
Hal yang terucap oleh pria itu membuat sang succubus kebingungan. Apa maksud 'bekerja' yang dikatakannya sama dengan 'bekerja' yang ada dibenaknya, begitulah pertanyaan dalam hatinya.
Tanpa ragu, dia turun dan menginjakan kaki ke tanah setelah melayang-layang untuk beberapa saat. Menatap lelaki dihadapannya untuk mencari jawaban pasti darinya.
“Bekerja untukmu kau bilang? Tentu, aku tidak akan membuatmu kecewa, memberi sebuah kepuasan adalah arti hidupku. Lalu, untuk bayaranku... bagaimana jika—”
“Tidak, bukan seperti itu. Aku tidak membuat panggilan untuk memintamu membukakan kaki untukku.”
“Eh?!”
Tampak bingung raut wajah sang succubus. Pikirannya membeku, dia kesulitan untuk memahami kalimat sang pria.
Succubus yang dasarnya adalah ras turunan dari iblis, paling senang mempermainkan mahluk lain. Dalam kasusnya, dia bisa menggoda laki-laki, dan manusia adalah yang paling favorit bagi mereka. Alasannya sederhana, karena itu satu-satunya cara bagi mereka untuk hidup dan berkembang. Dengan mengonsumsi energi mahluk lain melalui hubungan ‘spesial’, baik secara langsung maupun melalui mimpi.
Berdasarkan fakta tersebut, succubus pada umumnya dipanggil untuk memuaskan hasrat bagi pemanggilnya. Jadi itu merupakan fakta umum kenapa hampir semua yang memanggil mereka berasal dari golongan laki-laki. Wajar kalau penampilan mereka sangat memikat.
Itu kenapa aneh sekali jika mereka dipanggil oleh orang yang tidak punya minat akan hal tersebut, meski tahu bahwa succubus adalah ras yang haus akan kepuasan biologis.
Diposisi tersebutlah succubus yang terpanggil saat ini sedang hadapai.
Apa maksudnya? Ada apa dengan lelaki ini?
Begitu batin succubus dalam hati.
Merasa ada yang salah, succubus kembali menanyakan maksud kata-kata sebelumnya.
“Enn jadi... apa maksudnya? Aku tidak mengerti, memangnya apa tujuanmu memanggilku?”
Merasa tidak perlu menjawab, lelaki yang memanggilnya hanya mengayunkan jari telunjuk. Seolah memberi perintah pada lingkaran sihir yang menyala di bawah kaki sang succubus, lingkaran sihir kehilangan cahayanya beberapa detik kemudian.
Succubus mengrenyitkan dahi meminta jawaban lebih, namun percuma. Pria itu hanya berbalik, dan berjalan meninggalkannya.
“Kenapa kau menghapus penghalangnya?” tanya succubus masih penasaran, sambil mulai mengikutinya.
Sebuah kesunyian tanpa percakapan, perjalanan mereka benar-benar tenang. Hanya langkah kaki yang bergema di telinga mereka berdua. Tidak ada tanda-tanda dari pria itu, kalau dia akan memberikan jawaban.
Biarpun kepalanya masih dipenuhi banyak pertanyaan, biarpun dirinya masih belum mengerti. Succubus akhirnya memilih mengikuti dengan pasrah, tanpa banyak bertanya lagi.
“Namaku adalah Erza, Penyihir.”
__ADS_1
Entah apa yang ada dipikiran pria itu, dia melontarkan kalimat perkenalan yang singkat, padat, dan jelas. Benar-benar tanpa imbuhan apa-apa.
Pria ini? Apa-apaan itu?!
Umpatnya hanya dalam hati. Succubus benar-benar dijatuhkan dalam roda kebingungan. Dia mengerti alasannya, dan pria itu juga tidak memaksanya untuk memperkenalkan diri juga.
Namun sebagai wanita yang terlahir dari ras yang punya daya sensual tinggi, hal itu membuatnya tidak nyaman. Dia akan jauh lebih baik jika pria itu menanyakan namanya.
“Arrh, Sella! Panggil saja aku dengan Sella.”
Karena merasa sudah tidak tahan lagi, hanya itulah yang bisa diucapkan pada lelaki itu meski tidak diminta.
Tidak ada respon ketertarikan, bahkan dengan datarnya hanya melirik singkat Sella yang berjalan mengikutinya di belakang.
Haaaaaaaaaa!!!
Parameter kekesalan Sella benar-benar dibuat semakin tinggi. Dibenak Sella sekarang, penyihir bernama Erza itu sungguh menjengkelkan.
Rasanya harga diri miliknya sebagai Succubus yang dikenal paling lihai dalam memikat sudah hancur. Namun belum sempat Sella mengekspresikan rasa jengkelnya, wajahnya sudah menabrak punggun Erza yang baru saja berhenti berjalan.
Sella sadar bahwa mereka kini sudah bukan lagi berada di antara lorong panjang bertembokan batu seperti sebelumnya. Meski ruangan mereka berada saat ini masih terbuat dari batu, namun disusun dengan lebih rapi daripada dinding batu yang ada di lorong.
“Mungkinkah dia peneliti sihir?” gumam Sella pelan sampai tidak didengar oleh Erza. Jadi selama dirinya kesal terhadap sikap acuhnya, Sella tidak menyadari jika ia memasuki ruangan semacam itu.
“Ada apa? Inilah yang ingin kutunjukan.”
Disadarkan oleh kata-kata itu, Sella menggerakkan kepalanya mencari sesuatu yang dimaksud Erza.
Sebuah bola misterius adalah sesuatu yang paling menarik perhatian dan ingin ditunjukan oleh Erza, selain karena itu di tempatkan di tengah-tengah ruangan. Keberadaannya yang bisa melayang di udara tanpa sebuah penyangga adalah fakta jelas yang membuatnya lebih menarik.
Prinsip kerjanya pasti adalah sihir, begitulah kesimpulan yang Sella peroleh ketika melihatnya untuk pertama kali.
“Bagaimana menurutmu? Ini impianku, tahu sesuatu soal ini?” ujar Erza masih dengan wajah datarnya.
Benda ini? Impian katanya?
Meski menatapnya dengan tidak tertarik, Sella sendiri juga sebenarnya cukup penasaran. Apa alasan pria yang tidak tertarik dengan tubuhnya itu, menyebut benda berbentuk bola tersebut sebagai hartanya.
Sebenarnya diantara sekian banyak succubus, Sella termasuk pintar dan berpengetahuan dibanding succubus lain yang lebih tertarik untuk menyempurnakan cara menggoda ras lain. Sella lebih senang mempelajari hal-hal baru, dan mengetahui berbagai rahasia yang ada di dunia.
__ADS_1
Bisa dibilang, Sella adalah succubus yang berwawasan luas. Jadi hanya dengan mengamatinya selama beberapa saat, dia langsung bisa tahu bola misterius apa yang disebut sebagai harta oleh Erza.
“Dungeon Core. Inti sihir yang mampu mengatur dan mengelola setiap ruangan yang terhubung menjadi satu, dan ruangan ini yang bertindak sebagai pusatnya. Tidak, lebih tepatnya kalau bola inilah pusatnya.”
Begitulah penjelasan yang Sella pahami dari bola itu. Dia bahkan sebisa mungkin, menjelaskannya dengan sangat singkat namun jelas.
“Bagus. Kelihatannya aku tidak perlu melakukan pemanggilan lagi untuk saat ini karena kau sudah cukup berpengetahuan.” ungkap Erza.
“A-Apa tadi itu pujian untukku?” tanya Sella agak ragu, dan dijawab oleh sang penyihir dengan tanpa ekspresi.
“Tentu saja. Itu pujian dariku.” Jelasnya tetap datar, meski ada sedikit kepuasan dari kata-katanya. “Biarpun sebenarnya aku tidak berharap banyak, mengingat yang muncul adalah succubus.” tambahnya, langsung membuat Sella menanggapi pernyataan itu.
“Dasar pembohong! Aku ingat dengan jelas sebelumnya kau bilang, 'baguslah semuanya berjalan dengan baik.' Saat aku baru saja keluar dari lingkaran sihir.”
“Benarkah?”
“Tentu saja! Aku masih ingat jelas, bahkan aku ingat kau masih memasang ekspresi datarmu saat mengatakan itu.” pungkas Sella dengan menunjuk wajah lawan bicaranya.
“Hm, sebenarnya aku tidak berbohong sama sekali. Entah kau percaya atau tidak.”
Dalam sekilas saat Erza mengatakan hal itu, terlihat bahwa sudut bibirnya melengkung ke atas. Perubahan mimik wajahnya tentu saja tidak luput dari pengamatan Sella, sampai membuat wanita cantik itu kebingungan.
Berusan dia tersenyum kan? Apa maksudnya itu? Sungguh lelaki yang sulit dimengerti.
“Baiklah kalau begitu, artinya kau paham untuk apa dungeon core disini?” Begitu pertanyaannya selesai, Erza yang sebelumnya hanya memunggungi Sella, dan berbicara sambil menoleh kebelakang. Kini dia menghadapkan tubuh sepenuhnya kepada sang succubus.
Hal itu menjadi isyarat jelas, kalau sekarang ini adalah saatnya pembicaraan serius.
“Sudah pasti aku paham, bahkan setidaknya aku bisa sedikit menebak impian seperti apa yang kau bicarakan sebelumnya.” Ucap Sella tidak kalah serius.
“Kalau begitu langsung saja. Bantu aku membangun dungeon ini, bekerjalah untukku, dan jadilah orang yang paling mengerti dungeon ini setelah aku. Maka kuberikan semua hal yang paling kau butuhkan saat ini sampai saatnya kontrak kita berakhir.”
Erza memperlihatkan tatapan yang penuh kemauan, dia bahkan sampai mengulurkan tangannya kepada Sella.
Hal itu membuat Sella memahami sesuatu. Biarpun Erza adalah pria yang berekspresi datar, tidak banyak bicara, dan sulit untuk dia mengerti. Namun begitu dia membicarakan sesuatu yang ia sukai, dirinya akan mulai banyak bicara, dan sorot matanya akan terlihat penuh kemauan seperti saat ini. Meskipun, hanya ekspresinya saja yang masih terlihat datar.
Begitulah pendapat Sella terhadap pria yang berdiri di hadapannya itu, setidaknya untuk sekarang ini. Tanpa sadar, Sella mulai menaruh sedikit ketertarikan pada Erza, dan tersenyum lembut ketika dia menatap jauh ke dalam mata lelaki tersebut.
Namun, ada satu hal yang ingin Sella ketahui sebelum dia menerima kontrak tersebut. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan.
__ADS_1
“Sebenarnya kau ini tertarik dengan wanita atau tidak?”