
Ruangan ini tidak biasa. Tak ada bedanya ketika membuka maupun menutup mata. Disini benar-benar gelap, tak ada cahaya sedikitpun. Sebagian isi ruangan ini baru terlihat setelah Florisa menyalakan bola petir dari tangan kanannya. Bola petir yang mampu memberikan sedikit penerangan ini adalah skill baru yang dipelajarinya. Dicarinya bola kaca di ruangan ini. Beruntung, benda yang dicarinya tidak butuh waktu yang lama untuk ditemukan. Florisa mengarahkan dua jarinya ke bola kaca itu dan seketika ruangan itu menjadi terang. Jika ada media yang tepat, kekuatan listriknya bisa menghasilkan cahaya.
Bunyi langkah-langkah kaki terdengar berirama menyusuri ruangan ini. Langkah itu bahkan meninggalkan jejak di lantai yang mulanya penuh debu. Tak hanya lantai, seisi ruangan ini dipenuhi debu. Keberadaan debu itu menandakan bahwa ruangan ini telah lama ditinggalkan.
Sepasang mata coklat terang milik gadis bernama Florisa ini mengamati dengan seksama setiap sudut ruangan. Ia mendapati bahwa ada banyak mesin disini. Tak ada yang tahu apakah mesin itu masih dapat berfungsi atau tidak. Florisa juga tidak tahu kegunaan dan cara menggunakannya. Diperiksanya satu persatu mesin tersebut. Tapi tak ditemukannya sesuatu yang memuaskan disana. Selain mesin, juga terdapat barang-barang rongsokan berserak di lantai.
“Apa yang dia lakukan dengan mesin-mesin dan rongsokan?” ucap Florisa kesal. “Petunjuk apa yang bisa ku dapatkan di tempat seperti ini?” Florisa terus saja mengoceh mengungkapkan kekesalannya melakukan pencarian di ruang bawah tanah ini.
Ia baru berhenti ketika menerima panggilan di jam tangannya. Ditekannya tombol kecil ditepi jam tangan itu. Seketika muncul panel hologram yang bercahaya di hadapannya. Pada panel itu tertulis nama si pemanggil. “Senior El.” Florisa membaca tulisan di depannya.
Dari panel hologram tersebut muncul layar yang memperlihatkan seorang laki-laki dengan alis panjang dan tebal dan hidung mancung dengan ujung yang runcing. Matanya yang seperti mata elang itu menatap dengan tajam dan penuh keseriusan. Florisa terdiam sesaat. Kemudian cepat-cepat ia beri salam pada laki-laki itu.
“Selamat siang, Komandan. Saya sekarang berada di ruang bawah tanah rumah tua yang pernah dikunjungi Vojiro. Saya menyadari tempat ini ketika melakukan pencarian di dapur. Terdapat pintu kecil di lantai, di bawah meja makan, yang menuju ke ruangan ini.” Florisa memberikan laporan kepada laki-laki itu.
Laki-laki yang dipanggilnya dengan sebutan komandan itu adalah Elmian, komandan pasukan keamanan khusus tim AR30. Elmian dikenal sebagai laki-laki tampan yang perfeksionis. Ia akan murka bila bawahannya melakukan kesalahan atau tidak bekerja dengan sempurna. Florisa tidak ingin membangkitkan murka Elmian. Karena itu dia buru-buru memberikan laporan sebelum laki-laki itu berbicara.
Elmian diam selama beberapa detik setelah Florisa menyelesaikan kalimatnya. Kemudian berujar, “Ada lagi yang kamu temukan?”
Sudah hampir setengah jam Florisa berada di rubanah ini, namun ia tak menemukan sesuatu yang cukup berarti. Florisa merasa sangat malu. “Maafkan saya,” ujarnya sambil menunduk.
Elmian tersenyum tipis. “Angkat kepalamu!” perintahnya pada Florisa. “Flo, aku tau kamu bisa diandalkan. Temukan petunjuk sebisamu disana. Tapi berhati-hatilah. Jika kamu menemukan sesuatu atau ada apa-apa, langsung hubungi aku.” Lembut sekali kata-kata Elmian itu terdengar di telinga Florisa.
__ADS_1
Elmian tampak sedikit cemas. Entah apa yang dicemaskannya. Ia pun tak tahu. Yang jelas, ada perasaan tidak enak yang dirasakannya.
“Baik, Komandan,” balas Florisa gugup.
“Ya, kurasa cukup. Silakan lanjutkan pekerjaanmu.” Kemudian Elmian menutup panggilan.
Florisa langsung menghela nafas setelah menonaktifkan panel hologramnya. Ia kembali memeriksa ruangan ini dan mencari petunjuk tentang Vojiro. Vojiro yang disebut oleh Florisa tadi adalah seorang tersangka kasus ledakan yang menewaskan tujuh orang penduduk dua tahun lalu. Dia bersembunyi dan melarikan diri ketika kasus itu mulai diinvestigasi. Pencarian terhadap buronan ini kini menjadi tugas pasukan keamaanan khusus tim AR30 yang dikomandoi Elmian.
Florisa mendekati salah satu mesin di ruangan ini. Mesin setinggi pinggang itu memiliki banyak tombol. Di sampingnya terdapat dua tonggak dengan tinggi kira-kira 2,5 meter. Di antara kedua tonggak itu dibiarkan kosong sehingga tonggak itu seakan membentuk sebuah gerbang.
Merasa tidak ada yang bisa dijadikan petunjuk dari mesin itu, Florisa balik kanan untuk mencari di sudut lainnya. Ketika melangkahkan kaki kanannya, Florisa tak sengaja menginjak sebuah botol kaca—yang disebutnya barang rongsokan— yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Kaki kirinya berusaha melangkah mundur untuk mengembalikan keseimbangan, namun tidak berhasil. Florisa akan jatuh terlentang. Secara otomatis, tangan kanannya menggapai mesin tadi untuk berpegangan. Florisa tak sengaja menekan tombol-tombol di mesin itu. Tiba-tiba muncul portal hitam di antara kedua tonggak yang berdiri di samping kiri mesin. Akhirnya, Florisa jatuh dan masuk ke dalam portal itu.
“Perasaan apa ini?” pikir Florisa. Matanya terpejam. Tubuhnya terasa melayang. Ingatannya seperti berjalan mundur.
Kelopak mata Florisa terbuka. Matanya mendeteksi seberkas sinar putih dari langit. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Ia bisa melihat langit yang terlihat seperti kertas hitam dengan bintik-bintik putih. Di bawah langit itu ia bisa melihat daun-daun lebat yang menari-nari ditiup angin. Angin itu terasa menerpa wajahnya dengan lembut. Punggung dan bagian belakang kepalanya lama kelamaan merasa dingin dan basah. Tempat ini terasa asing. “Dimana ini?” pikirnya. Cukup lama Florisa berada dalam posisi terlentang di tanah lembab dan bertabur dedaunan yang gugur.
Setelah mengumpulkan kesadaran dan energi dalam tubuhnya, Florisa bangkit. Dia masih belum berhenti mengamati lingkungan sekitarnya. Disini terasa asing, namun terlihat sama dengan hutan dan rimba di balik bukit Terom, dekat rumah orangtuanya. Yang paling membedakan adalah disini walau malam, terasa lebih terang daripada malam-malam di Terom.
“Sebentar,” gumamnya. Tangan kanannya otomatis memegang dagu. Alisnya bertaut. Lalu ia berkata, “Sebelumnya aku berada di ruang bawah tanah, dan saat itu adalah siang. Dipikirkan bagaimanapun juga, ini tidak masuk akal.”
Ia berhenti sejenak, kemudian kembali berujar, “Dan apa itu?” sambil memandang ke arah langit, memfokuskan pandangannya kepada benda bulat putih yang bercahaya di langit malam.
__ADS_1
Florisa tidak mengerti. Entah apa yang terjadi padanya sekarang. Dia adalah seorang neomus, spesies terbesar yang menghuni planet Pafanor. Pafanor memiliki tempat yang serupa dengan tempatnya berpijak sekarang, namun di langit pafanor tidak pernah ada sebelumnya benda bulat besar berwarna putih yang bercahaya itu. Langit pafanor memiliki banyak bintang yang terlihat seperti titik-titik putih di langit malam, dan sebuah satelit alami yang berwarna merah dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari bintang-bintang di sekitarnya.
Menyadari ia berada di tempat asing, Florisa langsung menyambar jam tangannya dan mengaktifkan panel hologram. Panel itu menampilkan layar bercahaya kebiruan. Florisa mengutak-atik layar panel tersebut. Ia bermaksud memindai tempat ia berpijak sekarang. Namun layar itu menampilkan kata yang membuat Florisa jengkel. Ketegangan menyelimutinya. Panel hologram yang menjadi alat keseharian neomus itu tidak bisa memberikan informasi yang dibutuhkan Florisa. Error katanya. Entah alat itu yang rusak, atau tempat itu memanng sulit diidentifikasi.
Tiba-tiba Florisa teringat kata-kata Elmian.
“…Jika kamu menemukan sesuatu atau ada apa-apa, langsung hubungi aku.” Begitu kata Elmian padanya. Sejurus kemudian Florisa lansung mencoba membuat panggilan kepada Elmian melalui panel hologram itu.
Oh tidak, Elmian tidak dapat dihubungi. Pesan di layar menyatakan bahwa orang yang dituju berada di luar jangkauan. Kepanikan melanda pikiran Florisa setelah membaca pesan itu. Ini membingungkan. Ini tidak masuk akal.
Florisa menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan. Ditutupnya mata dengan bulu mata panjang itu sebentar. Ia mencoba menenangkan diri. Ia sadar, panik tak akan menyelesaikan masalah. Ia harus tenang dan memikirkan cara keluar dari situasi ini.
Setelah menenangkan diri, Florisa kembali fokus pada layar panelnya. Diutak-atiknya lagi benda itu. Ia bermaksud menyegarkan dan memperbarui data panelnya. Alat itu kemudian melakukan penyegaran dan pemindaian ulang. Namun, tidak bisa dipastikan berapa lama proses ini memakan waktu.
Cukup lama Florisa terdiam. Ia mencoba mengulas kembali hal yang terjadi padanya. Ia melakukan investigasi di rubanah rumah tua Vojiro. Ruangan itu awalnya gelap, kemudian Florisa mengalirkan listrik ke bola kaca di langit-langit ruang itu agar mendapat penerangan. Di ruang itu terdapat banyak mesin dan barang rongsokan. Tak sengaja ia menginjak salah satu barang rongsokan yang berserak di lantai. Tangannya menggapai mesin dan tanpa sengaja menekan tombol-tombol di mesin itu. Dia jatuh dan begitu membuka mata ia berada di tempat ini.
Florisa menyadari bahwa tangannya yang menekan tombol-tombol di mesin itu mungkin saja telah mengaktifkan sesuatu di antara kedua tonggak. Karena terjatuh ke dalam portal yang telah diaktifkan itu, dia tiba di tempat ini. Namun, bagaimana portal itu bisa aktif? Mesin itu sudah lama ditinggalkan. Sumber energi apa yang membuatnya berfungsi tiba-tiba?
Tring
Jam tangan Florisa berbunyi. Sepertinya proses perbaruan datanya telah selesai. Lebih cepat dari yang diperkirakan. Langsung diaktifkannya panel hologram itu. Kemudian layar bercahaya biru itu menampilkan pesan.
__ADS_1
“Selamat Datang di Bumi”