dalam dungeon.


Karena pintu masuk sebenarnya masih belum dibuat, kupakai sihir ruang yang diaplikasikan dengan rune, untuk membuat pintu sementara.


Memanfaatkan sihir ruang, aku membelokan tujuan dari pintu masuk gua, dan mengalihkannya ke lokasi yang sudah ditetapkan. Dalam kondisi ini, titik kordinasinya adalah Dungeon bawah tanah milikku. Inilah sihir ruang yang paling banyak dikenal, dari jajaran sihir ruang yang ada. 「Gate」


Dengan menanamkannya pada sebuah media, Gate akan selalu aktif selama terhubung dengan saluran batin-ku. Disitulah fungsi rune dibutuhkan, untuk mengaplikasikannya pada mulut gua sebagai medianya. Lalu, dengan menambahkan perintah untuk membuat Gate muncul dan menghilang dalam kurun waktu tertentu, pada Rune yang kutulis, maka akan menjadikannya sebuah Random Gate.


Maka dari itu, Gate acak akan muncul di setiap pintu masuk gua selama masih terhubung dengan saluran batin-ku, yang bertindak sebagai penyedia sumber daya.


Ketika Rune Magic mengaktifkan Random Gate, maka pintu gua lansung di arahkan ke tempat yang berbeda. Alih-alih memasuki gua yang sebenarnya, mereka malah akan mengirimnya masuk dalam dungeon.


Sejak meninggalkan Desa Arunn beberapa waktu lalu, aku mengingat kembali tujuanku, ketika melangkah sekali lagi ke dunia luar. Dan langkah pertama dari tujuan tersebut, dimulai dengan mengumpulkan informasi maupun kekuatan sebanyak-banyaknya.


Pertama, aku butuh monster atau mahkluk hidup yang bisa menghuni dungeon-ku. Terdapat tiga opsi yang bisa kupilih. Menggunakan monster yang terpanggil oleh sihir pemanggilan, membuat sendiri dengan kreasi sihir, atau memancing monster liar ke dalam dungeon.


Dua pilihan pertama akan kuabaikan untuk sekarang, dan memilih fokus untuk memancing monster memasuki dungeon. Itulah alasan random gate disebar di setiap lokasi. Sebuah sentuhan kecil selanjutnya, para monster tidak akan punya pilihan selain membangun sarang di dalam dungeon.


Namun sebelum itu, aku perlu tahu mahkluk hidup seperti apa yang tinggal di pegunungan Ingglis. Jadi kutugaskan beberapa familiar yang terdiri dari imp, untuk melakukan penyisiran.


Karena manusia umumnya mendirikan desa di wilayah kaki gunung, para monster akan memilih kedalaman hutan sebagai tempat tinggalnya. Berdasarkan hasil pencarian yang diberikan, imp menemukan beberapa sarang monster yang cocok dijadikan penghuni dungeon.


Jika mengikuti jalan setapak hutan yang mengarah ke puncak gunung dari selatan desa Arunn, sarang goblin akan ditemukan dalam gua kecil yang tertutup semak belukar. Dalam pencarian gua sebelumnya, aku mengabaikan gua tersebut kerena terlihat tidak mencolok. Siapa sangka ada sarang goblin di dalamnya.

__ADS_1


Goblin memang mahkluk yang terbilang lemah. Kekuatan dan kecerdasan mereka bisa disetarakan dengan anak-anak. Pengecut dan senang menyerang menggunakan jumlah mereka yang merepotkan.


“Biarpun lemah, anak kecil sekalipun bisa menjadi ancaman jika memakai senjata dan jumlah untuk menyerang seseorang.”


Itulah kalimat yang kukatakan pada Sella, sebelum dia pergi melaksanakan perintah dariku. Dengan kemampuan succubusnya, aku ingin para goblin dipikat olehnya dan terpancing memasuki dungeon.


Mahkluk hijau jelek itu mungkin tidak pintar, tapi mereka cukup cerdik. Karena mereka pengecut, maka insting bertahan hidupnya sangat tinggi. Pada dasarnya, goblin hanya tertarik untuk makan, dan mengawini betina lain, bahkan dari ras berbeda. Mereka memiliki kecenderungan yang besar untuk memperkosa dan menanamkan benihnya pada setiap wanita yang mereka temui.


Jadi bagi Succubus sepertinya, tugas ini bisa dibilang mudah. Begitu para goblin tiba di dalam, aku segera menutup jalan keluar untuk mereka. Kuminta shadow walker untuk membantai habis separuh kelompok goblin, dan membiarkan sisanya kabur.


Mereka yang selamat akan bersembunyi di sudut Dungeon, setelah ditanamkan perasaan takut terhadap sesuatu yang tidak bisa mereka lawan. Ketakutan akan membangkitkan insting bertahan hidup, dan keinginan besar untuk bereproduksi. Tidak perlu menunggu setengah tahun, populasi kelompok goblin pasti akan meledak beberapa waktu lagi.


Setelah goblin, berikutnya adalah Orc. Monster berkepala babi hutan, dan berjalan dengan dua kaki. Punya fisik lebih kuat dibanding goblin, tapi kecerdasan mereka di bawah rata-rata. Tidak seperti goblin, mereka sedikit mengerti cara berkomunikasi.


Kupakai sihir untuk mengubah ladang, dari yang awalnya hijau menjadi padang tandus yang gersang. Kemudian kubendung aliran sungai di sekitarnya, dan menyingkirkan sumber makanan yang ada, sebelum akhirnya menghancurkan tempat tinggalnya. Dengan menciptakan kondisi semacam itu di lingkungan hidup orc, nantinya mereka akan datang sendiri ke dalam dungeon melalui random gate terdekat.


Selama seharian penuh, aku terus melakukan berbagai tindakan kecil untuk 'memancing' monster, agar bersedia menghuni dungeon atas keinginan mereka sendiri.


Monster, mahkluk buas, dan hewan magis. Berbagai tindakan yang sesuai sudah kulakukan untuk menangani mereka. Kurang dari seminggu, hasilnya pasti terlihat.


Setelah lelah dengan kesibukan hari ini, aku dan Sella memutuskan kembali ke dungeon. Sembari menunggu hasil yang sudah kurencanakan, aku bisa mengurus tumpukan mayat yanh diperoleh dari Desa Arunn.


“Apa yang kamu inginkan dari tumpukan mayat ini?”


Begitulah pertanyaan pertama yang Sella berikan, ketika melihat tumpukan mayat para bandit yang sudah kupindahkan ke dalam dungeon.

__ADS_1


“Pernah dengar sihir untuk membangkitkan mayat hidup?” jawabku memberinya pertanyaan di atas pertanyaan. Karena pengetahuannya, Sella langsung mengerti keinginanku.


“Maksudmu Undead..?.”


Aku mengangguk menanggapinya. Benar sekali. Rencanaku adalah membangkitkan para bandit sebagai undead, agar bisa ditambahkan ke dalam dungeon. Selain itu, undead yang baru terbangun, masih membawa ingatan mereka sebelum mati dengan sangat jelas.


Jadi aku bermaksud menanyakan berbagai hal yang ingin kutahu dari mereka, sebelum ingatan mereka rusak setelah menjadi undead lebih lama.


Dengan berbagai persiapan, kugunakan sihir untuk menghidupkan mayat—「Force Undead」 pada 100 mayat bandit. Force Undead merupakan High-Tier Magic. Sebagai penyihir, kapasitas perbendaharaan sihirku sangat besar. Memakai High-Tier Magic bukan hal rumit untukku..


Begitu rapalan sihir terucap, miasma hitam yang sangat pekat mengalir di udara. Mayat para bandit mulai menyerap miasma ke dalam tubuhnya, menandakan force undead telah bekerja.


Mayat-mayat yang telah menyerap energi gelap dari miasma hitam sebelumnya, mulai bergerak membuat reaksi. Perlahan tapi pasti, tubuh yang sudah tidak bernyawa mulai berdiri sendiri


Meski wajahnya sudah berbeda dari saat mereka hidup, tapi masih dapat dikenali dengan baik. Salah satu undead yang berdiri di antara undead lainnya, berjalan ke arahku atas perintah yang kuberikan.


Seingatku, orang ini dipanggil komandan oleh bandit lainnya...


Pikirku dalam hati, saat melihat undead yang berdiri di depanku.


“Jadi katakan padaku, semua hal yang kalian ketahui dan tujuan kalian menyerang desa itu.”


Semua informasi keluar dari mulut yang sudah membusuk tersebut. Dengan informasi yang kuperoleh, aku terpikirkan sebuah rencana untuk langkah berikutnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2