Fate X Dungeon

Fate X Dungeon
Ch#12 - Roh Air「Aqua」


__ADS_3

Karena pengalaman hidupku di masa lalu, aku lebih peka terhadap konsentrasi mana tidak biasa yang umumnya di miliki penghuni dari wilayah kegelapan. Mana orang-orang itu terasa seperti racun.


Berada di dekat mereka saja akan membuat tubuhku merasa tidak nyaman. Hampir seperti sekumpulan energi yang mengandung kebencian dan emosi negatif.


Rasa semacam itulah yang kudapati sejak aku masuk ke rumah Filo untuk pertama kali. Bahkan firasat tersebut tidak dapat dihilangkan dan malah bertambah kuat ketika aku masuk ke kamar ibunya.


Dan betul saja... instingku terbukti benar saat menemukan apa yang ada di balik punggung Grisha. Semua orang termasuk putrinya sendiri juga dibuat kaget.


Ini pertama kalinya aku melihat yang seperti itu. Apa yang terlihat dimataku adalah fenomena yang benar-benar aneh. Sebagian punggung Grisha telah menghitam, seolah kulitnya telah berubah warna. Bahkan beberapa tonjolan kecil muncul dari punggungnya.


“...Ti... Tidak mungkin. Kenapa Grisha jadi seperti itu...?” Suara Dorran merasa tidak percaya. Aku meliriknya sekilas dan kembali menaruh perhatianku pada fenomena tidak biasa yang terjadi dengan tubuh Grisha.


Aku sendiri juga tidak percaya... Apa yang sebenarnya terjadi?


Di bagian utara benua ini terdapat mahkluk yang berasal dari kegelapan. Hanya mereka mahkluk yang menyerupai manusia, namun dengan warna kulit lebih gelap dan beberapa fitur tubuh yang sedikit berbeda di tangan, kaki, atau wajahnya. Lalu, biarpun kulitnya berwarna biru, abu-abu, bahkan merah sekalipun, yang pasti warna kulitnya akan dominan ke arah gelap. Dan anehnya perubahan Grisha menyerupai ciri mahkluk dari wilayah kegelapan itu.


Satu-satunya yang terpikirkan olehku. Mahkluk yang memusuhi dunia di bawah komando Raja Iblis. Orang-orang memanggilnya—


“...Demonflok.” ucapku dengan jelas. Tentu saja maksud perkataanku tidak bisa langsung dimengerti.


Filo masih anak-anak. Sella tidak perlu ditanya, dia orang yang dapat bersikap tenang meski sedang kebingungan. Jadi hanya Dorran-lah yang masih berupaya memikirkannya setengah mati.


“Maksud anda... mahkluk keji dari wilayah kegelapan itu? Kalau begitu selama ini Grisha...”


Aku menggeleng menanggapi ucapan kepala desa yang menggantung. Kemudian memberi penjelasan sedikit terkait dugaanku.


“Jika kau berpikir wanita ini adalah demonflok yang menyamar, itu sangat tidak masuk akal. Namun tidak diragukan lagi, kulit... atau tepatnya tubuh ibu Filo, secara perlahan mulai menyerupai penampilan mereka.” ujarku sambil menyentuh punggung Grisha yang mengalami perubahan.


Karena tidak mengerti kondisi yang menimpa ibunya, Filo yang paling muda disini tentu memiliki sebuah pertanyaan. Dengan lembut tubuhku di tepuk pelan beberapa kali untuk menarik perhatianku, lalu menanyakan hal paling penting.


“Paman, apa ibu akan baik-baik saja? Apa ibu bisa disembuhkan? Paman...”


Pertanyaan Filo datang bersama ekspresi cemas yang membuatku iba.


“Serahkan pada paman. Jadilah anak pintar dan jangan menangis, oke?!” Pintaku menenangkannya, seraya mengusap setitik air di sudut matanya.


Gadis itu mengangguk yakin padaku, dan berusaha untuk mengerti. Melihat keteguhan hati gadis kecil yang mencoba bersikap dewasa, membuatku jadi ingin membantunya sepenuh hati. Bahkan Sella yang terus-menerus berlagak dingin sejak datang ke desa, bermaksud untuk membuatnya tenang juga.


Wanita succubus yang menyembunyikan penampilan dibalik jubah sederhana ikut mengusap lembut kepala Filo. Sampai gadis kecil itu heran terhadap perlakuan yang diberikan untuknya.


Bagiku pemandangan yang kulihat cukup menarik, namun aku tidak berada dalam 'mood' untuk membicarakannya. Jadi aku memilih memberitahukan tindakan berikutnya yang akan kulakukan.


“Filo, aku ingin berkonsentrasi untuk menolong ibumu. Bisa tinggalkan Kami berdua sekarang?”

__ADS_1


“Tentu!” Filo menjawab dengan rasa percaya yang besar terhadapku.


“Tolong temani Filo!”


“Saya mengerti.” ujar Sella membalas perintahku. Lalu, memandu semua orang keluar dari ruangan.


Setelah meminta semuanya keluar, hanya ada aku, dan Grisha yang tentu masih tidak sadarkan diri. Aku memastikan keberadaan di sekitarku dengan kemampuan Life Preception, dan yakin sudah tidak ada orang lain lagi.


Saat keadaanya sudah tenang, kuamati baik-baik segala sesuatu yang ada di kamar Grisha. Mataku bergerak memeriksa sudut demi sudut, tanpa berpindah dari posisiku berdiri.


Ternyata memang ada. ucapku dalam hati.


Karena telah menemukan yang kucari, aku mencoba memastikannya sekali lagi dengan memejamkan mata. Dan benar saja... Saat indera-ku yang satu kumatikan, indera-ku yang lain bertambah kuat.


“Mau sampai kapan kau bersembunyi? Aku bisa menemukanmu dengan jelas.” Sesudah berbicara seperti itu, muncul reaksi dari kamar Grisha.


Asalnya dari meja kecil di samping tempat tidur. Sebuah kotak kecil yang dibiarkan terbuka, ditaruh di atas meja. Dari dalam kotak, kalung permata bergetar aneh dan memancarkan kilauan misterius berwarna putih kebiruan.


Beberapa saat setelahnya, cahaya misterius pudar digantikan oleh sosok tak dikenal yang muncul dengan cara tidak biasa. Meski tanpa sayap, dia melayang di udara seperti berenang di dalam air.


Wujudnya menyerupai mermaid, namun memiliki kulit pucat kebiruan yang membedakan dia dengan kebanyakan mermaid, yang separuh bagian tubuhnya menyerupai manusia. Dari tubuhnya memancar kilauan samar, yang nyaman dilihat oleh mata.


“Aneh sekali, baru kali ini bertemu pembawa benih pahlawan memperkenalkan diri sebagai raja kegelapan. Bukankah nama itu kurang cocok untukmu?” ucapnya begitu memandangku.


“Heh, Roh tingkat tinggi rupanya.”


“Benar, Nilai sempurna untukmu! Perkenalkan, aku dalah roh air bernama Aqua. Senang bertemu denganmu...”


Caranya memperkenalkan diri benar-benar dibuat mirip seperti anak lelaki yang selalu riang dan bersemangat. Dia sangat sesuai dengan roh air seperti namanya, baik pembawaan maupun penampilannya. Warna biru yang menggambarkan air, model rambut pendek bergelombang seperti lautan, dan yang paling jelas adalah sekumpulan air yang bergerak mengitari tubuhnya.


“Aku ingin memastikan, kau sudah mengerti situasinya dengan jelas, kan?” Itulah yang kutanyakan pertama kali padanya. Dilihat dari perilaku dan tindakannya, Aqua ini pasti sudah paham situasi Grisha.


Sambil menyilangkan tangan ke depan, dia berbicara seperti anak yang percaya diri.


“Tentu saja. Kau pikir sudah berapa lama mengawasinya? Aku bisa tahu segala yang terjadi di sekitar Grisha selama kalungku bersamanya, termasuk saat kau berbaik hati membantu desa ini sebelumnya.”


“Baguslah. Tapi, asal kau tahu... aku menolong desa ini hanya untuk kepentinganku sendiri, tidak ada hubungannya dengan omong kosong seperti kebaikan hati yang kau bilang.”


Tatapan dingin kuberikan seraya mengucapkan kalimat tersebut. Mendapat pujian dan rasa hormat setelah menolong orang-orang karena ketulusan hati adalah omong kosong yang memuakan bagiku.


Aku lelah disebut orang baik yang rela menolong orang-orang seperti sebuah kewajiban, kemudian mereka seenaknya berpikir jika tindakan itu wajar karena kami adalah orang-orang terpilih. Opini semacam itu yang nantinya akan membelenggu kebebasan seseorang, dan aku sangat membencinya.


Itulah alasan mengapa aku bisa terbawa emosi saat Aqua mengungkit kebaikan hatiku dalam kata-katanya tadi. Namun anehnya, Aqua bukan hanya tidak peduli dengan ucapan dinginku, tapi malah memancing rasa penasarannya, dan mulai memandangku dengan teliti.

__ADS_1


Dia bahkan membuat gestur memegang dagu dengan tangan, seperti menemukan sesuatu yang menarik sambil berputar mengelilingiku. Roh yang melayang itu mengamatiku dari setiap sudut dengan ekspresi serius, yang menurutku malah terlihat kekanak-kanakan.


“Apa yang kau lakukan?” tanyaku datar.


“Tidak ada... aku hanya heran, kenapa pahlawan bisa menjadi seperti ini?” Aqua mengatakannya dengan enteng, dan mengabaikanku yang merasa tidak nyaman.


“Biar kupertegas, aku bukanlah pahlawan.”


“Iya, aku tahu kau telah membuang takdir itu atas kehendakmu sendiri. Namun faktanya, benda 'itu' masih ada di tubuhmu.”


Kalimat yang kutegaskan ditanggapi oleh Aqua dengan cepat, dia bahkan menunjuk dengan jari, tapat di tengah-tengah dadaku. Kelihatannya bermaksud memaksaku membuka mata pada fakta yang tidak ingin kubicarakan lagi.


Benda 'itu' yang dimaksud Aqua, sudah pasti aku mengerti arti dari kiasan tersebut.


Sesuatu yang harus ada pada setiap manusia terpilih, 'benda' yang menjadi bukti bahwa seseorang pantas menerima gelar tersebut.


Benar. Benih pahlawan akan selalu ada selama aku hidup, karena... aku adalah mantan pahlawan.


Melihat dia masih sibuk mengamatiku, aku menghembuskan nafas panjang karena lelah dengan rasa penasaran anak ini. Menurutku melemparkan berbagai penolakan, dan berusaha membuat alasan masuk akal, sama sekali tidak ada artinya dihadapan Roh Air—Aqua.


Jadi aku menggiring pembicaraan kembali ke topik yang lebih penting, tentu saja agar aku bebas dari obrolan yang sedang tidak ingin kubicarakan.


“Apa yang terjadi dengan wanita ini?” Mendengar pertanyaanku, dia tarlihat seperti anak kecil yang sedang dalam perjalanan pulang tapi terlena oleh sesuatu di tengah jalan, dan baru ingat ternyata langit sudah gelap.


Respon yang diperlihatkan Aqua cukup menarik. Kudengar Roh (Spirit) adalah mahkluk yang egois dan tidak suka diperintah orang lain yang tidak mereka akui. Namun, sekali mereka suka, seluruh kasih sayang dan kesetiaan akan diberikan sampai akhir hayatnya. Ternyata hal itu bukan sekedar rumor tak berdasar.


Bahkan sekarang, rasa tertariknya padaku seolah tidak pernah ada, dan kembali menaruh perhatian sepenuhnya kepada Grisha.


“Traumanya pasti kambuh lagi. Karena emosi yang naik-turun dapat berdampak pada kestabilan mana, wajar saja dia akan seperti ini.” Sambil berbicara, dia merapikan pakaian Grisha yang kurobek sebelumnya. Lalu membetulkan posisi tidurnya yang awalnya kumiringkan menghadap tembok. “Dasar lelaki tidak sopan, harusnya tidak perlu sampai merobek pakaiannya.” tambahnya saat melihat bekas robekan pakaian di lantai.


“Melepas secara normal mungkin bisa membuatnya kesakitan. Lagipula, pakaiannya terlalu berlebihan.” jelasku acuh. Tentu saja aku tidak berbohong. Dilihat dari caranya berpakaian yang terlalu berlebihan bahkan di dalam rumah, sudah jelas dirinya ingin menyembunyikan perubahan yang terjadi pada tubuhnya.


Karena posisi Grisha sudah terlihat nyaman. Kedua tangan Aqua mulai dibentangkan di atasnya.


Ekspresi Aqua menjadi lebih serius ketika telapak tangannya dibuka lebar-lebar. Kilauan cahaya ditubuhnya juga menjadi lebih terang, sampai menghasilkan warna biru yang lebih jelas.


Menyaksikan pemandangan yang menarik tersebut, membuatku sampai terdiam beberapa detik.


“Apa yang kau perbuat?”


“Sudah jelas, aku sedang membantunya menstabilkan mana.” Pertanyaanku dijawab singkat olehnya, ekspresi Aqua memberikan isyarat jika dirinya tidak ingin diganggu lagi saat melakukan hal tersebut.


Melihat cahaya biru pada tubuh Aqua mengalir perlahan ke tubuh Grisha membuatku yakin pada satu hal...

__ADS_1


Aqua ini, dia sedang mengalirkan Aether kepada Grisha.


__ADS_2