
Seperti biasa, kantin selalu ramai saat makan siang. Florisa dan May sudah berjanji akan makan siang bersama hari ini. Mereka memilih tempat yang sama dengan yang kemarin.
“May, kamu tahu tentang yang terjadi padaku saat kemah?” tanya Florisa di sela-sela makannya.
“O ….” May tampak berpikir. “Saya tak tahu banyak. Yang saya tahu hanya kakak terjatuh dari ketinggian. Awalnya orang-orang baru tahu kakak menghilang saat kami sudah siap-siap mau tidur. Sempat heboh waktu itu.”
Florisa hanya mengangguk-angguk tanda paham mendengar penjelasan May.
“Oh ya, mana tau kakak butuh informasi dariku. Kakak sebenarnya populer loh di sekolah ini. Bahkan perkelahian kakak dengan Kak Shelina waktu itu gempar banget,” terang May.
Florisa tertarik mendengar cerita May. Jadi Chitra pernah terlibat pertengkaran dengan Shelina? Tapi gadis itu bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi hal seperti itu ketika berhadapan dengan Florisa.
“Sejak itu saya suka merhatiin kakak. Waktu itu kakak benar-benar hebat. Saya tidak tahu persis apa masalahnya. Tapi saya dengar itu berkaitan dengan rumor yang tersebar tentang kakak.” May melanjutkan ceritanya.
“Rumor? Rumor apa, May?” Florisa semakin tertarik.
“Kalau itu saya tidak tahu kak, karena rumornya menyebar saat saya belum masuk sekolah ini. Perkelahian itu saja terjadi waktu saya pergi ke sekolah ini untuk mendaftar.”
“Apa Shelina pelakunya? Karena perkelahian itu? Tapi, masa hanya karena itu? Atau ada suspect lain?” batin Florisa.
“Kak, apa kakak tidak penasaran kenapa saya memilih berpihak pada kakak ketika itu, sedangkan orang lain banyak yang menyalahkan kakak?”
“Maksudmu perkelahian itu?” Florisa memastikan yang dibicarakan May.
“Iya.”
“Tadi tidak terpikirkan sih. Memang kenapa?”
“Karena saya ingin seperti kakak. Berani dan kuat.”
Florisa tertegun. Apa maksud anak ini dengan berani dan kuat?
May memulai cerita di sela-sela menyantap makan siangnya. Ia sampaikan kepada Florisa bagaimana kondisi yang ia lihat ketika itu. Dengan ceritanya ini, ia berharap gadis yang disangkanya Chitra ini dapat meraih kembali sebagian ingatannya.
Ketika itu langit terlihat cerah dan begitu pula hati May. Ia sangat ingin bersekolah di SMA Harapan. Sekolah ini seperti memberinya harapan untuk memulai ulang kehidupan remajanya yang sempat hancur saat SMP. Maka ia berjalan-jalan di taman sekolah yang penuh warna-warna indah dari bunga yang sedang mekar.
__ADS_1
May baru saja melakukan pendaftaran siswa baru di sekolah ini. Meskipun ia belum mengantongi ijazah SMP, ia sudah bisa mendaftarkan diri. SMA Harapan menyeleksi siswa baru berdasarkan rapor siswa sejak semester 1 hingga semester 5 di SMP. May yakin bahwa ia bisa menjadi bagian dari sekolah ini dengan nilai rapornya yang cukup bagus.
Saat berjalan-jalan dengan hati yang berbunga-bunga, May terlonjak kaget ketika terjadi keributan di dekat taman. Ia mencoba mengikuti langkah siswa-siswa yang berhamburan menuju sumber keributan itu. Tak jauh dari posisinya berdiri, May dapat melihat kerumunan siswa.
Rasa penasaran mengantarkan langkah kakinya menuju kerumunan siswa SMA itu. Ia bukan satu-satunya siswa SMP di sana sebenarnya. Ada beberapa siswa SMP lainnya yang juga ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam kerumunan itu.
“Chitra! Apa ….” Terdengar suara yang memanggil nama seseorang, namun kalimat selanjutnya tak terdengar jelas. Sepertinya ada perkelahian.
“Ya ampun,” ujar seorang siswa SMA yang juga berada di kerumanan bagian belakang.
“Apa? Kenapa?” tanya seseorang yang baru datang kepada salah satu di kerumunan lapisan terluar.
“Ada yang berkelahi. Anak cewek.”
“Dia yang dirumorkan waktu itu kan?” tanya yang lainnya.
“Iya. Dia menyerang seseorang dari kelasnya.”
“Ngapain dia? Cari masalah aja.”
“Hah? Tapi kan ga perlu sampai menyerang seperti itu.”
“Memang ga ada akhlak. Lihat! Anak iitu sampai berdarah dibuatnya.”
May menyimak percakapan beberapa orang siswa SMA yang mengikuti perkelahian itu. Ia mencoba mengintip ke dalam kerumunan setelah salah seorang di antara siswa SMA itu berseru untuk melihat yang terjadi. Sayang sekali kerumunan itu terlalu ramai, membuat May yang tidak lebih tinggi dari para siswa SMA itu kesulitan untuk mengintip.
“Bukankah mereka berteman?”
Kini May sudah berada di dalam kerumunan. Ia mendengar percakapan lainnya.
“Tapi sejak rumor itu beredar Chitra lebih sering terlihat sendiri.”
“Ku dengar dia dikucilkan sejak itu. Mungkin dia marah karena itu dan melampiaskannya ke Shelina.”
“Ah, bisa jadi.”
__ADS_1
“Wah, ganas sekali.”
Kemudian terdengar suara jeritan yang saling bersahutan. Sepertinya perkelahian semakin memanas. Apa tak ada yang akan menghentikan?
May terus berusaha maju menerobos setiap lapisan siswa yang menyaksikan perkelahian itu. Akhirnya ia sampai pada lapisan terdalam dari kerumunan. Ia dapat menyaksikan seorang gadis dengan rambut hitam panjang melumpuhkan seseorang yang berusaha menahannya.
Sepertinya Chitra adalah gadis dengan rambut hitam panjang. Sedangkan seseorang yang duduk terhenyak di tanah dengan darah mengalir keluar dari hidungnya adalah Shelina. Chitra yang sempat diseret menjauh dari Shelina kembali mendekat dan mencoba meraih gadis itu. Namun beberapa orang siswa perempuan menghadangnya. Chitra memberontak sejadi-jadinya. Matanya menyala menunjukkan kemarahan yang besar.
“..., memang pengkhianat kamu. Teganya kamu melakukan ini, aargh ….” Chitra masih menujukan mata dan kata-katanya kepada Shelina yang kini terisak-isak.
“Apa-apaan kamu Chit!”
Hampir semua yang berada di panggung perkelahian itu melontarkan kata-kata yang mengutuk aksi Chitra. Terutama mereka yang mencoba menahan kekuatan Chitra dan berusaha menyeretnya menjauh.
“Anak cowok tolongin dong,” teriak salah seorang dari yang menahan Chitra. Sepertinya ia kewalahan menghadapi Chitra yang sedang dalam mode brutal. Teriakan itu disahut oleh yang lainnya. Mereka meminta bantuan untuk menghentikan Chitra.
Setelah teriakan minta tolong itu, barulah beberapa siswa laki-laki berhamburan memasuki panggung. Chitra diseret keluar panggung. Di saat yang bersamaan, datang seorang siswa perempuan bersama seorang guru. Siswa perempuan itu berseru kepada kerumunan siswa untuk membubarkan diri. May yang ketakutan melihat sorot mata tajam dari siswa itu pun ikut balik kanan meninggalkan lokasi.
Tidak seperti yang lainnya, May memilih untuk berpihak kepada Chitra. Di matanya Chitra terlihat berani dan kuat. Dari percakapan yang didengarnya, ia memahami bahwa Chitra memiliki alasan untuk melakukan itu. Chitra marah karena sesuatu. Bisa saja itu karena temannya tadi. Seperti yang dikatakan Chitra, Shelina telah mengkhianatinya. Bagi May yang dikucilkan di SMPnya, wajar bagi Chitra marah seperti itu.
“Ah, jadi begitu.” Florisa merasa berterima kasih kepada May. Meskipun informasi darinya masing terpotong-potong, setidaknya Florisa mendapat petunjuk untuk diselidiki lebih lanjut.
“Oh ya May, tak harus menjadi kuat agar orang lain berhenti mengganggumu. Jika kamu tidak cukup kuat, berpura-pura kuat saja, hahahaha.” Florisa berusaha menghibur May dengan kata-kata sok bijaknya.
Meskipun kata-kata penghibur Florisa tidak begitu bijak, May tetap memberi respon dengan tertawa.
to be continued-
Jangan lupa jempolnya! hehehe
May dukung Chitra, kalau kamu dukung siapa?
Cuplikan episode 14 (tayang hari Jumat):
“Arzi.” Florisa memanggil Arzi begitu sampai di tempat yang dirasanya aman untuk memulai pembicaraan. Tempat itu masih di lapangan. Lebih tepatnya di dekat ring basket. “Rumor apa yang menyebar tentangku saat kita kelas sepuluh?”
__ADS_1
“Apa?” Arzi bukan tidak mendengar pertanyaan Florisa barusan. Ia hanya terkejut tiba-tiba ditanyai itu.