
Selamat buat kamu yang sudah sampai di episode 11 ini. Kamu benar-benar hebat.
Jangan lupa jempolnya dimerahin dulu~
Florisa berjalan menuju kios nasi goreng spesial. Tampaknya itu kios dengan jumlah siswa yang mengantri paling sedikit. Namun saat akan masuk barisan, seseorang menghentikan langkah Florisa. Seorang siswi kelas 10 dengan alis yang mengingatkan kita pada burung camar yang sedang terbang saat matahari akan tenggelam. Dia membawa nampan kayu yang berisi sepiring nasi dengan tumis daging pedas, sepotong semangka, dan sebotol air putih.
Florisa memperlihatkan raut wajah yang menyiratkan pertanyaan siapa ya? Memahami maksud raut wajah Florisa, gadis itu memperkenalkan diri.
“Maaf, Kak. Saya Meisya. Panggil saja May, kak,” ucapnya malu-malu. “Kakak tadi keren sekali.” May memuji Florisa.
“Ah, itu tidak keren. Kamu tidak boleh menirunya. Kakak memang salah sudah meneriaki senior tadi.” Florisa senang dipuji May, namun ia sadar tindakannya tadi tidak sepenuhnya benar.
“Senior Paulina itu memang agak kasar, Kak. Saya juga pernah diserobot oleh mereka,” ujar May manja.
“Oh ya, kakak mau tumis daging pedas, kan? Ini untuk kakak.” May menyodorkan nampan kayu yang dibawanya.
“Eh, ini kan milikmu. Kakak bisa makan yang lain kok.” Florisa menolak pemberian May karena merasa tidak enak menyusahkan gadis itu.
“Tidak apa-apa kak. Anggaplah ini hadiah dari saya.” May kembali menyodorkan nampan kayunya kepada Florisa. “Saya akan mengantri untuk mendapatkan nasi goreng. Kita makan bersama ya, Kak. Kakak bisa tunggu di sana.” May menunjuk salah satu meja panjang yang masih memiliki banyak kursi kosong.
Terharu dengan perlakuan May padanya, Florisa mengukir senyuman. Akhirnya ia mau menerima ‘hadiah’ dari juniornya itu.
“Terima kasih, May,” ujarnya. “Kakak akan tunggu di sana.”
May membalas dengan senyuman pula. Kemudian dia masuk barisan untuk mengantri mendapatkan nasi goreng spesial.
Sesuai kesepakatan, Florisa melangkah menuju meja panjang yang ditunjuk May. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kios nasi goreng spesial. Di tengah perjalanan, Florisa melihat Arzi tersenyum padanya dari kejauhan. Laki-laki itu berjalan ke arahnya.
Entah kenapa, Florisa selalu kaku bila berhadapan dengan Arzi. Sebagaimana ia dengan Elmian. Mungkin karena kemiripan Arzi dan Elmian, membuat Florisa seperti melihat Elmian ketika bertemu Arzi.
“Mau makan bersama?” Arzi mengajak Florisa makan bersama begitu ia sampai.
“Bukannya kamu sendiri yang minta untuk jaga jarak?” jawab Florisa mencoba untuk cuek.
“Sepertinya kali ini tak apa,” jawab Arzi dengan senyuman. Matanya mengecil ketika dia tersenyum. “Mau duduk di sana, kan?” Arzi menunjuk tempat duduk yang disepakati May dan Florisa dengan kepalanya. Kemudian ia berjalan menuju tempat duduk itu.
__ADS_1
“Wah, dia benar-benar aneh seperti orang itu,” gumam Florisa yang diiringi dengan langkah menuju tempat perjanjian.
Di meja tempat Florisa dan Arzi berada awalnya ada dua orang siswa kelas 10 yang sedang menyantap makan siangnya. Namun begitu Florisa dan Arzi mendekati meja itu, kedua siswa kelas 10 tadi memilih pindah. Maka jadilah hanya Arzi dan Florisa yang mengisi meja yang mampu memuat 10 orang untuk makan itu.
Tak lama, May datang dengan membawa makanannya. Nampan yang dibawanya hampir jatuh saat ia menyadari kehadiran Arzi di dekat Florisa. Langkahnya pun terhenti ketika hanya butuh 5 langkah lagi menuju tempat duduk yang ia targetkan.
“May, sini!” Panggilan Florisa menyadarkan May.
Melihat tangan Florisa memberi tanda untuknya mendekat, May melanjutkan langkahnya. Ia segan duduk semeja dengan Arzi. Selain karena Arzi senior baginya, Arzi adalah siswa populer di sekolah. Dengan penampilan yang menarik dan statusnya sebagai anggota band sekolah, Arzi menjadi idola bagi kalangan siswa sekolah ini. Ia bahkan memiliki klub pengemar sendiri.
Berbeda dengan May, Arzi tampak santai saja. Dia bahkan menyapa May begitu gadis itu duduk di sebelah Florisa.
“Hai. Kamu teman Chitra, ya?”
“Bukan, Senior. Saya penggemarnya. Nama saya May.”
Jawaban May terdengar seperti pengakuan. Pengakuan itu membuat Florisa terkejut. Penggemar bagaimana? Kenapa tiba-tiba Florisa memiliki penggemar?
Arzi menanggapi jawaban itu dengan tawa. Terdengar lucu baginya.
“Kak Chitra keren. Kak Chitra memang sudah cantik, tapi ketika berhadapan dengan kakak-kakak kelas 12 tadi Kak Chitra terlihat lebih keren. Kak Chitra juga baik. Kak Chitra mau makan bersama denganku.” May dengan bangganya memuji-muji Florisa.
Arzi geli mendengar pujian itu. Tapi pujian May itu mampu membuat Florisa malu. Walaupun yang disebut oleh May adalah nama Chitra, tapi Florisa merasa orang yang dirujuk oleh May adalah dirinya.
“Jangan melebih-lebihkan, May. Yang tadi tidak keren kok.” Florisa mencoba menenangkan May yang begitu terobsesi dengan kejadian tadi. “Kecuali bila kamu hilangkan bagian aku meneriaki mereka.” Florisa tertawa kecil.
“Oh, sepertinya kamu senang ya.” Entah kenapa perkataan Arzi itu terdengar tidak menyenangkan di telinga Florisa.
“Apa? Kamu iri aku punya penggemar? Kamu panas mendengar orang lain memujiku di depanmu?”
“Aku sudah lama memiliki banyak penggemar,” balas Arzi santai lalu memasukkan makanan ke mulutnya menggunakan sendok.
“O, jadi yang pagi tadi itu penggemarmu? Tiba-tiba menginterogasiku lalu pergi begitu saja. Benar-benar menjengkelkan.”
“Lalu kamu apakan mereka?”
__ADS_1
“Apa kamu mengkhawatirkan penggemarmu itu?”
“Sebenarnya aku lebih mengkhawatirkanmu.”
Tiba-tiba tubuh Florisa mendingin mendengar jawaban Arzi. Ia tak dapat membalas lagi. Jika Arzi tidak seperti Elmian, mungkin Florisa bisa membalas balik. Tapi nyatanya baik itu Arzi ataupun Elmian, Florisa selalu lemah menghadapinya.
Sementara itu May menyaksikan percakapan singkat antara dua seniornya itu dengan senyum-senyum. Di matanya, dua orang siswa kelas 11 itu terlihat lucu bersama. Florisa yang sebelumnya tampak kuat tiba-tiba jadi lemah di hadapan Arzi. Tampaknya mereka dekat. Padahal sejauh yang ia tahu, Arzi tidak terlalu dekat dengan anak perempuan di sekolah ini. Ada yang bilang sikap Arzi demikian untuk menjaga perasaan penggemarnya. Tapi apa yang akan dipikirkan penggemarnya bila melihat pemandangan ini ya? Setidaknya mereka tidak hanya berdua. Ada May bersama mereka.
“Satu penggemar yang setia itu lebih baik daripada seribu penggemar yang hanya ada saat popularitas sedang tinggi.” May mencoba menengahi dan menghangatkan kembali suasana. Walaupun ia terkesan membela Florisa.
“Pintar sekali kamu ya. Emang kamu yakin bakal setia sama dia?” Arzi menunjuk Florisa dengan matanya.
“Em, sepertinya iya,” jawab May dengan senyum yang mengembang.
“Jangan terlalu yakin, May. Hati manusia itu mudah berubah.” Kali ini Florisa berbicara dengan nada suara yang cukup rendah. Ia tak menyangka pernyataan yang dibacanya di buku Chitra kemarin akan ia gunakan hari ini.
to be continued_
Cuplikan episode selanjutnya:
“Chitra!” sapa Kevin saat mereka bertemu di koridor.
“Selamat pagi, Kevin.” Florisa bersikap ramah.
“Oh ya, mana tau kakak butuh informasi dariku. Kakak sebenarnya populer loh di sekolah ini. Bahkan perkelahian kakak dengan Kak Shelina waktu itu gempar banget,” terang May.
______________
Sungkem buat yang selesai baca sampai sini.
Jempolnya sudah merah belum?
Nah, sekarang diharapkan komennya. Kritik, saran, bahkan unek-unek sekalipun aku terima.
Love you 😘
__ADS_1