Fate X Dungeon

Fate X Dungeon
Ch#08 - Rencana Awal


__ADS_3

Karena kemarin harus mengurus beberapa 'tamu', aku belum sempat menjelaskan banyak hal pada Sella. Jadi hari ini aku mengajak wanita itu untuk berkeliling ke tempat-tempat penting di dalam dungeon, dan menjelaskan beberapa pekerjaan untuknya.


Kira-kira membutuhkan waktu selama dua setengah jam untuk mengenalkan dungeon padanya. Mengingat seberapa cerdas dan berwawasan dirinya, hal ini memudahkan kerjaanku. Perhentian terakhir kami setelah membimbingnya adalah Ruangan Singgasana.


Sebenarnya aku belum memikirkan nama yang tepat untuk setiap ruangan di dalam dungeon. Namun karena ruangan ini tampak sesuai dengan gambaran ruangan seorang penguasa yang mendiami dungeon berbahaya, jadi menyebutnya ruang singgasana adalah pilihan tepat.


Ruangan ini luasnya kira-kira 50x50 meter, dengan langit-langit yang tinggi dan interior ruangannya tampak klasik menambahkan nuansa seram bagi seseorang yang memasukinya.


Pintu masuknya sendiri dibuat dengan sangat megah, memiliki sepasang daun pintu bertemu manis yang tingginya mencapai 10 meter. Dari pintu masuk sampai ke kursi singgasana yang ditaruh di ujung ruangan, karpet merah yang sangat mewah dihamparkan membelah ruangan. Di antara kiri dan kanan karpet merah, berdiri pilar besar yang menopang langit-langit berjumlah 10 pasang. Cahaya lilin di tempatkan di setiap pilar, dan menjadikan salah satu sumber cahaya selain lampu mahal yang tergantung di langit-langit.


“Ho-Ho... Bagus juga konsep yang dibangun di ruangan ini. Kupikir aku baru saja memasuki kastil raja iblis.” ucap Sella takjub ketika memasuki ruangan untuk pertama kali. Kilauan matanya memperlihatkan ketertarikan pada hal baru yang ditemukannya. “Apa nantinya kamu akan duduk disana menyambut para penantang yang mencapai tempat ini?! Kemudian kamu akan menghancurkan mental mereka ketika dirimu memperkenalkan diri dengan angkuh pada mahluk tak berguna yang berani melangkah ke teritorimu!” tambahnya dengan semangat tak terhentikan.


“Mengejutkan sekali. Siapa sangka kau akan terpikirkan plot semacam itu saat pertama kali melihat tempat ini.” ucapku acuh.


Meskipun aku mengerti jika dirinya mudah sekali tertarik pada bermacam hal, tapi aku tidak berharap reaksinya akan jadi seperti itu.


“Hehe, tentu saja. Asal kamu tahu, sejak membaca beberapa karya sastra dari dunia atas, dulu aku pernah berpikir untuk membuat karya tulisku sendiri.” ujarnya bangga sambil membusungkan dada.


Benarkah? Sulit dipercaya, ternyata dia pernah punya mimpi sederhana semacam itu.


Namun, karena masih ada topik lain yang lebih penting. Aku tidak menanggapinya untuk sekarang, dan memilih membicarakan sesuatu yang lain.


“Aku bersedia membaca karyamu yang akan kau buat nanti, tapi lakukan itu saat kau luang. Selain itu, ruangan ini bukan kusiapkan untuk diriku sendiri.”


“Kenapa begitu?” tanya Sella sedikit jengkel. Karena melihatku seolah tidak peduli dengan yang diucapkan sebelumnya, sudah wajar jika dia tampak kesal meski tidak diungkapkan.

__ADS_1


“Jawabanya, karena aku telah memikirkan sosok lain yang lebih cocok. Namun, karena persiapanku belum cukup, saat ini belum bisa memanggilnya.”


Setelah melihat bahwa dia sudah menyerah, kudekati kursi singgasana dan duduk di atasnya. Sella mengikuti, lalu mengambil tempat untuk berdiri di sebelahku tanpa bertanya lagi.


Beberapa saat berikutnya, aku membuat gerakan kecil dengan tangan kiriku, seperti orang yang sedang mengusap sesuatu di udara.


Sebuah peta teransparan di tampilkan dengan sihir. Sebenarnya ini merupakan peta yang memperlihatkan wilayah di atas tanah dungeon yang kuciptakan, dan mencakup sampai 200 km di sekitarnya.


Sella tidak mau langsung bertanya, dia lebih memilih menunggu penjelasan dariku.


“Karena sudah dua puluh tahun tidak pernah keluar, jadinya tidak tahu seperti apa keadaan di atas sana. Sebelum aku memanggilmu, sebenarnya telah lebih dulu mengutus sekitar 300 familiarku untuk mengumpulkan informasi di luar.” jelasku padanya. Sella mengangguk sewaktu mengamati peta dengan seksama.


“Jadi... Peta ini adalah hasil dari pengamatanmu?” tanya wanita itu sambil menunjuk peta.


Walaupun dungeon telah kubuat sejak dua puluh tahun silam, aku hanya fokus pada pengembangan tubuh buatan dan penelitian aether potion. Sehingga tidak ada waktu untuk mengerjakan hal lain. Jadi begitu kemarin aku merasa sudah waktunya mengembangkan dungeon lebih besar, aku memanggil pelayan untuk dijadikan asisten yang bisa dipercaya.


“Selain penghuni dan keamanan, apa lagi menurutmu yang dibutuhkan sebuah dungon?” Sella tampaknya memikirkan jawaban atas pertanyaanku. Karena dia pandai, tidak perlu bagiku untuk menunggu lama. Jawaban yang aku mau sudah keluar darinya.


“Setiap mahluk hidup membutuhkan penunjang agar mereka tetap tinggal. Biarpun mahkluk sihir atau iblis pasti juga butuh. Sama seperti manusia yang membutuhkan makan, dungeon juga perlu dengan namanya sumber daya agar bisa terus bertahan. Kalau begitu, bagaimana kita akan mendapatkan sumber daya ini?”


Seperti biasa, dia menjawab semua pertanyaanku dengan cara yang selalu membuatku kagum.


Rasanya aku beruntung telah memanggilnya. Pujiku padanya dalam hati.


“Aku punya harta yang bisa dijadikan sumber daya hingga beberapa ratus tahun ke depan, tapi karena kita lebih butuh sumber daya yang stabil. Maka jalan satu-satunya adalah dengan meminta seseorang menyediakan sumber daya yang berkelanjutan.”

__ADS_1


“Maksudnya... kamu ingin menyerang sebuah desa untuk dijadikan bawahan yang akan menyediakan sumber daya?” Begitu selesai berbicara, Sella segera menanggapi ucapanku seperti yang kuharapkan.


“Menyerang sebuah desa hanya akan melahirkan ketakutan dan permusuhan. Aku lebih suka memakai kalimat 'menaklukan' saat ini. Dengan membuat mereka takluk, kita akan memberikan rasa aman dan percaya, sehingga mereka bisa kita kendalikan dengan mudah kedepannya nanti.” jelasku padat.


Lalu dengan tenang kukeluarkan kantung kulit ukuran sedang dari gudang dimensi. Kantung kuli yang kuperlihatkan merupakan sebuah item sihir. Ini adalah versi lebih rendah dari gudang dimensi, dimana kapasitas barang yang bisa disimpan lebih terbatas dan biasanya hanya kupakai untuk menyimpan barang-barang kecil saja.


Dalam kantung tersebut tersimpan banyak sekali gulungan sihir yang telah kubuat selama ini.


Setiap gulungan sihir biasanya menyimpan berbagi sihir untuk dipakai secara instan, tanpa butuh mana atau rapalan dalam penggunannya. Karena merupakan barang sekali pakai, para penyihir biasanya memakai gulungan sihir hanya untuk sihir dengan waktu dan usaha lebih dalam prosesnya.


Mungkin tiga ini cukup.


“「Mirror Observation」「Farsight」「Paranormal Intuition」”


Setelah aku mengucapkan tiga kalimat tersebut, kulempar ketiga gulungan sihir ke udara. Ketiganya terbakar oleh api kebiruan dan lenyap di udara. Berikutnya visual muncul saat kutunjuk salah satu lokasi di atas peta teransparan.


Target yang kupilih adalah...


“Desa Arunn.”


“Ini!?” Menyaksikan pemandangan yang diperlihatkan cermin sihir dari desa arunn membuat Sella kaget.


Waktu yang tepat, ini sesuai dengan perkiraanku. Sudah waktunya kita pergi kesana.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2