
Waktu berlalu. Langit sudah agak terang, meskipun matahari masih malu-malu menyapa. Suara jangkrik sudah lama menghilang. Kicauan burung terdengar indah berpadu dengan suara air dari sungai. Bau rumput basah tercium kuat di lingkungan ini.
Florisa terbangun dari tidurnya. Karena tidur dalam posisi yang tidak nyaman, Florisa merasakan sakit pada punggung dan lehernya. Dilihatnya Chitra yang masih terbaring dalam posisi yang sama dengan semalam.
“Apa tak ada yang mencarinya?” Florisa penasaran. Sudah beberapa jam berlalu namun tak ada tanda-tanda manusia yang mendekat untuk mencari Chitra. Padahal Florisa tak memindahkan posisi Chitra sedikitpun. Mereka masih di tempat yang sama dengan semalam. Orang yang telah mendorong jatuh Chitra tidak kembali membawa bala bantuan. Ini membuat Florisa berpikir bahwa yang terjadi pada Chitra memang usaha pembunuhan.
Florisa berdiri dari posisinya. Ia melakukan peregangan dan pemanasan tubuh. Ini adalah rutinitas Florisa setiap bangun pagi. Sebagai bagian dari pasukan keamanan, Florisa harus menjaga kekuatan fisiknya dengan baik. Saat melakukan perengangan, Florisa melihat seseorang di seberang sungai agak ke hulu.
“Manusia!” ucap Florisa spontan. Entah mengapa ia merasa senang menemukan manusia disini. Yang jelas ia berharap orang itu dapat membantu Chitra. Ia tak bisa berlama-lama disini menjaga Chitra sedangkan Vojiro masih berkeliaran. Maka langsunglah dihampirinya orang itu yang ternyata seorang perempuan tua.
Menyadari kehadiran seseorang di dekatnya, perempuan itu langsung bersuara, “Siapa?”
Florisa yang tidak mengerti apa yang dikatakan perempuan tua itu hanya terdiam bingung. Ia terdiam untuk sesaat hingga kemudian ia teringat sesuatu. Melalui alat andalannya yang serupa jam tangan itu, dia mengatur bahasa yang digunakan. Tentu saja Florisa tidak mengerti yang diucapkan perempuan tua itu. Bahasa mereka berbeda.
Jam tangan yang menjadi andalan setiap neomus itu bisa melakukan banyak hal yang sangat membantu mereka. Salah satunya pengaturan bahasa. Neomus dapat mengerti dan mampu menggunakan bahasa lain setelah mengaktifkan mode bahasa di alat itu. Fitur ini adalah penemuan terbaru di planet asal Florisa. Hanya para elit dan pasukan keamanan yang sudah mendapatkan fitur ini untuk digunakan di jam tangan mereka.
Perempuan tua itu mengulangi kembali pertanyaannya karena tidak ada respon dari orang yang ditanya. Florisa yang kini sudah memahami bahasa manusia disini menjawab dengan ramah. Dia sadar orang yang ditemuinya ini adalah orang tua. Baginya, orang tua harus diperlakukan dengan baik sopan. Itulah yang diajarkan kedua orangtuanya.
__ADS_1
“Selamat pagi, saya adalah seseorang yang tersesat. Saya ingin meminta bantuan Anda. Teman saya terluka karena jatuh dari tebing itu.” Florisa menunjuk tebing tempat jatuhnya Chitra semalam saat mengucapkan kalimat terakhir.
Perempuan tua itu tidak mengikuti arah tunjuk Florisa. Dia hanya memandang lurus ke depan. Hal itu membuat Florisa sedikit bingung. Maka Florisa mengamati saat perempuan tua itu membalas ucapannya.
“Kasihan sekali dirimu, nak. Rumahku di dekat sini, tapi jalannya agak sukar dilalui dengan membawa seseorang yang terluka. Jika kamu sanggup menggendong temanmu itu, akan kuizinkan dia dirawat di rumahku sebelum bantuan medis datang.” Suara perempuan tua itu terdengar lembut dan ramah bagi Florisa.
“Saya bisa, Nek. Terima kasih,” balasnya dengan penuh rasa syukur.
Tak ada yang bisa diharapkan dengan menunggu saja di bawah tebing dan di tepi sungai ini. Belum tentu akan ada yang datang membantu. Kita yang butuh bantuan yang harus bergerak duluan.
Florisa menggendong Chitra dengan hati-hati. Ia ikuti langkah perempuan tua itu yang terlihat tidak normal bagi Florisa. Perempuan tua itu berjalan dengan pandangan lurus ke depan, tatapannya kosong, tangan kirinya seperti meraba udara. Tangan kanannya ia gunakan untuk memegang gulungan rumput yang ditaruh di kepalanya. Perempuan tua itu membawa rumput tinggi yang ia ambil dari tepi sungai. Katanya, itu untuk sapi ternaknya.
Chitra dibawa ke sebuah kamar dan dibaringkan di tempat tidur. Kamar itu sederhana dengan ukuran yang cukup untuk sebuah tempat tidur satu orang, sebuah lemari pakaian dua pintu, dan sebuah meja riasan. Semua benda itu terbuat dari kayu. Terlihat unik bagi Florisa sebab kayu-kayu itu memiliki ukiran yang detail. Sesuatu yang tidak ditemukannya di tempat asalnya.
Florisa memeriksa kembali kondisi Chitra melalui panel hologramnya. Kondisinya sedikit ada kemajuan dari semalam. Padahal semalaman ia dibiarkan terbaring di tanah berbatu begitu saja.
“Mungkinkah kekuatanku bekerja perlahan padanya?” ucap Florisa setengah berbisik sambil mengamati layar panel hologram di depannya.
__ADS_1
Florisa mengambil kursi dari meja rias dan meletakkan di samping tempat tidur untuk ia duduki. Ditatapnya lekat-lekat wajah Chitra. Ia kagum dengan kemiripan mereka. Bentuk mata, hidung, bibir, rahang, semuanya mirip. Jika teman-temannya di Pafanor bertemu Chitra, mereka pasti akan mengira itu Florisa.
“Cantik sekali,” ucapnya sambil tersenyum memandangi wajah Chitra.
Florisa kemudian melepas cincin perak dari jari telunjuk kirinya. Dipasangkannya cincin itu pada jari manis kanan Chitra. Lalu digenggamnya tangan itu sambil menutup mata. Florisa mengirimkan sebagian energi yang berisi kenangan kepada Chitra sebagai perkenalan. Bila Chitra bangun nanti, dia akan tau tentang Florisa seolah dia tidak tidur sekarang ini.
“Sekarang aku akan pergi. Semoga kamu kembali sehat. Jangan lupa balas dendam terhadap orang yang telah melukaimu itu. Jangan lagi sampai terluka oleh orang lain. Kamu mirip denganku, maka kamu harus jadi gadis yang kuat.” Florisa menasehati Chitra seolah-olah gadis itu bisa mendengarnya.
Nenek pemilik rumah meninggalkan Florisa dan Chitra untuk pergi ke balai desa. Ia hendak melaporkan tentang Chitra yang terluka sehingga tenaga medis dapat mengobatinya dan keluarganya dapat menjemputnya. Florisa sangat berterima kasih dengan nenek itu karena mau menolong mereka tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun.
Florisa meninggalkan rumah itu dengan lega sekarang. Ia percaya nenek itu akan membantu Chitra. Keluarga gadis itu nanti juga akan datang menjemput anak gadisnya.
Florisa mengaktifkan panel hologramnya kembali. Ia buka fitur peta untuk menentukan tujuannya. Layar menampilkan peta tiga dimensi. Dari peta terlihat titik merah di dekat posisi berdirinya Florisa. Titik merah itu menandakan lokasi Chitra. Cincin perak di jari manis Chitra itu bisa menjadi semacam GPS yang hanya bisa dideteksi oleh Florisa.
Setelah menentukan tujuan berdasarkan peta, Florisa melangkah pergi menjauhi rumah kayu itu. Ia berjalan dengan mantap di lingkungan desa. Beberapa orang desa yang melihatnya malah terkejut. Gaya berpakaian Florisa terbilang aneh bagi mereka. Berjalan dengan jubah putih yang menutupi kepala hingga betis ditambah sepatu boot hitam dinilai aneh di desa ini. Namun Florisa tidak menyadari tatapan penuh pertanyaan dari beberapa warga desa itu.
Ia baru sadar pakaiannya dinilai aneh setelah seorang laki-laki muda berbicara kepadanya. Laki-laki itu bertingkah seolah dia mengenal Florisa. Dia terkejut mendapati Florisa berjalan keluar dari desa. Ditariknya tangan gadis itu, sehingga ia bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas lagi.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan disini? Semua orang mencarimu. Dan ada apa dengan pakaianmu?” Suaranya lembut namun nada yang dikeluarkannya cukup menandakan bahwa dia sedang marah.