
Bola lampu utama ruang inap Chitra telah pecah. Kamar ini menjadi remang sebab hanya mendapat penerangan dari beberapa lampu ukuran kecil. Cahaya matahari sudah dari dua jam yang lalu menghilang, menandakan waktu malam. Dalam kondisi dengan tingkat pencahayaan rendah itu, Florisa menggendong Chitra dan membawanya ke kamar mandi setelah melepaskan semua alat yang tersambung ke tubuh Chitra.
Florisa melepaskan lencana keanggotaan pasukan keamanan yang tersemat di bajunya. Ia sembunyikan lencana biru safir itu di kotak tisu. Tak lupa ia mengunci pintu kamar mandi terlebih dahulu. Kembali diraihnya Florisa yang sebelumnya ia dudukkan di toilet. Dengan segenap energinya yang tersisa, Florisa melakukan teleportasi. Ia bawa Chitra ke rumah nenek yang pernah menolong mereka.
Dengan keringat bercucuran, Florisa membaringkan Chitra di tempat tidur. Ia telah tiba di kamar yang pekan lalu mereka gunakan. Florisa dengan cepat menukar pakaian yang digunakannya dengan Chitra. Ia akan bertransformasi menjadi Chitra. Namun ia melupakan sesuatu. Bekas luka dan perban.
“Biarlah. Itu nanti saja kupikirkan. Sekarang harus cepat,” pikirnya.
Tindakan Florisa ini tidak direncanakan sebelumnya. Karena itulah banyak sekali lubang dari rencananya ini. Jika ia tidak cepat kembali, orang-orang di rumah sakit akan menyadari Chitra menghilang dari kamar inapnya. Lalu bagaimana jika nenek Sani si pemilik rumah tau bahwa ada Chitra tiba-tiba muncul di rumahnya? Dia tentu terkejut dan akan menghubungi keluarga Chitra. Selain itu, Florisa akan kehabisan energi jika ia berteleportasi sekali lagi. Dia belum pernah berteleportasi tiga kali dalam sehari selama hidupnya. Apa ia akan sempat merapikan rencananya ini setelah berhasil kembali ke rumah sakit sebagai Chitra?
Florisa bukan tidak tahu itu semua. Tapi ia sudah bertekad. Rencana ini harus berhasil. Begitu energinya pulih, ia akan langsung kembali ke rumah nenek Sani. Apa yang akan dilakukannya begitu sampai di rumah nenek Sani, itu bisa dipikirkan nanti saja. Tak ada waktu untuk berpikir lebih panjang. Yang jelas sekarang harus cepat kembali ke rumah sakit.
Akhirnya Florisa melakukan teleportasi sekali lagi. Tubuhnya terasa ringan melayang. Kakinya tidak lagi terasa menapak. Dingin dan basah dirasakannya di sekujur tubuhnya. Ia berpindah ke tempat lencananya berada. Namun kakinya tidak merasakan apa-apa.
Bruuk!
Florisa ambruk begitu tiba di tempat tujuannya. Tubuhnya menghantam lantai. Ia tak sadarkan diri.
Orang-orang yang tengah berkumpul di kamar inap Chitra dengan panik, mendengar suara dari kamar mandi. Semuanya langsung berlarian menuju kamar mandi dalam ruangan itu. Salah satu diantaranya memutar kenop pintu. Namun pintu tidak dapat dibuka. Pintunya terkunci dari dalam.
“Chitra!” teriak seorang wanita paruh baya memanggil nama Chitra dengan cemasnya. Suaranya terdengar bergetar. Ia menduga Chitra ada di dalam kamar mandi itu.
“Kita dobrak saja,”ujar seorang laki-laki dengan pakaian serba putih. Dengan bantuan seorang lagi laki-laki dengan pakaian yang sama, pintu kamar mandi dibuka paksa. Tidak mudah memang, namun setelah beberapa kali diberi hantaman, pintu itu akhirnya terbuka. Meninggalkan kerusakan di bingkainya.
Di dalam kamar mandi didapati Florisa dengan pakaian Chitra terbujur di lantai kamar mandi. Wajahnya pucat. Keringat merembes dari kulitnya. Kondisinya membuat semua orang terkejut dan wanita paruh baya tadi yang paling menonjol. Wanita itu langsung menyambar tubuh Florisa dan memeluknya sambil menangis.
***
__ADS_1
Tik, tok, tik, tok
Jarum detik pada jam dinding terus bergerak. Jarum pendeknya sedang beristirahat di antara angka 2 dan 3. Florisa membuka matanya dengan perlahan tepat saat jarum menit menyentuh angka 6. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit ruangan berwarna putih. Florisa terbaring di tempat tidur kamar rumah sakit.
“Apa mereka sudah memperbaiki lampunya?” pikir Florisa saat menyadari bola lampu utama kamar ini terlihat baik-baik saja.
Saat memandangi bola lampu itu, Florisa mendengar seseorang sedang berbicara. Sontak ia menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita dengan setelan jas wanita berwarna coklat muda sedang berdiri menghadap jendela. Ia menggenggam sesuatu sambil menempelkan benda itu di telinga kanannya.
“Atur saja olehmu!” katanya. “Aku tidak bisa meninggalkan anakku. Selama beberapa hari ini aku tidak menjaganya di rumah sakit dan lihatlah apa yang terjadi padanya. Aku akan urus sisanya kemudian.” Ia berbicara dengan cepat dan lancar.
Setelah mengatakan empat kalimat tadi, ia diam. Ia menyimak lawan bicaranya melalui telepon yang sedang berbicara. Kemudian ia melihat jam tangannya. Lalu kembali melihat pemandangan di luar jendela dengan gusar.
“Baiklah. Hanya satu jam. Setelah satu jam aku akan kembali ke rumah sakit,” ujarnya menyudahi percakapan. Langsung dimatikannya panggilan telepon.
Florisa otomatis menutup matanya kembali, ketika wanita itu berbalik ke arahnya. Ia tak tahu mengapa ia berpura-pura tidur. Sepertinya ia masih belum siap menghadapi keluarga Chitra.
Selesai memberikan pesan pada Florisa, wanita yang menyebut dirinya ‘mama’ itu melangkah mendekati pintu kamar. Dibukanya pintu kamar dan terlihatlah seorang laki-laki muda tengah berdiri di depannya. Laki-laki muda itu membawa sebuket bunga di tangannya.
“Selamat siang, Bi. Saya Arzi, teman Chitra,” sapa laki-laki muda itu pada mama Chitra.
“Oh, selamat siang. Kamu mau menjenguk Chitra?” Mama Chitra membalas sapaan dari Arzi disambung dengan sebuah pertanyaan. Arzi mengangguk.
“Iya, Bi,” jawabnya.
“Wah, pas sekali,” serunya dengan senyum sumringah. “Bibi sedang ada panggilan pekerjaan sebentar. Kamu tolong jaga Chitra sampai bibi kembali ya.”
“Baik, Bi,” balas Arzi dengan sopan.
__ADS_1
Lily, ibunda Chitra merasa puas mendengar jawaban Arzi. Ia menepuk bahu laki-laki muda itu sambil tersenyum, kemudian melenggang pergi. Setelah kejadian semalam—Chitra ditemukan tak sadarkan diri di kamar mandi, Lily menyesal meninggalkan anaknya sendirian karena urusan pekerjaan.
Arzi melangkah masuk ke kamar Chitra. Ia mengambil posisi di sebelah tempat tidur yang sedang ditempati Florisa. Ia hanya duduk saja disana dalam waktu yang lama. Hal itu membuat Florisa merasa sangat tidak nyaman. Memang tidak nyaman berpura-pura tidur sambil ditatap oleh seorang laki-laki dalam waktu yang lama.
“Kenapa hanya diam saja? Apa dia sudah pergi?” pikir Florisa dalam hati. Sudah beberapa menit berlalu, Arzi tidak mengeluarkan suara apa-apa. Florisa menjadi ragu. Apakah laki-laki bernama Arzi itu masih ada di dekatnya?
Saat akan mencoba mengintip, terdengar suara yang familiar bagi Florisa. Suaranya lembut namun tegas. Florisa mengurungkan niatnya untuk mengintip karena suara itu terdengar dekat.
“Aku mendengar suatu kisah. Kisah tentang seorang putri yang tidak bangun dari tidurnya yang panjang. Hingga kemudian datang seorang pangeran. Pangeran itu menciumnya dan sang putri terbangun dari tidur panjangnya,” ucapnya lembut.
Untuk beberapa saat dia diam saja. Kemudian ia melanjutkan, “Apa kamu mau aku melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pangeran itu?”
Florisa terperanjat. Meskipun dia belum pernah mendengar kisah aneh itu sebelumnya, tapi dia paham maksud perkataan Arzi.
“Dia hanya bercanda, kan?” pikirnya.
“Kamu pasti mengira aku tidak bersungguh-sungguh, kan?” ujar Arzi yang membuat Florisa terkejut. Bagaimana bisa dia tahu apa yang sedang dipikirkan Florisa? Apa dia tahu Florisa sedang berpura-pura tidur?
to be continued-
Cuplikan episode selanjutnya:
“Aku tidak bisa melihat seperti orang pada umumnya. Namun aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat mereka. Aku memang tidak dapat melihat wujudmu, namun aku dapat melihat semacam aura darimu. Kamu tidak seperti orang pada umumnya. Kamu memiliki aura yang berbeda yang belum pernah kulihat sebelumnya."
***
“Maaf, aku tidak mengingat kalian.”
__ADS_1