Fate X Dungeon

Fate X Dungeon
Ch#17 - Objek Percobaan


__ADS_3

Sejak pintu alternatif dibuka, perkembang dungeon meningkat pesat. Para monster biasanya memang memiliki naluri alamiah untuk berkumpul di wilayah yang padat akan daya magis. Karena dibangun di atas jalur naga, masuk akal jika para monster tertarik memasuki dungeon. Aether yang mengalir pada jalur naga, merupakan konsep energi yang lebih tinggi dari daya magis, atau lebih dikenal sebagai Mana.


Sebenarnya dengan daya magis sebanyak ini, monster-monster akan berdatangan dengan sendirinya selama pintu dibuka. Namun, aku hanya mempercepat prosesnya dengan sedikit tindakan kecil.


Ketika memasuki Ruang inti dungeon, aku melihat Sella sedang sibuk di depan Dungeon Core. Semenjak aku memberinya otoritas untuk mengakses core, dia sekarang mampu menggunakan fungsi yang telah ditambahkan dalam core tersebut.


“Ruangan ini sudah banyak berubah, ya?” ucapku saat mengamati setiap sudut ruangan, yang terasa berbeda jauh dari ingatanku. Hal ini bisa terjadi karena Sella telah mengatur ulang ruangan ini, sejak dia menjadi asistenku.


Begitu menyadari kehadiranku, wanita itu langsung menyambutku dengan sapaan hangat khas-nya. Meski dirinya bisa bersikap profesional, tapi aku lebih nyaman melihat perilakunya yang biasa disaat kami sedang berdua. Maka dari itu, Sella akan berbicara santai sewaktu berdua denganku.


Dia kemudian menjelaskan berbagai hal tanpa kuminta, dengan sangat antusias. Aku rasa, Sella terlalu menikmati pekerjaan ini. Baguslah kalau begitu...


“Padahal kita sudah menarik para Ogre, tapi kelihatannya jumlah mereka tidak akan berkembang dalam waktu dekat...”


Tanpa perlu dijelaskan, aku sendiri mengerti maksud ucapannya. Karena ogre pada dasarnya adalah mahkluk soliter, mereka tidak pernah berkelompok dengan sejenisnya. Akibatnya, populasi ogre tidak sebanyak goblin. Mereka lebih cenderung untuk bertemu lawan jenisnya, saat memasuki musim kawin. Biasanya 2-3 tahun sekali.


“Ah, tampaknya orc telah membuat sarang kecil, di beberapa titik di dalam lantai 2. Kelompok goblin juga sudah mengambil sebagian titik di lantai 1, dan mulai melangkah turun ke lantai berikutnya.”


Penjelasan demi penjelasan diberikan oleh Sella, terkait proses pertumbuhan dungeon yang dia amati melalui Dungeon Core. Setiap selesai mendengar penjelasan, aku hanya memberi anggukan kecil, dan terkadang mengabaikannya, seolah tidak peduli. Namun, Sella terlihat tidak terganggu, malahan dia semakin serius menjelaskan lebih banyak hal.


Dari kinerja yang diberikan olehnya, aku sekali lagi bersyukur telah memilih Sella sebagai asistenku. Dengan begitu, aku bisa mempercayainya untuk menjaga dungeon saat aku tidak ada.


Saat dia sibuk menjelaskan padaku, aku mengeluarkan sebuah buku dari gudang dimensi. Buku itu terlihat layaknya buku pada umumnya, tapi informasi yang ditulis sangat berguna bagi keberlangsungan dungeon.


“Ini adalah seri kedua yang harus kau baca.” kataku, sambil menyerahkan buku padanya. Dia menerimanya tanpa bertanya, dan membalik setiap halaman buku dengan tenang.


Buku itu tidak terlalu menarik untuknya, tapi Sella masih bersedia membaca sampai tuntas. Buku yang ditulis oleh Pengrajin Aneh pada zaman dulu, Judulnya: 'Perangkap Labirin tak Tertembus'. Sesuai namanya, buku itu memberikan trik-trik khusus untuk membuat jebakan, entah melalui cara manual ataupun menggunakan sihir.

__ADS_1


Begitu selesai membaca seluruh isinya, Sella akan langsung menerapkan isi dalam buku tanpa kuminta. Sekarang variasi pertahanan dungeon akan semakin banyak.


Sekarang urusanku disini sudah selesai, aku akan tinggalkan sisanya untuk Sella.


Sewaktu aku hampir meninggalkan ruangan, dia bertanya menghentikan langkahku.


“Bagaimana dengan orang-orang itu?”


“Orang-orang itu, ya...” gumamku sembari menoleh padanya. Orang yang Sella maksud adalah kelompok petualang yang datang kemari sebelumnya. Karena aku sendiri yang memintanya melakukan sesuatu pada 'mereka', dia ingin tahu tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya.


“Apa mereka masih melakukan perlawanan?”


“Si pengguna pedang telah sepenuhnya menyerah, kami hanya butuh tiga orang dari ras-ku untuk menaklukannya. Penyihir jelek itu juga sudah mulai gila. Sepertinya hanya dua wanita dikelompok itu yang cukup sulit kutangani.”


Setelah mendengarnya, aku memberikannya sebuah intruksi.


“Kita akan pakai dua orang yang sudah mati, mungkin dengan orang yang punya hubungan, hasilnya akan berbeda.” ucapku. Dia mengangguk atas intruksiku, sebelum aku berlalu meninggalkan ruangan.


Kelompok petualang yang kubiarkan hidup setelah memasuki dungeon-ku, telah menjadi objek penelitian baru-baru ini. Sella telah melakukan beberapa percobaan kecil untuk menggoyahkan keyakinan mereka, sesuai interuksi yang kuberikan, dan hasilnya tidak bisa melebihi harapanku.


Setidaknya aku berharap, satu dari dua wanita di kelompok itu, entah si elf atau priest akan goyah setelah meberi tekanan pada mentalnya. Dengan mengetahui seberapa tahan mahkluk hidup terhadap tekanan, akan bagi penelitian sihirku ke depannya.


Jika dirinci, hasil yang kudapat pada percobaan ini. Pemimpin kelompok yang memakai pedang, dibutakan oleh nafsu di hadapan para succubus. Kurasa dia adalah tipe lelaki pada umumnya. Untuk penyihir mereka, aku memikirkan sebuah kemungkinan kecil, dengan mengeringkan mana-nya dan memulihkan lagi dengan ramuan sihir, aku ingin melihat reaksi lain yang mungkin bisa ditunjukan selain kegilaan.


Sedangkan pemanahan kelompok dari ras elf, bisa bertahan terhadap ilusi yang memperlihatkan teman-teman dan anggota rasnya dibunuh satu per satu. Mungkin karena usianya berbanding lurus dengan jangka hidupnya, elf lebih sulit untuk dirusak mentalnya.


Kalau untuk priest wanita di kelompok itu, aku tertarik setelah melihat 'sesuatu' yang disembunyikan olehnya. Maka dari itu, aku cukup yakin dia bisa bertahan setelah dibiarkan kelaparan dan memberinya gambaran kehancuran dunia berkali-kali.

__ADS_1


“Aura yang kurasakan dari priest itu, mungkinkah... Rasa menjijikan dari orang-orang kuil, kah?” Aku menghela nafas setelah menggumamkan hal itu.


Kutepis pemikiranku yang berlarut-larut, dan memilih berjalan melanjutkan langkahku. Saat ini fokusku adalah memperbesar dungeon. Masih belum waktunya untuk mengurus orang-orang picik tersebut, ujarku dalam hati.


Sudah waktunya memeriksa setiap desa yang harus aku taklukan. Desa Arunn juga tampaknya sudah pulih, aku akan mendatangi Dorran setelah singgah ke desa-desa lain terlebih dulu.


………


……



————————————————————————


...Dungeon...


————————————————————————


@ Tipe : Bawah Tanah (Underground)


@ Max Floor : 7 Tingkat


@ Penghuni :


...~ Goblin, Undead (1st floor)...


...~ Orc, Imp (2nd floor)...

__ADS_1


...~ Imp, Ogre (3rd floor)...


————————————————————————


__ADS_2