Florisa: Gadis Dari Langit Malam

Florisa: Gadis Dari Langit Malam
Episode 10 -Pertikaian Konyol-


__ADS_3

Florisa bukan tipe orang yang mudah marah, namun bila ketidakadilan terjadi padanya atau di depan matanya, ia akan menggila.


“Hei!” teriaknya geram. Suaranya mampu membuat orang-orang di sekitar menoleh padanya. “Tolong antri dengan tertib!” tegasnya pada empat orang yang menyerobot antriannya.


Merasa tertantang dengan perkataan Florisa, salah satu dari siswa yang menyerobot antrian itu maju mendekatinya. Florisa tidak mengerti mengapa gadis itu menaikkan dagunya dan melipat tangannya di dada.


“Kamu kira kamu siapa berani bicara begitu, hah?” Gadis itu tak kalah keras suaranya.


Melihat reaksi gadis itu yang bukannya minta maaf tapi malah melawan, membuat Florisa naik pitam. Kurang ajar sekali dia, menurut Florisa. Setelah diamati sesaat, ternyata orang yang menyerobot antrian itu adalah siswa kelas 12. Florisa bisa tau dari lencana hijau dengan tiga bintang emas yang terpasang di seragamnya.


Di sekolah ini setiap siswa wajib memakai lencana yang menunjukkan tingkatan kelasnya. Lencana merah dengan satu bintang berwarna emas untuk kelas 10. Lencana kuning dengan dua bintang berwarna emas untuk kelas 11, seperti yang dikenakan Florisa. Dan untuk kelas 12 adalah lencana hijau dengan tiga bintang berwarna emas.


“Saya siswa sekolah ini. Ada yang salah bila saya menegur Anda, Senior?” balas Florisa dengan nada suara yang mulai melunak. Ia mencoba berbicara sesopan mungkin kepada lawan bicaranya ini. “Anda dan teman-teman Anda telah menyerobot antrian saya.”


“Salah!” murkanya. “Kamu hanya junior beraninya bertindak tidak sopan terhadap senior.”


“Maaf, jika teguran saya melukai perasaan Anda. Tapi yang bertindak tidak sopan adalah Anda.” Florisa mulai tidak tahan dengan senior barunya ini. “Saya hanya meminta Anda untuk tertib dalam antrian. Apa itu begitu melukai perasaan Anda sampai Anda harus murka seperti ini?”


“Hei, sepertinya kamu memang tidak tau diri. Aku senior. Kamu junior. Jika kamu punya sopan santun, kamu harusnya mempersilakan senior mengambil antrian lebih dulu, bukan malah meneriakinya.” Suaranya semakin menjadi-jadi kerasnya. Membuat banyak mata menyaksikan pertikaian konyol antara senior vs junior ini. Beberapa siswa yang menyaksikan sudah siap dengan ponselnya untuk merekam.

__ADS_1


“Oh, begitu. Saya mohon maaf untuk meneriaki Anda tadi.” Florisa mengakui bagian ia berteriak itu salah. Saat itu dia tidak tahu mereka adalah seniornya. Florisa memang sudah geram sejak dia terdorong karena aksi serobot senior-senior itu.


“Tau juga kamu. Sekarang berlutut!” perintahnya pada Florisa.


Mendengar perintah seniornya itu Florisa hanya menyunggingkan senyuman dengan tatapan mata yang tajam. Ia teringat pesan Nenek Sani untuk tidak berlutut dengan mudah. Florisa tau, dari 100%  kesalahan pada kejadian ini, yang menjadi kesalahannya hanya 10% karena berteriak di awal sedangkan 90% lainnya adalah kesalahan empat orang yang menjadi seniornya ini.


“Apa Anda tidak malu?” ujar Florisa masih dengan senyumannya. “Saya mengakui kesalahan saya karena berteriak di awal, tapi Anda tidak mengakui sama sekali kesalahan Anda. Menyerobot antrian, mengintimidasi junior, dan berteriak dengan keras yang membuat orang lain terganggu.” Florisa mengangkat jarinya dan menghitung kesalahan lawannya itu.


Semua siswa yang menyaksikan pertikaian ini telah mengelilingi mereka. Hampir semuanya terpana dengan aksi Florisa yang berani menghadapi siswi kelas xii ini. Empat orang yang menyerobot antrian Florisa merupakan kelompok siswa yang dikenal memiliki pengaruh di kalangan siswa SMA Harapan. Salah satunya bernama Paulina. Begitulah tertulis di papan namanya.


Di sekolah ini tingkat senioritas memang cukup tinggi. Lencana yang tujuannya sebagai penanda identitas siswa diartikan siswa sebagai tingkat kasta. Semakin banyak bintangmu, semakin tinggi kastamu, maka semakin berkuasalah kamu. Itu menurut mereka. Jika diperhatikan, satu meja panjang di kantin ini tidak pernah diisi oleh kelompok siswa dari dua tingkatan kelas yang berbeda. Setiap meja diisi oleh siswa dengan berkelompok secara homogen.


“Chitra. Dia kenapa lagi?” batinnya. Arzi bermaksud menolong Florisa dan ingin menghentikan drama di kantin ini. Ia melesak masuk melewati kerumunan untuk bisa mendekati Florisa.


Pertikaian Florisa dengan Paulina semakin memanas. Paulina yang tidak terima dengan perkataan Florisa semakin geram. Tangannya mulai melayangkan tamparan. Dia akan menampar wajah Florisa. Sayang sekali, tangan itu berhasil ditangkap oleh Florisa sendiri.


“Berilah contoh yang baik kepada junior Anda!” Florisa berpesan dengan tersenyum sinis.


Paulina merah padam mukanya. Dadanya naik turun. Ia tak terima perlakuan Florisa terhadapnya. Junior ini telah mempermalukannya di hadapan banyak orang.

__ADS_1


Tiga orang teman Paulina yang sedari tadi hanya berdiri mengiyakan semua pekataan Paulina baru mulai bergerak setelah serangan Paulina dihentikan Florisa. Namun belum sempat melakukan apa-apa, Elisa datang. Wakil ketua OSIS yang sikapnya melebihi guru BK dalam mengatur siswa-siswa di sekolah.


“Apa yang terjadi disini?” Kedatangan Elisa membuat semua orang menoleh padanya.


Dia amati dua orang yang berseteru itu. Seorang siswa kelas 11 dan seorang siswa kelas 12 yang ditemani para dayangnya.


“Kamu!” Elisa menunjuk Florisa. “Lepaskan tangannya!” perintahnya. “Beraninya kamu memperlakukan seniormu seperti itu. Apa kecelakaan itu membuatmu lupa sopan santun?”


“Saya tidak ….” Florisa akan membela diri, namun ucapannya dipotong.


“Dasar kurang ajar! Jadi kamu anak yang jatuh dari tebing waktu camping itu ya? Cih.” Paulina kemudian menarik tangannya.


“Dia memang tidak sopan. Tapi kamu juga tolong jangan bertindak seenaknya, Lina,” ujar Elisa. Tampaknya Elisa tahu latar belakang pertikaian ini terjadi.


Elisa tentu saja akan menyalahkan tindakan Florisa yang mempermalukan seniornya. Namun ia mengakui kesalahan Paulina dan kawan-kawannya yang telah menyerobot antrian.


“Untung meja guru berada sedikit jauh dari sini. Jadi guru-guru tak akan menyadari tentang perkelahian ini.” Elisa kini berdiri di antara Florisa dan Paulina. “Sekarang semua bubar!” perintahnya tegas untuk semua siswa yang berkerumun menyaksikan pertikaian.


Dengan perintah menggelegar dari wakil ketua OSIS itu, semua siswa yang tadinya berkerumun, mulai membubarkan diri. Florisa termasuk diantaranya. Ia memilih meninggalkan senior-senior itu dan merelakan tumis daging pedas. Tak ada gunanya lagi membela diri di sana.

__ADS_1


Florisa berjalan menuju kios nasi goreng spesial. Tampaknya itu kios dengan jumlah siswa yang mengantri paling sedikit. Namun saat akan masuk barisan, seseorang menghentikan langkah Florisa. Seorang siswi kelas 10 dengan alis yang mengingatkan kita pada burung camar yang sedang terbang saat matahari tenggelam.


__ADS_2