
Dalam waktu singkat, kami sudah bertukar serangan puluhan kali. Area pertarungan yang berlokasi di depan gerbang masuk desa Moore, sudah terlihat berantakan. Tanahnya sudah hancur menjadi tidak rata disana sini, sedangkan rerumputan hangus terbakar oleh sihir, atau membeku menjadi kepingan es.
Serangan bilah mengarah dingin, berusaha merobek tubuhku. Aku membalasnya dengan pisau angin, jarum es, dan peluru api, dan menyerang ke setiap arah mengikuti pergerakan tubuhnya yang melampaui logika.
Semakin lama, aku bisa melihat celah pada jurusnya, tapi lawanku juga sama hebatnya. Dia memprediksi setiap sihir yang kupakai dengan begitu cepat, membuat sebuah balasan tanpa gagal sekalipun. Jika bukan karena fisik yang lebih unggul sebagai pahlawan, aku sudah berkali-kali terbunuh oleh pedangnya.
Gideon telah melampaui ekspetasiku. Tidak mengejutkan bahwasanya dia juga memiliki benih pahlawan sepertiku, namun dari penilaianku, dirinya tidak bisa kusamakan dengan para sampah yang pernah kutemui dimasa lalu. Dia tidak berjalan di garis takdir menjijikan seperti orang-orang sejenisku. Dirinya lebih seperti veteran perang yang melewati neraka untuk bisa menjadi begitu kuat.
Pahlawan dasarnya memang terlahir dengan bakat dan kemampuan bawaan yang lebih unggul dari orang biasa. Mereka terus berkembang tanpa mengenal batasan, selama kemampuannya terus dilatih. Suatu kemampuan ekslusif yang hanya diberikan pada mereka, dibawah takdir pahlawan, dan aku menyebutnya sebagai Limitless.
Anugerah yang membuat pahlawan mampu berkembang tanpa ada sebuah pembatas. Biarpun limitless cuma sebagian kecil dari keistimewaan seorang pahlawan, tapi dibanding orang biasa, mereka jauh lebih unggul dalam berbagai aspek karena hal tersebut.
Pada tingkatan yang lebih tinggi, pahlawan yang membangkitkan kekuatannya akan memperoleh kemampuan spesial yang diterima langsung dari suara dunia. Kami umumnya menyebut sebagai Phantasma.
Phantasma akan berbeda antara satu dengan individu lainnya, sehingga kekuatan mereka akan berada di ranah yang lebih tinggi dibanding pahlawan terpilih yang belum membangkitkan kekuatannya. Hanya dengan Phantasm, dan limitless, orang biasa tidak akan mampu menyaingi seorang pahlawan. Begitulah faktanya.
Akan tetapi, bukan berarti fakta mutlaknya akan seperti itu. Masih ada orang-orang yang tidak terlahir dengan takdir pahlawan, namun sanggup untul melampaui atau setidaknya menyamai ranah seorang pahlawan. Kelompok inilah yang telah melampaui batasan, dan melatih tubuh maupun jiwanya, sampai tahap hidup-mati.
Dunia biasa menyebut mereka Awakener, atau mereka yang telah bangkit (Awakening). Sama seperti pahlawan yang menerima phantasm, awakener juga menerima gift dari suara dunia secara langsung begitu mereka memenuhi kondisi yang harus dicapai.
Melihat lelaki tua yang kulawan sekarang ini, aku yakin seratus persen, dirinya telah menerima sebuah gift atau setidaknya telah melangkah dalam ranah pahlawan, itulah menurut pemahamanku.
「Fire Wheel」
Puluhan bola api yang berputar membentuk roda di belakang tubuhku, terlontar satu per satu. Membombardir ke tempat Gideon. Aku sudah melepaskan berbagai sihir untuknya, tapi tidak ada satupun yang membuatnya kesulitan. Bola-bola api yang datang tanpa henti juga dipotong olehnya.
Dia yang masih menepis setiap sihirku dengan pedang, merengsek maju memangkas jarak diantara kami. Pada dasarnya, roda api mampu kupertahankan selama mana masih mengalir dalam diriku. Namun, pria ini mengetahui dengan jelas teknik sihirku dan tidak membiarkan hal itu terjadi.
Belum habis satu menit, Gideon sudah berada tepat di depan mataku. Pedangnya bersinar merah oleh pancaran mana miliknya, dan siap untuk menebasku.
Dengan tenang, aku merubah pijakan kaki, berusaha berkelit dari serangan mematikan yang nyaris mengenaiku. Senjata Gideon yang gagal mengenai target, memotong lurus ke tanah tempatku berpijak sebelumnya, hingga membuat ujungnya tenggelam ke tanah.
Baru sebentar aku menghela nafas lega, karena lolos dari serangan mematikan tersebut. Aku menyadari aliran mana yang dikerahkan melalui pedangnya, dan melihat percikan petir mengalir, membuat sebuah ledakan di atas tanah.
Serangan kejut berelemen petir, menghasilkan serangan yang merusak tanah di sekitarnya. Serangan itu sangat berbahaya, sampai aku harus melepaskan jubah bayangan untuk bisa lolos darinya.
Begitu ada kesempatan, aku langsung mengambil jarak untuk menjauh dari jangkauan serangan Gideon. Dia kaget mengetahui aku bisa selamat dari serangan tak terduga. Siapapun pasti akan bereaksi seperti itu.
Jubah bayangan yang masih menyelimutiku, membuat penampilanku terlihat seperti pejuang yang bangkit dari kegelapan. Kuda-kuda Gideon masih belum goyah sedikitpun, dan bersiap menyerang sekali lagi. Hawa membunuh dari matanya belum sirna, mengacungkan pedang yang telah terkunci ke arahku.
__ADS_1
“Sihir? Tidak, aku merasakan sesuatu yang berbeda...” Sambil mengamatiku yang berselimut jubah bayangan, dia berbicara begitu.
Tebakannya memang benar, jubuah bayanganku ini bukanlah sebuah sihir melainkan sebuah skill. Sembari menatapku takjub, Gideon berucap sekali lagi.
“Selain memakai sihir tanpa rapalan, anda juga mengimbangi kecepatanku, meski anda terlihat sebagai ahli sihir. Bayangan yang anda gunakan juga terlihat tidak biasa. Apa aku boleh menganggap benda itu sebagai skill istimewa milikmu...?”
“Terserah. Aku juga yakin dirimu menyembunyikan sesuatu dariku. Bukankah begitu, tuan Awakener?” kataku memancingnya. Aku tidak tahu Gift apa yang dia punya, tapi paling tidak perkiraan bahwa dirinya adalah awakener menjadi semakin pasti.
Gideon terlihat enggan membuka suara, dia memilih tertawa keras menanggapi pertanyaanku. Ekspresinya dipenuhi kegembiraan, layaknya anak kecil yang baru menerima sebuah hadiah.
“Begitu ya... hahaha. Jadi anda juga sama? Kalau begitu, mari kita lihat kemampuan apa yang anda terima dari suara dunia.” ujar Gideon berkelakar.
Sejauh ini pertarungan kami semakin sulit ditentukan menang dan kalahnya. Seandainya aku memakai tubuh asliku, mengalahkan Gideon bukan sesuatu yang sulit bagiku. Tubuh yang kubuat dan kukembangkan memang sangatlah sempurna, namun sesempurna apapun, kekuatanku tidak bisa dipakai sepenuhnya memakai tubuh ini. Paling tidak, sudah cukup untuk bisa bertarung lebih lama lagi.
Baru saja aku berpikir seperti itu, Gideon sudah bergerak melampaui kapasitasku. Posisi kami sudah sangat dekat, dan aku tidak bisa menyadari keberadaannya sampai dia berbicara.
“Bagaimana anda bisa bertahan dari ini?”
Pedang Gideon telah mengincar titik butaku, begitu menyadari posisinya. Sial, sudah sedekat ini!
Selama ini dia belum memperlihatkan kecepatan aslinya, menghindari serangannya tidak akan sempat pada jarak sedekat ini.
Wujud bayanganku memang tidak solid, namun kekerasannya setara dengan sebuah prisai. Melihat pedang masih tertahan oleh bayanganku, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Gideon memakai bayangan lain yang kumiliki. Jarum-jarum runcing yang terbentuk dari bayanganku, menyerang Gideon dari segala arah.
Mengejutkannya, bukan hanya lolos dari serangan balasan yang kubuat. Pak tua Gideon mampu mencari celah seranganku, dan mengambil langkah mundur yang sangat sempurna. Seakan segala tindakanky telah terbaca jelas di matanya.
“Mengapa aku tidak sadar sejak awal, matamu mampu melihat dunia seperti seekor lalat.” ujarku datar. Tidak diragukan lagi, matanya sama spesialnya dengan bayangan-banyanganku.
“Biarpun mengetahuinya, sudah terlambat untukmu...” Setelah berucap seperti itu, dia sekali lagi menghilang dari pandanganku. Aku tidak akan terkejut jika dia muncul dari titik butaku. Dan benar saja, Gideon sudah muncul di dekatku dengan serangan mematikannya.
“Baiklah, mari kita sedikit serius...” sambungnya seolah sangat yakin akan kemenangannya. Senyuman kecil terukir di wajahku.
“Benar sekali. Itu jika dirimu bisa menghindari serangan ini.”
Dengan kecepatan yang mengagumkan, pedang Gideon hampir menyentuh leherku. Namun, secara tidak terduga, aku telah memunculkan tombak bayangan melalui bayangan di bawah kakinya. Kepala dibalas dengan kepala.
Tombak bayangan bergerak untuk menusuk kepala Gideon. Sebuah pertaruhan terjadi, antara siapa yang lebih cepat. Tombak bayanganku menghancurkan kepalanya atau pedang Gideon memenggal leherku.
Berupaya lolos dari seranganku, tubuhnya berkelit menghindari tombak bayangan. Meskipun pedangnya gagal menebas leherku, tapi dengan cara yang sulit kuikuti, pedang telah berubah arah untuk mebebas dari bawah tubuhku.
__ADS_1
Dalam kondisi yang seperti itu, aku sudah tidak punya kesempatan untuk menghindar lagi.
“Selamat tinggal, Raja Kegelapan.” Kalimat yang terucap dari mulutnya menjadi tanda berakhirnya pertarungan. Namun, bukan Gideon yang keluar sebagai pemenang.
“Bagaimana mungkin...?”
Dirinya bertanya padaku yang telah berdiri di belakangnya. Menemukan dirinya telah tertembus oleh pedang bayangan di tanganku, ekspresi Gideon penuh dengan tanda tanya ketika memuntahkan darah dari mulutnya.
Gideon memandangi shadow walker telah tertebas oleh pedangnya. Sosok hitam yang sudah bertukar posisi denganku, memudar dan hilang tidak lama setelahnya.
“Bahkan orang sekuat dirimu tidak menyadari shadow walker yang kusembunyikan di dalam bayanganmu.”
Pedang bayangan kemudian kucabut, menghasilkan darah segar yang mengucur deras dari luka menganga di tubuhnya. Tubuhnya jatuh berlutut, begitu kakinya bergetar kehilangan banyak darah.
“Se...buah gift, yang mampu menciptakan mahkluk mistis... ya. Ha..haha. Aku benar-benar kalah.” Suara terbata berkomentar.
Pandangan Gideon mulai pudar dalam pengelihatanku. Sosoknya kini tak berdaya.
“Aku tidak akan mengulanginya setelah ini. Apa kau bersedia memberikan kesetiaanmu padaku?”
“Ja...Jangan bercanda... setelah kalah secara menyedihkan... mana mungkin aku memohon belas kasihan padamu. Aku masih punya harga diri...”
Ketika kesadaran Gideon terlihat meninggalkan dirinya, hawa permusuhan yang lebih kuat malah bisa kurasakan. Apa ini? Lelaki tua yang harusnya sudah kehilangan kekuatan untuk bertarung, mencoba bangkit untuk menyerangku. Perubahan yang terjadi membuatku terkejut.
Padangan mata Gideon sudah bukan miliknya lagi, hanya keinginan kuat untuk membunuhku yang bisa kurasakan darinya.
Pedang di tangannya menerjang ganas hanya untuk beradu dengan pedang bayangan milikku. Serangan brutal dipenuhi kegilaan, mengarah padaku berkali-kali. Tidak ada keindahan teknik pedang, hanya serangan yang membawa emosi tak terkendali yang keluar darinya.
Nafas panjang kuhela memlihat pemandangan tersebut. Pengelihatan tidak normal yang diperlihatkan Gideon sebelumnya bukanlah Gift yang dia dapat, karena inilah Gift yang dimilikinya.
“Berserker shifter, ya... penampilanmu sekarang menjadi sangat menyedihkan...” ucapku dengan tatapan dingin.
Alasan kenapa dia tidak memperlihatkan Giftnya sejak awal karena dirinya memang tidak bisa. Berserker Shifter lebih seperti kutukan dibanding sebuah kemampuan. Memberikan kekuatan berkali-kali lipat pada pemiliknya saat sedang sekarat, tapi dengan menghilangkan akal dan kepribadiannya sebagai bayaran. Semakin banyak luka, semakin kuat pula kekuatan yang diberikan.
Sayang sekali, dirimu hanya mahkluk tak berakal sekarang, dan aku tidak akan kalah pada orang seperti itu.
Karena sudah tidak tertarik bermain-main lagi, aku berpikir untuk mengakhirinya. Setelah menjentikan jari, selusin shadow walker muncul dari bawah bayanganku.
“Selamat tinggal...”
__ADS_1
...****************...