
Sebagai succubus aku diajarkan cara menggoda, dan memanipulasi. Menurut nenek tua itu, succubus yang tidak memiliki aspek menggoda tidak bisa bertahan hidup.
Disisi lain, wanita tua itu juga memberitahu diriku bahwa keterampilan memanipulasi sama pentingnya dengan keterampilan menggoda. Katanya semakin mahir kamu memanipulasi 'makanan'-mu akan membuatmu lebih leluasa melakukan berbagai hal padanya. Sehingga kamu bisa mencukupi kebutuhan tubuhmu.
Itulah yang kupercaya dari perkataan wanita tua yang sudah hidup lebih dari ribuan tahun.
Ah... biarpun kubilang wanita tua, sebenarnya penampilannya tidak kalah dengan succubus lain yang pernah kujumpai. Bahkan, menurutku bisa dibilang dia adalah wanita paling menarik dan mengerikan secara bersamaan.
Dia, wanita yang menjadi tolak ukur sudut pandangku, dia juga telah mengajariku dan menjadi sosok yang layak kusebut sebagai guru. Dan aku percaya selama bisa mengikuti petunjuk dan nasihatnya, diriku akan baik-baik saja.
Akan tetapi ketika aku mulai untuk melakukan pekerjaan nyata pertamaku sebagai succubus, semua pengetahuan dan nasehat yang kuterima benar-benar lenyap tak berguna.
Aku yang baru pertama kali 'berhubungan' langsung dengan mahluk lain benar-benar dibuat kehilangan kepercayaan diri sebagai succubus. Pria yang pertama kali memanggilku tidak tertarik dan bahkan tidak terpikat oleh kecantikan tubuhku.
Apa ini yang kudapat setelah belajar sebanyak itu, apa ini yang kuraih setelah aku berjanji untuk menjadi succubus yang sesungguhnya?
Biarpun diriku adalah succubus, namun aku tidak terlalu terikat oleh sifat bawaan yang dimiliki ras-ku. Aku tidak merasakan haus yang berlebihan pada hasrat dan nafsu seksual dalam diriku. Malahan aku lebih tertarik untuk belajar hal-hal lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan succubus sama sekali.
Apakah ini normal? Tentu saja tidak. Begitulah yang dikatakan teman-teman sejawat, dan keluargaku. Maka dari itu, aku mulai untuk meyakinkan diriku dan memantapkan pilihanku dan mulai berjuang sebagai succubus.
Tapi, tapi, tapi... apa-apaan pria ini?! Bahkan dia tidak memandang sedikitpun pada tubuhku. Aku tidak terima, aku jengkel sekali, aku pasti akan mengungkapkan naluri aslimu sebagai lelaki. Itulah sumpahku.
Saat ini aku berdiri di hadapannya, mendengarkan beberapa kalimat darinya dan memberiku sebuah penjelasan. Kelihatannya ada beberapa orang yang telah memasuki dungeon-nya.
Biarpun aku tidak tahu jalan pikiran pria ini, namun dari ekspresi datarnya, sudah pasti hal itu bukan sebuah ancaman baginya.
“Hei, bukankah wajar jika ada beberapa pencuri atau penjelajah yang memasuki dungeon?”
“Ya begitulah. Namun, ini adalah kali pertamanya sekelompok manusia memasuki dungeonku setelah aku membuka pintu masuknya beberapa waktu lalu.” jawabnya acuh. Erza tampak tidak peduli, tapi tampaknya ingin melakukan sesuatu.
Aku baru saja mendengar dari Erza, jika pintu masuk yang sudah disiapkan di luar sudah dibuka beberapa minggu yang lalu. Sebuah gerbang dungeon yang terhubung langsung ke lorong depan dungeon.
Tentu saja hal itu dilakukan untuk menarik beberapa mahkluk masuk ke dalamnya.
Seharusnya hal seperti ini tidak ada hubungannya, dan tidak ada kaitannya soal diriku yang bahkan belum mengikat kontrak dengannya.
Namun gara-gara itu, aku yang tadinya akan mendapat penjelasan yang paling ingin kudapat malah diabaikan olehnya sekarang.
“Jangan buat aku repot, ikuti aku untuk menyambut beberapa pencuri itu.” kata Erza seenaknya. Dia memaksaku mengikutinya tanpa membutuhkan persetujuanku.
Orang sialan ini!!
Umpatku dalam hati sambil menggertakan gigi dan mencengkaram kuat botol potion yang tersisa di tanganku. Saat ini aku membuat sumpah pada diriku, kalau aku akan mencincang orang-orang yang menggangguku itu jika nanti tidak memperlihatkan sesuatu yang menarik.
Beberapa menit kemudian. Aku yang mengikuti Erza sampai di sebuah ruangan yang sangat luas, melebihi ruangan-ruangan sebelumnya. Ruangan ini terlihat seperti aula besar, mungkin tempat ini semacam pintu masuk pertama dungeon milik Erza.
Bisa terlihat beberapa orang bertindak waspada, berhati-hati mengamati sekeliling tapi tidak sadar dengan keberadaan kita berdua.
__ADS_1
Kami mengawasi dari posisi yang lebih tinggi, sebelum akhirnya Erza melompat turun ketika rombongan tersebut bersiap untuk bergerak.
Erza dengan mulusnya melompat ke tengah-tengah aula batu, dan aku memakai sayap kecil milikku juga ikut turun dengan perlahan.
Melihat kedatangan kami, orang-orang yang tampak memiliki beberapa persenjataan itu mulai bersiaga. Sebenarnya keberadaan kami belum disadari oleh mereka, sampai akhirnya kami muncul.
Tapi dilihat dari cara mereka menyikapi kemunculan kami, sudah jelas jika mereka adalah kelompok berpengalaman.
Jumlahnya hanya enam orang, tapi aku yakin mereka cukup kuat untuk menghadapi sekawanan monster kelas menengah dengan mudah. Mereka terdiri dari dua petarung jarak dekat, satu petarung jarak jauh, dua pengguna sihir dan satu orang lagi yang tampak menyembunyikan diri.
Komposisi kelompok yang solid, sepertinya akan menarik.
Berjalan paling depan adalah pria dengan postur tubuh yang lebih besar dibanding yang lain, satu membawa kapak helberd, dan satu lagi memiliki pedang jenis boardsword. Keduanya jelas merupakan petarung garis depan, dari bentuk tubuh dan penampilannya.
Sedangkan yang paling belakang tidak tampak memiliki perlengkapan berat. Aku menduga kalau orang dengan jubah gelap yang menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah, merupakan seorang pengguna sihir. Lalu, satu lagi dengan tongkat berkilau dan setelan pendeta, kurasa dia adalah spesialis penyembuhan di tim.
Sisanya adalah pemilik busur yang berdiri di tengah-tengah kelompok. Dan menariknya, aku sadar jika dia adalah keturunan dari ras elf karena telinganya tidak biasa.
Jadi siapa lagi yang belum kusebutkan?
Aku hanya bisa bilang, kalau dia sedang bersembunyi. Pastinya dia memakai semacam teknik kamuflase. Orang itu tidak akan terlihat dengan kemampuan mengamati orang biasa, namun aku tidak selemah itu sampai tidak menyadari keberadaanya.
Setidaknya aku juga yakin bahwa Erza juga sudah mengetahui triknya. Jadi mari kita lihat, apa yang akan dilakukan Erza pada mereka.
“Mohon maaf sebelumnya, siapa kalian ini? Dan tempat apa ini?” ujar satu pria bertanya lebih dulu pada kami, dia adalah lelaki yang membawa boardsword.
“Aku tidak punya kewajiban menjelaskan sesuatu kepada para tikus yang seenaknya masuk di kediamanku.” jawab Erza dengan ekspresi dingin.
Pria ini benar-benar tahu cara membuat orang kesal. Bahkan aku dapat membayangkan kekesalan dalam diri mereka, setelah menerima jawaban ketus dari Erza.
“Finn, tidak perlu banyak bicara lagi. Sebaiknya kita cari tahu sendiri tentang tempat ini, rasanya aku merasakan sesuatu yang menarik setelah masuk ke tempat ini. hehe.”
Pria yang memiliki helberd mengibas-ngibaskan senjatanya dengan sombong. Sedangkan kawannya yang dipanggil Finn, mencoba untuk menenangkan situasi.
Finn ini jelas tidak ingin bermusuhan.
“Tolong hentikan itu, Hard. Aku tidak mau bertindak sembarangan di tempat asing semacam ini.”
“Hehh, hanya pria yang tampak lesu, dan succubus. Apa yang perlu ditakutkan?”
Si tubuh besar Hard ini masih sangat bersikeras. Ucapannya cukup sombong untuk orang-orang yang terlihat lemah menurut sudut pandangku. Tapi karena sekarang diriku hanya pengamat, tidak ada yang perlu kulakukan.
“Hanya tikus masih bisa sombong. Aku penasaran seperti apa wajah putus asa yang akan kalian perlihatkan nantinya.” tatapan mengancam Erza langsung diarahkan pada kelompok tersebut.
“Maaf jika teman-temanku lancang. Kami datang kemari hanya untuk menjelajahi gerbang misterius yang tiba-tiba muncul di dekat kota Demecles.” ucap Finn masih mencoba sopan.
“Ketua kau terlalu merendah padanya, sudah jelas kita datang kemari untuk mencari harta karun disini.”
__ADS_1
“Keel, tolong jangan memperburuk situasi...”
Lelaki berjubah gelap akhirnya ikut bicara, dia terlihat licik. Apalagi tatapan matanya. Dia sudah menatapku cukup lama, meski aku hanya berdiam diri.
Itu cukup wajar mengingat daya tarik milikku sebagai succubus. Hanya Erza yang menurutku tidak normal.
“Lihatlah baik-baik ketua, bukannya lelaki disana tampak memiliki harta yang disembunyikan? Selain itu, jika ada harta di tempat ini, menurutku succubus disana jauh lebih berharga dari semua harta di tempat ini.”
“Pemikiranmu terlalu kotor seperti biasanya, bukan begitu, Keel?”
“Hahaha, bukankah kau juga penasaran, Hard? Aku belum pernah mencicipi succubus sebelumnya.”
“Baiklah, mari sepakat. Kita akan serang mereka dan dapatkan succubus disana untuk bersenang-senang.”
“Hard, aku jadi yang pertama kan?”
Memang benar seperti itu!! Begitulah reaksi pria normal yang kuharapkan saat bertemu denganku!!
Biarpun pembicaraan mereka cukup vulgar. Anehnya, aku merasa cukup senang mendengar obrolan dua lelaki bernama Hard dan Keel ini. Seolah bisa mengobati sedikit perasaan jengkelku terhadap Erza.
Ketika diriku sedang menikmati perasaan indah itu, aura mengintimidasi yang lebih kuat dari Erza bisa kurasakan.
“Baiklah. Jika kalian sengotot itu untuk dikubur di tempat ini, maka akan kukabulkan!”
“Cih, katakan itu lagi jika kami gagal memenggal kepalamu.” ujar Hard bersiap dengan senjata di tangannya. Meski dia tersenyum, tapi dia tampak sangat waspada melihat mimik serius pada wajah Erza.
“Kalian para pria terlalu banyak bicara. Biarkan panahku yang mewakili kalimat dariku!!”
Elf wanita yang diam sejak awal, berteriak keras sambil melepaskan rentetan panah ke arah kami.
Aku dan Erza mengelak dengan tenang dari serangan panah. Kami semula berdiri berdekatan, kini posisiku mulai membuat jarak untuk menghindari serbuan panah.
Hard yang melihat kesempatan, memberikan serangan frontal kepada Erza yang dihindarinya sekali lagi. Helberd yang gagal mengenai target, menghantam kuat ke lantai hingga hancur berantakan.
“Kau pikir aku hanya bisa membual!! 「Atas namaku, kuuraikan hukum alam, penjara dalam kedinginan, Iced Coffin!!」”
Sepersekian detik setelah Keel yang memang benar merupakan penyihir melepaskan mantra, gelombang dingin menyebar keseluruh ruangan.
Aku hanya merasakan hawa dingin, tapi efek yang berbeda terjadi kepada Erza. Tubuh Erza membeku perlahan dimulai dari kaki.
Sebelum tubuhnya membeku sepenuhnya, Erza tampak ingin mengucapkan sesuatu. Namun sebelum itu, Finn yang memakai jenis pedang besar, bergerak dengan kecepatan tinggi, dan sudah berdiri dihadapan Erza, bersiap untuk memotong lehernya dari samping.
“Maaf, karena aku merasa dirimu sangat berbahaya. Maka aku harus memenggal kepalamu.”
Setelah Finn menyelesaikan kalimatnya, boardsword telah bergerak begitu cepat. Dalam waktu yang singkat, kepala Erza sudah tidak lagi ada pada posisinya.
Diikuti semburan darah dari bekas potongan dilehernya, kepala Erza jatu ke tanah dengan singkatnya.
__ADS_1
Benar-benar tidak kusangka, Erza mampu dikalahkan sesingkat itu.