Fate X Dungeon

Fate X Dungeon
Ch#18 - Muncul musuh kuat


__ADS_3

Setelah melangkah keluar dari gate, aku sampai di pinggiran hutan di kaki pegunungan. Para imp sebelumnya telah kuminta membawa sebuah item sihir yang bisa terhubung langsung dengan gate milikku. Jadi aku dapat membuka gate ke tempat salah satu imp yang mengintai atas perintahku.


Melihat kemunculanku, imp bergegas menunduk memberi hormat, dan mulai berbicara.


“Saya telah menunggu anda, tuan.”


Kuberi tanggapan singakat, dan meminta dia menjelaskan kondisi desa yang sedang diamati.


“Sebelumnya saya memohon maaf. Kami sudah mengecewakan anda, karena pengintaian berjalan buruk. Saya hanya ingin bertahan agar sedikit informasi yang kami dapat bisa tersampaikan pada anda.” Ujar Imp terdengar menyesal. “Imp yang lain menghilang begitu mendekati ke desa itu, hanya pada jarak ini saya bisa tetap bertahan...” sambungnya.


Kemudian kupandangi desa yang kuliat memiliki pagar setinggi 3 meter, dan terbuat dari kayu. Pagar dibangun mengelilingi desa, sehingga mencegah seseorang memasuki desa sembarangan. Dua sosok yang terlihat seperti penjaga, berdiri menjaga pintu masuk desa.


Berdasarkan informasi imp, desa Moore itu, sangat jarang beraktifitas ke luar pagar, selain untuk berburu dan mengirim barang. Sepertinya gandum dan susu merupakan produk yang dihasilkan disana, kemudian dikirim ke luar kota untuk dijual. Aktifitas mereka terdengar seperti kehidupan desa pada umumnya, dimana pekerjaan utama di desa tersebut adalah bertani, dan beternak.


Setelah merenung beberapa saat, aku menanyakan sesuatu yang membuatku curiga.


“Mungkinkah sebuah penghalang sihir telah terpasang disana?” tanyaku.


Imp merasa ragu sebelum menjawab, tapi kemudian menggeleng setelah mengambil jeda sejenak untuk berpikir.


“Saya tidak merasakan sihir semacam itu dari sana...” ujarnya seolah yakin.


Biarpun imp tidak bisa diperhitungkan dalam pertarungan, namun sebagai golongan iblis, imp adalah mahkluk yang peka terhadap sihir.


Aku yang mengerti akan hal itu, tentu tidak berpikir dua kali untuk percaya dengan kata-katanya. Oleh sebab itu, fakta hilangnya imp yang berusaha mendekat ke desa itu, disebabkan oleh sesuatu yang tidak kumengerti.


Fakta ini memancing rasa penasaran dalam diriku. Jika imp yang ahli dalam mengintai, sampai gagal tanpa tahu penyebabnya, hal yang merepotkan pasti berada di desa tersebut.


Akan jauh lebih mudah, jika terjadi karena ahli sihir yang hidup disana, membangun penghalang kuat untuk menghalau penyusup. Paling tidak, aku punya seribu satu cara untuk melawan penyihir.


Tanpa sadar, aku menyeringai saat mengingat fakta tersebut, dan menatap lurus ke arah desa. Sejak awal, aku sudah berniat mengeceknya langsung, jadi tidak ada gunanya berlama-lama disini.


“Aya lihat, apa yang desa itu milikki? Lanjutkan pengawasan.” kataku sambari memerintah imp.

__ADS_1


Kemudian aku berjalan mendekati pintu masuk desa Moore, dimana dua lelaki muda sedang berjaga terlihat. Mereka menjadi waspada ketika menyadari kehadiranku.


Sebelumnya aku telah memakaikan jubah sederhana berwarna coklat, di atas jubahku yang biasanya. Sihir penyimpanan dari gudang dimensi, merupakan kemampuan praktis yang sangat berguna dalam situasi semacam ini.


“Siapa kamu? Urusan apa yang membawamu ke desa kami?” tanya salah satu penjaga padaku. Aku yang bersembunyi dibalik jubahku, memerintah mereka dengan datar.


“Panggil kepala desa kalian, aku ingin bicara.”


Mendengar ucapanku yang terkesan sombong, salah satu penjaga yang bertubuh lebih besar, mulai berjalan ke arahku. Dia berupaya meraih ujung jubah yang kupakai menutupi wajah untuk mencaritahu identitasku.


“Setidaknya, tunjukan wajahmu! Aku tidak tahu pengemis dari mana kamu ini!” ucapnya kasar.


Sebelum mencapaiku, aku lebih dulu meraih pergelangan tangannya. Kemudian dengan tenaga seminimal mungkin, kuremas tangannya hingga mengeluarkan bunyi. Ekspresinya menjadi kesakitan bersamaan suara tulang yang terdengar olehnya.


Bebagai upaya telah dilakukan untuk melepaskan diri, namun semuanya sia-sia. Keringat dingin membasuh tubuhnya, ketika tahu pergelangan tangannya tidak bisa lepas dariku. Aku berkata.


“Jangan menyulut amarahku lebih dari ini, cepat pergi panggil kepala desa!”


Dia bersama memintaku untuk menunggu, dan segera berlalu pergi meninggalkan tempat ini.


Tidak lama, keduanya kembali membawa lelaki setengah baya menemuiku. Usia lelaki yang baru datang itu, terlihat lebih tua dibanding mereka. Namun dari tubuhnya memancar aura yang sangat berbeda dari dua orang sebelumnya. Orang inilah alasan menghilangnya para imp bawahanku.


Meskipun tubuhnya terlihat lebih kekar dan berisi, dibanding dua penjaga yang bersamanya, tapi dia memiliki tongkat bantu dari kayu di tanganya. Perlahan dia menghampiriku.


Jika diperhatikan, air mukanya lebih terlihat seperti veteran dalam perang dibanding seorang kepala desa kecil di perbatasan. Dia mulai berbicara dengan nada sopan ketika sudah bertatap muka denganku.


“Perkenalkan, saya Gideon. Orang-orang mempercayaiku sebagai pemimpin di desa ini. Boleh saya dengar alasan anda datang ke desa kami?”


Karena tidak ingin berdiskusi panjang lebar, kuutarakan maksudku tanpa bertele-tele.


“Aku Raja kegelapan, Erza. Memilih desa ini sebagai bagian dari wilayah kekuasaanku. Berikan aku kesetiaan kalian, akan kujanjikan sebuah keselamatan.”


Mendengar hal itu, ekspresi lembut kepala desa, berubah dalam sekejap mata. Gideon tua menatapku tajam, memberikan tekanan mengitimidasi.

__ADS_1


Aura yang lebih kuat terasa berkali-kali lipat darinya, dibanding sebelumnya. Memang aneh jika aku yang berkata bagini, tapi aku merasa kagum kepadanya. Lelaki ini telah menyamai tekanan yang kulepaskan sebeagi seorang mantan pahlawan, dengan aura miliknya.


Meski dua orang yang bersamanya telah kubuat gemetar ketakutan, dia berdiri tanpa bergeming, memandangiku dengan lebih tajam.


“Apa anda serius? Jika hanya lelucon, aku bersedia membiarkan anda angkat kaki dari sini...” ujarnya dingin. Terdapat aksen yang berbeda dari kata-katanya sekarang ini.


Memang benar ini mengagumkan, tapi belum cukup untuk menakutiku. Aku menjawab dengan santainya, pertanyaan yang sudah diimbuhi nafsu membunuh yang amat kental.


“Melihat potensi milikmu, sangat disayangkan jika harus membunuhmu. Tapi, jika kau yakin untuk melawanku, maka besiaplah menghadapi konsekuensi yang harus kau dan desa ini terima.”


Gideon tersenyum mendengar kalimatku, sebuah senyuman dingin yang ditujukan untuk lawan, yang siap untuk dibunuh kapanpun. Tongkat yang dia angkat memperlihatkan bilah pedang tersembunyi dibaliknya. Kata-kata bernada berat terucap, bersama kelakar tawa darinya.


“Haha, lucu sekali. Mari kita lihat bagaimana anda mencoba?!”


Sebuah pijakan kuat, terpatri ke tanahd dari kaki lelaki paruh baya tersebut. Tanpa berlama-lama, dirinya melesat begitu cepat ke tempatku, mengangkat bilah pedang yang berkilau terkena sinar matahari.


Tebasan tanpa ampun merobek udara dengan begitu kejam, tapi berhenti ditengah jalan oleh dinding tak kasat mata yang muncul karena sihirku. Unbreakable Wall, sihir pertahanan milikku telah kupakai lebih dulu sebelum dia menyerang.


“Hee... menarik? Anda penyihir yang terampil, sihir tanpa rapalan harusnya butuh bakat yang tinggi.” ujarnya.


Dia melompat mundur mengambil jarak, bersiap untuk serangan selanjutnya. Meski serangan biasa tidak akan menembus unbreakable wall, tapi naluriku berkata orang ini punya cara untuk merobohkannya. Aku tidak membiarkan kewaspadaanku kendur, melihat kuda-kudanya aku telah mengerahkan berbagai sihir pendukung untuk melawannya.


Atmosfir di udara terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitku. Kekuatan orang ini, tidak salah lagi... dia pendekar sihir kelas atas.


Pendekar sihir merupakan job kelas petarung yang mengkombinasikan skill bela diri dan sihir dalam pertarungan. Tekanan sihir dipakai untuk memperkuat serangannya, bisa membuat sebuah batu yang ditebas oleh pedangnya menjadi seperti mentega.


Lawan sekuat ini, wajar saja para imp tidak sanggup mengatasinya. Aku tersenyum.


Menarik sekai. Siapa sangka orang sekuat ini muncul di tempat kecil seperti ini?


“Rasanya aku harus berterima kasih, karena sudah membantuku melakukan pemanasan setelah sekian lama berdiam diri.”


Bentrokan berikutnya akan segera terjadi.

__ADS_1


__ADS_2