Fate X Dungeon

Fate X Dungeon
Ch#07 - Luka Hati


__ADS_3

“Jadi kamu telah melihat kebenaran...”


Emosi yang terukir di matanya menujukan kepasrahan dan kesedihan. Kantung matanya menghitam memikirkan berbagai hal. Wanita yang awalnya kuanggap sangat kuat, tampak benar-benar kacau.


“...Jangan khawatir Lys, tidak ada yang bisa menghentikan kita. Kebebasan itu akan menjadi milik kita!”


“Maaf, Al... aku tidak sanggup memutus rantai pahlawan sepertimu... aku tahu kebenarannya, tapi jiwaku masih terbelenggu...”


Senyuman yang dipaksakan tidak bisa ia sembunyikan dariku. Wajahnya benar-benar berantakan menyembunyikan berbagai emosi.


“Ap-Apa yang kau bicarakan...? Kita bisa keluar dari situasi ini, benarkan? Bilang saja... Benarkan?” ucapku kelu. Di kepalaku hanya dapat memikirkan berbagai cara bagaimana untuk membawa wanita ini bersamaku. Hanya wanita ini... Hanya dia... aku tidak peduli apa yang akan terjadi pada dunia ini.


“Kumohon, tidak ada waktu—”


“Erza... Nyx... Alvena...” Ketika aku mendengar namaku disebut dengan nada berat olehnya, aku sudah tidak dapat menyembunyikan keputusasaan di wajahku.


“Tolong! Berhenti! Jangan katakan...”


“...Atas nama yang kuberikan itu,”


Hatiku bergejolak memikirkan apa yang ingin dikatakan olehnya. Aku tahu, aku mengerti. Jadi tolong...


“HENTIKAAAN!!!”


“Penggal kepalaku, dan tuntaskan tugas pahlawanmu!!”


Sekuat tenaga aku berteriak menghentikannya, menjadikan suara kami berdua tumpang tindih. Biarpun suaraku menenggelamkan perintah yang keluar dari mulutnya, tapi aku tahu bahwa semuanya percuma.


Dia telah memakai nama yang terikat pada jiwaku untuk memberikan perintah mutlak pada tubuhku. Sekenario terburuk yang sudah terbayangkan di kepalaku, sudah tidak bisa kuhentikan lagi.


Sekuat tenaga aku mencoba menghentikan tubuhku, namun tubuhku tidak mengikuti kehendakku. Aku hanya bisa pasrah mengetahui bahwa tubuhku telah menarik pedang milikku.


Aku melompat ke arah wanita yang paling berharga untukku dengan pedang di atas kepalanya. Air mata keputusasaan meleleh di wajahku, dan membuatku semakin hancur.


Tidak sanggup menahan tubuhku, aku cuma bisa berteriak memohon dalam hati. Membawa kesadaranku tenggelam dalam kegelapan total.

__ADS_1


KUMOHON BERHENTI!!


...


..


.


...----------------...


“Berhenti!!!”


Aku terperanjat bangun dari tempat tidurku karena teriakanku sendiri. Kuusap wajah yang basah karena keringat dengan tanganku.


Mimpi? Sejauh ini mimpi tadi adalah yang paling mengerikan.


Setelah terbangun dari mimpi buruk, aku mencoba menenangkan diri terduduk di atas tempat tidur. Butuh beberapa detik untuk mengendalikan nafasku yang masih tersenggal.


Begitu mulai tenang, aku menatap ke sekeliling dan menyadari bahwa diriku sedang berada di ruanganku. Satu-satunya ruangan pribadi yang kubuat di lantai paling dasar dungeon buatanku.


Bahkan setelah membuang kemanusianku, mimpi buruk itu masih saja menghantuiku setiap malam. Bagi orang yang telah menyaksikan neraka ribuan kali, ternyata masih ada perasaan takut hingga membuat tanganku gemetar seperti ini.


Saat aku berpikir untuk beranjak bangun dari kasurku, kudapati sesuatu menahanku untuk pergi. Ketika kucari tahu, ternyata itu adalah wanita yang memiliki wajah menawan dengan tanduk kecil di atas telinganya.


Dia tertidur dengan air muka yang tenang sambil memeluk tubuhku. Dengan berselimutkan selembar kain, kelopak matanya yang tertutup sedikit bergetar. Aku tahu dia sedang berpura-pura terpejam.


Bahkan meski dia succubus, aku tidak memiliki perasaan apapun selain rasa kagum akan kecantikan dirinya. Setelah memandanginya beberapa saat, aku mencolek-colek pipinya dengan sedikit kekuatan.


“Apa maksudnya menyelinap ke tempat tidurku? Berhenti berpura-pura, aku sudah mengetahuinya.”


Waktu mendengar suaraku, masih tetap di posisinya, dia membuka mata perlahan dan menatapku dengan senyuman.


“Hmm, apa kamu tidak tertarik dengan tubuhku? Jika kamu ingin bermain, tidak masalah untukku.” ucapnya sambil tersenyum menggoda.


Tanpa menunggu lama, aku mengabaikan ucapannya. Memilih untuk segera meninggalkan kasur setelah menyingkirkan tangannya yang masih melingkar di atas perutku.

__ADS_1


Setelah melepaskan diri, aku baru sadar jika tubuhku juga tidak tertutup sehelai kain pun. Tidak ingin ambil pusing, kuambil pakaianku yang ternyata tergeletak begitu saja di lantai sebelum akhirnya kupakai.


“Jauh lebih mudah menghangatkan tubuh jika aku melepas pakaianmu. Kamu tahu, saat kedinginan akan lebih baik jika melakukan kontak tubuh? Tanpa pakaian yang menghalangi hasilnya akan lebih efektif, kan?” jelasnya tanpa kuminta.


Dengan masih membiarkan diri tetap sibuk untuk merapikan pakaianku, aku melirik ke arahnya dengan pandangan datar. Sella masih tetap di atas kasur, tapi dengan menghadapkan tubuhnya miring ke arahku.


Satu tangan dipakai untuk menopang kepalanya, dan satu lagi dipakai untuk menarik selimut menutupi tubuh sampai ke bawah leher. Memperlihatkan pose seperti dalam lukisan yang membuat pria manapun akan terpesona, tapi bagiku dia hanya terlihat seperti 'wanita yang cantik'. Hanya itu saja, tidak lebih.


“Wanita itu... Orang yang kamu panggil Lys, apa dia wanita yang paling berharga bagimu?”


Ketika aku ingin meninggalkan ruangan sesudah selesai berpakaian, pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari mulut Sella menghentikan langkahku. Aku hanya menoleh kebelakang, memandangnya dalam diam melalui pundakku.


“Aha, maaf, maaf. Aku tidak sopan telah meilihat mimpimu, lupakan saja pertanyaan tadi...” Sella mengatakan itu sambil memaksakan senyuman. “Aku cuma... tidak menyangka orang sedingin dan sedatar dirimu bisa seputus asa itu dalam mimpi itu.” tambahnya dengan suara rendah.


Kalimat yang diucapkan terakhir tidak bisa terdengar jelas olehku, malahan aku bisa melihat ekspresi muram di wajahnya.


Sella tampaknya baru saja mengintip mimpiku dengan skill unik yang dimiliki succubus, Dream Walker.


Sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan, meski dia melihat mimpiku. Aku tidak berniat untuk menutupi masa laluku. Hanya saja, aku tidak terlalu suka membicarakannya.


Karena sudah lama sejak aku mengunci diri dibawah tanah, aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Dua puluh tahun yang kuhabiskan tanpa berbicara pada siapapun membuatku menjadi pribadi yang dingin.


“Lain kali, jika ada waktu untuk melihat ke dalam mimpiku, alangkah baiknya kalau kau mengubah mimpiku dengan skill-mu yang lain.”


“Itu memang akan membuatmu lebih baik, tapi tidak mungkin dapat menghapus penyesalanmu!”


Mengejutkan sekali.


Kata-katanya baru saja mengenai tepat di antara luka di hatiku. Aku tidak bisa menyanggahnya. Faktanya succubus memang punya kemampuan mengendalikan mimpi, melalui skill spesial miliknya yang lain, Dream Manipulation.


Namun hanya mimpiku yang berubah. Dan seandainya Sella tidak menggunakan skillnya lagi, mimpi buruk yang lain akan kembali padaku.


“Sudahlah. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kita punya kerjaan hari ini. Ambil pakaianmu dan ikut bersamaku!” pintaku padanya, karena aku sudah tidak ingin membicarakan luka lamaku lagi. Biarpun luka lama, tapi rasa sakitnya masih terasa jelas.


Ach, siapa yang bilang 'waktu adalah obat bagi luka di hati'?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2